Cromwell terbangun
dari mimpi ke mimpi. Sekarang, wajah Emily ada di atasnya, rambut keritingnya yang keemasan mendekat ke arahnya. Kekasihnya itu terlihat ringan tak berbobot, demikian juga dirinya. Apakah ini mimpi kapal tenggelam? Mereka ada di dalam air. Bintang Bethlehem karam dan mereka berdua tenggelam. Dia berusaha mencarii pelampung, tetapi matanya tidak mau meninggalkan Emily.“Bintang Bethlehem baik-baik saja,” kata Emiliy. “Sedang membuang sauh di Teluk Edo.”
Jadi, dalam mimpi ini Emily bisa membaca pikirannya. Dunia di luar mimpi akan lebih baik jika semua pikiran seperti buku yang terbuka. Jadi, orang tidak perlu berpura-pura atau merasa malu. Dosa, pertobatan, dan keselamatan bisa terjadi pada saat yang sama.
“Istirahatlah, Zephaniah,” kata Emily. “Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa.”
Ya, dia benar. Cromwell berusaha menyentuh rambut Emily, tetapi dia tidak punya tangan untuk diangkat. Cromwell merasa dirinya semakin ringan. Bagaimana mungkin itu terjadi jika dia tak berbobot? Pikirannya melayang. Matanya terpejam dan dia kembali meloncat dari mimpi ke mimpi.
Emily memucat. “Apa dia mati?” “Dia mengigau,” kata Stark.
Mereka membawa Cromwell ke bagian sayap istana yang dikhususkan untuk tamu. Dia terbaring di ranjang dari kasur tebal yang digelar di lantai. Seorang pria Jepang paruh baya, yang mereka perkirakan adalah dokter, memeriksa Cromwell, dan mengoleskan salep berbau tajam ke lukanya, lalu
membalutnya. Sebelum pergi, dokter itu memanggil tiga wanita muda ke dekat ranjang, setelah memberi salep dan perban kepada mereka, dokter itu memberi instruksi pendek, membungkuk kepada Emily dan Stark, dan keluar. Para wanita muda tadi mundur ke salah satu ruangan dan menunggu dengan bersimpuh, diam, dan tenang.
Emily duduk di sebelah kanan Cromwell, di atas bantalan busa seluas dua setengah meter persegi. Stark duduk di bantalan yang serupa di sisi kiri. Tidak seorang pun di antara keduanya yang merasa nyaman di lantai. Mereka tidak terbiasa duduk di lantai seperti kebiasaan tuan rumah. Stark bisa menekuk kakinya, tetapi dia tidak bisa bertahan lama. Setiap kali, dia berpindah dari satu posisi ke posisi lain. Sedangkan Emily, roknya yang panjang dan rok dalamnya yang lebar membuatnya lebih sulit mengatur posisi dengan enak. Akhirnya, dia duduk miring di satu pinggul dan menjulurkan kakinya ke sebelah tubuhnya, tetap hati-hati dan berusaha menutupi kakinya dengan roknya. Dia biasa duduk seperti itu saat piknik pada waktu kecil dulu, memang tidak pantas untuk di sini, tetapi itulah satu- satunya posisi yang membuatnya nyaman.
“Kita tak membawa apa-apa selain firman Yesus Kristus,” kata Emily. Dia mengusap keringat dari wajah Cromwell dengan handuk basah yang dingin. “Kenapa ada yang mau melukai kita?”
“Aku tak tahu, Saudari Emily.” Stark melihat kilatan besi di atap sekejap sebelum pembunuh itu menembak. Dia menjatuhkan diri ke tanah sesaat sebelum suara tembakan berbunyi. Jika dia tidak menjatuhkan diri, tentu peluru itu mengenai dirinya, bukan Cromwell. Kewaspadaan Stark adalah ketakberuntungan sang pendeta itu, ditambah dia memang benar- benar sial. Peluru itu menembus joli dari satu sisi ke sisi lain. Sehingga, seharusnya pelurui itu mengenai Emily, tetapi itu tak terjadi. Malah, setelah menembus joli peluru itu langsung melubangi perut Cromwell. Tembakan ke perut. Orang kadang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mati ketika mengalami tembakan di perut.
“Dia kelihatan begitu damai,” kata Emily. “Alisnya tidak berkerut dan dia tersenyum dalam tidur.”
