• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh MUHAMMAD RISNO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh MUHAMMAD RISNO"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Pendidikan pada prodi pendidkan bahasa dans astra indonesia

Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas muhammadiyah makassar

Oleh

MUHAMMAD RISNO 10533757114

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2020

(2)

lJNIVERSITAS MlJHAMMADIY AH MAKASSAR FAKULTAS KEG lJ RlJAN DAN ILMU PENDIDIKAN

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi atas Nama MUH. RISNO, NIM: 1053375114 diterima dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universita:.

Muhammadiyah Makassar Nomor: 148 T AHUN 1442 H/2020 M, Tanggal 30 September 2020 M, sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana

Pendidikan pada Prodi ~ il<~ an Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pe

1' klm p.. 1si v

1

i!Ji i&A';ta mm

diyah Makassar pada ban Sahtu tanggal 3 ktohe~,V

~~ p..\<.AS S .qt '11,

' ~ • "f' ~<)

~

MakasY'~ , 16 Ribrul-Awal 1442 H

<' ~,!W1

1

! '

2 Nov~ ber 020 M

" ' ~ ::.1\·U </ ~ " " " '

-.I ~ ,~' -~ / ?" ,

* ~ ·~:, *

3.

Sekretaris 4. Penguji

:: u . , , '.~ z

I.

Pengawas U , ~~¥~ ~: ~ g ~

2. Ketua

~ '<>~ ..P rwm · · , . &

h~D.

-#' ~

• ~ ullah, M. Pd.~~~«;

.-=:;~Dr. ~u9fa&~ ~d.

2. Rosdiana, S. Pd., M. Pd.

3. Akram Budiman Yusuf, S. Pd., M. Pd.

4. lv!u.~ammad Dah!an, S. Pd., ~.1. Pd.

Disahkan Oleh :

Deka~l KIP Universitas Muhammadiyah Makassar

;,.. ~'-'¼ ...

l'

!_ .r •• ~it'

l \

Pd. P h.D.

934

(

.. .

( ..

( .. ~ ····~···) ( .. ~ ... )

(3)

l lNJVERSITAS MLJHAMMADIYAH MAKASSAR 0

FAKULTAS KEGURlJAN DAN ILMU PENDIDIKA N

llil";'O(. .. .-;,,....,, T ,-, T A "l n,-;, 11, . . nnl. ,1'0f1'Tr, 1-l:J.1',.:Jl:J J. Utl\Jfl.J ... J: l:J!Ull.l.l'l'J.Ull ... U

Nama : MUH. RISNO

Nim : 1053375ll 4

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fak-ultas : Keguruan dan llmu Pendidikan

Judul skripsi : Interferensi Tuturan Bahasa Menggarai dalam Bahasa Indonesia J>ada An - Anak dalam Tin.iauan Sosiolngustik

Tim

I

Setelah diperiksa da · e iti ulang, SKrips:i~ni telah diujikan di hadapan Penguji Skripsi

aku1tas s<11~'(j7-j dan

ll~ ndidikan Universitas

kassf;_,~

t\(ASs 14?4, "

~~r , ~ ~

~((}

~

. . . Mak~ 02 Olctober 2020

, \.\_ 1 il,. ,1 ~

<' ~ ~ttllj)!lt6!~ ·~ ?-

--.. ~ , . , · ~ ..,.,.

. . . . , ~ ... , ~ . , ,#II -"

.-=:;;; ' ;;;;;:;._.

fAiembimbing

___.

,.

.. ~.

/

----

')

... d ~

~ ½• ·,'- .:.'.'.-..

~'---.:;,-_ / ,:,,~

f :.J¼t>\>4, ~ ,

,, ,,,,, '"

'

~

' ~Jil}

DekanFKIP Unismuh Makassar

Ketua Prodi Pendidikan Ba

1,~ -

(4)

Q · ·,

~

V

UNIVERSITAS MU H AMMAD IYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN JLMU PENDIDIKA N

SURAT PERNY AT AAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Stambuk Jurusan Fakultas Judul Skripsi

Muhammad Risno 10533757114

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Keguruan dan flmu Pendidikan

Interferensi Tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia pada Anak-anak dalam Tinjauan Sosiolinguistik

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapa pun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pemyataan ini tidak benar.

Muhammad Risno

(5)

l J NIVERSlTAS Ml!HAMMADIY AH MAKASSAR FAKULTAS KEGUUUAN DAN lLMU PENDIDIKAN

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Muhammad Risno

10533757114 Nama

Stambuk Jurusan Fakultas

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Keguruan dan rlmu Pendidikan

Dengan

i.ni

menyatak:an perjanjian sebagai berikut:

1.

Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai skripsi ini , say a akan menyusun sendiri skripsi say a (tidak dibuatk an oleh siapapun ).

2.

Dalam penyusunan skripsi, saya akan sela lu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan o leh pimpinan fakultas . 3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) da lam peny usunan

skripsi.

4.

Apabila saya melanggar pe rj anjian seperti butir pada

1, 2,

dan

3,

saya bersedia menerima s anksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanj ian ini saya bu at dengan penuh k esadaran.

Makassar, 28 Juli 2020

Yang mbuat pernyataan

(6)

MOTO

Kunci kesuksesan adalah doa, harapan , mimpi dan berusaha dan

yang paling penting adalah sabar

Jangan pernah berharap kalau tak pernah bermimpi,

sesederhana apapun mimpi teteplah berikhtiar dan hargailah

proses itu, yakin kesuksesan akan diraih

Tak ada daun yang menari kalau tak ada angin yang berbisik,

begitupun kesuksesan tak akan diraih kalau tak berusaha.

So,…… semangatlah anak muda untuk menggapai hari esok

Dan jangan lupa ngopi…

(7)

Seiring sembah sujud sykur pada-Nya.

Kupersembahkan karya sederhana ini kepada kedua orang tua,

Yang telah memberikan kasih sayang yang tulus dan tak terbatas ,

Do,a yang selalu terucap disetiap hitungan detik dan disetiap

suciMu serta setiap tetesan keringatMu adalah do,a dan semangat bagiKu

dan bagi saudara-saudaraku, seperjuangan terima kasih atas

motivasinya untaian do,a dan nasihatnya.

(8)

ABSTRAK

Muhammad Risno, 2020. Interferensi Tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia pada Anak-anak dalam Tinjauan Sosiolinguistik di Nggirang Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat NTT. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing 1.Hambali dengan pembimbing 11 Indramini.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu Interferensi atau bagaimana memperbaiki kesalahan berbahasa dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Golo Ndoal khususnya kampong Nggirang, yang bahasa keseharianya menggunakan bahasa daerahnya sendiri baik di lingkungan non formal maupun formal sehingga karena sudah menjadi kebiasaan berbahasa daerah sangat berdampak pada bahasa Indonesia ketika menggunakan bahasa Indonesia ketika bertemu dalam suatu forum resmi yang memang harus menggunakan bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif.

Data penelitian ini berupa data deskriptif dan data reflektif. Hasil penelitian sebagai berikut, pertama tutur kata masyarakat menggunakan bahasa Indonesia banyak yang salah, kedua kendala cara pengucapan atau penyapain bahasa Indonesia kurang dipahami, ketiga peneliti mencoba berinteraksi langsung dengan masyarakat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar lebih-lebih dalam hal bentuk bertutur kata, tindak tutur dan strategi dalam beriteraksi dengan lawan bicara dengan benar.

