Menurut Al-Ma‟ruf (2009: 60-61), bahasa figuratif merupakan retorika sastra yang sangat dominan. Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memeroleh efek estetis (Nurgiyantoro, 2012: 295). Melalui bahasa figuratif, pengarang memanfaatkan bahasa untuk memeperoleh efek estetis dengan pengungkapan gagasan secara kias yang menyaran pada makna literal (literal meaning). Jika tuturan literal menunjukkan makna secara langsung dengan kata-kata dalam pengertian yang baku maka tuturan figuratif mengatakan secara tidak langsung untuk mengungkapkan makna.
Bahasa figuratif dalam penelitian stilistika karya sastra dapat mencakup majas, idiom, dan peribahasa. Pemilihan tiga bentuk bahasa figuratif tersebut didasarkan pada alasan bahwa ketiganya merupakan sarana sastra yang dipandang representatif dalam mendukung gaagasan pengarang. Selain itu, ketiga bentuk bahasa figuratif itu diduga cukup banyak dimanfaatkan oleh para sastrawan dalam karyanya.
a) Majas
Majas biasa disebut sebagai gaya bahasa. Permajasan (figure of speech) menurut Nurgiyantoro (2012: 297) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah pada kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Majas diartikan sebagai penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan perbandingan atau analogi ciri semantik yang umum dengan umum, yang umum dengan yang khusus, ataupun yang khusus dengan yang khusus.
Perbandingan tersebut tidak berlaku secara proporsional, dalam arti perbandingan itu memperhatikan potensialitas kata-kata yang dipindahkan dalam melukiskan citraan atau gagasan baru (Aminuddin, 1995: 249).
Sedangkan Menurut Keraf (2002: 113) gaya bahasa memungkinkan kita untuk dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang menggunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya, sebaliknya semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian diberikan padanya.
Jenis-jenis majas menurut Keraf adalah sebagai berikut.
(1) Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tidak menggunakan kata yang menunjukan kesamaan, tetapi dapat berdiri sendiri sebagai kata. Contoh: bunga bangsa, buaya darat, buah hati.
Metafora sebagai perbandingan langsung tidak menggunakan kata:
seperti, baik, bagai, bagaikan, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Sebenarnya proses terjadinya
sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan, misalnya:
Orang itu seperti buaya darat.
= -Orang itu buaya darat
= Orang itu Buaya darat
Bila dalam sebuah metafora, kita masih dapat menentukan makna dasar dari konotasinya sekarang, maka matafora itu masih hidup. Tetapi kalau kita tidak dapat menentukan konotasinya lagi maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise. Contoh:
Pemuda-pemudi adalah bunga bangsa.
(2) Simile
Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit.
Adapun yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit yaitu dengan langsung menyatakan kesamaan sesuatu dengan hal lain. Untuk itu, diperlukan kata yang menunjukan kesamaan: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana,dan sebagainya. Contoh:
Wajahnya bersinar seperti bulan purnama.
Kadang-kadang diperoleh persamaan tanpa menyebutkan objek pertama yang mau dibandingkan. Contoh:
Saudaranya itu bagai duri dalam daging.
(3) Personifikasi
Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa diibaratkan memiliki sifat-sifat seperti manusia. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. Contoh:
Nyiur melambai di pantai.
Kaulihat ada pelangi di matamu lalu sinar cerah menghiasi wajahmu.
(4) Metonimia
Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat
dekat. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan, untuk barang yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan sebagainya. Contoh:
Paman membeli Djarum Super.
Pena lebih berbahaya dari pedang (5) Sinekdoke
Sinekdok berasal dari bahasa Yunani synekdechesthai yang berarti
“menerima bersama-sama”. Sinekdok adalah bahasa figuratif yang menggunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan, yang disebut dengan sinekdoke pars pro toto, atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian, yang disebut dengan sinekdoke totum pro parte.
Contoh:
Dalam pertandingan sepak bola di GBK, Indonesia mengalahkan Malaysia 2-0. (totum pro parte)
Setia kepala dikenakan sumbangan sebesar seribu rupiah. (pars pro toto) (6) Alegori, Parabel, Fabel
Bila sebuah metafora mengalami perluasan, ia dapat berwujud alegori, parabel, dan fabel. Ketiga bentuk perluasan ini biasanya mengandung ajaran-ajaran moral dan sering sukar dibedakan satu dari yang lain.
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifat yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Alegori bisa dimaknai sebagai perbandingan yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Alegori merupakan perbandingan dengan alam secara utuh. Alegori menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia yang selalu mengandung tema moral. Istilah parabel dipakai untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam kitab suci yang bersifat alegoris untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual.
Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang di mana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak bernyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuan parabel seperti fabel ialah menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti. Fabel menyampaikan suatu prinsip tingkah laku melalui analogi yang transparan dari tindak-tanduk binatang, tumbuhan-tumbuhan, atau makhluk yang bernyawa.
(7) Alusio
Alusi adalah acuan yang berusaha menyugestikan kesamaan antarorang, tempat, atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau dalam karya-karya sastra yang terkenal.
Misalnya dulu sering dikatakan bahwa Bandung adalah Paris Jawa. demikian dapat dikatakan: Katini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya.
Kedua contoh ini merupakan alusi.
(8) Eponim
Eponim adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Jadi, eponim merupakan gaya bahasa yang menggunakan sifat yang melekat pada orang tersebut. Contoh:
Kecantikannya bagai Cleopatra.
(9) Epitet
Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari suatu hal. Keterangan itu adalah suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang. Contoh:
Puteri malam bersinar terang di langit gelap (bulan).
(10) Antonomasia
Antonomasia adalah sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Contoh:
Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar ini.
(11) Hipalase
Hipalase adalah semacam gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata tertentu untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Maksudnya, hipalase adalah gaya bahasa yang menerangkan sebuah kata tetapi sebenarnya kata tersebut untuk menjelaskan kata yang lain. Contoh:
Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah sebenarnya adalah manusia).
(12) Ironi, Sinisme, dan Sarkasme
Ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang sebenarnya terjadi. Ironi merupakan suatu gaya bahasa yang efektif untuk menyatakan sebuah sindiran yang ditegaskan. Contoh:
Alangkah bagusnya rapormu, begitu banyak angka merahnya.
Sinisme adalah gaya bahasa sebagai sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Contoh:
Suaramu sangat merdu sehingga aku sangat risih mendengarnya.
Sarkasme adalah suatu acuan yang lebih kasar dari ironi yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Contoh:
Mulutnya berbisa bagai ular kobra.
(13) Satire
Satire adalah gaya bahasa yang berbentuk ungkapan dengan maksud menertawakan atau menolak sesuatu. Contoh:
Sekilas tampangnya seperti anak berandal, tapi kita jangan langsung menuduhnya, jangan melihat dari penampilan luarnya saja.
(14) Innuendo
Innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Contoh:
Dia berhasil naik pangkat dengan sedikit menyuap.
(15) Antifrasis
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya yang bisa saja dianggap ironi sendiri atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Contoh:
Lihatlah! Si raksasa telah tiba.
(16) Paranomasia
Paranomasia adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Contoh:
Tanggal dua gigi saya tanggal dua.
b) Idiom
Idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya (Kridalaksana, 1988: 62). Menurut Sudjiman (1984:
34), idiom adalah pengungkapan bahasa yang bercorak khas, baik karena tata bahasanya maupun karena mempunyai makna yang tidak dapat dijabarkan dari makna unsur-unsurnya. Biasanya idiom disejajarkan dengan pengertian peribahasa dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya pengertian idiom itu jauh lebih luas dari peribahasa. Idiom adalah pola-pola struktural yang mneyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya (Keraf, 2002: 109). Jadi, idiom mempunyai kekhasan bentuk dan makna di dalam kebahasaan yang tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Contoh:
Mereka kaki tangan juragan renternir itu.
c) Peribahasa
Peribahasa berasal dari kata “peri”, “hal”, dan “bahasa” yang berarti alat untuk menyampiakan maksud. Peribahasa kemudian berbahasa dengan bahasa kias. Menurut Kridalaksana (1988: 131), peribahasa ialah kalimat atau penggalan kalimat yang telah memebeku bentuk, makna, dan fungsinya dalam masyarakat,
bersifat turun temurun, digunakan untuk penghias karangan atau percakapan, penguat maksud karangan, pemberi nasihat, pengajaran atau pedoman hidup.
Secara singkat, Sudjiman ( 1984: 58) menyatakan bahwa peribahasa dikatakan sebagai ungkapan yang ringkas, padat, yang berisi kebenaran yang wajar, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.
Dengan peribahasa, penutur akan dapat lebih tegas, tetapi halus menyatakan maksud, pikiran, dan perasaan kepada mitra bicara. Bentuk peribahasa merupakan penuturan yang sering diucapkan sehari-hari namun memiliki nilai estetik yang tinggi. Contoh:
Air susu di balas dengan air tuba.
c. Pencitraan
Melalui ungkapan-ungkapan bahasa tertentu yang ditampilkan dalam karya sastra, kita sering merasakan indra ikut terangsang, seolah-olah kita ikut melihat atau mendengar apa yang terlukiskan dalam sebuah karangan tersebut.
Hal ini terjadi karena kita dapat merasakan sesuatu tersebut secara imajinasi.
Penggunaan kata-kata dan ungkapan yang mampu membangkitkan tanggapan indra yang sedemikian dalam karya sastra disebut pencitraan (Keraf, 2002: 304).
