BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Uraian Bakteri
2.6.1 Bakteri Escherichia coli
Kingdom : Bacteria Divisio : Gracilicutes
Class : Scotobacteria
Ordo : Eubacteriales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli b. Morfologi
Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek yang memiliki panjang sekitar 2 μm, diameter 0,7 μm, lebar 0,4-0,7μm dan bersifat anaerob fakultatif. Escherichia coli membentuk koloni yang bundar, cembung, dan halus dengan tepi yang nyata (Jawetz et al., 2012).
2.6.2 Bakteri Salmonella thypi (Garrity 2004) a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Familia : Enterobacteriacea
Genus : Salmonella
Spesies : Salmonella thypi
b. Morfologi
Bakteri Salmonella typhi adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang lurus dengan ukuran 0,7-1,5 µ m, biasanya tunggal dan kadang-kadang membentuk rantai pendek, jenis yang bergerak berflagela peritrik, hidup secara aerobik fakultatif, meragikan glukosa dengan menghasilkan asam kadang-kadang gas. Tumbuh optimal pada suhu 37oC dan berkembang baik pada suhu kamar, bakteri ini dapat ditemukan di saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri ini merupakan penyebab demam tifoid (Pelczar 1958).
2.6.3 Bakteri Lactobacillus acidophilus a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria Divisi : Firmicutes Kelas : Bacilli
Ordo : Lactobacillales Famili : Lactobacillaceae Genus : Lactobacillus
Spesies : Lactobacillus acidophilus (Ahumada et al, 2003).
b. Morfologi
Bakteri Lactobacillus acidophilus adalah salah satu dari delapan genera umum dari bakteri asam laktat , secara umum merupakan bakteri Gram positif dengan sel berbentuk batang panjang tetapi terkadang hampir bulat dan membentuk rantai yang pendek, berukuran 0,5-1,2 x 1,0-10,0 μm bersifat non motil, dan non spora yang memproduksi asam laktat sebagai produk utama dari metabolisme fermentasi dan menggunakan laktosa sebagai sumber karbon utama dalam memproduksi energi (Buttris, 1997).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental desain dengan variabel terikat menggunakan berbagai macam formula serta variabel bebas adalah pati ubi jalar cilembu dan agar. Tahapan-tahapan penelitian meliputi pengumpulan sampel, identifikasi sampel, pengolahan sampel dan karakterisasi pati dan pembuatan media.
3.2 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan adalah alat inkubator, alat-alat gelas, aluminium foil (Total Wrap), autoklaf (Wisd Laboratory Analyrical), batang pengaduk, benang wol, blender , bluetip, bunsen, cawan petri, deck glass, gunting , inkubator, hot plate stirrer (Thermo Scientific Cimarec), kain kasa,kain saringan, kapas, kertas label, kertas perkamen, kurs porselen, lemari pendingin, loyang, mikro pipet, mikroskop, mortir dan stamper, neraca analitik (Boeco Germany), objek glas, ose, oven (Dynamica), parutan, penjepit tabung, pipet tetes,pisau, saringan, spatula, tanur (Stuart).
3.3 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah umbi ubi jalar cilembu (ipomoeae batatas (L.) Lam), akuades, agar, biakan bakteri Escherichia coli, Lactobacillus acidophilus dan Salmonella typhi,, larutan iodum 0,005 M, etanol 70%, etanol 80%, Nacl, media nutrient agar .
3.4 Penyiapan Sampel
Penyiapan Sampel meliputi pengambilan sampel, identifikasi sampel dan pengolahan sampel.
3.4.1 Pengambilan Sampel
Pengambilan tumbuhan dilakukan secara purposive, artinya tanpa membandingkan sampel yang diambil dengan sampel yang sama dari daerah lain.
Sampel yang digunakan adalah umbi ubi jalar cilembu yang di pasarkan pada supermarket semarco medan provinsi sumatera utara.
3.4.2 Identifikasi Sampel
Identifikasi sampel (Ubi Jalar cilembu) dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA) Fakultas FMIPA Universitas Sumatera Utara.