Kata kunci: Interferensi, Tuturan Bahasa, Anak-anak

(9)

Puji syukur atas ke hadirat Allah Swt. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya berupa kesempatan, kesehatan, ketabahan, petunjuk dan kekuatan iman sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan. salam dan shalawat tidak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarganya dan para sahabat yang tetap istiqomah di jalan Allah.sehingga skripsi yang berjudul “ Interferensi Tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia pada Anak-anak dalam Tinjauan Sosiolonguistik” di Manggarai Barat dapat terselesaikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar, “Sarjana Pendidikan” pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

dalam penyusunan skripsi ini hingga selesainya, penulis banyak mengalami kesulitan, akan tetapi berkat usaha yang sungguh-sungguh dan adanya bantuan dan dorongan berbagai pihak, maka kesulitan itu dapat teratasi. Demikian pula penulis menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada kedua kedua orang tua saya yang tersayang yang telah susah payah merawat dan membimbing hinggah sabar dalam mengahadapi saya sehingga saya sampai di titik ini, dan tak lupa pula penulis berterima kasih kepada teman-teman saya yang selalu memotivasi saya untuk terus berjuang dan tak patah semangat sehingga tercapai apa yang di cita-citakan.

tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs.

Hambali,S,pd., M. Hum. pembibing I dan Indramini S.pd, M. pd pembimbing II atas kesedian dan kesungguhanya dalam memberikan bimbingan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga skripsi ini layak untuk diseminarkan, dan ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi penulis karena dapat menyelsaikan penyusunan skripsi ini.

Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih juga kepada

Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar,

Erwin Akib, M.pd, Ph.D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

(10)

Universitas Muhammadiyah Makassar. Ibu Munirah, M. Pd ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atas segala bantuanya dalam admistrasi maupun dalam perkuliahan. Dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada perangkat Desa dan Masyarakat Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sana.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak selama kritikan dan saran tersebut yang sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidakakan berarti sama sekali tanpa adanya kiritikan, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca terutama diri penulis. Aemiin ………

Billahitaufik wall hidayah

Wasalamualaikumwr.Wb.

Makassar,27 Juli 2020

Penulis

(11)

1

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa Manggarai adalah termasuk dari sebagian banyak bahasa daerah di Indonesia. Bahasa Manggarai adalah bahasa pusaka yang diperkenalkan oeh orang tua yang digunakan sebagian besar masyarat Manggarai. Bahasa Manggarai sebagai bahasa ibu memiliki peranan dan yang penting dalam masyarakat itu. Bahasa Manggarai biasa dipakai sehari-hari di masyarakat maupun antara masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu kedudukanya sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama, maka bahasa Manggarai sangat berpengaruh dalam bahasa Indonesia

Kalau dilihat pemakaian kedua bahasa secara berulang-ulang oleh masyarakat dwibahasawan maka terjadi kontak bahasa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa interferensi yang berkaitan dalam pemakaian unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa lain. Yang terjadi pada diri penutur sebagai gejala tutur, terjadi pada diri dwibahasawan dan peristiwannya di anggap sebagai penyimpangan.

Interferensi akan terjadi pada pengucapan tata bahasa, kosakata, tata makna, bahkan budaya baik dalam ucapan maupun tulisan, terutama kalau seseseorang sedang mempelajari bahasa keduannya., (Alwasilah dalam Stanislaus Hermaditoyo 1985:105).

Menurut Suwito (1983:106) Inteferensi dapat terjadi dalam semua komponen kebahasaan.

Ini berarti bahwa peristiwa interferensi dapat terjadi dalam bidang-bidang bahasa yaitu sebagai berikut, (1) tata bunyi, (2) tata bentuk, (3) tata kalimat, (4) tata kata dan (5) tata makna.

Bahasa merupakan keunggulan kecerdasan manusia yang diperlukan oleh masyarakat manusia. Kecerdasan yang dimiliki manusia dalam berbahasa merupakan modal untuk menjalin berkomunikasi yang baik dan terarah diantara keduannya. Bahasa

(12)

2

juga disebut sebagai media komunikasi yang digunakan seseorang atau sekumpulan orang baik dalam kelompok kecil maupun kelompok lebih luas, Bahasa juga dapat mencerminkan budaya seseorang. Hal ini dapat dibuktikan dari cara seseorang menggunakan bahasa. (Gardner, Sukardi dalam Lina Nuryani, 2005:67).

Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan, Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi dan budaya.

Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain.

Pemakaian bahasa dalam komunikasi selain ditentukan oleh faktor-faktor linguistik juga ditentukan oleh pakar luar bahasa, antara lain faktor sosial yang merupakan faktor yang berpengaruh dalam pemakaian bahasa. Pandangan demikian memang cukup beralasan karena pada dasarnya bahasa adalah bagian dari suatu sistem sosial. Kajian tentang bahasa yang dihubungkan dengan faktor sosial merupakan suatu kajian yang sangat menarik.

Hudson (1996:1), menyatakan bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang sangat luas tidak hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasinya namun juga penggunaan bahasa tersebut mencakup faktor kebahasaan dan faktor non kebahasaan, misalnya faktor hubungan antara penutur dengan mitra tuturannya.

Pendapat Hudson diatas didukung oleh Gunarwan (2001:3) yang menyatakan bahwa masyarakat tidak bersifat monolitik, ia terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang masing-masing terbentuk oleh kesamaan fitur. Atas dasar ini sosiolinguistik juga memandang suatu bahasa itu terdiri atas ragam-ragam yang terbentuk oleh kelompok- kelompok sosial yang ada.

(13)

Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu didalam masyarakat. De Saussure pada abat ke- 20 menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lainya, seperti perkawinan, pewarisan harta, peninggalan dan lainya.

Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana yang dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komonikasi di dalam masyarakat. Setiap kegiatan kemasyarakatan. mulai dari upacara pemberian nama bayi yang baru lahir sampai upacara pemakaman jenasah tentu tidak akan terlepas dari penggunaan bahasa. Oleh kaena itu, bagaimanapun rumusan mengenai sosiolinguistik yang diberikan oleh pakar tidak akan terlepas dari penggunaan bahasa dengan kegiatan atau aspek-aspek kemasyarakatan.

Sosiolinguistik lazim didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu didalam suatu masyarakat bahasa.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti Inteferensi Tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia Pada Anak-anak dalam Tinjauan Sosiolinguistik Hal ini dijadikan bahan oleh peneliti dalam rangka memperbaiki tuturan bahasa pada anak-anak.

Bahasa sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan berkembangnya era globalisasi yang makin maju maka tingkat bahasa juga sangat penting, tapi kita lihat sekarang ini bahasa Indonesia dan bahasa daerah secara bersamaan melakukan komonikasi satu sama lain. Fenomena ini banyak sekali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dikalangan orang tua, tapi yang lebih parah lagi adalah remaja atau anak sekolah mengikuti juga dialek-dialek tersebut. Mengingat masalah ini bukan hanya

(14)

4

terjadi orang tua saja tetapi juga dikalangan anak sekolah. Salah satu bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Nggirang dan tepatnya di Manggarai Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbliling Kabupaten Manggarai Barat (NTT). yaitu bahasa Manggarai baik dikalangan orang tua maupun dikalangan remaja dan anak-anak bahkan pelajar sekalipun masih menggunakan bahasa daerahnya disekolahnya.

Nggirang adalah salah satu kampung yang ada di Manggarai Barat Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbliling. Hampir setiap hari bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Mangarai. Maka pada kesempatan ini peneliti tertarik untuk meneliti dan mengangkat sebuah judul Inteferensi Tuturan Bahasa Mangarai dalam Bahasa Indonesia pada Anak-anak dalam Tinjauan Sosiolinguistik.

Penelitian ini dilakukan peneliti untuk menambah pengetahuan peneliti terhadap interferensi tuturan bahasa Manggarai dalam bahasa Indonesia dalam tinjauan sosiolinguistik. Dan perlu juga mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam rangka membentuk remaja untuk pandai menggunakan bahasa yang sesuai dengan tata bahasa yang ada. Pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan disebut sosiolinguistik.

