• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sepuluh Orang Mat

Dalam dokumen SAMURAI KASTEL AWAN BURUNG GEREJA (Halaman 74-109)

Emili menunggu-nunggu

malam pernikahannya dengan

penuh harapan dan ketakutan. Ketakutan dipicu oleh kejijikan yang dia rasakan terhadap fisik Cromwell; sementara harapan dipicu oleh keengganan Cromwell terhadap tubuhnya. Apabila Cromwell tidak bersikap demikian, mungkin dia tak pernah mempertimbangkan lamaran pria itu. Ditambah dengan janji untuk meninggalkan Amerika, membuat lamaran Cromwell tak bisa ditolaknya. Hubungan mereka sebagai suami istri tentu tak bisa seratus persen lepas dari hubungan seksual. Adalah mustahil mengharapkan dalam sebuah perkawinan tak akan ada senggama dengan naluri binatang. Untungnya, hubungan seksual bisa diminimalisasi sesedikit mungkin jika dia menikah dengan Cromwell. Penderitaan yang akan dialaminya beberapa kali itu adalah harga yang murah untuk kesempatan yang ditawarkan Cromwell.

Kini, harapan dan ketakutan itu telah lenyap, dihancurkan oleh peluru seorang pembunuh. Jika Cromwell mati, Emily akan sendirian, dan dia tak bisa tinggal di Jepang sendirian. Tanpa perlindungan ayah, saudara laki-laki atau suami, seorang wanita tak akan punya tempat terhormat di tanah asing ini. Dia terpaksa harus kembali ke Amerika. Atau, mungkinkah ada alternative lain? Tidak bisakah dia meneruskan misi dengan Stark?

Dia melirik ke arah Stark yang sedang memandang keluar jendela. Wajah maupun posturnya tidak menunjukkan apa yang sedang dia pikirkan.

Sejak pertama mereka bertemu, Stark memang selalu menjadi teka-teki baginya.

Matthew Stark pertama kali muncul dalam kehidupan mereka baru empat bulan yang lalu. Dia muncul di rumah misi Firman Sejati di San Francisco . Saat itu, Emily sedang membagikan sup kepada fakir miskin dan tunawisma ketika dia melihat seorang pria berdiri di pintu masuk bangsal yang digunakan untuk ruangan makan.

Pakaian berkudanya sangat kotor. Topi hitam di kepalanya terlihat seakan-akan dahulu berwarna putih. Rambutnya berantakan terurai di punggung dan bahunya seperti orang Indian liar. Wjahnya kurus dengan pipi cekung dan lingkaran kitam di sekitar matanya. Janggutnya tumbuh tak rata, seakan-akan dia memotong seadanya dengan pisau. Kelihatannya, dia tak beda dengan para orang miskin lain yang dirawat Emily sehari-hari. Hanya dia tak segera ikut antre ke tempat layanan makanan, menghirup supnya pada makanan. Dia berdiri diam di pintu, tak bergerak. Matanya mengawasi seluruh ruangan, mengamati orang-orang yang duduk di meja dan yang berdiri di antrean. Lengannya tergantung di samping badannya, tidak lemas tetapi tetap waspada. Saat itulah, Emily melihat tonjolan di pinggang kanannya di bawah jaketnya yang kotor oleh debu.

Emily meminta Sarah untuk menggantikannya menuangkan sup dan mendekati orang asing itu.

Ketika Emily mendekat, pria itu dengan sopan melepas topinya dan mengangguk hormat. “Nyonya.”

“Anda boleh bergabung bersama kami untuk makan malam, Saudaraku seiman dalam Kristus.” Emily menggunakan sapaan yang digunakan misi Firman Sejati menyapa semua orang baru. Saudara, karena seperti kata Cromwell, bukankah semua manusia bersaudara? Kristen, karena—meski mereka tak menyadarinya—semua manusia, baik para pendosa, orang suci, dan penyembah berhala sebenarnya adalah orang Kristen di hadapan kemurahan dan pengampunan Tuhan.

“Baik, Nyonya,” kata pria itu, mengangguk dengan sedikit membungkuk. “Terima kasih.” Suaranya mempunyai aksen sengau khas. Texas , tebak Emily, atau daerah sekitanya.

“Tempat ini dilindungi dalam kedamaian Tuhan, Saudaraku.” Emily mengulurkan tangan kepadanya. “Kekerasan tak boleh masuk ke sini.”