3.4.3 Pengolahan Sampel
3.4.3.1 Pengolahan Pati Ubi Jalar Cilembu
Sampel diolah dengan cara pembuatan pati ubi jalar cilembu yaitu sebanyak 5 kg daging umbi ubi jalar dipisahkan dari kulitnya dengan cara pengupasan.Selama pengupasan dilakukan sortasi bahan baku dengan pemilihan ubi jalar yang bagus. Daging ubi jalar kemudian ditimbang. Daging ubi jalar dicuci sampai bersih didalam bak yang berisi air untuk memisahkan kotoran yang menempel pada ubi jalar. Daging ubi jalar diparut secara manual (parutan biasa) sampai halus. Ubi yang sudah diparut ditimbang kembali, kemudian ditambahkan air sehingga terbentuk bubur dan diremas-remas agar pati lebih banyak yang terlepas dari sel umbi. Bubur umbi kemudian disaring dengan kain saring sehingga pati lolos dari saringan sebagai suspensi pati, dan serat tertinggal pada saringan. Suspensi pati yang di peroleh di endapkan di dalam wadah pengendapan selama 12 jam. Pati akan mengendap sebagai pasta. Cairan diatas endapan
dialirkan dan ditampung didalam wadah yang lain, dan pasta dikeringkan dengan alat pengering (Oven) sampai kadar air dibawah 14%. Pati ubi jalar yang telah kering atau pati kasar kemudian diayak sampai (sekurang-kurangnya 80 mesh) sampai halus (Mustafa, 2015).
3.4.3.2 Pengolahan Tepung Ubi Jalar Cilembu
Pengolahan tepung ubi yaitu sebanyak 5kg ubi jalar di cuci untuk menghilangkan sisa kotoran yang menempel pada pada ubi jalar cilembu.
Selanjutnya di lakukan perajangan ubi jalar cilembu untuk mempermudah dan mempercepat pada proses pengeringan untuk mendapatkan tepung ubi cilembu, dilakukan dengan cara manual dengan menggunakan pisau. Setelah ubi Cilembu berbentuk irisan dilakukan pengeringan. Pengeringan dilakukan untuk menghilangkan kadar air yang terdapat dalam ubi jalar cilembu dengan menggunakan oven selama 12 jam dan suhu 60°C. Setelah kepingan kering kemudian dilakukan proses penghancuran, proses penghancuran dilakukan untuk menghancurkan ubi menggunakan blender yang sebelumnya berbentuk kepingan sehingga dihasilkan bentuk tepung yang diharapkan. Tepung ubi jalar yang telah dihancurkan kemudian diayak untuk mendapatkan tepung yang halus Proses pengayakan dilakukan dengan menggunakan ayakan dengan ukuran mesh 80 (Saleha, 2016).
3.5 Pembuatan Larutan Pereaksi dan Media 3.5.1 Pembuatan Larutan Pereaksi
3.5.1.1 Larutan Iodum 0,005 M
Iodium kristal sebanyak 14 gram dilarutkan dalam larutan 36 gram kalium iodida pekat dalam 1000 mL air suling (Ditjen, POM., 1979).
3.5.1.2 Larutan Etanol 70% v/v
Sebanyak 72,9 mL etanol 96% dilarutkan dalam air suling hingga 100 mL (Ditjen, POM., 1979).
3.5.1. 3 Larutan Pereaksi CuSO4 1% (b/v)
Sebanyak 1 g CuS04 dilarutkan dalam akuades secukupnya dan diencerkan hingga 100 Ml (Ditjen, POM., 1995).
3.5.1.4 Larutan Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N
Sebanyak 8 g kristal Natrium Hidroksida dilarutkan dalam akuades sebanyak 100 mL (Ditjen, POM., 1995).
3.5.1.5 Larutan Pereaksi Asam Klorida 2N
Sebanyak 17 mL larutan asam klorida P diencerkan dengan akuades hingga 100 mL (Ditjen, POM., 1995).
