• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periode Modern

Dalam dokumen Metodologi Studi Islam (Halaman 169-176)

B. Periodesasi Sejarah Islam

4. Periode Modern

Berikut uraian masing-masing fase: 1. Fase Pra Klasik:

a. Fase Pembentukan Agama (610-622 M)

Pada fase ini Nabi Muhammad SAW melakukan kegiatan pembentukan akidah dan pemantapannya serta pengalaman ibadah di kalangan umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dan wahyu-wahyu berikutnya, kemudian Nabi Muhammad SAW memperkenalkan Islam kepada masyarakatnya di Makkah berdasarkan wahyu tersebut. Dakwah yang beliau lakukan melalui tiga tahapan, yaitu: pertama, memperkenalkan Islam secara rahasia, dalam arti terbatas pada keluarga terdekat dan teman-teman akrabnya, melalui pendekatan pribadi. Tahap ini dilakukan secara hati-hati sehingga tidak menimbulkan kejutan dikalangan masyarakat, namun hasilnya cukup memadai,terbukti beberapa keluarga dan teman terdekatnya berhasil masuk Islam. Kedua dilakukan dengan semi rahasia, dalam arti mengajak keluarganya yang lebih luas dibandingkan pada tahap pertama, terutama keluarga yang bergabung dalam rumpun Bani Abdul Mutholib (Baca QS. As-Syu‘ara: 214), Ketiga dilakukan secara terbuka dan terang-terangan dihadapan masyarakat umum dan luas (Baca QS.al-Hijr: 94) pada tahap ini Nabi Muhammad SAW beserta pengikutnya menghadapi oposisi dari berbagai pihak, bahkan mendapatkan siksaan berat sebagiannya mengakibatkan kematian. Sungguhpun demikian, akidah mengikuti Nabi tetap kokoh dan tidak luntur dalam menghadapi oposisi tersebut. b. Fase Pembentukan Negara (622-632 M)

Sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah) didahului dengan usaha memengaruhi para peziarah Ka‘bah di Makkah agar mereka masuk Islam. Di antara mereka banyak yang berasal dari kabilah Khazraj dan Aus (Yatsrib/Madinah). Ternyata sebagian mereka menyambut baik atas seruan dan ajakan Nabi Muhammad SAW tersebut, yang pada gilirannya menyatakan diri masuk Islam serta diikuti dengan perjanjian kesetiaan mereka kepada agama Islam dan Nabi Muhammad SAW yang terkenal

dengan ‘‘Perjanjian Aqabah‘‘. Beberapa upaya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah, yaitu:

1) Mendirikan Masjid, sebagai tempat ibadah dan berkumpulnya umat Islam, secara gotong-royong;

2) Mempersaudarakan antara kaum Anshor dan Muhajiin; 3) Membuat perjanjian persahabatan (toleransi) antara intern

umat Islam dan antara umat beragama; dan

4) Meletakkan dasar-dasar politik ekonomi dan social untuk masyarakat baru. Karena itu terbentuklah masyarakat yang disebut Negara kota dengan membuat konstitusi di dunia. c. Fase Pra-Ekspansi (632-650 M)

Merupakan fase ekspansi pertama (pendahuluan), yang pada dasarnya dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:

1) Fase konsolidasi. Abu Bakar sebagai kholifah Islam pengikut Rasulallah SAW. (632 M) harus menghadapi suku-suku bangsa Arab yang tidak mau lagi tunduk kepada Madinah, mereka menganggap bahwa perjanjian yang mereka buat dengan Nabi SAW. Dengan sendirinya tidak mengikat lagi setelah beliau wafat. Selanjutnya mereka mengambil sikap menentang Abu Bakar ( ingkar kepada pemerintah Islam ) tidak mau membayar dinar karena itu Abu Bakar menyelesaikannya dengan perang Riddah (melawan kaum separatis) di bawah komando Khalid bin Walid, dan kemenangan di pihak Abu Bakar ( umat Islam ). 2) Fase pembuka jalan. Dimana setelah selesai perang dalam

negeri tersebut (konsolidasi), Abu Bakar mulai mengirim kekuatan-kekuatan ke luar Arabia. Khalid bin al-Walid memimpin tentara yang diantar ke Irak (wilayah Bizantium) dan dapat menguasai al-Hirah di tahun 634 M. Bersama dengan itu ke Suria (Iran) dikirim tentara di bawah pimpinan tiga Jendral: Amr Ibnu ‗Ash, Yazid Ibnu Abi Sofyan dan Syurahbil Ibnu Hasanah, dan ditunjang oleh pasukan Khalid, sehingga dapat menguasai kota Ajnadin dan Fihl.