Kalau disimak definisi itu, maka dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu lingustik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi dengan objek penelitian. Hubungan antara bahasa dengan faktor-fator sosial di dalam suatu masyarakat tutur.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja kah yang menjadi unsur-unsur Bahasa Manggarai dalam penggunaan dalam bahasa Indonesia

2. Bagaimanakah interferensi Bahasa Manggarai terhadap penggunaan Bahasa Indonesia.?

(15)

C. Fungsi Penelitian

Adapun fungsi yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1) Mendeskripsikan interferensi tuturan bahasa Manggarai dalam pemakaian Bahasa Indonesia pada anak-anak dalam tinjauan sosiolinguistik di Manggarai.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Manfaat dari penelitan ini juga mencakup dua dimensi yakni dimensi keilmuan (teoritis) dan dimensi praktis. Manfaat penelitian ini dapat dirumuskan yaitu:

a) Manfaat teoritis

Untuk mengetahui dampak dari interferensi tutur bahasa Manggarai dalam bahasa indonesia dalam tinjauan sosiolinguistik.

b) Manfaat praktis

Menjadi acuan dasar dalam mempelajari bahasa disekolah ataupun di perkuliahan, agar masyarakat dapat mengerti tentang penggunaan bahasa yang sesuai dengan tata bahasa yang baik.

2. Sebagai informasi bagi masyarakat agar dapat memahami tutur bahasa yang baik pada anak-anak di Manggarai.

3. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi anak-anak serta masyarakat sehingga mampu mewujudkan tutur bahasa yang tepat di Manggarai

4. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan cara bertutur bahasa yang baik.

(16)

6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Sri lastri (2003) dalam laporan penelitian yang berjudul inteferensi bahasa Sunda dalam penggunaan bahasa Indonesia pada karangan narasi pada siswa kelas 1 SLTP N 3 Majenang Silacap, dengan hasil temuan yaitu: jenis interferensi meliputi jenis Morfologi, jenis interferensi leksikal, dan jenis interferensi sintaksis yang terdapat pada karangan siswa SLTP N 3 Majenang kabupaten Cilacap.

Budi Adi Wahyono (2003) dalam laporan penelitianya, Interferensi leksikal bahasa Jawa didalam karangan narasi siswa kelas 1 SLTP N Kaligondang Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga, dengan hasil temuan yaitu, Interferensi bentuk dasar, interferensi bentuk berimbuhan, inteferensi bentuk ulang, dan inteferensi bentuk majemuk.

Suharti (2007) dalam laporan penelitian yang berjudul, Inteferensi bahasa Arab pada bahasa Indonesia dalam surat pembaca dan surat redaksi pada majalah Hidayah, dengan hasil temuan yaitu, jenis interferensi dan faktor penyebab terjadinya interferensi bahasa Arab pada bahasa Indonesia dalam surat pembaca dan salam redaksi pada majalah Hidayah.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan diatas, penelitian tentang inteferensi sudah pernah dilakukan. Akan tetapi penelitian tentang Interferensi tuturan bahasa Manggarai dalam bahasa Indonesia pada anak-anak dalam tinjauan sosiolinguistik belum banyak dilakukan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sekarang yaitu sama-sama mengkaji tentang Interferensi, sebelumnya yaitu dengan objek penelitian yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang

(17)

telah dilakukan sebelumnya, peneliti merasa tertarik dengan kajian tentang interferensi.

Karena itu peneliti mengambil kajian tentang ”Inteferensi Tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia pada Anak-anak dalam Tinjauan Sosiolinguistik di Nggirang Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbliling Kabupaten Manggarai Barat NTT.

2. Hakikat Interferensi Tuturan Bahasa a. Komunikasi dan interferensi bahasa

Interferensi bahasa tidak terlepas dari sebuah interferensi bahasa, Secara makna praktiknya interferensi yaitu terjadi kontak bahasa ibu yang mempengaruhi bahasa kedua.

Interferensi sering dialami oleh siswa yang secara kebiasaan sering menggunakan bahasa daerahnya digunakan bahasa pengantar antara kerabat kebahasanya. Terjadinya konflik timbulnya bahasa pertama kedalam bahasa perantara itu disebabkan oleh terjadinya unsur kehitrogenan permasalahan hidup, pengetahuan manusia dan kecerdasan siswa. Wilayah sekolah ialah wadah menempuh jenjang pendidikan serta tempat peserta didik melewati prilaku dalam berucap didalam menggunakan bahasa pertama mereka masing-masing adalah bahasa pertama dalam mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa pembuka antara teman tidak sebahasa pertama Faktor lingkungan lain yakni secara geografis biasanya di daerah, tidaklah mengherankan masyarakat didaerah perbatasan dalam penggunaan tiga bahasa sebagai bahasa pendahuluan, ialah kedua bahasa pertama serta bahasa Indonesia. dibahas diawal bahwa interferensi mengandung campur tangan lebih jelas dalam pembahasan interferensi di uraikan sebagai berikut ini.

Interferensi bahasa ialah merupakan proses unsur serapan kedalam bahasa kedua yang bersifat melanggar kaidah gramatika bahasa yang menyerap. brikut beberapa pemaparan tentang interferensi bahasa menurut pakar.

(18)

8

Interferensi menurut para ahli Alwasilah (1985: 131) mengatakan pengertian interferensi berdasarkan rumusan Hartman dan stonk, bahwa interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecendrungan.

Inteferensi bahasa menurut Soewito (2010:126) bahwa bahasa Indonesia berlaku bolak-balik, ialah unsur bahasa daerah bisa memasuki bahasa Indonesia dan banyak memasuki bahasa-bahasa daerah, kesalahan dalam berbicara satuan banyi, tata bahasa dan kosa kata berdampak pada gangguan atau penyimpangan pada system fonemik bahasa penerima. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa interferensi merupakan peristiwa berbahasa yang dilakukan oleh seseorang bilingual dengan menggunakan suatu bahasa dengan memasukan contoh bahasa lain.

b. Faktor terjadinya interferensi

Kedwibahasaan dalam bertutur akan terjadinya interferensi, berupa bahasa daerah maupun bahasa asing. dapat dikatakan demikian karena didalam diri penutur yang dwibahasawan terjadi kontak bahasa, selanjutnya dapat mengakibatkan munculnya intrerferensi, tipis dalam pemakai bahasa penerima cendrung bisa mengakibatkan sikap yang kurang baik.

Menurut yang lain mengenai penyebab interferensi menurut Jendra (1991:105) sebagai berikut, interferensi akan terjadi diakibatkan tiga pokok permasalahan yaitu pokok bahasa, yaitu bahasa yang masuk dalam jenis-jenisnya dan bentuknya kedalam bahasa yang lain, bahasa masuk atau bahasa resipien, yaitu bahasa yang masuk atau yang ditempel oleh pokok bahasa; dan adanya dasar bahasa yang terserap (importasi) atau unsur serapan. Tata cara bahasa tersebut bisa dilihat dalam bentuk pengabaian kaidah bahasa masuk yang dipakai dalam pengabilan dasar pokok bahasa yang menguasainya tidak terkordinir. Hal lain yang paling berperan ialah kebiasaan menggunakan bahasa pertama pada bahasa masuk yang sering digunakan, pada umumnya terjadi karena

(19)

kurangnya kontrol bahasa dan kurangnya menguasai kepada bahasa penerima. Kebiasaan tersebut sering terjadi pada dwibahasawan yang sedang mempelajari pembelajaran bahasa kedua, baik bahasa nasional maupun bahasa asing. Menurut pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadinya interferensi adanya kekurangan pengetahuan terhadap bahasa yang ingin dicapai karena kedudukan lawan bicara. Latar belakang yang menyangkut pribadi seorang penutur, karena ada ketidakpahaman atau penguasaan bahasa oleh penutur.

c. Bentuk-bentuk interferensi.

terjadinya interferensi ini kembali kepada kemanpuan pembicara dalam bertindak tutur dalam menggunakan bahasa tertentu sehingga dapat mempengaruhi oleh bahasa lain.

interferensi terjadi pada saat menggunakan bahasa kedua. Chaere (2003:123) mengungkapkan bahwa jenis tersebut adalah penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia. Sebab untuk membentuk nominal dalam bahasa Indonesia ada konfiks pe-an, jadi seharusnya peneonan dan penendaan. adanya afiksasi pada kata neon dan tenda, karena konfiks pe-an dianggap sebagai afiksasi yang tepat dalam kata tersebut.

