c) Tahukah Anda Bahwa Kesan Pertama Sangat Penting?
5. Bahasa tubuh
Bahasa tubuh adalah gerakan tubuh yang bermakna dan memperkuat makna bicara. Dapatkah Anda bayangkan seseorang bicara tanpa bahasa tubuh? misalnya pada saat mengatakan ”ya”, akan secara otomatis akan menganggukkan kepala, atau pada saat orang mengatakan ”tidak tahu” seringkali tanpa suara dan hanya mengangat bahu serta memberi ekspresi wajah tersendiri.
Jangan lakukan gerakan yang tidak perlu, seperti menggaruk kepala, bertopang dagu, menguap di hadapan wisatawan/tamu Anda
6. Kontak mata
Kontak mata mempunyai peranan tersendiri, melalui sinar mata dapat diduga seberapa besar kekuatan untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Kalau Anda tidak ingin dan merasa akan dipengaruhi oleh orang lain, hindari kontak mata tanpa memalingkan muka. Tetaplah memandang ke wajahnya tapi pusatkan pandangan di seputar mata dan dahi teman bicara. ”Perang kontak mata” sering terjadi pada moment negosiasi di mana seseorang berusaha mengintimidasi yang lainnya.
Hati-hatilah, mata memiliki kekuatan magnit. Adakalanya bagi budaya tertentu kontak mata antara wanita dan pria yang bukan ”muhrim” adalah haram. Kontak mata yang terlalu berani kadang-kadang dapat menimbulkan arti lain yang negatif.
Beberapa kiat untuk membuat kesan pertama yang positif.
– Pastikan Anda berdandan rapi dan serasi, tidak berlebihan dan tidak berbau badan.
– Selalu menyapa dengan ramah. – Biasakan tersenyum.
– Biasakan dengan tempat kerja yang bersih dan rapi. – Biasakan sikap percaya diri.
– Tidak membuat kesimpulan terlalu cepat.
– Hati-hati dengan sikap tubuh, ekpresi wajah dan gerakan tubuh yang tidak perlu.
– Perlakukan teman kerja dengan sopan dan wajar.
g. Mengenal dan mengingat nama
Dalam pelayanan umum seperti di hotel, restaurant dan lain-lain, perkenalan cukup dilambangkan dengan salam atau ucapan selamat datang, karena tamu datang pada perusahaan Anda yang sudah dia ketahui. Dalam pelayanan ini, kalau tamu tersebut sudah datang yang kesekian kalinya, Anda perlu tahu identitasnya dan ingatlah namanya. Suatu saat bila Anda bertemu lagi, alangkah senangnya bila Anda memanggil namanya. Pada pertemuan yang sifatnya khusus, misalnya akan mengadakan negosiasi awal, diperlukan langkah perkenalan yang lebih khusus.
Nama mewakili pribadi secara utuh, dengan menyebut nama secara benar, seseorang akan merasa diakui keberadaannya, rasa percaya dirinya akan menjadi timbul karena dia merasa dikenal apalagi yang mengingat adalah orang yang kedudukannya lebih tinggi.
Nama juga membawa reputasi seseorang, reputasi atau citra yang ditinggalkan akan selalu diingat. Pepatah mengatakan ”harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, kesan baik dan buruknya diri kita pada saat ”kita ada” akan dikenang orang dan akan tetap melekat.
Sebutlah nama panggil yang simpatik, contohnya: ada seorang pejabat terkenal yang dahulunya berasal dari desa, namanya Timin. setelah dia sukses dia menambahkan nama menjadi T. Sugiarto. Jangan ”bunuh diri” Anda dengan memanggil dia Timin (biasanya nama petani desa) terlebih di hadapan orang banyak, walaupun Anda dulu pernah menjadi sahabatnya.
Ingat ini kesan pertama, lain masalahnya kalau memang dia lebih suka dipanggil Timin dan itu merupakan nama kebanggaan. Kalau memang ini terjadi biasanya dia tidak menyembunyikannya dengan initial T.
h. Jabat tangan yang simpatik
Menyebut nama dalam sebuah perkenalan, biasanya diiringi dengan bersalaman. Usahakan dalam saat-saat seperti ini Anda mampu menunjukkan rasa simpatik dengan senyum, ucapan jelas, dan biasakan bersalaman dengan ”hangat”. Untuk sebuah perkenalan cukup dengan menggenggam erat dan goyangkan satu kali lalu lepaskan, berbeda bila pertemuan itu adalah pertemuan dua sahabat lama yang baru jumpa, biasanya goyangan dapat berkali-kali dan disertai tepukan ataupun menaruh tangan kanannya pada bahu teman. Jangan melakukan hal ini pada perkenalan pertama karena dapat menimbulkan kesan negatif.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa setelah bersalaman, adalah bertukar kartu nama, hal ini untuk memudahkan kontak selanjutnya dan memperjelas identitas. Sediakan beberapa lembar kartu nama pada saku jas atau dompet agar mudah mengambilnya.
Usahakan pada pertemuan pertama, Anda dapat menanamkan kepercayaan dan mampu memberikan kesan positif dan rasa simpati. Begitu pentingnya sebuah kesan pertama, karena merupakan ”pintu masuk” untuk membina hubungan dengan relasi/tamu.
Menciptakan kesan pertama yang positif
– Berjabat tangan dengan simpatik, dan sebut nama – Panggil nama tamu/tamu Anda dengan bersahabat
– Tidak melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu (garuk kepala, main kuku, rambut, dan lain-lain)
– Dengarkan dan tangkaplah tanda -tanda verbal dan non verbal – Selalu menyapa tamu dengan ringan dan ramah
– Senyumlah dengan tulus
– Memelihara lingkungan kerja selalu bersih dan rapih – Tampilkan diri dengan penuh percaya diri
– Jangan membuat kesimpulan terlalu cepat
– Selalu menjaga sikap tubuh dan expresi wajah yang menenangkan – Perlakukan teman kerja dengan sopan dan saling menghargai 9. Lakukan teknik berkomunikasi
Dalam percakapan, kita dituntut mampu berbicara dengan mengingat: – percaya diri (siap untuk berbicara/menguasai masalah)
– tepat pada sasaran (siapa, di mana, situasinya )
– singkat, mudah dimengerti (pesan, bahasa, volume suara jelas) – menarik (intonasi, pandangan mata, mimik muka, tatapan mata) – tidak membosankan (tanggap akan respons pendengar)
– berusaha memahami orang lain – menghargai perbedaan pendapat
Mampu mendengarkan akan membantu memberi kesan bahwa Anda berminat terhadap topik pembicaraan yang disampaikan oleh teman Anda. Hal ini akan membuat teman pembicara merasa senang dan bersemangat dalam menyampaikan informasi atau ide-ide, dan juga bermanfaat untuk mengurangi kejengkelannya, karena sudah tersalur saat didengarkan.
Kita dapat menghargai budaya yang berbeda dengan:
– Responsif terhadap pertanyaan, masalah, dan kebutuhan mereka – Menunjukkan empati dan pengertian terhadap situasi mereka. – Memberi perhatian dan tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi. – Tidak terlalu cepat menilai tentang mereka.
– Setiap suku bangsa memiliki kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan dan nilai-nilai hidup dalam tatanan masyarakat mereka.