3.5.2 Pembuatan Media 3.5.2.1 Media Nutrient Agar
Adapun komposisi media Nutrient Agar (NA) adalah sebagai berikut : Komposisi : Lemco beef extract 1 g
Yeast extract 2 g Peptone 5 g NaCl 5 g Agar 15 g Cara pembuatan:
Sebanyak 28 g nutrient agar ditimbang, disuspensikan kedalam air suling sebanyak 1000 mL, lalu dipanaskan sampai bahan larut sempurna lalu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit (Oxoid, 1982).
3.5.2.2 Pembuatan media agar miring
5 ml media NA dimasukkan ke dalam tabung reaksi.Tabung kemudian diletakkan dengan kemiringan 30-45º dan dibiarkan pada suhu kamar hingga media memadat. Media disimpan dalam lemari pendingin (Lay, 1994).
3.5.2.3 Pembuatan stok kultur bakteri
Sebanyak satu ose dari masing-masing biakan murni bakteri Lactobacillus acidophilus,Salmonella thypii, dan Escherichia coli diinokulasi pada permukaan agar miring, diinkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam (Ditjen POM, 1995).
3.5.2.4 Pembuatan suspensi bakteri uji
Koloni bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella thypii, dan Escherichia coli diambil dari agar miring nutrient agar menggunakan jarum ose, lalu disuspensikan ke dalam pelarut nacl 0,9% sebanyak 10 ml dan kocok homogenkan dalam tabung reaksi. Kekeruhan suspensi mikroba uji diukur dengan alat spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 580nm dan transmitan 25% (Depkes RI, 1995).
3.5.2.5. Pengenceran Suispensi Bakteri
Dilakukan pengenceran suspense bakterti 106 sebanyak 4 kali yaitu 105, 104, 103, 102 dengan menggunakan NaCl dimana masing-masing NaCl dimasukkan 9 ml kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 1 ml ke masing-masing pengenceran secara berurutan.
3.6 Pemeriksaan Karakteristik Pati 3.6.1 Pemeriksaan Makroskopik
Pemeriksaan makroskopik terhadap pati ubi cilembu dilakukan dengan mengamati tekstur, rasa, warna ,dan baunya.
3.6.2 Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan makroskopik terhadap pati dan tepung ubi jalar cilembu dilakukan dengan cara pati dan tepung secukupnya diambil dan diletakkan diatas objek glass kemudian ditetesi dengan satu tetes akuades dan ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop kemudian dilihat bentuk amilum dan lamella.
3.6.3 Pemeriksaan Kelarutan a. Kelarutan dalam air dingin
Ke dalam tabung reaksi masing-masing dimasukkan pati sebanyak 0,1g kemudian ditambahkan 1 mL air dingin kemudian diaduk dan diamati kelarutannya.
b. Kelarutan dalam air
Ke dalam tabung reaksi masing-masing dimasukkan pati sebanyakn 0,1g kemudian di suspensikan 1 mL air panas kemudian diaduk dan diamati kelarutannya
c. Kelarutan dalam Aqua DM
Ke dalam tabung reaksi masing-masing dimasukkan pati sebanyak 0,1g kemudian di suspensikan 1 mL Aqua DM kemudian diaduk dan diamati kelarutannya
d. Kelarutan dalam etanol
Ke dalam tabung reaksi masing-masing dimasukkan pati sebanyakn 0,1g kemudian di suspensikan 1 mL etanol kemudian diaduk dan diamati kelarutannya.
3.6.4 Penetapan Susut Pengeringan
Cawan porselen ditimbang dikeringkan selama 30 menit pada suhu 100°C sampai 105° C selama 2 jam dan ditimbang bobotnya, ditimbang sebanyak 5 gram
masing-masing pati dan tepung dimasukkan dalam cawan porselen dan ditimbang beratnya. Masukkan kedalam oven dipanaskan sampel pada suhu 100° sampai 105° selama 2 jam. Pada waktu oven dibuka, cawan porselen didinginkan dalam desikator, lalu ditimbang. Perlakuan ini dilakukan hingga didapat bobot konstan (SNI, 1998).
