• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KRANIOPLASTI

2.1.5. Teknik Operasi Kranioplasti

2.1.5. Teknik Operasi Kranioplasti

Kranioplasti autolog lebih disukai karena risiko infeksi lebih rendah, paling baik dalam proses penyembuhan dan lebih murah. Kranioplasti tidak dilakukan jika terdapat jaringan lunak yang menonjol dari kranium, terdapat infeksi, dan jaringan kulit yang akan menutup mati. Berikut langkah-langkah kranioplasti di bawah ini (Frank et al. 2011):

1. Posisi pasien supine dengan akses terhadap defek terlihat jelas, pada contoh ini defek terjadi bifrontal.

2. Dilakukan injeksi 1:200000 epinephrine.

3. Kulit diinsisi bikoronal.

Gambar 6. Pasien posisi supine dengan insisi bikoronal

4. Insisi dilakukan dengan bantuan monopolar. Dilakukan diseksi lapis demi lapis dengan memperhatikan perikranium dan otot frontal.

Gambar 7. Dilakukan insisi bikoronal

5. Diseksi perikranium dengan memperhatikan defek pada kepala

19

Gambar 8. Diseksi perikranium

6. Setelah batas defek ditemukan dengan jelas. Defek ditutup dengan tulang pasien sendiri atau dengan titanium mesh.

Gambar 9. Defek ditutup dengan tulang pasien sendiri

Gambar 10. Defek ditutup dengan titanium mesh

7. Setelah ditutup dengan titanium mesh, tulang atau titanium mesh difiksasi dengan miniplate dan miniscrew.

8. Defek yang sudah dikoreksi ditutup dengan perikranium

Gambar 11. Defek ditutup perikranium 9.

Sebelum kulit ditutup dilakukan irigasi dengan antibiotik.

Berikut contoh gambar pasien yang dilakukan kranioplasti (Piazza dan Grady, 2017).

21

Gambar 12. Pasien dilakukan kranioplsati. Defek bifrontal pada pasien (A), dilakukan insisi bikoronal (B), defek ditutup oleh tulang pasien sendiri (C), defek yang sudah ditutup dilihat dari samping (D), luka operasi ditutup (E), klinis setelah dikranioplasti (F)

2.1.6. Komplikasi Kranioplasti

Kranioplasti walaupun merupakan operasi rutin dalam bedah saraf, tapi tetap mempunyai angka morbiditas yang signifikan. Tingkat komplikasi kranioplasti antara 10,9% - 40,4% (Piazza dan Grady, 2017). Pemilihan bahan kranioplasti tidak mempengaruhi tingkat komplikasi kranioplasti, meskipun dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan berbagai metode (Yadla et al. 2011). Pasien yang menjalani kranioplasti autolog dapat mengalami resorpsi dari tulang yang dipasang, dikarenakan tepi tulang tidak kontak dengan pembuluh darah, ini terjadi karena jaringan lunak atau skar yang menempel pada tulang tidak dibersihkan dengan baik sehingga menghalangi tepi tulang (Klinger et al. 2014). Tingkat resorpsi tulang

pada orang dewasa 1%-17,4% (. Resorpsi tulang sering terjadi pada usia kurang dari 18 tahun (Schuss et al. 2013).

Infeksi setelah kranioplasti dilaporkan 21,7 % (Coulter et al. 2014). Faktor risiko infeksi adalah riwayat infeksi sebelumnya pada defek kepala, defek pada kepala ditemukan berhubungan dengan sinus, vaskularisasi ke kulit kepala berkurang, adanya cairan subdural dan subgaleal persisten, riwayat operasi sebelumnya, dan jenis trauma (Walcott et al. 2013). Pemberian antibiotik jangka panjang dan perawatan luka yang baik menurunkan angka infeksi (Le et al. 2014).