“Ya, Saudari Emily, dia terlihat damai.” Semakin lama Stark memikirkannya, semakin dia berpikir bahwa peluru itu sebenarnya
ditujukan untuk dirinya. Mungkin seorang pembunuh bayaran telah disewa untuk naik ke atas dan membunuhnya. Hambatan bahasa bukanlah halangan untuk menyewa pembunuh. Stark yakin uang bisa membeli nyawa di Jepang semudah di Amerika.
Dia meregangkan kakinya selama beberapa menit agar tidak kram. Setiap kali dia bergerak, empat samurai yang berjaga menjadi semakin waspada. Mereka berlutut di lorong depan kamar. Tidak jelas apakah mereka berjaga di sanak untuk melindungi para misionaris atau justru mengurungnya. Sejak penembakan itu, mereka mengawasinya dengan ketat. Stark tak tahu mengapa.
“Perbannya harus sering diganti,” kata Dokter Ozawa. “Hamba telah memberinya obat untuk mengurangi pendarahan, tetapi pendarahan itu tidak bisa dihentikan sama sekali. Nadi-nadi utamanya terkena. Pelurunya sendiri menembus hingga tulang punggung sehingga tak bisa diambil.”
“Berapa lama?” Genji nertanya.
Dokter itu menggelengkan kepala. “Beberapa jam jika dia beruntung, berhari-hari jika dia tak beruntung.” Dia membungkuk dan keluar.
“Sungguh sial,” kata Genji. “Konsulat Amerika harus diberi tahu. Harris. Benar-benar orang yang tak menyenangkan.”
Saiki berkata, “Tuanku, peluru itu ditujukan untuk Anda.”
“Aku meragukannya. Musuh-musuhku tidak akan mengirim penembak yang sama sekali tidak bisa menembak seperti ini. Bagaimana mungkin dia membidikku dan mengenai joli yang berada tiga meter di belakang?”
Seorang pelayan masuk dengan sepoci teh segar. Saiki dengan tak sabar melambaikan tangan menyuruhnya keluar, tetapi Genji menghendaki satu cangkir teh lagi. Minuman itu menghangatkannya dari cuaca muskim dingin.
“Saya telah memeriksa joli,” kata Saiki. “Jika Anda berada di dalamnya, pasti Anda langsung tewas. Hanya postur wanita asing yang besar dan barbar itulah yang menyelamatkan nyawanya.”
“Ya, aku tahu. Aku melihatnya sendiri.” Genji tersenyum kepada sang pelayan, yang wajahnya langsung memerah, malu menerima perhatian dari Genji, lalu membungkuk rendah di lantai. Dia menarik, kata Genji dalam
hati, dan cukup cantik, meski sudah bisa dibilang perawan tua. Dua puluh dua atau dua puluh tiga, perkiraan Genji. Siapa namanya? Hanako. Genji mempertimbangkan para pengawalnya. Siapa dari mereka yang membutuh- kan istri, dan berusia cukup untuk pelayan ini?
“Tetapi, saat itu aku tidak berada di joli, aku bisa terlihat jelas berjalan di depannya.”
“Itulah maksud saya,” sahut Saiki. “Seorang pembunuh yang tidak mengenal Anda tak mungkin berpikir Anda akan berjalan. Bangsawan agung mana yang berjalan dan membiarkan wanita asing menaiki jolinya? Itu belum pernah terjadi. Jadi, si pembunuh itu mengira Anda berada di dalam joli seperti seharusnya, dan membidik ke sana.”
“Alasan yang dipaksakan,” kata Genji.
Hide dan Shimoda muncul di pintu, terengah-engah. Mereka berdua adalah pengawal yang diperintah Saiki mengejar sang pembunuh.
“Ampuni kami, Tuanku,” kata Hide. “Kami tidak menemukan tanda- tanda dia di mana pun.”
Shimoda menyambung, “Tak seorang pun melihat sesuatu. Seakan-akan dia lenyap di udara.”
“Ninja,” kata Saiki. “Pengecut terkutuk. Mereka semua harus diberantas hingga akar-akarnya termasuk wanita dan anak-anak.”