Suwito (1988:66) Menyatakan bahwa interferensi morfologi terjadi apabila dalam pembentukan katanya sesuatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain. Interferensi bidang morfologi terjadi pula dari afiks bahasa daerah. Chaer (2003:123) mengemukakan bahwa jenis ketabrak, kejebak, kekecilan, dan kemahalan dalam bahasa Indonesia juga termasuk kasus interferensi, sebab imbuhan yang digunakan disitu berasal dari bahasa Jawa atau Sunda dialek Jakarta. bentuk yang baku adalah terjebak, terlalu kecil, dan terlalu mahal.

(20)

10

Ragam-ragam Interferensi

Bentuk interferensi yang dibahas adala fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon.

1) Interfensi Fonologi.

Kridalaksana (1985:57) menyatakan bahwa, Fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki fonem bahasa menurut fungsinya. Interferensi fonologi terdiri dari interferensi fonologis pengurangan, penambahan huruf, seperti pada kata melihat yang diujarkan oleh penutur berbahasa Jawa. Kata meliat telah terjadi pengurangan huruf /h/.

penjelasan interferensi fonologi merupakan suatu proses yang berusaha menerangkan perubahan-perubahan morfem atau kata berdasarkan ciri-ciri pembeda secara fonetis (hal yang berkaitan dengan bunyi). Perubahan biasa terjadi seperti kehilangan fonem pada awal, tengah, akhir, atau melalui proses penggabungan, pelepasan, penyisipan, asimilasi dan desimilasi.

2) Interferensi morfologi.

Morfologi adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji tentang pembentukan kata. Ramlan (2001:21) menyatakan bahwa, Morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang menjelaskan atau yang mempelajari seluk bekuk kata pembentukan morfem dan afiks harus dicocokan dalam kaidah penggunaan bahasa Indonesia, Ramlan (2001:63) menyatakan sebagai berikut. Afiks suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain, Sedangkan afiks adalah morfem imbuhan yang berupa awalan, akhiran, sisipan serta kombinasi afiks. Afiks bisa menempati posisi depan, belakang, tengah bahkan diantara morfem dasar.

(21)

3). Interferensi sintaksis.

Interferensi sintaksis terjadi karena struktur bahasa lain (bahasa daerah) dipakai dalam pembentukan kalimat bahasa yang digunakan. Penyerapan unsur kalimatnya dapat berupa kata, frase dan klausa. Bentuk kesalahan bahasa Manggarai dalam bahasa indonesianya, Misalnya: Rumah ayahnya Ali yang besar sendiri di kampung itu.

Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa manggarai adalah sekang de bapak de Ali ata mese hanang koe gena one beo hitu. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah rumah ayah Ali yang paling besar dikampung itu. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi karena kontak bahasa yang sedang diucapkanya. (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

4.) Interferensi leksikon.

kesalahan ini terjadi karena adanya pencampuran bahasa ibu yang menjadi serpihan dalam bahasa kedua, baik kata maupun frasa bahasa induk Chaer (2003:263) menyatakan sebagai brikut. Kesalahan berbahasa yang menonjol adalah pada tuturan fonologi dan leksikon. Kita dengan mudah dapat menebak seseorang berasal darimana dengan menyimak lafal dan kosakata yang digunakan dalam berbahasa keduanya.

3. Bahasa dan Tinjauan Sosiolinguistik a. Hakikat Bahasa

Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Abdul Chaer & Leonie Agustina (2014 : 2).

Bahasa merupakan salah satu sistem, yaitu bahasa itu dibentuk oleh beberapa komponen yang berpola setara tetap dan dapat dikerjakan. Bagi orang yang mengetahui

(22)

12

sistem bahasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan “Ibu meng ...seekor...di...” yaitu suatu kalimat bahasa Indonesia yang benar bentuknya, walaupun ada beberapa kumpulan yang ditinggalkan. Tetapi susunan “Meng Ibu Seikan goreng diekor dapur” bukanlah kalimat bahasa Indonesia yang benar karena tidak tersusun menurut sistem kalimat bahasa indonesia. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis.

Dalam sistematis artinya bahasa itu disusun menurut pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal melainkan terdiri dari sejumlah supsistem, yaitu subsistem fonologi, morfologi, subsitem sintaksis dan subsistem leksikon.

Sistem bahasa yang dibicarakan diatas adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Bahasa itu bersifat produktif, Artinya dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Bahasa itu bersifat dinamis maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja fonologis, morfologis, sintaksis, simantik dan leksikon. Bahasa itu sama, artinya, walaupun sebuah bahasa mempunyai bentuk atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasan berbeda maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologi, morfologis, sintaksis, maupun pada tataran leksikon.

Bahasa itu bentuknya manusiawi. Artinya bahasa adalah alat komunikasi verbal hanya dimiliki oleh manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa yang dimiliki hewan sebagai komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan tidak dinamis. Dikuasai oleh para hewan itu secara instingtif, atau secara naluriah.

Padahal manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instintif atau naluriah,

(23)

melainkan dengan cara belajar tanpa belajar manusia tidak akan dapat berbahasa. Hewan tidak mempunyai kemampuan untuk mempelajari bahasa manusia. Oleh karena itulah dikatakan bahasa itu bersifat manusiawi hanya dimiliki manusia.

Ciri-ciri bahasa yang dibicarakan diatas, yang menjadi indikator akan hakekat bahasa adalah menurut pandangan linguistik umum (general linguistics), yang melihat bahasa sebagai bahasa. Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interaksi sosial dan sebagai alat mengidentifikasikan diri.

b. Fungsi bahasa

Bagi sosiolinguistik konsep berbahasa ialah cara untuk menyampaikan cara pandang yang dianggap terlalu sempit, Fishman berpendapat (1972) bahwa yang menjadi kesalahan sosiolinguistik ialah “who speak what languange to whom, when and towhat end” karena itu, bentuk bahasa itu, antara lain, dapat dilihat sudut penutur, mendengar, topik, kode, dan amanat pembicaran. dari pandangan pembicara, bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (lihat Halliday 1973, Finnocchiaroc 1974; Hakobson 1960 berfungsi emotif). maksudnya penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkan.

penutur bukan hanya mengunkapkan emosi lewat bahasa tetapi memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturanya. Dalam hal ini pihak pendengar juga dapat menduga apakah apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

c. Dasar komonikasi

Fungsi bahasa yang dibahas di atas ialah sebagai alat komonikasi atau alat interaksi.

Lalu, masalah kita sekarang adalah apakah komonikasi itu dalam Webster s New Ccollegiate Dictionary (1983:225) dikatakan :

Communication is a process by which information is exchange between individuals through a common system of symbols, signs,or behaviouir (Komunikasi adalah proses

(24)

14

pertukaran informasi anatara individual melalui simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum).

d. Komonikasi tutur bahasa.

Berikut bagan proses komonikasi-bahasa dapat digambarkan sebagai berikut:

Dalam setiap komonikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat- kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran dan sebagainya) itu disebut pesan. Dalam hal ini pesan itu tidak lain pembawa (ide, saran dll.) yang dikatakan pengirim (penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan merumuskan terlebih dahulu yang ingin sampaikan dalam suatu krangka atau pendapat. Proses ini biasa di istilah semantic encoding.

pemikiran itu lalu disusun dalam bentuk kalimat gramatikal, proses pemindahan gagasan kedalam bentuk kalimat gramatikal ini disebut gramamatical encoding.