Banyak pasien yang telah dilakukan kranioplasti mengalami kejang karena ada fokus epileptogenik di jaringan otak. Fokus ini terjadi karena trauma yang membuat dilakukan kraniektomi. Pada kranioplasti jika terjadi manipulasi terhadap otak dapat berisiko tinggi terjadi kejang. Tingkat kejang setelah kranioplasti antara 3,4%

- 14,8% (Lee et al. 2013).

Pada kebanyakan kasus kranioplasti memperbaiki aliran cairan otak dan mengembalikan tekanan intrakranial. Beberapa kasus trauma kepala dimana terjadi obstruksi aliran cairan otak dapat tidak muncul sampai setelah dilakukan kranioplasti. Adanya kumpulan cairan di subdural baik bilateral maupun unilateral akibat kehilangan jaringan parenkim otak dapat membuat otak tidak dapat memenuhi kranium secara maksimal. Hal ini membuat ventrikel membesar sehingga terjadi hidrosephalus (Heo et al. 2014).

23

2.2. KRANIEKTOMI DEKOMPRESI 2.2.1. Sejarah Kraniektomi Dekompresi

Operasi mengangkat sebagian tulang kepala udah dilakukan sejak zaman Neolitikum 10.000 BC. Istilah trepanasi adalah kata berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu trypanon. Trypanon adalah alat yang digunakan untuk membor. Ahli sejarah membuktikan bahwa trepanasi ditemukan juga di Eropa, Amerika Utara, Amerika Tengah, Afrika dan Asia (Kshettry et al. 2007). Hippocrates adalah orang pertama yang menggambarkan fraktur kranium yang harus diobati dengan trepanasi.

Lebih dari itu, Hippocrates juga menunjukkan kehilangan penglihatan akibat tekanan intrakranial meningkat dapat diobati dengan trepanasi (Kolias et al. 2013).

Pengetahuan neuroanatomi semakin berkembang dan mempercepat era modern dalam melakukan trepanasi (Rengachary et al. 2009). Dalam sejarah bedah saraf terdapat seorang dokter Islam/Persia bernama Haly Abbas (Abdul Hasan Ali Ibn Abbas Al Majusi), seorang penulis dari zaman keemasan pengobatan Islam (930-944) yang membuat buku berjudul The Perfect Book of The Art Medicine, yang dikenal sebagai Royal Book. Dalam bukunya ia membuat 110 bab tentang teknik operasi. Dalam salah satu bab dibahas tentang operasi pada otak yang bengkak atau edema serebri. Pada kasus itu dokter bedah dimungkinkan untuk melepas tulang kepala dan tidak mengembalikannya (Goodrich, 2012).

Gambar 13. Tulisan edisi kedua dari Haly Abbas tentang pengobatan dan pembedahan

Tahun 1901, Theodor Kocher seorang ahli bedah dari Swiss yang dianugerahi hadiah Nobel Prize tahun 1909, menyatakan jika tidak ada tekanan cairan serebrospinalis, tetapi tekanan otak tetap tinggi, untuk mengurangi tekanan tersebut dengan membuka tulang kepala (Rengachary et al. 2009). Tahun 1908, Kocher mendeskripsikan tentang kraniektomi dekompresi, kemudian Harvey Cushing mempresentasikan kasus pasien dengan kasus pasien dengan cedera kepala yang diobati dengan operasi kraniektomi dekompresi subtemporal (Cushing, 1908).

Cushing melaporkan kraniektomi dekompresi berhubungan menurunkan mortalitas 50% sampai kuran dari 15%, lebih dari itu ia menganjurkan pasien dengan edema serebri disertai kontusio serebri paling baik diobati dengan kraniektomi dekompresi.

Pada tahun 1950-1970 dipublikasikan beberapa teknik operasi kraniektomi dekompresi, yaitu hemikraniektomi, kraniektomi dekompresi sirkumferensial, dan kraniektomi dekompresi bifrontal. Tahun 1980-1990 dengan berkembangnya neuroimaging dan perawatan neurointensif, kraniektomi dekompresi disarankan untuk mengurangi mortalitas.

