• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bantahan Terhadap Teori Evolusi Darwin

Dalam dokumen Metodologi Studi Islam (Halaman 56-61)

                  

" Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat ini kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatirkan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Q.S. al-Ahzab: 72).

Dengan demikian, manusia adalah makhluk yang dipandang cakap dan mampu sebagai khalifah di muka bumi jika manusia menggunakan semua potensi yang diberikan Allah kepadanya. Namun, tidak sedikit dari manusia yang melalaikan tugas dan misi penciptaannya baik sebagai hamba apalagi sebagai khalifah Allah. Seorang hamba yang baik, ia mampu menjalin hubungan baik secara vertikal (manusia dengan Tuhan) dan secara horizontal (manusia dengan manusia dan alam semesta). Penyembahan yang sempurna dari seorang manusia menjadikan dirinya ―perpanjangan‖ kekuasaan Allah di muka bumi ini dalam mengelola alam semesta.

E. Bantahan Terhadap Teori Evolusi Darwin

Evolusi artinya perubahan berangsur-angsur sesuai dengan perubahan zaman. Dalam bidang geologi, buku The principle of Geology karya Charles Lyell (1830) yang banyak menginspirasi Darwin, mengungkapkan konsep tentang perubahan geologis. Dalam bidang fisika atau astronomi juga dikenal konsep evolusi alam semesta yang bermula dari peristiwa big-bang, kemudian menjadi benda-benda angkasa berupa planet, bintang, bulan, dsb. Demikian juga dalam bidang sosial ada konsep evolusi sosial-budaya.

Tahun 1860 terjadi perdebatan antara Louis Agassiz (ilmuwan yang dianggap banyak berjasa dalam membangun ilmu

pengetahuan Amerika) yang menentang validitas dari argumentasi Darwin dengan Asa Gray yang mencoba menemukan rekonsiliasi antara Darwinisme dengan ajaran agama Kristen. Agassiz meyakini bahwa makhluk hidup (spesies) diciptakan oleh Tuhan dan tidak berubah menjadi spesies lain. Menurutnya teori Darwin hanya merupakan suatu conjecture atau dugaan belaka, tanpa dukungan fakta, dan adanya tingkatan kemajuan bentuk hidup dari pengamatan fosil dari suatu strata ke strata berikutnya menunjukkan adanya perencanaan dalam penciptaan makhluk hidup dan bukan merupakan perubahan alami akibat adanya tekanan dari lingkungan. Sementara itu Asa Gray berpandangan bahwa teori seleksi alam yang diajukan Darwin merupakan instrumen Tuhan dalam penciptaan. Pandangan Gray ini sendiri sebetulnya bertentangan dengan pandangan Darwin yang tidak mempercayai adanya peran Tuhan dalam pembentukan makhluk hidup. Beberapa argumentasi lain yang telah dikemukakan para ilmuwan sehingga menolak konsep evolusi Darwin diantaranya adalah dipertanyakan apakah variasi dapat terakumulasi sebagaimana yang dikatakan Darwin. Jangankan di alam, bahkan pada penyilangan buatan, yang merupakan dasar dari argumen Darwin, ada batasan derajat perubahan yang mungkin terjadi.

Sebenarnya Darwin sendiri menyadari bahwa teori evolusinya itu sulit untuk dibuktikan. Dalam bab Difficulties of the theory Darwin menulis: ― jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi dimanapun ? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya ? …Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung ? …. Dan pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat ? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya‖

Di dalam masyarakat Amerika sendiri sejak awal abad ke-20 terjadi perlawanan sengit terhadap pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah. Tahun 1924 Komisi pendidikan Carolina utara

mengumumkan bahwa mereka tidak akan menggunakan buku-buku pelajaran Biologi yang bertentangan dengan Genesis. Di Tennessee tahun 1925 legislatif, atas upaya para orang tua murid, melarang diajarkannya teori yang menolak penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Bible. Di Oklahoma juga telah dibuat aturan mengenai teks book (text book bill) yang melarang setiap ‗konsepsi materialistik dari sejarah, yaitu teori evolusi Darwin‘. Tahun 1981 Gubernur Arkansas menandatangani Act 590 yang membolehkan pengajaran ‗creation science‘ sebagai alternatif dari evolusi, namun Act tersebut digugat oleh ―The American Civil Liberties Union‖ yang menganggap bahwa ‗creation science‘ bukan sains, tetapi agama. Gugatan tersebut dikabulkan dalam persidangan.