Ada dua bentuk komunikasi bahasa, yaitu komonikasi searah dan komonikasi dua arah. dalam komonikasi searah, si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap sebagai penerima. Komunikasi searah ini terjadi misalnya dalam komonikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah di Masjid dan Gereja, ceramah yang diikuti dengan

Gangguan

Pengirim pesan

enkoding

Pesan

ujaran

Penerima pesan dekoding

Umpan balik

(25)

dialog dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti pengirim bisa menjadi pengirim misalnya dalam rapat perundingan, diskusi dan sebagainya.

Sebagai alat komonikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau paralinguistik. kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun komunikasi bahasa itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis dan sintaksis. Ketika tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan, yaitu semantik (yang di dalamnya terdapat makna, gagasan ide atau konsep.)

4. Bahasa dengan Masyarakat a. Bahasa dan tutur

Ferdinand de Saussures (1916) bisa membedakan yang disebut langage, langue, dan parale 3 istilah berasal dari prancis itu, dalam bahasa indonesia secara tidak diperhatikan, dipadankan dengan satu istilah yaitu bahasa. ternyata ketiganya mempunyai arti yang berbeda, meskipun ketiganya memiliki kesamaan yang bersangkutan dengan bahasa. dalam bahasa prancis istilah langage dapat menyebabkan bahasa sebagai sistem bentuk bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal diantara mereka langage ini bersifat abstrak. barangkali istilah langage dapat dipadankan dengan kata bahasa seperti terdapat pada kalimat “Manusia mempunyai bahasa , binatang tidak” jadi, pengguna,an istilah bahasa dalam kalimat tersebut, sebagai padanan kata langage tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu, melainkan mengacu pada bahasa umumnya.

Ferdinande de Saussere yakni langue sebagai bentuk sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomonikasi dan berinteraksi sesamanya jadi, langue mengacu pada sebuah sistem lambang bunyi tertentu yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu, yang barangkali dapat

(26)

16

dipadamkan dengan kata bahasa dalam kalimat Nita belajar bahasa jepang, sedangkan

“Dika belajar bahasa Inggris” sama dengan langage yang bersifat abstrak langue juga bersifat abstrak sebab baik baik langue maupun langage adalah suatu sistem pola, keteraturan, atau kaidah yang ada atau dimiliki manusia tetapi tidak nyata-nyata digunakan.

Berbeda dengan langage yang bersifat abstrak, maka istilah yang ketiga yaitu parole bersifat konkret, karena parole itu merupakan pelaksana,an dari langue dalam bentuk ujaran dan tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat didalam berinteraksi atau berkomunikasi sesamanya. Parole barangkali dapat dipadankan dengan bahasa dan kalimat. Kalau kita berbicara bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhirnya ken”. Jadi, sekali lagi parole itu tidak bersifat abstrak nyata dapat diamati secara empiris. Yang diperlukan menjadi objek studi linguistik adalah langue, sebagai suatu sistem bahasa tertentu, tetapi dilakukan melalui parole. Mengapa? Karena parole ini yang dapat diobservasi secara empris. Langue tidak dapat diamati secara emperis karena sifatnya yang abstrak, padahal setiap penelitian harus dilakukan melalui data emperis itu.

Dari penuturan mengenai istilah langage, langue, dan parole diatas terlihat bahwa kata atau istilah bahasa dalam bahasa indonesia mengandung konsep yang amat berat, karena ketiga istilah yang berasal dari prancis itu dapat dipadankan dengan satu bahasa itu, meskipu harus dalam konteks yang berbeda. Mari kita lihat cara penggunaan bahasa dalam kalimat dibawah ini!

a). Sesama aparat penegak hukum haruslah ada kesama,an bahasa, agar keputusan yang tidak bertentangan.

b).Bahasa militer tak perlu digunakan dalam menghadapi kerusuhan disana.

(27)

c). Nyatakanlah rasa cintamu dalam bahasa bunga. Hasilnya pasti akan lebih baik.

Ketiga kata bahasa diatas tidak ada hubungan baik dengan kata langage, langue, pertama kebijakan pandangan; yang kedua berarti cara; dan yang ketiga adalah alat komonikasi.

b. Verbal repertoires.

Diatas sudah dibicarakan bahwa Ferdinande de Saussure membedakan antara langue dan parole, antara sebuah sistem yang sifatnya abstrak, dan bahasa dan penggunaanya abstrak, dan bahasa dalam penggunaanya secara nyata didalam masyarakat.

Verbal repertoire ada dua macam yaitu yang dimiliki setiap penutur secara individual, dan yang merupakan milik masyarakat tutur secara keseluruhan. Yang pertama mengacu pada alat-alat verbal yang dikuasai oleh seorang penutur, termasuk kemampuan untuk memilih norma-norma sosial bahasa sesuai dengan situasi dengan fungsinya. Yang kedua mengacu pada keseluruhan alat-alat verbal yang ada di dalam suatu masyarakat, beserta dengan norma-norma untuk memiliki variasi yang sesuai dengan konteks sosialnya.

Kajian yang penggunaan bahasa sebagai sistem interaksi verbal diantara para penuturnya didalam masyarakat disebut sosiolinguistik. interaksional atau sosiolinguistik mikro. Sedangkan kajian mengenai pengggunaan dalam hubunganya dengan adanya ciri- ciri linguistik didalam masyarakat disebut sosiolinguistik korelasional atau sosiolinguistik makro.(Appel 1976:22). Kedua sosiolunguistik makro dan mikro ini mempunyai hubungan yang tidak bisa terpisahkan karena verbal repertoir setiap penutur ditentukan oleh masyarakat dimana “dia berada” sedangkan verbal repertoir suatu masyarakat tutur terjadi dari himpunan verbal repertoir semua penutur di Masyarakat itu.

(28)

18

c. Masyarakat tutur

Fishman (1976:28) menyebut “Masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidaknya mengenal satu variasi bahasa beserta sesuai dengan norma-norma yang sesuai dengan penggunaanya” kata masyarakat dalam istilah masyarakat tutur bersifat relatif, dapat menyangkut masyarakat yang sangat luas, dan dapat pula hanya menyangkut sekelompok orang. Kata masyarakat itu kiranya digunakan sama dalam pengguaan “masyarakat desa”, Masyarakat kota dan yang hanya menyangkut sejumlah kecil orang seperti “Masyarakat pendidikan” atau masyarakat linguistik Indonesia

Pengertian terhadap masyarakat seperti itu maka setiap kelompok. karena tempat atau daerahnya, profesi, dan sebagainya. Pembahasan mengenai masyarakat tutur sebenarnya sangat beragam, yang barangkali antara satu dengan yang lainya agak sukar untuk dipertemukan. Bloomfileld (1933:29) membatasi dengan sekelompok orang yang menggunakan sistem isyarat yang sama. Batasan Bloomfield diangap terlalu sempit oleh para ahli sosiolinguistik sebab, terutama dalam masyarakat modern banyak orang lebih menguasai lebih dari satu ragam bahasa; dan didalam yang diberikan oleh Labov (1975:158) yang mengatakan satu kelompok orang yang mempunyai norma yang sama mengenal bahasa, dianggap terlalu luas dan terbuka.

Kalau dilihat dari kasus masyarakat tutur bahasa Indonesia diatas maka bisa dikatakan bisa terjadi suatu masyarakat tutur itu bukanlah suatu masyarakat yang berbicara dengan bahasa yang sama, Melainkan suatu masyarakat yang timbul karena rapatnya komonikasi atau karena intgrasi simbolis dengan tetap mengakui kemampuan komonikatif tanpa mengingat jumlah bahasa atau variasi bahasa yang digunakan .

B. Krangka Pikir

(29)

Krangka pikir merupakan proses tentang alur pikir seseorang dalam menganalisis dan memecahkan suatu persoalan atau masalah-masalah yang dihadapi, serta memberikan jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah.