25

2.2.2. Indikasi Kraniektomi Dekompresi

Kraniektomi dekompresi dilakukan jika terjadi edema serebri atau hipertensi intrakranial dengan berbagai macam kondisi seperti perdarahan subarachnoid, perdarahan intraserebral, subdural hematom akut, dan sinus

trombosis (Dorfer et al. 2010).

Prinsip penanganan intrakranial meningkat secara berurutan adalah (Grandhi dan Okonkwo, 2010):

1. Meninggikan tempat tidur pasien bagian kepala setinggi 300. 2. Menjaga tetap normokapnea (PCO2 35-40 mmHg).

3. Berikan sedasi yang adekuat (propofol, midazolam, morphine).

4. Drainase cairan serebrospinal dengan ventrikulostomi.

5. Berikan cairan hiperosmolar (manitol atau NaCl 3%).

6. Berikan muscle relaxant (atracurium, vecuronium).

7. Jika refrakter berikan barbiturat dosis tinggi, hiperventilasi dengan target PCO2 30-35 mmHg, dan yang terakhir dilakukan kraniektomi dekompresi.

Kraniektomi dekompresi dilakukan pada tekanan intrakranial yang refrakter setelah diberikan penanganan yang diuraikan di atas.

2.2.3. Teknik Operasi

Teknik operasi kraniektomi dekompresi dengan frontotemporal-parietal approach dijelaskan pada tinjauan pustaka ini.

Pasien dalam posisi supine dengan bahu ipsilateral dielevasi, kepala dirotasi 450 -600, kepala diletakan pada donut atau horseshoe headholder. Kemudian lapangan operasi didraping sampai lapang pandang satu hemisfer ipsilateral terekspos semua.

Dilakukan insisi dari atas arkus zigoma, berjalan ke atas kemudian membentuk kurva ke arah posterior terhadap protuberensia oksipitalis eksterna, naik ke atas ke lateral dari garis tengah dengan jarak 2-3 cm dari garis tengah, ke depan sampai batas garis rambut (insisi question mark)

(Sabbagh et al. 2014).

Gambar 14. Insisi question mark untuk melakukan kraniektomi dekompresi Dilakukan flap kulit direfleksikan ke arah otot inferior dan anterior difiksasi dengan silk atau fish hook, dibuat burr hole di tulang temporal (bagian tulang skuamosa), keyhole, minimal dilakukan tiga burr hole untuk memudahkan flap tulang. Agar kraniektomi dekompresi efektif dan dapat menurunkan tekanan intrakranial flap tulang minimal berukuran 10x15 cm (Sughrue et al. 2011).

27

Gambar 15. Flap otot dan kulit

Setelah dilakukan flap tulang, tulang temporal harus dipotong dengan menggunakan rongeur sampai dasar fossa media agar dekompresi bagian lateral batang otak maksimal. Setelah flap tulang, dilakukan durotomi, agar dekompresi maksimal, dilakukan durotomi stelata. Setelah durotomi dilakukan duraplasti dengan jahitan watertight (Sughrue et al. 2011).

Gambar 16. Durotomi stelata

\

28 BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

Gambar 17. Kerangka Teori Kranioplasti dengan Komplikasi

Trauma Perdarahan intraserebral spontan

Kraniektomi dekompresi

Kranioplasti

Infeksi

Kejang hematom

Waktu kranioplasti

Cara penyimpanan

29

Gambar 18. Kerangka Konsep

Kraniektomi dekompresi

Kranioplasti Waktu kranioplsati

Lama Operasi Usia

Autologue atau artifisial Bilateral atau unilateral

Komplikasi:

3.3. VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL a. Trauma kepala

Definisi : Kerusakan jaringan saraf, glia, dan pembuluh darah di intrakranial yang disebabkan trauma kepala (Shahlaei et al. 2017).