Pria itu memandang kepadanya dan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya paham. “Tidak, Nyonya,” katanya. Dia membuka tali kulit yang mengikat pistolnya ke pinggang, membukanya dari pinggangnya, dan mengulurkannya kepada Emily dengan pistol masih di dalamnya.

Emily hampir menjatuhkannya. “Aku serahkan kamu kepada Tuhan dan pengampunan-Nya.” Pistol itu sangat besar dan sangat berat.

“Terima kasih.”

“Kita seharusnya mengatakan ‘amin’ pada setiap kata dari Alkitab,” kata Emily.

“Tidak tahu Alkitab, Nyonya. Tidak tahu apa yang harus diamini.”

“Aku serahkan kamu kepada Tuhan dan pengampunan-Nya. Itu adalah firman Tuhan. Pasal 20:32)”

“Amin,” kata pria asing itu.

Emily tersenyum. Kemauannya menurut sangat menggembirakan. Tidak diragukan kalau dia telah melakukan kesalahan, mungkin dengan senjata yang kini dipegangnya. Dan, mungkin dengan senjata lain, yang gagangnya dia lihat tergantung di sisi kiri ikat pinggangnya. Namun, tak seorang pun yang berada di luar pengampunan dan perlindungan Tuhan. “Dan itu juga,” kata Emily, menunjuk dengan dagunya.

Pria itu menunduk memandang gagang senjata di pinggang kirinya, seakan-akan terkejut. “Lupa.” Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum. “Belum lama punya ini.” Senjata itu lebih berupa pedang kecil daripada pisau besar. Dia meletakkannya pistol dan sarung yang dipegang Emily.

“Uangmu lebih baik jika dihabiskan untuk membeli alat-alat perdamaian,” tegur Emily.

“Amin,” timpal pria itu.

“Itu hanya kata-kataku” tukas Emily, “bukan dari Alkitab.”

“Tidak membelinya kok.” Pria itu tersenyum lagi, senyum yang aneh. Bibirnya melengkung ke atas, sementara matanya menyipit.

“Lalu dari mana datangnya senjata itu, Saudaraku?” Menang dari judi, pikir Emily, atau lebih buruk lagi, mencuri. Dia menawarkan kesempatan

kepada pria asing itu untuk mengakui kesalahan, sebagai langkah pertama memulai hidup dalam pengampuan dan kasih sayang Tuhan.

“Pisau bowie sepanjang 25 sentimeter,” kata sang pria. Lalu menyadari bahwa itu tak menjelaskan apa-apa, dia menambah, “hadiah perpisahan.’

Baik, rupanya tidak ada pengakuan untuk saat ini. Tetapi, Emily telah melakukan tugasnya dengan membuka jalan. Tanyanya, “siapa namamu?”

“Matthew,” jawabnya.

“Aku Emily, Saudara Matthew. Panggil saja aku saudari, jangan panggil nyonya. Aku sangat senang menerima Anda makan sup bersama kami, dalam perlindungan Tuhan.”

“Terima kasih, Saudari Emily,” kata Saudara Matthew.

Ingatan akan masa-masa menggembirakan itu membuat air mata tiba- tiba menggenang di mata Emily sehingga dia tak bisa menahan air matanya turun membasahi pipi.

Mengulurkan tangan melewati Cromwell yang terbaring. Stark memberikan sapu tangan kepada Emily. Dia menutupi wajahnya dengan sapu tangan itu dan menangis dalam diam, bahunya bergetar karena sedu- sedan yang diredam. Stark terkejut melihat emosi seperti itu datang dari Emily. Sikapnya terhadap sang pendeta selalu sopan dan menjaga jarak. Orang yang tak tahu tak akan mengira kalau mereka bertunangan. Ini menunjukkan betapa sedikit pengetahuannya tentang wanita. Bukannya itu penting dan bukannya dia peduli. Yang penting jantung Stark masih memompa darah ke seluruh tubuh, itu saja. Kalau tidak, itu berarti jantung orang yang sudah mati.

Stark berkata, “Sebaiknya Anda berisitirahat, Saudari Emily. Aku akan menjaga Saudara Zephaniah.”

Emily menggeleng. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, dia akhirnya mampu bicara. “Terima kasih, Saudara Matthew, tetapi aku tak bisa pergi. Tempatku bersama Zephaniah.”