Saat ini sudah banyak buku ditulis oleh para ilmuwan untuk menentang teori evolusi tersebut, jauh sebelum Harun Yahya menuliskan buku-bukunya. Beberapa diantaranya: Norman Macbeth. (1971. Darwin retried: an appeal to reason), Michael Denton (1985. Evolution: a theory in crisis), Robert Saphiro. (1986. Origins: a sceptics guide to the creation of life on earth), Michael J. Behe. (1996. Darwin‘s black box), W.R. Bird. (1991. The origin of species revisited), Elaine Morgan (1994. The scars of evolution), dan lain-lain. Diterjemahkannya buku-buku Harun Yahya boleh jadi merupakan langkah awal untuk meramaikan perdebatan tentang teori evolusi ini, dan kita berharap buku-buku dari penulis lain akan juga dapat dinikmati oleh masyarakat kita, sebagai bagian dari proses pencerdasan (dan bukan pembodohan) masyarakat.

Di dalam Al Qur‘an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah SWT dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam FirmanNya:

           

"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)

        

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26).

Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalam surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :"Sesungguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari).

BAB IV

‘AQIDAH (KEIMANAN)

A. Pengertian Aqidah/Iman

Kata aqidah berasal dari bahasa Arab, yakni جةد١مع . Kata ini terambil dari akar kata ةدمع . Secara harfiah berarti : ikatan, simpul, buhul dan transaksi. Sedangkan menurut istilah aqidah adalah simpul keyakinan yang terikat kokoh dalam jiwa seseorang yang tidak bercampur dengan keraguan ataupun persangkaan dan mempengaruhi sikap dan perbuatan yang bersangkutan. Dasar pengikat akidah bukanlah faktor tunggal, melainkan multi faktor seperti iformasi wahyu, pengalaman hidup, hasil perenungan dan pemikiran serta nilai yang berkembang dan dianut seseorang. Ini pengertian aqidah sebagai sub sistem dari sistem ajaran Islam. Sebagai suatu disiplin ilmu Akidah biasanya didefinisikan sebagai ilmu yang membahas pokok-pokok keyakinan agama dengan dalil-dalil yang meyakinkan.

Aqidah dalam al-Qur‘an dinamakan iman. Iman secara bahasa berasal dari kata amana – yu‟manu – imanan yang artinya percaya. Namun iman bukan hanya sekedar percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berprilaku. Oleh karena itu iman didefinisikan sebagai berikut:

لإا : ْاّ٠لإ ْاواٌات ًّمٌاٚ ةٍمٌات ك٠ةدرٌاٚ ْاضٌٍات اال

― Iman adalah diucapkan oleh lidah, dibenarkan oleh hati dan dilaksanakan oleh anggota badan (perbuatan).”

Iman / aqidah adalah bagian yang sangat pokok (pondasi) bagi ajaran Islam. Ia merupakan keyakinan yang menjadi dasar dari segala tindakan/ amal. Aqidah sebagai penentu bernilai atau tidaknya amal shaleh yang dilakukan. Perbuatan baik yang dikerjakan tanpa dilandasi dengan aqidah Islam, maka amalnya tidak bernilai (pahala).

Ruang lingkup kajian aqidah adalah meliputi empat hal berikut : 1. Ilahiyyat, yaitu masalah ketuhanan dan hal-hal yang berkaitan

dengannya seperti sifat-sifat Tuhan, Perbuatan Tuhan, Keadilan Tuhan dan lain-lain.

2. Ruhaniyyat, yaitu perkara-perkara ghaib seperti hal-hal yang berhubungan dengan malaikat, jin iblis dan lain-lain.

3. Al-Nubuwwat, yaitu masalah kenabian dan hal-hal yang berkaitan dengan itu seperti pengertian Nabi dan Rasul, sifat-sifat mereka, bukti kenabian dan kerasulan mereka, rasul ulul ‘azmi, risalah yang mereka bawa termasuk didalamnya kitab suci.

4. Al-Sam‟iyyat, yaitu semua hal yang hanya dapat diketahui melalui informasi wahyu dan tak dapat diketahui melalui sumber lain seperti alam barzah, akhirat, kebangkitan sesudah mati, mahsyar, hisab, mizan, shirath, surga dan neraka.

Dalam dokumen Metodologi Studi Islam (Halaman 56-61)

Dokumen terkait