Trauma kepala dapat menyebabkan subdural hematom, epidural hematom, perdarahan intraserebral, diffuse axonal injury, dan kontusio serebri.

b. Waktu Kranioplasti

Definisi : Waktu dilakukan kranioplasti setelah dilakukan kraniektomi dekompresi.

Setelah menjalani kraniektomi dekompresi, pasien tidak langsung dilakukan kranioplasti, tetapi ada jarak waktu sebelum akhirnya dilakukan kranioplasti. Waktu kranioplasti dibagi dua bagian besar yaitu kurang dari 12 minggu ( ≤ 12 minggu) dan lebih dari 12 minggu (> 12 minggu).

c. Kranioplasti

Definisi : Memperbaiki tulang kranium karena terdapat defek dengan

memasukkan atau memasang objek yang terbuat dari tulang pasien sendiri (Sanan dan Haines 1997).

Pasien yang pernah dikraniektomi menjadi indikasi dilakukan kranioplasti.

d. Komplikasi

Definisi : Dampak buruk yang diakibatkan setelah kranioplasti seperti hidrocephalus, kejang, infeksi, hematom, dan resorpsi tulang.

31

3.4 . HIPOTESIS

Waktu kranioplasti berhubungan terhadap komplikasi pada pasien trauma yang telah dilakukan kraniektomi dekompresi.

32

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1. RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan studi kohort retrospektif untuk mengetahui hubungan lama waktu setelah kraniektomi sampai kranioplasti dihubungkan terhadap komplikasi yang timbul setelah kranioplasti.

4.2. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pusat H. Adam Malik Medan.

Pengambilan sampel dilakukan dari rekam medis RSUP H. Adam Malik.

Penelitian dilakukan mulai bulan Maret 2018 hingga Juni 2018.

4.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 4.3.1. Populasi Penelitian

Pasien trauma kepala yang pernah dilakukan kraniektomi dekompresi kemudian dilanjutkan kranioplasti mulai bulan Januari 2014 hingga Desember 2017 yang datang ke RS. H. Adam Malik Medan.

4.3.2. Sampel Penelitian

33

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dari penelitian ini :

1. Pasien trauma kepala yang telah menjalani kraniektomi dekompresi kemudian dilanjutkan kranioplasti.

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi dari penelitian ini : 1. Pasien dengan diabetes melitus.

2. Pasien dengan riwayat epilepsi sebelum operasi kraniektomi dekompresi.

3. Pasien riwayat hidrocephalus sebelum operasi kraniektomi dekompresi.

4. Pasien dengan penyakit gangguan sistem imun.

5. Pasien mengalami infeksi sebelum kranioplasti.

6. Pasien yang meninggal.

Data dari rekam medik pasien dan asesmen Departemen Bedah Saraf. Data yang dicatat meliputi jenis kelamin, usia, bagian kranioplasti bilateral atau unilateral, waktu kranioplasti, trauma yang dialami, tipe kranioplasti, komplikasi, lama operasi kranioplasti, dan tempat penyimpanan tulang.

4.3.3. Besar Sampel

Pada penelitian ini digunakan total sampling, dimana seluruh pasien yang telah dikranioplasti yang memenuhi kriteria inklusi akan menjadi sampel. Dari total 291 pasien yang dilakukan kranioplasti terdapat 102 pasien dilakukan kranioplasti akibat trauma.

4.4. PENGUMPULAN DATA 4.4.1. Etika Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan data dari rekam medis RSUP H HAM. Sebelum menggunakan rekam medis pasien, dilakukan

permohonan izin pengambilan data dari Direktur Sumber Daya Manusia. Setelah itu mengurus ethical clearance di FK USU, kemudian diproses di bagian diklat RSUP H HAM. Hingga akhirnya keluar izin pengambilan data di RSUP H HAM.