“Bangunan itu milik seorang pedagang bernama Fujita,” lapor Hide. “Orang yang polos. Tidak pernah terlibat dengan orang mencurigakan, tidak ada hubungan dengan klan mana pun, tak punya utang dan tidak punya anak perempuan yang menjadi jaminan di Dunia Terapung. Dia kelihatannya tak tahu apa-apa. Tentu saja, dia sangat takut akan tindakan balasan dari Anda. Tanpa diminta, dia menawarkan memenuhi semua kebutuhan kita untuk pesta tahun baru.”
Genji tertawa, “Maka, dia akan bangkrut dan terpaksa harus menjual semua anak perempuannya ke Dunia Terapung.”
“Itu tidak akan membantunya,Tuanku,” kata Hide tersenyum. “Saya sudah lihat anak-anak perempuannya.”
Saiki memukul lantai. “Hide! Ingat tempatmu!”
“Ya, Pak!” samurai yang baru dibentak itu menempelkan kepalanya ke lantai.
“Tidak perlu terlalu keras,” kata Genji. “Kita telah melewati pagi yang melelahkan. Hide, berapa usiamu?”
“Tuanku?” Hide tak siap dengan pertanyaan yang tak terduga itu. “Dua puluh sembilan, Tuanku.”
“Bagaimana bisa kamu belum menikah di umur yang sudah cukup tua ini?”
“Ee …Tuanku… eemm….”
“Bicara,” kata Saiki, “dan berhenti membuang waktu tuanmu.” Sejauh anggapan Saiki, pembicaraan ini hanyalah buang-buang wakut saja. Kesemberonoan apa yang dilakuakn Genji sekarang? Ketika hidupnya dalam bahaya dan keberadaan klan terancam, dia malah memainkan permainan bodoh.
“Saya belum mempunyai kesempatan, Tuanku,” kata Hide.
Saiki menyambung, “Sebenarnya, Hide mempunyai kesenangan berlebihan terhadap wanita, anggur, dan judi. Utangnya menumpuk sehingga tak ada satu pun keluarga yang mau menerimanya sebagai menantu.” Saiki memberikan informasi untuk mempercepat selesainya pembicaraan tak berguna ini. Maka, mungkin mereka bisa kembali membicarakan masalah yang lebih penting. Misalnya, tentang Stark, orang asing yang benar-benar mencurigakan.
“Berapa utangmu?” Tanya Genji.
Hide ragu sejenak. “Enam puluh ryo, Tuanku.” Itu adalah jumlah besar untuk seorang samurai seperti dia. Gaji tahunannya hanya sepuluh ryo.
“Dasar orang bodoh, tak disiplin,” kata Saiki.
“Ya, Pak.” Hide menempelkan kepalanya ke lantai sekali lagi, dengan malu.
“Utangmu akan dilunasi,” kata Genji. “Jangan sampai kamu membuat utang baru. Nah, sekarang setelah utangmu lunas, sebaiknya kamu segera mencari istri. Seorang wanita yang berpengalaman mengurusi rumah tangga sehingga bisa membimbingmu agar tak berutang lagi dan memberikan kebahagiaan rumah tangga padamu.”
“Tuanku.” Hide tetap membungkuk rendah. Kemurahan hati Lord Genjo mengejutkan-nya.
“Sebenarnya, aku sendiri yang akan mencarikan istri untukmu,” lanjut Genji. “Apa kamu bersedia mempercayakan masalah ini padaku?”
“Ya, Tuanku. Terima kasih.”
“Hanako,” kata Genji, “antar kedua orang ini ke tempat lain untuk beristirahat. Dan layani mereka.”
“Ya, Tuanku.” Hanako menjawab. Setelah membungkuk hormat, dia mengantar Hide dan Shimoda keluar ruangan.
Ketika mereka telah pergi, Saiki membungkuk hormat dan resmi sebagai tanda hormat kepada Genji. Akhirnya, dia mengerti apa yang telah terjadi. Di tengah krisis yang mungkin mengancam hidupnya, Lord Genji tak pernah berhenti memperhatikan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Pelayan tadi, Hanako, adalah yatim piatu. Meski dia punya perilaku yang bagus dan cukup menarik, dia sangat tidak mungkin memberikan mahar. Hide, samurai yang baik di segala sisi, perlu diberi tanggung jawab agar bisa dewasa. Jika dibiarkan sendirian, dia pasti akan terus menghabiskan waktu dan uangnya untuk hal-hal tak berguna. Sehingga, dia berakhir menjadi pemabuk tak berguna seperti samurai- samurai lain dari klan yang hancur dan beberapa samurai dari klan Okumichi. Semua ini diselesaikan Lord Genjo dengan satu kali tindakan. Air mata meleleh dari mata prajurit yang keras itu.