3.6.5 Penetapan Kadar Abu
Krus porselen kosong dipijar di dalam tanur dengan suhu 550°C Kemudian ditimbang bobotnya, ditimbang 2 g masing-masing pati dan tepung ubi jalar cilembu dimasukkan ke dalam krus porselen dan dihitung bobotnya.
Kemudian dimasukkan kedalam tanur dengan suhu 550°C sampai membentuk abu dan didinginkan dalam desikator dan selanjutnya ditimbang bobotnya (Depkes, RI.,1995).
3.6.6 Uji Karbohidrat
Ditimbang masing-masing pati dan tepung sebanyak 0,05gram , kemudian ditambahkan 1 tetes larutan iodium (lugol) diatas objek glass. Diamati perubahan warnanya yaitu biru kehitaman.
3.6.7 Uji Protein
Tepung dan Ubi jalar cilembu diletakkan pada plat tetes, disuspensikan dengan akuades 1 ml, ditambahkan 3 tetes larutan NaOH, lalu ditambahkan 3 tetes larutan CuSO4 terbentuk warna ungu menunjukkan reaksi terhadap protein (Ditjen POM, 1995).
3.6.8 Pemeriksaan pH
Sebanyak 1 tetes suspensi pati atau tepung diteteskan diatas kertas indikator pH, kemudian dilihat dan diamati perubahan warna serta pHnya.
3.7 Formula yang direncanakan 3.7.1 Media pengganti Nutrient Agar
Media yang direncanakan sebagai pengganti media NA (Nutrient Agar) terdiri dari Formula 1, Formula 2 dan Formula 3, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : di dalam autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit, dilakukan dengan cara yang sama untuk formula II dan Formula III (Oxoid, 2016). hingga padat dan dingin. Setelah media padat dan dingin kemudian ambil suspensi bakteri yang telah diencerkan (106) menggunakan jarum ose yang sudah dipanaskan diatas api bunsen, kemudian suspensi bakteri (106) digoreskan diatas
permukaan media secara zig-zag, selanjutnya cawan petri dibungkus dengan kertas perkamen dan di beri label identitas. Cara ini di lakukan untuk bakteri aerob.
b. Cara sebar
Metode ini di lakukan untuk bakteri aerob yaitu dengan cara dituangkan media sebanyak 10-15 ml kedalam cawan petri yang sudah disterilkan, didiamkan hingga padat dan dingin. kemudian ambil suspensi bakteri yang telah diencerkan (102) sebanyak 0,1 ml di masukkan kedalam media yang sudah padat dan dingin, kemudian inokulum disebar dengan menggunakan batang kaca yang bengkok (stik L) steril. kemudian cawan petri dibungkus dengan kertas perkamen dan di beri label identitas. Cawan petri di letakkan dengan posisi terbalik pada saat inkubasi di dalam inkubator.
e. Cara tuang
Metode ini di lakukan untuk bakteri anaerob yaitu dengan cara diambil sebanyak 0,1ml suspensi bakteri yang telah diencerkan (102) dimasukkan kedalam cawan petri kosong kemudian tunagkan media cair kedalam cawan petri lalu homogenkan dengan metode angka 8 hingga bakteri dan media homogen, kemudian cawan petri dibungkus dengan kertas perkamen dan di beri label identitas.
Setelah proses inokulasi dilakukan dengan metode diatas selanjutnya di inkubasikan bakteri kedalam inkubator pada suhu 37ºC selama 24 jam kemudian diamati pertumbuhan dan jumlah koloni bakteri pada masing-masing cawan petri (Saputro, 2017).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi Sampel
Tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi dari ubi jalar cilembu yang telah diidentifikasi di Herbarium Medanese (MEDA), Universitas Sumatera Utara.