4.4.2. Pengumpulan Data

Data pasien trauma kepala yang pernah dilakukan kraniektomi dekompresi dan telah dilakukan kranioplasti dikumpulkan. Pengumpulan data dilakukan di rekam medis RSUP H HAM.

4.5. CARA KERJA DAN ALUR PENELITIAN 4.5.1. Cara Kerja

35

Sampel

Data diambil berdasarkan nomor rekam medik pasien yang tercatat di pusat informasi RSUP H. Adam Malik. Rekam medik yang didapat khusus hanya pasien-pasien yang dikranioplasti. Dari data yang ada dikumpulkan sampai sesuai besar sampel. Data yang diambil adalah usia pasien, jenis kelamin, jenis trauma kepala, waktu dilakukan kranioplasti, kranioplasti bilateral atau unilateral, lama operasi kranioplasti, dan autologue atau artifisial. Setelah mengambil data karakteristik pasien, dianalisis apakah terdapat komplikasi pasca kranioplasti.

Variabel yang telah didapatkan diolah dengan menggunakan chi-square test.

4.5.2. Alur Penelitian

Seluruh sampel yang terkumpul dipisahkan sesuai variabel yang akan dianalisis. Variabel-variabel diolah dengan chi-square test untuk mendapatkan hubungan variabel-variabel bebas dengan komplikasi kranioplasti.

Pengumpulan karakteristik pasien

Variabel - variabel bebas ) ( waktu kranioplasti

Komplikasi Kranioplasti

4.6. IDENTIFIKASI VARIABEL

Variabel bebas Skala

4.7. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Data yang didapat akan diolah dengan menggunakan menggunakan perangkat lunak pengolah data SPSS 22. Variabel kategorik dianalisis dalam bentuk frekuensi dan persentase yang disajikan baik dalam bentuk tabel maupun grafik.

Analisis deskriptif variabel numerik dilakukan pemusatan (mean, median) dan penyebaran (standar deviasi, minimum-maksimum).

Untuk menguji adanya hubungan antara waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti digunakan chi square test hingga sampai didapatkan nilai p.

37 BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1. HUBUNGAN WAKTU KRANIOPLASTI DENGAN KOMPLIKASI KRANIOPLASTI

Waktu kranioplasti diartikan lama pasien menunggu dilakukan kranioplasti, idealnya pasien menunggu kurang dari 12 minggu. Namun kenyataan di lapangan dengan berbagai macam faktor terdapat 36 pasien menunggu lebih dari 12 minggu dan sisanya 66 pasien kurang dari 12 minggu sudah dilakukan kranioplasti. Dari 36 pasien yang menunggu lebih dari 12 minggu terdapat 5 pasien mengalami komplikasi, seperti infeksi, kejang dan hidrocephalus. Sedangkan hanya 1 pasien yang mengalami komplikasi dari pasien yang menunggu kurang dari 12 minggu.

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Waktu Kranioplasti

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Waktu Kranioplasti dengan Komplikasi Kranioplasti

Waktu Kranioplasti N %

≤ 12 minggu 66 64 , 7

12 minggu

> 36 35 3 ,

Total 102 100.0

terdapat terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti.

5.2. HUBUNGAN JENIS KELAMIN, USIA, TRAUMA KEPALA, JENIS KRANIOPLASTI, TEMPAT PENYIMPANAN TULANG, LAMA OPERASI, DAN BAGIAN KRANIOPLASTI DENGAN KOMPLIKASI KRANIOPLASTI

Sampel pada penelitian ini diambil dari bulan Januari 2014 hingga Desember 2017. Didapatkan sampel sebanyak 102 sampel yang berasal dari penderita trauma kepala yang telah menjalani operasi kraniektomi dekompresi di

39

RSUP. H. Adam Malik Medan. Setelah dilakukan kraniektomi dekompresi, pasien dilakukan kranioplasti. Data diambil dari rekam medik pasien sesuai dengan nomor rekam medik pasien trauma kepala yang menjalani kranioplasti.