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu kepada pembaca. Citraan merupakan kumpulan citra yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah, maupun secara kias (Abrams dalam Al-Ma‟ruf, 2009: 76). Pencitraan atau pengimajian merupakan penataan kata yang menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkrit dan cermat (Semi, 1993: 124).
Antara citraan dan diksi sebenarnya terdapat hubungan yang erat. Untuk menciptakan pengimajian agar apa yang ingin diungkapkan pengarang menjadi lebih konkret dan dapat dihayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa maka diksi yang dipilih harus tepat dan sesuai.
Citraan dapat dibagi menjadi tujuh jenis, yakni: 1) citraan penglihatan, 2) citraan pendengaran, 3) citraan penciuman, 4) citraan pengecapan, 5) citraan gerak, 6) citraan perabaan, dan 7) citraan intelektual. Jenis citraan tersebut dipaparkan oleh Al-Ma‟ruf (2009: 79) sebagai berikut:
a) Citraan Penglihatan (Visual Imagery)
Citraan ini mampu mengusik indra penglihatan pembaca sehingga akan membangkitkan imajinasinya unutk memahami karya sastra. Citraan penglihatan juga bisa merangsang hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata menjadi seolah-olah terlihat, hal ini terjadi apabila citraan penglihatan mampu merangsang segi mental dan pikiran masa lalu seseorang. Dalam karya sastra, selain pelukisan karakter tokoh cerita, citraan penglihatan ini juga sering dipakai oleh pengarang untuk melukiskan keadaan, tempat, pemandangan, atau bangunan lainnya. Contoh:
Bersandar pada tari warna pelangi Kau denganku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda b) Citraan Pendengaran (Auditory Imagery)
Citraan pendengaran merupakan citraan yang berkaitan dengan indra pendengaran. Citraan pendengaran tersebut biasanya berupa penyebutan atau penguraian bunyi dan suara. Citraan ini memberi rangsangan kepada indra pendengaran, sehingga kata-kata itu seolah-olah mengeluarkan bunyi, dan pembaca dapat mengungkapkan bunyi. Berbagai peristiwa dan pengalaman hidup yang berkaitan dengan pendengaran tersimpan dalam memori pembaca akan mudah bangkit dengan adanya citraan audio. Contoh:
Sesungguhnya gendang telinganya menangkap suara celoteh Srintil yang lucu menawan. Tetapi Santayib mendengarnya sebagai hiruk-pikuk suara ribuan monyet di pekuburan Dukuh Paruk.
c) Citraan Penciuman (Smell Imagery)
Citraan penciuman jarang sekali dijumpai dalam penulisan karya sastra.
Namun citraan penciuman merupakan sesuatu yang memiliki fungsi untuk
merangsang imaji pembaca yang sering digunakan oleh penulis. Citraan penciuman dipakai pengarang untuk membangkitkan imaji pembaca dalam hal memperoleh pemahaman yang utuh atas teks sastra yang dibacanya melalui indra penciumannya. Contoh:
Ketika angina tenggara bertiup dingin menyapu harum bunga kopi yang mekar di musim kemarau.
d) Citraan Pengecapan (Taste Imagery)
Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, manis, pahit, dan asam. Contoh:
Lezatnya ikan kakap bakar menggoyahkan imanku hari ini, akhirnya aku terpaksa membatalkan puasa.
e) Citraan Gerak (Kinesthetic Imagery)
Citraan gerak dalam penulisan karya sastra mampu melukiskan bahwa sesuatu yang sebenarnya tidak dapat bergerak namun mampu bergerak atau digunakan sebagai sesuatu yang dapat bergerak pada umumnya.citraan gerak dapat membuat sesuatu menjadi terasa hidup dan terasa menjadi dinamis.citraan gerak sering dipakai dalam karya sastra karena mampu membangkitkan imaji pembaca. Contoh:
Senjakala, saat keseimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam.
f) Citraan Perabaan (Tactile Thermal Imagery)
Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba. Pada saat membaca sebuah karya sastra, dapat ditemukan diksi yang menyebabkan seolah-olah merasakan nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara. Contoh:
Aku tidur melingkar seperti trenggiling. Alam menghiburku dengan tiris lembut, menyapu tubuhku yang tergulung kain sarung.
g) Citraan Intelektual (Intellectual Imagery)
Citraan intelektual adalah citraan yang dihasilkan melalui asosiasi-asosiasi intelektual guna menghidupkan imaji pembaca, pengarang memanfaatkan asosiasi logika dan pemikiran. Contoh:
manusia abad ini memang sudah amat liar lalau dengan mengejek impotensi agama
dengan pembunuhan agama, pembunuhan tuhan kita telah menderita penyakit schizophrenia