4.2 Pengolahan Pati dan Tepung Ubi Jalar Cilembu
Hasil pengolahan pati yaitu digunakan umbi ubi jalar cilembu sebanyak 5 kg kemudian diperoleh pati sebanyak 500 gram dan hasil pengolahan tepung yaitu digunakan umbi ubi jalar cilembu sebanyak 2 kg dan diperoleh tepung sebanyak 500 gram.
Hasil pemeriksaan makroskopik yang dilakukan yaitu meliputi masing-masing pati dan tepung ubi jalar cilembu . Pati ubi jalar cilembu berwarna putih sedangkan tepung ubi jalar cilembu berwarna kuning kehijauan, berbau khas, dan mempunyai rasa yang sedikit manis. Hasil mikroskopik dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 48 serbuk pati ubi jalar cilembu terlihat adanya lamela dan hilus sedangkan pada tepung ubi jalar cilembu terdapat amilum, lamela dan hilus.
4.3 Pemeriksaan Karakterisasi
Hasil pemeriksaan karakterisasi pati ubi jalar cilembu dan tepung ubi jalar cilembu yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.1 :
No Parameter Uji Kuantitatif
Pati Tepung
1. Susut Pengeringan 13,6% 11,6%
2. Kadar Abu 1,2% 2,3%
3. Rendemen 10% 25%
Tabel 4.1 Hasil Karakterisasi pati dan tepung ubi jalar cilembu secara kuantitatif.
Hasil penetan kadar air ubi jalar cilembu yang diperoleh baik pati maupun tepung memenuhi syarat yaitu diperoleh kadar air dibawah 14%. Berkurangnya kandungan air pada pati dan tepung ubi jalar cilembu yaitu melalui proses pengolahan pati dan tepung terutama proses pengeringan Mustafa, 2015).
Hasil penetapan kadar abu yang diperoleh pati ubi jalar cilembu yaitu 1%
sedangkan tepung ubi jalar cilembu yaitu 2,5%. Menurut Antarlina (1997), kandungan abu ubi jalar maksimal 2,58 %, sehingga kadar abu pati dan tepung ubi jalar cilembu memenuhi syarat. Kandungan kadar abu yang rendah diduga berhubungan dengan proses pengolahan tepung dan pati dimana melalui tahapan pencucian dengan air. Pencucian tersebut dapat menyebabkan larutnya mineral ubi jalar dalam air (Noer, 2017).
Hasil pemeriksaan karakterisasi pati dan tepung ubi jalar cilembu secara kualitatif yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.2 :
Tabel 4.2 Hasil Karakterisasi pati dan tepung ubi jalar cilembu secara kualititatif.
No Parameter Uji Kualititatif positif mengandung karbohidrat dimana pati dan tepung ubi cilembu menunjukkan warna awal kehijauan kemudian menjadi warna biru kehitaman setelah penambahan KI.
Uji biuret dilakukan untuk melihat kandungan protein pada ubi jalar cilembu, dimana apabila sampel ditambahkan preaksi ini akan menghasilkan
warna ungu, tetapi pada pati dan tepung ubi jalar cilembu menghasilkan warna kehijauan setelah ditambahkan pereaksi benedict. Hal ini dapat terjadi karena kandungan protein yang sangat kecil didalam sampel.
Kelarutan pati ubi jalar cilembu dan tepung ubi jalar cilembu tidak larut didalam air dingin dan etanol tetapi larut didalam air panas (air yang mendidih), hal ini dikarenakan pati tersusun antara amilosa dan amilopektin, dimana amilosa bersifat larut dalam air , sedangkan amilopektin tidak larut dalam air. Proses pemanasan menyebabkan pati kehilangan sebagian amilosa, sehingga terjadi penurunan kadar pati amilosa mempunyai rantai lurus yang cenderung membentuk susunan paralel satu salam lain dan saling berikatan melalui ikatan hidrogen. Ikatan ini dapat terjadi karena molekul amilosa memiliki banyak gugus hidroksil, dimana gugus ini bersifat polar dan sifat polar ini menyebabkan amilosa bersifat hidrofilik (Winarno, 2004).