Setelah dilakukan pendataan dan analisis distribusi frekuensi, didapatkan sampel berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan sampel lakilaki, dimana sampel perempuan 30 orang (29,5%) dan laki-laki 72 orang (70,5%).

Analisis deskriptif terhadap umur didapati bahwa mean adalah 30,3 ± 14,2 tahun dengan nilai minimal 8 tahun dan maksimal 73 tahun. Nilai median adalah 38,5 tahun. Nilai p pada hubungan usia dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,548 berarti tidak ada hubungan signifikan jenis kelamin dengan komplikasi

kranioplasti.

Terhadap sampel dilakukan klasifikasi umur berdasarkan dekade kehidupan pasien yang menjalani kranioplasti, didapat data frekuensi kejadian terbanyak pada kelompok umur 11 – 20 tahun sebanyak 30 penderita (29,4%). Nilai p pada hubungan usia dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,673 berarti tidak ada hubungan signifikan umur dengan komplikasi kranioplasti.

Trauma kepala yang terjadi adalah subdural hematom akut, lebih banyak dibandingkan dengan traumatik intraserebral hematoma, dimana sampel traumatik intraserebral hematom 13 orang (12,7%) dan subdural hematom akut 89 orang (87,3%). Nilai p pada hubungan jenis kelamin dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,829 berarti tidak ada hubungan signifikan trauma kepala dengan komplikasi kranioplasti.

Kranioplasti yang sering digunakan di RSUP H. Adam Malik, yaitu titanium mesh dan kranioplasti autologue, dari hasil pendataan dari Januari 2014 sampai Desember 2017 terdapat 8 (7,8%) pasien menggunakan titanium mesh dan 94 (92,2%) pasien menggunakan tulang sendiri atau autologue. Nilai p pada hubungan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,407 berarti tidak ada hubungan signifikan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti.

Tempat penyimpanan tulang yang sering dilakukan di RSUP H Adam Malik adalah di abdomen. Dari hasil pendataan pasien yang menjalani kranioplasti dari Januari 2014 – Desember 2017 didapatkan hanya satu pasien yang tulangnya disimpan di subgaleal dan sisanya di abdomen. Nilai p pada hubungan tempat penyimpanan tulang dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,812 berarti tidak ada hubungan signifikan tempat penyimpanan tulang dengan komplikasi kranioplasti.

Hampir semua pasien dilakukan kranioplasti unilateral atau satu sisi. Dari hasil pendataan hanya terdapat 2 pasien dilakukan kranioplasti bilateral. Nilai p pada hubungan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,602 berarti tidak ada hubungan signifikan bagian yang dikranioplasti dengan komplikasi kranioplasti.

Lama operasi kranioplasti di RSUP H Adam Malik hampir semuanya 2 jam, hanya ada 13 kranioplasti yang 1,5 jam dan hanya 1 kranioplasti dilakukan dalam 1 jam. Nilai p pada hubungan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,721 berarti tidak ada hubungan signifikan lama operasi dengan komplikasi kranioplasti.

41

Tabel 5.2. Karakteristik Sampel

Variabel Jumlah (n=102) Komplikasi (n=6) Tanpa komplikasi (n=96)

Subdural hematom akut Traumatik perdarahan intraserebral

Bagian Kranioplasti

43 BAB 6 PEMBAHASAN

Kranioplasti adalah tindakan menutup defek pada kranial untuk melindungi otak dan memperbaiki bentuk kepala yang buruk secara kosmetik. Setiap pasien yang menjalani kraniektomi dekompresi akan menjalani kranioplasti di kemudian hari. Sampai saat ini masih menjadi pertanyaan waktu yang tepat untuk dilakukan kranioplasti, untuk menghindari komplikasi dari kranioplasti.

Pada penelitian ini terjadi komplikasi terhadap 6 pasien yang dijabarkan pada tabel berikut.