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian Interferensi Tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia dalam Tinjauan Sosiolinguistik.

Karakterestik penelitian adalah (1) mengungkapkan gejala secara helostik- kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. (2), bersifat deskritif dengan analisis induktif. (3) proses dan makna lebih dimengerti, dan (4) laporanya cendrung berbentuk narasi kreatif mendalam dan menunjukan ciri-ciri naturalistik dan otentik

Untuk lebih jelas dan mudah dipahami marilah kita memperhatikan bagan krangka pikir dibawah ini.

(30)

20

Bagan Krangka Pikir

Bahasa Manggarai

Pengaruh Bahasa Manggarai Unsur-unsur Bahasa Manggarai dalam terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia

Hasil

Analisis

Temuan

(31)

Saran: Bahasa Manggarai

a. Unsur-unsur Bahasa budaya Manggarai . 1. Sistem rilegius.

2. Sistem organisasi 3. Sistem pengetahuan b. Pengaruh Bahasa Manggarai

1. Bahasa Manggarai dialek Kempo 2. Bahasa Manggarai dialek Lembor 1) Hasil analisis bahasa budaya manggarai:

a. Sistem rilegius (homo rilegius): Merupakan produk Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terhadap kekuatan lain yang maha besar.

b. Sistem organisasi: merupakan produk manusia sebagai homo socius Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah maka disusunlah organisasi kemasyaratan yaitu Manusia bekerja sama untuk meningkatkan kesejahtraan hidupnya.

c. Sistem pengetahuan: Merupakan produk Manusia sebagai homo safiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri maupun orang lain, sejak dulu orang Manggarai memiliki pengetahuan tentang alam sekitarnya, baik fauna maupun flora dengan ekosistemnya.

2.) Hasil analisis pengaruh Bahasa Manggarai.

a. Bahasa Manggarai dialek Kempo: seperti ata Kempo, jaong Kempo juga merupakan turunan bahasa Mangggarai, pengenalan ciri-ciri bahasa Kempo kata ra, ra dalam bahasa Kempo tidak memiliki arti, hanya

(32)

22

sebagai pemanis dalam pengucapan seperti dalam bahasa Indonesia kata dong, biasanya diucapkan diakhir kata.

b. Bahasa Manggarai dialek Lembor: seperti ata Lembor, Jaong lembor juga merupakan turunan bahasa Manggarai, pengenalan cirri-ciri bahasa Lembor kata nana, nana dalam bahasa Lembor mimiliki arti dan hanya sebagai pengganti panggilan untuk kakak laki-laki biasanya diucapkan diawal

(33)

23

A. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian metode kualitatif, metode deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk interferensi tuturan bahasa Manggarai dalam pemakaian bahasa Indonesia pada anak-anak dalam tinjauan sosiolinguistik. Penelitian ini mengikuti prinsip analisis struktural bahasa dalam krangka teori linguistik struktural.

Metode analisis struktural yaitu: analisis sinkronis yang berusaha memberikan gambaran objektif tentang morfologi bahasa Manggarai sesuai pemakaian otentik oleh penutur bahasa dalam hal ini Masyarakat manggarai itu sendiri. dengan tujuan penelitian data yang hendak dianalisis pada dasarnya ujaran-ujaran yang dipakai dalam bermasyarakat.

Menurut Jhon W. Creswell (1998:15 penelitian kualitatif adalah sebuah proses penyelidikan, pemahaman berdasarkan pada perbedaan tradisi-tradisi metodologis pada penelitian yang menjelaskan permasalahan sosial atau manusia. Peneliti menjelaskan sebuah tempat, gambaran , holistik analisis kata-kata laporan secara detail menurut sudut pandang informa dan prilaku studi dalam seting alamiah

menurut Jhon W. Creswell (1998:16) berdasarkan pendapat Bogdam dan Biklen, Eisner, dan Meriam, menyebutkan bahwa sebuah penelitian dikatakan sebagai penelitian kualitatif jika menunjukan yaitu penelitian dilakukan dalam seting alamiah dimana sumber data digali atau didapatkan. Peneliti tidak berusaha melakukan interferensi terhadap subjek-subjek penelitian, seperti mempengaruhi opini, memaksa sumber bertutur, dan tidak berusaha melayani informan secara empatetis.

Penelitian dalam interferensi bahasa ini berkaitan dengan hal-hal khususnya fenomena kebahasaan yang bersifat natural. yaitu data yang dikumpulkan berasal dari lingkungan yang nyata dan apa adanya, yaitu tentang bentuk dan jenis interferensi bahasa

(34)

24

di samping itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif . Hal ini data yang terkumpul, dianalisis, serta dipaparkan secara deskriptif. Penelitian ini memfokuskan pada interferensi tuturan Bahasa Manggarai dalam Bahasa Indonesia pada anak-anak dalam tinjauan sosiolinguistik di masyarakat. Penelitian ini melibatkan masyarakat setempat.

B. Sumber Data

Hasil dalam penelitian ujaran ini adalah suatu kalimat bahasa Indonesia yang terinterferensi oleh bahasa Mangggarai yang mengandung aspek prefiks, sufiks, dan konfiks dan bentuk interferensi lain dalam bahasa Manggarai. Sumber data penelitian ini adalah bersumber dari percakapan Masyarakat dengan peneliti sendiri di Nggirang Kabupaten Manggarai Barat. disamping itu sumber data penelitian tentang interferensi tuturan bahasa ini berasal dari buku dan karya ilmiah, buku-buku tersebut antara lain buku Sosiolinguistik, Kamus Umum Bahasa Indonesia, dan buku karangan Jhon Crisswel. Instrumen dalam penelitian ini merupakan alat yang digunakan untuk menunjang proses penelitian dengan menggunakan data sebagai bahanya. Dalam penelitian kualitatif peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data yang utama (Moleong, 1989;5) dalam penelitian ini yang dijadikan instrumen adalah peneliti atau penulis sendiri sebagai alat atau instrumenya, penulis melakukan serangkaian kegiatan dari perencanaan, pengumpul data, dan analisis data sampai pada tahap hasil penelitian.

C. Cara Pengumpulan Data

Cara mengumpulan data ialah tahap pengumpulan data. yang dimaksud adalah fenomena khusus yang berkaitan langsung dengan masalah yang dimaksud. Pengumpulan

(35)

data dalam penelitian kali ini yaitu dengan cara teknik pengamatan, teknik rekam, dan catatan lapangan.

1. Pengamatan atau Observasi

Penelitian ini dalam pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan atau observasi non partisipasi. Peneliti hanya menyimak tanpa melibatkan diri selama observasi berlangsung. Non pengamatan selama penelitian dilaksanakan waktunya disesuaikan sampai peneliti mendapatkan data yang cukup. Peneliti berada dilapangan selama dilapangan. Peneliti melaksanakan pengamatan secara intensif agar memperoleh data yang alamiah mengenai kata atau kalimat berbahasa Indonesia yang mengandung interferensi bahasa daerah Manggarai. Pelaksanaan observasi sebagai teknik utama dalam kajian ini, dilakukan penulis untuk menjaring kebenaran data penelitian berkaitan dengan interferensi tuturan bahasa manggarai dalam bahasa Indonesia pada anak-anak dalam tinjauan sosiolinguistik di Nggirang. Penggunaan instrumen manusia (human Intrumen) di dasari oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai brikut: (1) Instrumen manusia lebih respontif terhadap data (2) bersifat lebih adaftif (3) lebih dapat memahami konteks secara utuh dan menyeluruh

2. Teknik Rekam

Cara merekam adalah penjaringan data dengan menvideo pengamatan bahasa.

Teknik rekam merupakan teknik lanjutan yang dilakukan dengan cara merekam tututaran menggunakan HP, atau sebagainya, (Sudaryanto, 1993:135) yang perlu diperhatikan adalah dalam proses perekaman harus dilakukan sewajar mungkin sehingga penutur sumber data tidak menyadari bahwa kegiatan percakapan tersebut sedang direkam.