4.4 Pembuatan Media Umbi Ubi Jalar Cilembu
4.4.1 Pembuatan Media dari Pati dan Tepung Umbi Ubi Jalar Cilembu Pembuatan media menggunakan pati dan tepung umbi ubi jalar cilembu (Ipomoea batatas (L.) Lam) dari 3 formula dimana konsentrasi yang digunakan yaitu 5% b/v, 7,5% b/v dan 10% b/v. Metode yang digunakan yaitu metode tuang, sebar dan gores. Bakteri uji yang digunakan yaitu Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli dengan waktu inkubasi 24 jam pada suhu 37oC.
Berdasarkan hasil yang didapat pada pembuatan media menggunakan pati dan tepung umbi ubi jalar cilembu (Ipomoea batatas (L.) Lam) pada formula 1 media lebih cepat memadat dibanding dengan formula 2 dan formula 3 hal ini
terjadi berdasarkan adanya perbandingan antara tepung dan agar yang berbeda dari masing-masing formula, dimana perbandingan pada Formula 1 yaitu 1:2, pada formula 2 1:1 dan formula 3 perbandingan 2:1. Media pati dan tepung ubi jalar cilembu memerlukan waktu memadat sekitar 15-20 menit.
4.5 Pengujian Media Umbi Ubi Jalar Cilembu terhadap Bakteri
4.5.1 Hasil pengujian Media Pati Umbi Ubi Jalar Cilembu terhadap Bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli
Hasil pengujian media pati umbi ubi jalar cilembu terhadap bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli terlihat pada Tabel 4.3 dimana sebagai kontrol yang digunakan adalah media NA ( Nutrient (5%, 7,5%, dan 10%) media pati ubi jalar cilembu mendekati jumlah koloni media kontrol NA (Nutrient Agar), tetapi jumlah koloni yang didapat dari setiap bakeri menunjukkan hasil yang berbeda , hal ini dapat disebabkan suspensi bakteri yang kurang homogen pada proses homogenisasi sehingga memungkinkan terjadi
Biakan
perbedaan jumlah koloni bakteri. Jumlah koloni bakteri yang disimbolkan dengan (∞) menunjukkan bahwa koloni bakteri sudah menumpuk sehingga sulit untuk menghitung jumlah koloni pada bakteri.
Pertumbuhan koloni bakteri dapat diamati pada permukaan agar hal ini karena bakteri yang digunakan pada pengujian yaitu bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli bersifat aerob fakultatif sehingga dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen hal ini berhubungan dengan metode yang digunakan yaitu metode sebar dan metode tuang, pada metode tuang digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat aerob (membutuhkan oksigen) dan metode tuang digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat anaerob (dapat hidup tanpa adanya oksigen).
4.5.2 Hasil pengujian Media Tepung Umbi Ubi Jalar Cilembu terhadap Bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli
Hasil jumlah koloni bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhi dan Escherichia coli yang didapat pada media tepung ubi jalar cilembu dapat
Tabel diatas menunjukkan hasil koloni bakteri pada semua konsentrasi (5%, 7,5%, dan 10%) media tepung ubi jalar cilembu mendekati jumlah koloni media kontrol NA (Nutrient Agar), hal ini dapat disebabkan suspensi bakteri yang kurang homogen pada proses homogenisasi sehingga memungkinkan terjadi perbedaan jumlah koloni bakteri. Jumlah koloni bakteri yang disimbolkan dengan (∞) menunjukkan bahwa koloni bakteri sudah menumpuk sehingga sulit untuk menghitung jumlah koloni pada bakteri.
Pertumbuhan koloni bakteri dapat diamati pada permukaan agar hal ini karena bakteri yang digunakan pada pengujian yaitu bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli bersifat anaerob fakultatif sehingga dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen hal ini berhubungan dengan metode yang digunakan yaitu metode sebar dan metode tuang, pada metode tuang digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat aerob (membutuhkan oksigen) dan metode tuang digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat
Keterangan : (*) : 3 (tiga) kali pengulangan F : Formula, F1 : 5%, F2 : 7,5%, F3 :
Tabel 4.5 dan Tabel 4.6 menunjukkan kriteria pertumbuhan bakteri.