Tabel 6.1. Karakteristik Pasien yang Mengalami Komplikasi

Usia

Autologue 3 bulan Abdom en

2 jam Unilateral Infeksi

27 Laki-laki SDH akut

Autologue 15 bulan Abdom en

2 jam Unilateral Infeksi

14 Laki-laki SDH akut

Autologue 12 bulan Abdom en

2 jam Unilateral Kejang

30 Laki-laki SDH akut

Autologue 4 bulan Abdom en

2 jam Unilateral Infeksi

22 Laki-laki SDH akut

Autologue 5 bulan Abdom en

2 jam Unilateral Hidroceph alus

Pada penelitian ini diperoleh dari 102 sampel pasien yang menjalani kranioplati di RSUP H Adam Malik Medan. Dari 102 sampel tersebut, 30 sampel (29,5%) perempuan dan 72 sampel (70,5%) laki-laki. Jika dilakukan perbandingan pada kedua jenis kelamin ini didapatkan perbandingan sebesar; wanita:pria sama dengan 1:2,4. Dari hasil tersebut 6 pasien yang mengalami kompliksai

kranioplasti adalah laki-laki.

Pada tahun 2014 Piedra melakukan penelitian mengenai waktu kranioplasti setelah kraniektomi dekompresi pada pasien trauma, dari 157 sampel terdapat 114 laki-laki (72,6 %) dan 43 perempuan (27,4%), hasil penelitian tersebut tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan komplikasi kranioplasti infeksi dan resorpsi tulang dengan nilai p = 0,681 dan p = 0,200 (Piedra et al. 2014). Hasil ini sama dengan penelitian ini tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan komplikasi kranioplasti. Pada penelitian ini 6 laki-laki yang mengalami komplikasi, berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Chaturvedi tahun 2016 menyatakan perempuan 1,91 kali lebih berisiko terjadi infeksi pasca kranioplasti (Chaturvedi et al. 2016). Didukung oleh penelitian metanalisis Farace

45

yang mengatakan bahwa outcome pasien trauma kepala pada perempuan lebih buruk dibanding laki-laki (Farace dan Alves, 2000).

Usia pasien yang dikranioplati terbanyak pada rentang 11-20 tahun (30,3%).

Rentang usia ini merupakan rentang usia produktif. Hasil analisis deskriptif terhadap umur didapati bahwa mean adalah 30,3±14,2 tahun dengan nilai minimal 8 tahun dan maksimal 73 tahun. Nilai median adalah 38,5 tahun. Pada penelitian ini usia yang mengalami komplikasi adalah usia 18 tahun, 15 tahun, 27 tahun, 14 tahun, 30 tahun, dan 22 tahun. Pada Penelitian Chaturvedi usia

≤ 20 tahun berisiko 2,5 kali lebih rendah terkena komplikasi pasca kranioplasti (Chaturvedi et al. 2016).

Berdasarkan jenis trauma kepala, didapati frekuensi terbanyak adalah subdural hematom akut sebesar 88 pasien (87,3%) dan traumatik intraserebral hemorrhage 14 pasien (12,7%). Sama dengan penelitian Chaturvedi paling banyak kasus SDH akut (56,8%) dilakukan kraniektomi dekompresi (Chaturvedi et al.

2016).

Untuk tipe kranioplasti yang sering dilakukan adalah dengan tulang pasien sendiri atau dengan titanium mesh jika tulang pasien hancur dan tidak dapat digunakan kembali. Dari data yang ada 8 pasien (7,8 %) menggunakan titanium mesh, sedangkan 94 pasien (92,2%) menggunakan tulangnya sendiri. Dari 6 pasien yang mengalami komplikasi, hanya 1 pasien yang menggunakan titanium mesh.

Komplikasi tersering dengan pemakaian titanium mesh adalah infeksi dengan tingkat 8,4% (Hill et al. 2012). Pada penelitian ini tingkat infeksi pada pemakaian titanium mesh adalah 12,5%.