Stark mendengar gemerisik baju di lorong. Seseorang mendekat. Empat samurai yang berjaga di luar ruangan membungkuk rendah. Beberapa saat kemudian, Lord Genji muncul di pintu dengan komandan pengawalnya. Genji memandang Emily dan Stark, kemudian mengatakan beberapa patah

kata kepada keempat samurai yang berjaga. Keempat samurai itu membungkuk lagi, mengucapkan sepatah kata yang terdengar seperti “Hai” dan bergegas pergi. Stark mengamati bahwa setiap orang di sekitar Genji sering mengatakan kata itu. Menurut perkiraannya, kata itu berarti ya. Karena orang tidak mungkin berkata tidak kepada seseorang yang bisa membunuh mereka dan keluarga mereka karena perkara sepele.

Genji tersenyum dan menyapa mereka dengan bungkukan rendah. Sebelum Stark dan Emily berdiri, Genji telah duduk bersimpuh di sebelah mereka dengan nyaman. Dia mengatakan sesuatu dan menunggu. Stark merasa seakan-akan Genji sedang menunggu jawaban mereka.

Stark menggeleng. “Maafkan saya Lord Genji. Kami berdua tidak bisa bahasa Jepang.”

Geli, Genji berpaling kepada Saiki dan berkata, “Dia pikir aku bicara dalam bahasa Jepang.”

Saiki berkata, “Apa dia bodoh? Apa dia tak mengenali bahasanya sendiri?”

“Rupanya,dia tidak mengenali bahasanya jika aku yang mengucapkannya. Aksenku pasti jauh lebih buruk dari perkiraanku. Tetapi, aku mengerti ucapannya. Setidaknya itu menggembirakan.” Genji kembali menggunakan bahasa Inggris dan berkata kepada Stark dan Emily, “Bahasa Inggris saya tidak bagus, saya mohon maaf.”

Stark menggeleng lagi. Yang bisa dia katakan adalah mengatakan apa yang telah dia katakan, “Maaf.” Mulainya. Tetapi, Emily memotong.

“Anda bicara bahasa Inggris,” katanya kepada Genji. Atau, setidaknya dia berusaha berbicara bahasa Inggris. Mata Emily yang masih basah oleh air mata melebar terkejut.

“Ya, terima kasih,” kata Genji. Dia tersenyum seperti seorang anak kecil yang telah senang karena berhasil menyenangkan orang dewasa. “Saya mohon maaf karena suara bahasa Inggris saya tidak enak di telinga Anda. Lidah dan bibir saya mengalami kesulitan besar mengucapkan kata-kata Anda.”

Yang didengar Emily adalah serangkaian suku kata aneh dalam ritme umum bahasa Inggris, “Yehsu, sankyu, I lee-glt-to zah offen-su to yo-ah ee-

ahsu. My than-gu ahn my rip-su ha-bu glate difficurty with zah shay-pu0su of yo-ah wod-zuh,”

Emily berjuang untuk memisahkan satu bunyi dari bunyi berikutnya. Jika dia bisa menebak beberapa kata, mungkin dia bisa menebak apa yang dikatakan Genji. Apakah tadi dia mengucapkan kata “sulit” (difficulty)” Emily berpikir mungkin ide bagus jika dia mengulang kata itu dalam jawabannya.

Dengan hati-hati dia berkata, “Setiap kesulitan (difficulty) dapat diatasi jika kita mau berusaha.”

Ah, jadi begitu cara mengucapkannya, pikir Genji. Difficulty dengan “el” yang diucapkan dengan menggerakkan lidah hingga menyentuh langit- langit di tenggorokan.

“Sulit tetapi tidak mustahil,” balas Genji. “Ketulusan dan ketekunan pasti menghasil-kan.”

Aksen Genji terdengar aneh dan susah dimengerti tetapi ada konsistensi di dalamnya yang membuat kata-katanya menjadi jelas semakin lama Emily mendengarnya. Selain itu, Genji cepat belajar. Sekarang, pengucapan kata “sulit” dalam bahasa Inggris lebih mendekati pengucapan Emily.

“Lord Genji, bagaimana bisa Anda belajar bahasa kami?”

“Kakek saya meminta agar saya belajar bahasa Inggris. Dia yakin bahasa ini akan berguna bagi saya.” Bahkan, Lord Kiyori menekankan bahwa Genji wajib belajar bahasa Inggris. Karena dalam sebuah mimpinya, di melihat Genji berbicara dengan para penutur bahasa Inggris.