Pertumbuhan koloni bakteri dapat diamati pada permukaan agar hal ini karena bakteri yang digunakan pada pengujian yaitu bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli bersifat anaerob fakultatif sehingga dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen hal ini berhubungan dengan metode yang digunakan yaitu metode gores digunakan untuk menumbuhkan bakteri bersifat aerob (membutuhkan oksigen).
Hasil penelitian yang dilakukan,bahwa pati dan tepung ubi jalar cilembu dapat digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri. Media yang terbuat dari tepung ubi jalar cilembu menghasilkan pertumbuhan bakteri lebih banyak dibandingkan media yang terbuat dari pati ubi jalar cilembu, hal ini disebabkan pada pembuatan media tepung ubi jalar cilembu semua bagian dari ubi jalar cilembu digunakan sedangkan pada media pati ubi cilembu hanya patinya saja
yang digunakan (air dan ampas ubi dibuang) sehingga pada tepung ubi jalar cilembu terdapat lebih banyak nutrisi dibandingkan pada pati ubi jalar cilembu.
Bakteri yang digunakan pada penelitian ini yaitu bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dilihat perbedaan hasil pertumbuhan pada setiap bakteri dimana pertumbuhan bakteri Salmonella typhii memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibanding bakteri Escherichia coli dan Lactobacillus acidophillus.
Media pati dan tepung ubi jalar cilembu mempunyai pH 7 (netral), hal ini memenuhi persyaratan media pertumbuhan bakteri yaitu pH 7 (netral) sesuai dengan pH media kontrol NA (Nutrient Agar) yaitu 7-7,4. Pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophillus pada media pati dan tepung ubi jalar cilembu kurang baik pertumbuhannya dibanding dengan bakteri Salmonella typhii dan Escherichia coli hal ini disebabkan bakteri Lactobacillus acidophillus bersifat asam dan dapat tumbuh pada pH 4.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan , dapat disimpulkan bahwa :
a. Umbi ubi jalar cilembu (Ipomoea batatas (L.) Lam) dapat digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli.
b. Pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus, Salmonella typhii dan Escherichia coli pada media umbi ubi jalar cilembu (Ipomoea batatas (L.) Lam) hampir mendekati pertumbuhan pada media kontrol NA (Nutrient Agar).
Formula media yang baik yaitu pada formula 2 dan pertumbuhan koloni yang banyak terdapat pada formula 3. Pertumbuhan ketiga bakteri tersebut yang paling baik adalah bakteri Salmonella typhii.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan , disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk:
a. Melakukan pengembangan media pati dan tepung umbi ubi jalar cilembu dengan penambahan nutrisi seperti mineral.
b. Melanjutkan formula media pati dan tepung umbi ubi jalar cilembu dengan mikroorganisme yang berbeda seperti jamur.
DAFTAR PUSTAKA
Ahumada, M.C., Bru, E., Colloca, M.E., Lopez, M.E., dan Macias, M.E.N.
2003. Evaluation and Comparison of Lactobacilli Characteristics in the Mouths of Patients With or Without Cavities. Journal of Oral Science. Vol. 45 Halaman 1-9.
Anisah, R.T. 2015. Media Alternatif untuk Pertumbuhan Bakteri Menggunakan Sumber Karbohidrat yang Berbeda. Surakarta :
Alternative Culture Media for Bacterial Growth Using Different Formulation of Protein Sources. Journal of Natural Product and Plant Resourse. Halaman 697-700.
Atlas, R.M., 2004. Handbook of Microbiological Media fourth Edition Volume 1. United States Of America: CRC Press. Halaman 110.
Badan Standarisasi Nasional. 1998. Syarat Mutu Ubi Jalar . SNI 01-4493-1998.
BSN, Jakarta. Halaman 5-7.
BSN, Jakarta. Halaman 5-7.