Tempat penyimpanan tulang hampir semua di abdomen, tidak seperti di negara lain ada yang disimpan di lemari es. Dari data yang ada hanya satu pasien yang disimpan subgaleal. Sesuai dengan penelitian Inamasu tahun 2010 yang menyatakan angka infeksi lebih rendah jika tulang disimpan di subkutaneous abdomen dibanding lemari es dengan p = 0,02 (Inamasu et al. 2010). Pada penelitian ini 5 pasien yang mengalami komplikasi setelah tulang disimpan di abdomen, 3 diantaranya mengalami infeksi, didapatkan tingkat infeksi 3,2%, berbanding terbalik dengan penelitian Inamasu dimana tingkat infeksi 0%.

Lama operasi kranioplasti hampir semua 2 jam (86,3%), hanya 13 pasien yang dioperasi 1,5 jam (12,8%) dan satu pasien dioperasi dalam waktu 1 jam (0,9%).

Bagian yang dikranioplasti dapat bilateral maupun unilateral. Kranioplasti bilateral biasanya karena kraniektomi dekompresi bilateral. Salah satu penyebabnya adalah lesi pada kiri dan kanan. Dari data yang ada hanya 2 pasien (2%) yang dilakukan kranioplasti bilateral.

Pada penelitian ini waktu kranioplasti menjadi isi utama. Dari hasil penelitian waktu kranioplasti mempunyai hubungan yang signifikan dengan komplikasi kranioplasti. Terdapat 36 pasien yang dikranioplasti lebih dari 12 minggu, 5 diantaranya mengalami komplikasi. Sedangkan dari 66 pasien yang dikranioplasti kurang dari 12 minggu hanya satu yang mengalami komplikasi.

Komplikasi yang terjadi adalah kejang (pada pasien yang menunggu 7 bulan dan 1 tahun), infeksi (pasien menunggu 4 bulan, 7 bulan, dan 15 bulan), dan hidrosephalus (pada pasien yang menunggu 5 bulan). Nilai p 0,011 yang berarti terdapat hubungan signifikan waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti. Sesuai dengan

47

penelitian lain yang menyatakan kranioplasti direkomendasikan dilakukan 3 bulan setelah kraniektomi kecuali jika terjadi riwayat luka terbuka

atau infeksi dapat ditunda sampai 6 bulan (Liang et al.

2007). Pada penelitian chaturvedi pasien yang dikranioplati lebih dari 3 bulan setelah dikraniektomi dekompresi berisiko 2,86 kali mengalami komplikasi kranioplasti dengan p = 0,04 (Farace dan Alves, 2000).

Beberapa penelitian membedakan kranioplasti berdasarkan waktu dengan early cranioplasty jika dilakukan kurang dari sama dengan 90 hari dan late cranioplasty

jika lebih dari 90 hari. Alasan 90 hari atau 3 bulan yang dipilih karena prosedur kranioplasti sering dilakukan berkisar 90 hari, beberapa penelitian didapatkan median time 90 hari, dan banyak penelitian menggunakan 90 hari sebagai inklusi

yang akan dianalisis (Malcolm et al. 2016). Pada penelitian metaanalisis didapatkan jika kranioplasti dilakukan kurang dari 90 hari, berisiko 2,38 kali mengalami hidrocephalus dengan p = 0,008 khususnya pada pasien trauma. Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa komplikasi lain selain hidrocephalus, risiko komplikasi sama baik pada dilakukan kurang dari sama dengan 90 hari atau lebih dari 90 hari (Malcolm et al. 2016).

Penelitian yang dilakukan Xu dan kawan-kawan didapatkan bahwa early cranioplasty mempunyai keuntungan, yaitu lama operasi lebih cepat karena lebih

mudah saat diseksi scalp flap dan lebih mudah memasang kembali tulang,

mudah saat diseksi scalp flap dan lebih mudah memasang kembali tulang,

Dokumen terkait