Percakapan itu, kata Lord Kiyori, suatu saat akan menyelamatkan nyawa Genji. Genji saat itu baru tujuh tahun. Katanya, jika mimpi kakeknya memang nyata, mengapa dia harus repot-repot belajar? Ramalan mengatakan dia akan berbicara bahasa Inggris. Jadi, ketika saatnya tiba, dia pasti bisa berbicara bahasa Inggris.

Lord Kiyori tertawa terbahak-bahak. Ketika saatnya tiba, Lord Kiyori berkata, Genji akan bisa berbicara bahasa Inggris karena saat ini Genji akan mulai mempelajarinya.

Larangan Shogun terhadap orang asing saat itu masih berlaku. Pengajar dari pembicara asli tidak mungkin didapatkan. Jadi, pelajaran bahasa Inggris

Genji hampir seluruhnya menggunakan buku. Kata-kata di buku ternyata jauh berbeda dengan kata-kata di lidah dan di telinga.

Stark berkata kepada Emily, “Kamu mengerti kata-katanya.” “Ya, dengan usaha. Apa kamu tidak, Saudara Matthew?”

“Sama sekali tidak, Saudari Emily.” Bagi Stark, Genji terdengar seperti berbicara dalam rangkaian suku kata yang tak bisa dimengerti. Yang didengar Emily sebagai bahasa Inggris, terdengar lebih pelan, dengan rangkaian suku kata dalam kelompok lebih kecil, seperti gumaman daripada kata-kata yang jelas. Perbedaan itu sama sekali tidak membuat Stark lebih bisa mengerti apa yang diucapkan Genji, meski dia mendengar dengan seksama.

Genji berkata pelan sekali. “mungkin jika saya berbicara dengan pelan sekali?”

Yang didengar Stark, “Pah-ha-pu-su i-fu-aye su-pee-ku-be-li-shrow- ree?” Yang bisa dia lakukan hanyalah menggelengkan kepala lagi.

“Maaf, Lord Genji. Telinga saya tidak sebijak telinga Saudari Emily.” “Ah,” kata Genji. Dia tersenyum kepada Emily, “Ini memang ironis, tetapi Anda harus menerjemahkan bahasa Inggris saya ke bahasa Inggris untuk Tuan Stark sehingga dia bisa mengerti”

“Suatu kehormatan bagi saya,” jawab Emily, “dan saya yakin ini hanya sementara. Ini hanya masalah menjadi biasa terhadap ciri khas satu sama lain.”

Genji berkedip. “Anda berbicara terlalu cepat, Nona Gibson. Saya tidak bisa mengerti kali ini.”

“Maafkan saya, Lord Genji. Saya terlalu terbawa oleh antusiasme saya.” Emily mempertimbangkan untuk mengubah kata-katanya menggunakan kata-kata yang lebih sederhana. Tetapi, melihat mata lembut sang bangsawan itu, dia memutuskan untuk tidak menyederhanakan kata-katanya. Dalam mata Genji, Emily melihat sebuah jiwa dengan kepekaaan tinggi. Genji pasti tahu jika dia menyederhanakan kata-katanya. Dia akan merasa terhina, dan lebih buruk lagi dia akan teringgung. Maka, Emily mengulang kata-katanya dengan hati-hati.

Saiki berlutut di pintu, tak berapa jauh dari mereka. Dia cukup jauh untuk tidak menganggu pembicaraan mereka. Tetapi, dia juga cukup dekat

untuk dengan cepat menyelipkan dirinya di antara tuannya dengan orang- orang asing itu,dan jika perlu membunuh Stark. Kelihatannya memang tidak ada bahaya mengancam. Namun, Saiki tetap waspada. Meski sang wanita kelihatan tak berbahaya, dia juga tetap mengawasinya.

Sekelompok orang kini berkumpul di belakang Saiki. Empat penjaga tadi, kini membawa tempat tidur bergaya Barat. Hide dan Shimoda juga bersama mereka membawa perabotan tambahan. Sang pelayan, Hanako, tiba dengan peralatan minum teh gaya Inggris di atas nampannya. Mereka semua memandang terlongong-longong pada pemandangan di dalam ruangan.

“Lord Genji berbicara dalam bahasa orang asing,” bisik Hide.