“Apa ini, Saiki? Apa aku telah mati dan menjadi dewa?”
“Tuanku,” kata Saiki. Dia terlalu terharu untuk berbicara lebih banyak, bahkan dia pun tak mampu mengangkat kepalanya dari lantai. Sekali lagi, dia salah menilai kedalaman karakter junjungannya.
Genji meraih cangkir tehnya. Pelayan lain, Michiko, membungkuk dan mengisi kembali cangkir itu. Dia sudah menikah, jadi Genji hanya tersenyum kepadanya dan tidak memikirkannya lagi. Genji meminum tehnya, lalu menunggu dengan sabar hingga Saiki bisa menguasai diri kembali. Samurai adalah orang aneh. Mereka diharapkan mampu menjalani siksaan fisik yang paling berat sekalipun tanpa mengeluh. Namun. Mereka tak malu menangis jika melihat hal sepele seperti perjodohan.
Setelah beberapa saat, Saiki mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya dengan lengan kimononya. “Tuanku, Anda harus
mempertimbangkan kemungkinan bahwa para misionaris itu bisa saja terlibat dalam usaha pembunuhan Anda.”
“Jika memang ada usaha pembunuhan.”
“Orang yang bernama Stark bisa mengantisipasi tembakan sang pembunuh. Hamba melihatnya tiarap sebelum saya berteriak. Itu berarti dia tahu ada pembunuh di sana.”
“Atau, itu berarti dia pengamat yang jeli.” Genji menggelengkan kepalanya. “Memang baik waspada terhadap pengkhianatan di mana-mana. Tetapi, itu beda dengan selalu menduga ada pengkhianat di mana-mana. Kita tidak boleh membiarkan angan melalaikan kita dari bahaya sebenarnya. Stark baru saja sampai dari Amerika. Di Jepang banyak pembunuh. Siapa yang mau repot-repot membawa pembunuh dari luar.?”
“Mungkin orang yang ingin menyembunyikan identitasnya dengan menciptakan kebingungan baru,” kata Saiki. “Seorang yang tidak Anda duga.”
Genji menarik napas. ”Baiklah. Kamu boleh menyelidiki lebih lanjut. Tetapi, jangan memaksa dan mengganggu Stark. Dia tamu kita.”
Saiki membungkuk. “Ya, Tuanku.”
Genji berkata, “Ayo kita lihat bagaimana keadaan tamu kita.”
Ketika mereka berjalan di lorong, Saiki bertanya tentang pedagang yang atap tokonya digunakan sang pembunuh. “Apa jawaban kita tentang tawaran Fujita?”
“Nyatakan terima kasih kita dan katakan kita mengizinkannya mengantar sake untuk tahun baru.”
“Ya, Tuanku,” kata Saiki. Menyuplai sake tahun baru cukup mahal untuk mengurangi rasa takut sang pedagang, tetapi tidak akan membuatnya bangkrut. Keputusan yang bijak. Saiki mengikuti tuannya dengan kepercayaan kepadanya yang bertambah.
Teleskop buatan Belanda itu membawa mata Kawakami ke atap-atap bangunan di jalan yang dilewati rombongan Genji. Meski dari sudut pandangnya jalan itu tidak terlihat, dia tahu rombongan itu sampai di mana dengan mengawasi tingkah laku orang-orang di satu perempatan yang tidak
dihalangi bangunan. Ketika orang-orang itu menjatuhkan diri dan berlutut, berarti rombongan Genji mendekat. Ketika mereka kembali berdiri dan berkegiatan, artinya rombongan Genji sudah lewat.
Kawakami merasa geli melihat Monzaemon, pedagang besar, terburu- buru turun dari kuda putihnya yang terkenal dan membungkuk di tanah seperti petani lain, meski dia mengenakan pakaian yang mentereng. Banyak bangsawan yang punya utang kepada Monzaemon. Shogun sendiri punya utang yang cukup besar kepada pria kecil itu. Tetapi, lihat sekarang, Monzaemon menekankan wajahnya ke tanah saat menemui rombongan bangsawan yang statusnya di atas dirinya. Punya banyak uang memang satu hal. Tetapi, kehormatan mengenakan pedang dan hak untuk menggunakannya adalah hal yang lain lagi. Tak peduli seberapa cepat dunia berubah, Kawakami yakin akan satu hal. Kekuatan uang tidak akan pernah menandingi pedang untuk membunuh.