Teknik rekam dalam penelitian ini adalah untuk mencari Interferensi tuturan bahasa dalam bahasa manggarai pada anak-anak dalam tinjauan sosiolinguistik. merekam adalah

(36)

26

masyarakat diarahkan untuk melakukan dialog dengan tema tertentu , kemudian mereka saling bercakap dan peneliti merekam kedalam hp.

3. Catatan Lapangan

Pengumpulan data dilapangan merupakan alat pengumpulan data sangat penting digunakan oleh pengamat ketika pengamatan. Menurut Bogdam dan Biklem (2071:209) catatan lapangan tertulis adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data. peneliti menggunakan catatan lapangan agar data yang dikumpulkan dapat terorganisasi dengan baik.

Bogdam dan Biklem (2051:211) menyatakan catatan lapangan terdiri atas dua bagian, pertama bagian deskriptif, 1 bagian reflektif yang berisi krangka berpikir dan pendapat peneliti, gagasan dan kepedulianya.

4. Keabsahan dan Keajegan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yin (2003:25) megajukan empat kreteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitin pendekatan kualitatif, empat hal tersebut sebagai berikut:

a) konstruk (constrtuct validaty)

keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang berukur variabel yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan pengumpulan data yang tepat.

b). Keabsahan internal ( eksternal validaty)

internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian yang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, keadaan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat.

(37)

c). Keabsahan ekstrenal (eksternal validaty)

Keabsahan eksternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada penelitian lain, walaupun dalam penelitian kualitatif memiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti. Penelitian kualitatif dapat dikatakan memiliki keabsahan eksternal terhadap penelitian tersebut memiliki konteks yang sama.

d). Keajegan (Reabilitas)

keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian brikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama.

Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memperoleh hasil yang sama apabila dilakukan penelitian sekali lagi dengan subjek yang sama.

D. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode informal. Penyajian informal yaitu berupa rumusan dengan menggunakan kata-kata biasa.(Sudaryanto 1983:144-159) alasan digunakan metode informal dalam penyajian hasil analisis karena penelitian deskriptif . Maksudnya pendeskripsian dari gejala keadaan yang terjadi pada objek data penelitian. Interferensi diungkapkan secara apa adanya berdasarkan pada data., sehingga hasil penelitian ini benar-benar merupakan suatu fenomena bahasa yang sesungguhnya. Data yang sudah dianalisis kemudian diberi penjelasan dibawahnya mengenai jenis interferensi, analisis dan sumber data.

Pengambilan data dilakukan dengan dua tahap, yaitu:(1) analisis selama pengumpulan data, Analisis selama pengumpulan data dilakukan bersamaan pengumpulan data. Munculnya catatan lapangan (terutama reflektif) sudah menunjukan data yang terkumpul dianalisis segera mungkin agar diproleh informasi yang sebenarnya

(38)

28

dan alamiah sesuai dengan kenyataan. Analisis setelah pengumpulan data dilakukan setelah data yang diperlukan terkumpul.

Secara umum, analisis data dalam kajian ini ditempuh dengan langkah-langkah sebagai brikut.

a). Menemukan masyarakat yang menjadi responden berdasarkan karekterestik sampel

b). Hasil rekaman pembicaraan masyarakat yang menggunakan bahasa indonesia dengan tuturan bahasa .

c). Hasil pengamatan terhadap masyarakat yang melakukan komonikasi tindakan, aktifitas, pristiwa, ekspresi, dan lain-lain

d). Hasil wawancara dengan mayarakat.

Jadi verifikasi data, berdasarkan identifikasi dan klasifikasi data. Peneliti melakukan mengenai simpulan sementara dengan cara menafsirkan secara utuh dan terpadu seluruh data yang tersedia. Selanjutnya mahasiswa melakukan kegiatan verifiksi untuk memeriksa keabsahan data dan kajian. Ini ditempuh untuk memperoleh simpulan akhir yang dapat dipertanggung jawabkan.

(39)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Setiap manusia pernah mengalami kesalahan dalam berbahasa, baik dalam berucap maupun dalam bentuk tulisan. salah satu penyebab terjadinya hal demikian karena adanya kondisi kedwibahasaan orang tersebut. Bahasa ibu dapat mempengaruhi penggunaan bahasa kedua, begitu pun sebaliknya sehingga penggunaan antar bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya sering terjadi interferensi atau saling mempengaruhi antar bahasa.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Kecamatan Mbeliling, khususnya masyaraka di Desa Golo Ndoal, bahasa Manggarai yang merupakan bahasa ibu (pertama) dalam penggunaan bahasa Indonesia (bahasa kedua) sulit untuk dihindari.

dialek bahasa Manggarai itu sangat tampak pada penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat dalam bertutur

Oleh sebab itu, setelah penulis melakukan penelitian langsung di lapangan dengan mengambil lokasi di Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat, saatnya untuk mendeskripsikan hasil penelitian pada bab IV ini.

Pada bab ini, penulis memberikan gambaran atau memaparkan tentang pengaruh bahasa Manngarai (bahasa ibu) terhadap penggunaan dialeg bahasa Indonesia di Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat, yang dibahas adalah pengaruh dan unsur-unsur penggunaan dialeg Manggarai terhadap penggunaan bahasa Indonesia di Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat tersebut, sesuai dengan pokok masalah yang telah dirumuskan.

(40)

30

Dalam hal ini peneliti melakukan beberapa wawancara kepada narasumber yang merupakan masyarakat Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat yang merupakan tokoh-tokoh dalam masyarakat di Desa tersebut untuk mendapatkan beberapa informasi mengenai penggunaan bahasa Manggarai di lingkungan Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat. dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber. Adapun yang menjadi fokus informan adalah masyarakat yang paham dan masih menggunakan bahasa Manggarai sampai sekarang ini.

Setelah penulis melakukan penelitian di Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat, maka penulis menemukan beberapa masalah atau pengaruh bahasa Manggarai terhadap penggunaan bahasa Indonesia, diantaranya sering terjadi peristiswa alih kode dan campur kode secara berulang-ulang ditengah berlangsungnya proses komunikasi didalam lingkungan masyarakat.

(41)

Berikut percakapan anak-anak, dewasa dan lanjut usia di Desa Golo Ndoal Kecamatan Mbeling Kabupaten Manggarai Barat yang direkam oleh mahasiswa.

TABEL 1. Bahasa yang digunakan Taufik usia 9 tahun

Nama orang Usia Bahasa Manggarai

(Bahasa daerah)

Arti dalam bahasa Indonesia

Taufik 9 tahun Ta le sekang gemi

ga

Ayo pergi di rumahmu Aku toemek ngance

cebong

Saya belum sudah mandi Aku te manga seng Saya tidak punya

uang Aku hang nang da Saya mau makan

dulu

Taufik dalam berkomunikasi mengucapkan kalimat yang sudah bisa dipahami oleh lingkungan keluarga dan di tempat dia bermain. Bahasa yang dipakai orang tuanya adalah dialeg Mangarai, namun bahasa yang digunakan anak-anak teman dia bermain adalah bahasa Indonesia sehingga bahasa yang digunakan Taufik bahasa Manggarai namun terkadang bahasa Indonesia juga ikut masuk ke dalam bahasa Manggarai yang dipakai Taufik.

➢ Ayo pergi one sekang gau, kata “sekang gau” adalah bahasa Manggarai yang artinya di rumah kamu, sedangkan “ayo pergi” yaitu bahasa Indonesia yang artinya ayo pergi.

(42)

32

➢ Saya hang nang’, kata “hang nang” adalah bahasa Manggarai yang artinya mau makan dulu. Sedangkan kata “saya” adalah bahasa Indonesia yang artinya “saya”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan Taufik adalah bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa Manggarai.