Saiki tetap mempertahankan kewaspadaannya. Tanpa berpaling, dia berkata pelan. ”Kalau kamu tetap melanggar disiplin, Hide, kamu akan menghabiskan malam pengantinmu di kandang kuda dan bukan di pelukan mempelaimu.”

Malam pengantin? Hide ingin tertawa. Itu tak kan terjadi. Tuan mereka hanya mengatakan hal itu sambil lalu saja, tak lebih. Hanya bebek tua tanpa humor seperti Saiki yang akan menganggap hal itu serius. Hide berpaling kepada Shimoda dan tersenyum geli. Tetapi, temannya itu malah tersenyum penuh arti. Di sampingnya, Hanako, yang pipinya biasanya pucat kini memerah malu, dan menunduk memandangi nampan yang dibawanya. Hide ternganga. Kenapa dia selalu tak tahu apa yang terjadi hingga semuanya terlambat?

Saiki maju dengan berlutut. “Tuanku, perlengkapan untuk para orang asing.”

“Bawa masuk.” Kepada Emily dan Stark, Genji berkata, “Mari kita minggir sebentar, sementara ruangan ini dilengkapi agar lebih nyaman.” Genji melihat, baik Emily maupun Stark mengalami kesulitan berdiri. Mereka harus membungkukkan punggung dahulu dan mendorong dengan tangan, seperti anak-anak yang sedang belajar berdiri. Stark berdiri lebih dahulu dan segera menolong Emily. Apa semua pria asing memperlakukan wanitanya dengan rasa hormat yang berlebih-lebihan? Atau, hanya para misionaris? Apa pun alasannya, singguh mengagumkan bagi seorang pria untuk bersikap sangat sopan kepada seorang wanita yang tak enak dilihat.

Mudah untuk bersikap sopan dan hormat kepada wanita cantik. Tetapi, wanita yang jelek membutuhkan tekad yang lebih kuat.

Ranjang, kursi-kursi, dan meja ditata dengan cepat sebelum kesemutan Stark sembuh dan darah kembali mengalir normal di kakinya. Cromwell tetap tidak sadar ketika para samurai itu mengangkatnya ke tempat tidur. Selimut-selimut yang digelar di lantai menghitam terkena noda darah, dan darah yang masih mengalir kini menodai kain linen bersih di tempat tidur di bawah Cromwell. Warna darah dan bau luka Cromwell menunjukkan kepada Stark bahwa peluru menerobos masuk organ pencernaan dan perutnya. Racun dan asam dari organ-organ itu kini menyebar ke organ dan bagian tubuhnya yang masih sehat.

“Apa tidak sebaiknya kita istirahat di ruang sebelah?” kata Genji. “Para pelayan ini akan menunggui Tuan Cromwell. Mereka akan memanggil kita jika ada perubahan.”

Emily menggeleng. “Jika dia terbangun, mungkin dia akan merasa nyaman jika melihatku.”

“Baiklah. Kalau begitu mari kita duduk di pinggir kursi. Seperti saat bersimpuh di lantai, dia menggunakan posturnya untuk mempertahankan kelurusan tulang punggungnya. Sementara, Emily dan Stark segera bersandar ke sandaran kursi dan membiarkan sandaran kursi itu menahan punggung mereka. Itu kelihatan kurang sehat untuk tubuh. Tetapi, Genji berpikiran terbuka. Dia pun mencoba bersandar. Hanya dalam beberapa detik, dia merasa organ-organ perutnya bergeser dari sumbunya. Dia memandang ke arah Cromwell. Pria itu mungkin bisa bertahan selama satu atau dua jam. Genji tak yakin dia bisa bertahan duduk di kursi selama itu

Stark juga sedang memandangi Cromwell, tetapi dia tidak memikirkan tentang kematian sang pendeta. Pikirannya melayang ke rumah misi Firman Sejati yang telah didirikan di wailayah Yamakawa, di barat latu Edo. Sebelas misionaris telah pergi ke sana setahun lalu. Di antara sebelas itu, ada satu orang yang sangat ingin ditemui Stark.

Stark, Emily, dan Genji duduk di samping ranjang Cromwell, menunggui kematiannya.

“Saat itu tidak ada kesempatan untuk menembak Genji di pelabuhan,” kata Kuma. Dia tidak akan mengatakan kepada kliennya bahwa dia telah mengambil senapan kosong. Bagi seorang ninja, reputasi adalah hal terpenting. Jadi, mengapa harus merusaknya?