Kawakami merasa dia mendengar suara tembakan. Ketika dia mengintip melalui teleskop, dia melihat Monzaemon mengangkat kepalanya dengan terkejut. Ketakutan terlihat jelas di wajah petaninya. Kuda putih di sebelahnya mendompak panik. Hanya tindakan cepat dari salah satu pelayannyalah yang mencegah Monzaemon terinjak kuda hingga mati.
Sesuatu telah terjadi. Kawakami harus menunggu untuk mengetahuinya. Dia menjauh dari teleskop.
“Aku akan berada di pondok di kebun,” katanya kepada asistennya, Mukai. “Jangan ganggu kecuali masalahnya penting sekali.”
Kawakami pergi ke pondok itu sendirian. Pondok itu tak lebih dari sebuah gubuk sederhana di salah satu kebun kecil di istana yang luas itu. Namun, pondok itu justru memberi kesenangan tertinggi dalam hidup Kawakami.
Kesendirian.
Kesendirian adalah hal langka di Edo, kota yang ditinggali lebih dari dua juta orang. Orang seperti Kawakami, seorang bangsawan agung, biasanya selalu dikelilingi oleh sekumpulan pembantu dari beberapa jenis dan status. Bahkan, motivasi utamanya mau menjadi kepala polisi rahasia Shogun adalah kesempatan untuk sendirian. Setiap kali dia perlu melepaskan beban tanggung jawab social yang menyesakkan, dia selalu
memunculkan dalih kerahasiaan dan menghilang. Awalnya, dia melakukan itu hanya untuk menghindar dari istri dan para selirnya, dan mengunjungi para simpanannya. Lama kelamaan, dia menggunakan dalih itu untuk menghindari para simpanannya juga. Dan akhirnya, dia kecanduan mencampuri kehidupan pribadi orang lain. Sekarang, dia hampir tak punya waktu untuk para istri, selir, simpanan, atau kesenangan-kesenangan lain yang pernah disukainya.
Kini, yang paling berharga baginya adalah menunggu. Kesempatan untuk sendirian hanya dengan perapian kecil, air yang mendidih, aroma teh, dan rasa cangkir yang telah dihangatkan di tangannya. Tetapi hari ini, air baru saja akan mendidih ketika terdengar suara taka sing di depan pintu.
“Tuanku, ini hamba.” “Masuk,” kata Kawakami. Pintu bergeser membuka
Heiko berangkat segera setelah kepergian Genji. Dia hanya ditemani oleh pelayannya, Sachiko. Para bangsawan agung tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa pasukan pengawal. Meski sebagai orang yang paling ditakuti, mereka juga orang yang paling penakut. Mereka membunuh semudah anak kecil mengeluarkan tawa bahagia. Jadi, menurut hukum karma sang Buddha, mereka juga berisiko dibunuh orang lain tidak seperti para bangsawan yang ditakuti semua orang, wanita penghibur tak ditakuti oleh siapa pun. Bahkan, kelemahan itu dengan cerdik mereka lengkapi dengan kerapuhan yang indah dari kecantikan, keanggunan, dan kemudaan mereka. Jadi, mereka dapat pergi ke mana pun mereka mau tanpa rasa takut. Ini juga merupakan hukum karma Buddha.
“Nona Heiko,” Sachiko berbisik, “kita dibuntuti.”
“Abaikan saja,” kata Heiko. Pohon ceri berjajar di pinggir jalan yang mereka lalui. Pada musim semi, pepohonan itu akan penuh dengan bunga mekar yang sering diungkapkan dalam lukisan dan puisi selama berabad- abad. Kini, pohon-pohn itu menghitam dan rontok. Tetapi, bukankah mereka tetap saja indah? Heiko berhenti untuk mengagumi sebatang ranting telanjang yang menarik matanya. Salju pagi yang melapisnya hampir meleleh semuanya, meninggalkan titik-titik embun sedingin es. Hanya
beberapa serpih salju yang tersisa di pangkal batang. Beberapa saat lagi, Heiko akan meneruskan perjalanannya. Matahri akan menyinari batang pohon yang kini masih tertutup bayang. Jauh sebelum dia sampai ke tujuan, serpih-serpih salju ini akan melelh hilang. Pikiran itu membuat dada Heiko sesak. Air mata menggenang di matanya. Namu Amida Butsu, Namu Amida Butsu, Namu Amida Butsu. Terpujilah Buddha penuh kasih yang membebaskan semua yang menderita. Heiko menarik napas panjang dan mencegah air matanya. Jatuh cinta benar-benar menyakitkan.
