• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahasa dengan Masyarakat a. Bahasa dan tutur

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh MUHAMMAD RISNO (Halaman 25-28)

Ferdinand de Saussures (1916) bisa membedakan yang disebut langage, langue, dan parale 3 istilah berasal dari prancis itu, dalam bahasa indonesia secara tidak diperhatikan, dipadankan dengan satu istilah yaitu bahasa. ternyata ketiganya mempunyai arti yang berbeda, meskipun ketiganya memiliki kesamaan yang bersangkutan dengan bahasa. dalam bahasa prancis istilah langage dapat menyebabkan bahasa sebagai sistem bentuk bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal diantara mereka langage ini bersifat abstrak. barangkali istilah langage dapat dipadankan dengan kata bahasa seperti terdapat pada kalimat “Manusia mempunyai bahasa , binatang tidak” jadi, pengguna,an istilah bahasa dalam kalimat tersebut, sebagai padanan kata langage tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu, melainkan mengacu pada bahasa umumnya.

Ferdinande de Saussere yakni langue sebagai bentuk sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomonikasi dan berinteraksi sesamanya jadi, langue mengacu pada sebuah sistem lambang bunyi tertentu yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu, yang barangkali dapat

16

dipadamkan dengan kata bahasa dalam kalimat Nita belajar bahasa jepang, sedangkan

“Dika belajar bahasa Inggris” sama dengan langage yang bersifat abstrak langue juga bersifat abstrak sebab baik baik langue maupun langage adalah suatu sistem pola, keteraturan, atau kaidah yang ada atau dimiliki manusia tetapi tidak nyata-nyata digunakan.

Berbeda dengan langage yang bersifat abstrak, maka istilah yang ketiga yaitu parole bersifat konkret, karena parole itu merupakan pelaksana,an dari langue dalam bentuk ujaran dan tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat didalam berinteraksi atau berkomunikasi sesamanya. Parole barangkali dapat dipadankan dengan bahasa dan kalimat. Kalau kita berbicara bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhirnya ken”. Jadi, sekali lagi parole itu tidak bersifat abstrak nyata dapat diamati secara empiris. Yang diperlukan menjadi objek studi linguistik adalah langue, sebagai suatu sistem bahasa tertentu, tetapi dilakukan melalui parole. Mengapa? Karena parole ini yang dapat diobservasi secara empris. Langue tidak dapat diamati secara emperis karena sifatnya yang abstrak, padahal setiap penelitian harus dilakukan melalui data emperis itu.

Dari penuturan mengenai istilah langage, langue, dan parole diatas terlihat bahwa kata atau istilah bahasa dalam bahasa indonesia mengandung konsep yang amat berat, karena ketiga istilah yang berasal dari prancis itu dapat dipadankan dengan satu bahasa itu, meskipu harus dalam konteks yang berbeda. Mari kita lihat cara penggunaan bahasa dalam kalimat dibawah ini!

a). Sesama aparat penegak hukum haruslah ada kesama,an bahasa, agar keputusan yang tidak bertentangan.

b).Bahasa militer tak perlu digunakan dalam menghadapi kerusuhan disana.

c). Nyatakanlah rasa cintamu dalam bahasa bunga. Hasilnya pasti akan lebih baik.

Ketiga kata bahasa diatas tidak ada hubungan baik dengan kata langage, langue, pertama kebijakan pandangan; yang kedua berarti cara; dan yang ketiga adalah alat komonikasi.

b. Verbal repertoires.

Diatas sudah dibicarakan bahwa Ferdinande de Saussure membedakan antara langue dan parole, antara sebuah sistem yang sifatnya abstrak, dan bahasa dan penggunaanya abstrak, dan bahasa dalam penggunaanya secara nyata didalam masyarakat.

Verbal repertoire ada dua macam yaitu yang dimiliki setiap penutur secara individual, dan yang merupakan milik masyarakat tutur secara keseluruhan. Yang pertama mengacu pada alat-alat verbal yang dikuasai oleh seorang penutur, termasuk kemampuan untuk memilih norma-norma sosial bahasa sesuai dengan situasi dengan fungsinya. Yang kedua mengacu pada keseluruhan alat-alat verbal yang ada di dalam suatu masyarakat, beserta dengan norma-norma untuk memiliki variasi yang sesuai dengan konteks sosialnya.

Kajian yang penggunaan bahasa sebagai sistem interaksi verbal diantara para penuturnya didalam masyarakat disebut sosiolinguistik. interaksional atau sosiolinguistik mikro. Sedangkan kajian mengenai pengggunaan dalam hubunganya dengan adanya ciri-ciri linguistik didalam masyarakat disebut sosiolinguistik korelasional atau sosiolinguistik makro.(Appel 1976:22). Kedua sosiolunguistik makro dan mikro ini mempunyai hubungan yang tidak bisa terpisahkan karena verbal repertoir setiap penutur ditentukan oleh masyarakat dimana “dia berada” sedangkan verbal repertoir suatu masyarakat tutur terjadi dari himpunan verbal repertoir semua penutur di Masyarakat itu.

18

c. Masyarakat tutur

Fishman (1976:28) menyebut “Masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidaknya mengenal satu variasi bahasa beserta sesuai dengan norma-norma yang sesuai dengan penggunaanya” kata masyarakat dalam istilah masyarakat tutur bersifat relatif, dapat menyangkut masyarakat yang sangat luas, dan dapat pula hanya menyangkut sekelompok orang. Kata masyarakat itu kiranya digunakan sama dalam pengguaan “masyarakat desa”, Masyarakat kota dan yang hanya menyangkut sejumlah kecil orang seperti “Masyarakat pendidikan” atau masyarakat linguistik Indonesia

Pengertian terhadap masyarakat seperti itu maka setiap kelompok. karena tempat atau daerahnya, profesi, dan sebagainya. Pembahasan mengenai masyarakat tutur sebenarnya sangat beragam, yang barangkali antara satu dengan yang lainya agak sukar untuk dipertemukan. Bloomfileld (1933:29) membatasi dengan sekelompok orang yang menggunakan sistem isyarat yang sama. Batasan Bloomfield diangap terlalu sempit oleh para ahli sosiolinguistik sebab, terutama dalam masyarakat modern banyak orang lebih menguasai lebih dari satu ragam bahasa; dan didalam yang diberikan oleh Labov (1975:158) yang mengatakan satu kelompok orang yang mempunyai norma yang sama mengenal bahasa, dianggap terlalu luas dan terbuka.

Kalau dilihat dari kasus masyarakat tutur bahasa Indonesia diatas maka bisa dikatakan bisa terjadi suatu masyarakat tutur itu bukanlah suatu masyarakat yang berbicara dengan bahasa yang sama, Melainkan suatu masyarakat yang timbul karena rapatnya komonikasi atau karena intgrasi simbolis dengan tetap mengakui kemampuan komonikatif tanpa mengingat jumlah bahasa atau variasi bahasa yang digunakan .

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh MUHAMMAD RISNO (Halaman 25-28)

Dokumen terkait