“Aku susah mempercayai itu,” kata Kawakami. “Tetapi, memang begitu kenyatannya.”

“Jelaskan lagi mengapa kamu menembak misionaris itu.”

Kesalahan yang lain, meski tidak terlalu penting. Misionaris yang dua bidik, yaitu misionaris yang bersikap dingin dan berjalan di dekat joli, tersandung tepat saat Kuma menembak. Dia hampir-hampir mengira, pria asing itu melihat ke arahnya, mengetahui keberadaannya, dan menjatuhkan diri untuk menghindari tembakan. Tetapi, itu sangat tidak mungkin. Bahkan, seorang ninja terlatih tak akan mudah mendeteksi keberadaan Kuma. Dia pasti tersandung. Kuma mempertahankan ekspresi percaya diri di wajahnya. Tidak mungkin Kawakami tahu bahwa tembakannya hanya kebetulan.

Katanya, “Yang tertembak adalah pria yang lebih tua. Saya rasa dia adalah pemimpin mereka. Kematiannya akan lebih menyakitkan bagi Genji dan para simpatisan Kristen lainnya. Saya pikir Anda akan senang.”

Kawakami mempertimbangkan situasi. Tidak pantas memang jika Kuma membuat keputusan penting berdasarkan pertimbangannya sendiri. Tetapi, dia juga paling efektif jika dibiarkan bebas bertindak jika kesempatan muncul. “Jangan lakukan apa-apa lagi terhadap Genji. Jika muncul kesempatan untuk menyerang para misionaris, lakukan saja, tetapi hanya jika mereka benar-benar berada di bawah perlindungan klan Okumichi.” Peristiwa yang memalukan bagi Okumichi itu benar-benar menyenangkan jika terjadi.

“Maksud Anda saat mereka berada di Istana Bangau yang Tenang?” “Ya.”

“Itu tak akan mudah.”

Kawakami meletakkan uang emas sepuluh ryo di atas meja dan mendorongnya ke arah Kuma. “Teruskan mengawasi Heiko. Aku tak yakin dia mengingat apa yang seharusnya dia ingat.”

Kuma membungkuk, menghabiskan tehnya, dan menyelinap keluar pintu. Semuanya berjalan lebih mudah dari yang dia kira. Kawakami biasanya menanyakan banyak pertanyaan. Hari ini dia terlihat kurang konsentrasi. Tidak masalah. Dia kini sepuluh ryo lebih kaya. Lebih penting lagi, dia masih ditugaskan mengawasi Heiko. Gratis pun dia mau melakukannya. Tetapi, dibayar untuk mengawasi Heiko benar-benar anugrah. Namu Amida Butsu.

Kuma sang Beruang berjalan tangkas, tetapi tidak terlalu cepat, ke arah distrik Tsukiji. Siapa pun yang memperhatikannya akan melihat seorang ptani gemuk, botak, separuh baya dengan ekspresi wajah cerah dan tak begitu pintar. Tak seorang pun akan melihatnya sebagai ninja paling mematikan di provinsi ini.

Tak seorang pun tahu. Setidaknya, tidak pada sat yang tepat.

Kawakami sangat susah berkonsentrasi pada laporan Kuma. Dia tak bisa berhenti memikirkan laporan Heiko. Benar-benar pembantaian besar. Ayah dan anak terbunuh pada jam yang sama. Akar dan batang dirusak total, dan bukan karena kebencian musuh melainkan karena kegilaan. Mungkinkah kisah yang mengerikan itu benar-benar terjadi? Hingga ada konfirmasi dari sumber lain, Kawakami hanya dapat berharap jika itu memang benar, kegagalan Kuma membunuh Genji sangatlah menguntungkan. Jauh lebih baik jika klan Okumichi hancur dari dalam daripada dihancurkan dari luar.

Kawakami memejamkan matanya dan hanyut dalam perenungan. Pada tahun keempat belas kekuasaan Kaisar Go-yozei, dua setengah abad lalu, Bangsawan Agung Minato, Reigi, mengikuti Bangsawan Agung Akaoka, Nagamasa bertempur melawan tentara Tokugawa. Reigi percaya pada kemampuan meramal Nagamasa. Saat itu, Nagamasa berkata, klan Tokugawa akan hancur. Doa melihatnya dalam visinya. Nagamasa tewas,

Dalam dokumen SAMURAI KASTEL AWAN BURUNG GEREJA (Halaman 74-109)

Dokumen terkait