“Kita tidak boleh berlambat-lambat,” kata Sachiko. “Anda ditunggu pada jam babi.”
“Aku seharusnya tidak membuat perjanjian sepagi itu,” kata Heiko. “Sangat tidak nyaman memulai hari dengan terburu-buru.”
“Benar, benar,” kata Sachiko. “Tetapi apa yang bisa dilakukan seorang wanita? Dia diperintah dan dia patuh.” Sachiko baru sembilan belas tahun, sama dengan Heiko, tetapi dia bertindak seakan-akan jauh lebih tua. Tetapi, itu memang tugasnya. Dia mengurusi segala kepentingan Heiko sehingga Heiko tak harus terganggu dengan beban pekerjaan sehari-hari.
Dua wanita itu kembali melanjutkan perjalanan. Yang membuntuti mereka adalah Kudo. Dia menganggap dirinya sebagai ahli membuntuti. Bagaimana dia bisa menganggap diri seperti itu, Heiko tidak bisa menebaknya. Seperti samurai lain, Kudo tidak sabar. Latihannya mengajarkan untuk mencari saat menentukan yang membedakan antara hidup dan mati. Dengan satu kilatan pedang, darah dan nyawa lepas meninggalkan bumi ini. Tidak menjadi masalah siapa yang kalah dan siapa yang menang. Saat yang menentukan. Itu yang paling penting. Membuntuti dua wanita yang berjalan-jalan dengan santai dan sering kali berhenti untuk mengagumi sebatang pohon, mengagumi barang-barang di toko, atau hanya untuk beristirahat benar-benar menyiksa baginya. Jadi tentu saja, Heiko sengaja berjalan lebih lambat dari biasanya, lebih sering berhenti, dan mengobrol santai dengan penjaga toko. Ketika mereka sampai di pusat pertokoan distrik Tsukiji, Kudo terlihat berlari ke sana kemari seperti tikus dalam perangkap.
“Sekarang,” kata Heiko. Beberapa wanita lewat di dekat mereka sehingga menutupi pandangan Kudo. Heiko berjalan di samping para
wanita itu ke toko di seberang jalan, sementara Sachiko duduk berjongkok dan menunduk memandangi sekeranjang cumi kerang. Heiko memandang dari sebuah gang, saat Kudo berlari mendekat. Dengan panik, dia menoleh ke sana kemari, hingga tidak sadar bahwa pelayan Heiko duduk pas di bawah kakinya. Ketika Kudo membelakanginya, Heiko kembali menyeberang jalan dan berdiri di belakangnya. Dia pura-pura terkejut ketika Kudo hampir menabraknya.
“Kudo-sama. Kebetulan sekali. Apa Anda akan membeli syal sutra juga?” Selama percakapan singkat mereka, Heiko berusaha keras agar tidak tertawa. Ketika Kudo telah pergi ke arah Hamacho, Heiko memanggil rickshaw. Jam anjing telah mulai bergeser mendekati jam babi. Dia tak punya waktu lagi pergi dengan berjalan kaki.
Kawakami Eichi, sang Bangsawan Agung Hino, Inspektur Kepala Keshogunan, menunggu kedatangan tamunya di pondoknya. Dia memakai pakaian kebesaran lengkap dengan tanda-tanda pangkat sesuai dengan status dan jabatannya.
Tetapi, kebesaran itu langsung menguap seiring terbukanya pintu. Meski dia meng-anggap dirinya sudah siap, kenyataannya tidak. Dia tak pernah siap. Seharusnya, dia menyadari hal itu sekarang. Tamunya punya kualitas yang menjerat. Setiap kali dia tak ada di depannya, detail wajah dan tubuhnya mengabur, seakan-akan pikiran dan mata tak mampu menyimpan citra kecantikan yang sangat luar biasa itu.
Kawakami melihat tamunya dan tersentak, sebuah napas panjang