Bentuk 2. Bahasa yang digunakan Aldi umur 11 tahun (Anak-anak)

Nama Usia

Bahasa Manggarai

Dialeg pesisir

Arti dalam bahasa Indonesia

Aldi 11 tahun Aku kuliah one

UNM jurusan Manajemen

Saya kuliah di UNM jurusan Manajemen

Laing penyusunan skripsi

Masih dalam penyusunan skripsi Diang aku mo

jemput hauone kampus gau

Besok saya akan menjemput kamu di

kampus Aku hemo rongko

ga

Saya sudah berhenti merokok

Aldi dalam berkomunikasi menggunakan dialeg yang sudah bisa dipahami oleh lingkungan keluarga dan sekitarnya. Bahasa yang digunakan keluarganya dirumah adalah bahasa Manggarai namun bahasa teman-teman di sekitarnya menggunakan bahasa Indonesia sehingga yang digunakan Aldi bahasa Manggarai namun terkadang bahasa

(43)

Indonesia masuk ke dalam bahasa Manggarai, dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa ada suatu peristiwa campur kode.

➢ Aku kuliah one UNM jurusan Fisika. Kata “ kuliah one” adalah bahasa Manggarai yang artinya” saya kuliah di UNM”, sedangkan kata “jurusan Fisika” yang artinya jurusan fisika

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan Aldi adalah bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa Manggarai

Bagan 3. Bahasa yang digunakan Rahmad umur 13 tahun (remaja)

Nama Usia Bahasa Manggarai

Dialeg Ruteng

Arti dalam bahasa Indonesia Rahmad 13 tahun Lor kin onebeo ga Sudah lama saya di

kampung Pitun ntaung itu

mek taung ne

Dulu 7 tahun baru selesai Mena keta to,o

gula pengaruh wela wie

Susah bangun pagi karena begadang

Rahmad dalam berkomunikasi mengucapkan kata-kata yang sudah bisa dipahami oleh lingkungan keluarga dan sekitarnya. Bahasa yang digunakan keluarganya dirumah adalah bahasa Manggarai, namun bahasa teman-teman di sekitarnya menggunakan bahasa Indonesia sehingga bahasa yang digunakan Rahmad bahasa Manggarai namun terkadang bahasa Indonesia masuk ke dalam bahasa Manggarai. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa adanya suatu peristiwa campur kode.

(44)

34

➢ Lor one beo ga. Kata “ one beo’” adalah bahasa Manggarai yang artinya”

sudah lama”, sedangkan kata “di kampung” adalah bahasa Indonesia yang artinya “di kampung”

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan Rahmad adalah bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa Manggarai.

Bentuk .4 Bahasa yang digunakan Nindy umur 15 tahun

Nama Usia Bahasa daerah

dialeg Lembor

Arti dalam bahasa Indonesia Siti Hasty 15 tahun Ome kole beo tong

dia-dia one salang e

kalau pulang nanti hati-hati di jalan Aku te keta ma

sehat beti sai 3 leso ho,o ga

Saya lagi sakit kepala sudah 3 hari

ini Makan aku toe keta

mo one sekang

Makanya saya jarang-jarang keluar

rumah Diang aku mo sale

sekang e

Besok insya Allah saya kesana

Siti hasty dalam berkomunikasi mengucapkan kata yang sudah bisa dipahami oleh orang di sekitarnya meskipun masih terbatas. Komunikasi yang terbatas ini dikarenakan situasi dan keadaan yang dialami Siti hasty. Dalam hal ini hasty hanya berkomunikasi dengan keluarganya saja karena Siti hasty adalah warga pendatang di desa Golo Ndoal. Bahasa yang digunakan keluarganya adalah bahasa Indonesia namun tetangga dan lingkungan sekitar menggunakan bahasa Manggarai sehingga berbahasa yang digunakan Siti hasty berbahasa Indonesia namun terkadang Siti hasty masuk ke

(45)

dalam percakapan Indonesia yang digunakan siti hasty. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan telah terjadi peristiwa campur kode.

➢ Ome kole beo ding hati-hati di jalan. Kata “ome kole beo”adalah bahasa Manggarai yang artinya “kalau pulang nanti”. Sedangkan kata “hati-hati di jalan” adalah bahasa Indonesia yang artinya “hati-hati di jalan”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan Nindy adalah bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa Manggarai

TABEL. 5 Bahasa yang digunakan Asma umur 17 tahun (remaja)

Nama Usia Bahasa daerah

dialeg Boleng

Arti dalam bahasa Indonesia

Asma 17 tahun Ho,o ga one

Nggirang kin kaeng na

Sekarang dia tinggal di Nggirang

Hae kilo na kerja one’ Makassar

Suaminya kerja di Makassar Suan taung umur

anak ne

Anaknya sudahberumur 2

tahun

Asma dalam berkomunikasi mengucapkan kata yang sudah bisa dipahami oleh tempat keluarga dan di tempat dia bermain. dialeg yang digunakan orang tuanya yaitu bahasa Manggarai namun bahasa yang digunakan anak-anak teman dia bermain adalah bahasa Indonesia sehingga bahasa yang digunakan Asma bahasa Manggarai namun

(46)

36

terkadang bahasa Indonesia juga ikut masuk ke dalam bahasa Manggarai yang digunakan Asma.

➢ Sekarang hia kaeng one’ Nggirang. Kata “hia kaeng one’ adalah bahasa Manggarai artinya” dia tinggal”, sedangkan kata “sekarang dan Ngggirang”

yang terjemahanya “sekarang dan Nggirang”

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan Asma adalah bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa Manggarai.

TABEL. 6 Bahasa yang digunakan Nurhayati umur 15 tahun (remaja)

Nama Usia Bahasa daerah

dialeg kempo

Arti dalam bahasa Indonesia Nurhayati 15 tahun Kae gaku kulia lau

kupang

Kakak saya kuliah di kupang Hia jurusan

pendidikan agama Islam

Dia jurusan pendidikan agama

Islam Cama agu hau ga

semester akhir

Sama dengan kamu sudah semester

akhir

Nurhayati dalam berkomunikasi menyampaikan dialeg yang sudah bisa dipahami oleh orang disekitarnya meskipun masih terbatas. Komunikasi yang terbatas ini dikarenakan situasi dan keadaan yang dialami nenek. Dalam hal ini Asma hanya berkomunikasi dengan keluarganya saja karena Asma adalah warga pendatang di Desa Golo Ndoal. Bahasa yang dipakai keluarganya ialah berbahasa Indonesia namun tetangga

Gambar

TABEL 1. Bahasa yang digunakan Taufik usia 9 tahun

Referensi

Dokumen terkait

Namun demikian, kedua lokasi tersebut relatif hampir sama dengan jumlah jenis mangrove yang ditemukan di Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat,

Salah satunya terdapat di dalam bahasa daerah di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Kabupaten Lombok Barat, yakni di Desa Gelogor Kecamatan Kediri

Namun demikian, kedua lokasi tersebut relatif hampir sama dengan jumlah jenis mangrove yang ditemukan di Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat,

Salah satu desa yang memiliki potensi dan daya tarik wisata di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat adalah Desa Liang Ndara. Desa Liang Ndara merupakan salah

Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahasa Mandar (salah satu bahasa daerah yang ada di Sulawesi Barat, Indonesia) masuk dalam rumpun bahasa Melayu tepatnya

xiii PERSEPSI PUBLIK TERHADAP AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PROGRAM DANA DESA STUDI KASUS PADA DESA GOLO KANTAR, KECAMATAN BORONG, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Albiana Suhartini

POLA PENANAMAN NILAI MORAL DAN KEAGAMAAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN SOPI DI KALANGAN REMAJA MUSLIM DI DESA GOLO SEPANG KABUPATENG MANGGARAI BARAT Oleh Masdar Saisa

STRATEGI Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata Di Desa Liang Ndara Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur.. Liang Ndara, Mbeliling,