3) Fase pemerataan jalan. Dimana usaha-usaha yang dirintis oleh Abu Bakar untuk membuka jalan ekspansi, kemudian dilanjutkan oleh khalifah kedau, Umar bin Khatab (634-664 M). pada zaman Umar inilah gelombang ekspansi pertama terjadi kota Damaskus

jatuh di tahun 635 M dan setahun kemudian Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, daerah Suria jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan adanya gelombang ekspansi pertama ini (menurut istilah kami fase perantara jalan ekspansi). Maka kekuasaan Islam di bawah Khalifah Umar telah meliputi selain Semenanjung Arabiah, juga Palestina, Suria, Irak, Persia, dan Mesir.

4) Fase jalan buntu, yaitu pada zaman Usman bin Affan (644-656 M) sebagai khalifah ketiga, dan pada zaman Ali bin Abi Thalib (656-661 M) khalifah keempat. Pada zaman Usman, meskipun Tripoli, Ciprus dan beberapa daerah lain dikuasai, tetapi gelombang ekspansi pertama berhenti sampai disini, karena dikalangan umat Islam mulai terjadi perpecahan menyangkut masalah pemerintahaan dan dalam kekacauan yang timbul itu Usman mati terbunuh.

Selanjutnya diganti oleh Ali bin Abi Thalib, tetapi mendapat tantangan dari pendukung Usman, terutama Muawiyah Gubernur Damaskus dari Golongan Thalhah dan Zubair di Makkah dan kaum Khawarij dan Ali sebagaimana Usman juga terbunuh.

2. Periode klasik (650-1250 M)

Periode Klasik ini merupakan zaman kemajuan umat Islam. Harun Nasutiontelah membagi periode klasik ini ke dalam dua (2) fase, yaitu:

a. Fase Ekspansi, Integrasi, dan Puncak Kemajuan 650-1000 Masa klasik merupakan masa kemunculan Islam dan peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya. Pada masa ini lahir lahir para ulama mazhab seperti Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Syafi‘I dan Imam Maliki. Sejalan dengan itu lahir pula para filosuf Muslim seperti Al-Kindi (801 M), Al-Razi ( 865 M) dan Al-Farabi (870 M) serta Ibn Miskawaih ( 930 M) yang terkenal dengan pemikirannya tentang akhlak, Ibn Sina (1037 M) di bidang kedokteran, Ibn Bajjah (1138 M) dan Ibn Rusyd (1126 M). Periode klasik ini merupakan periode kebudayaan dan peradaban Islam yang tertinggi dan mempunyai pengaruh

terhadap tercapainya kemajuan atau peradaban modern di Barat sekarang, sungguhpun tidak dengan secara langsung. b. Fase Disintegrasi (1000-1250 M)

Fase disintegrasi merupakan fase di mana pemisahan diri dinasti-dinasti dari kekuasaan pusat, dilanjutkan dengan perebutan kekuasaan antara dinasti-dinasti tersebut untuk menguasai satu sama lain. Misalnya:

1) Dinasti Buwaihi yang menguasai daerah Persia dikalahkan oleh Saljuk pimpinan Tughril Beg (1076 M).

2) Dinasti Saljuk waktu dipimpin Nizamul Mulk dikalahkan oleh Dinasti Hasysyasin pimpinan Hasan Ibnu Sabah, yang meskipun Dinasti Saljuk masih sempat berdiri, tetapi akhirnya dikalahkan total pada Perang Salib oleh Paus Urban II (1096-1099 M).

3. Periode Pertengahan (1250-1800 M)

Periode pertengahan ini juga dibagi ke dalam dua (2) fase yaitu:

a. Fase Kemunduran (1250-1500 M)

Masa ini diawali dengan kejahtuhan Baghdad secara politik ditangan tentara Mongol. Pada masa ini desentralisasi dan disintegrasi bertambah meningkat. Perbedaan antara Sunni dan Syi‘ah, demikian juga antara Arab dan Persia bertambah tampak. Dunia Islam pada zaman ini terbagi dua, yaitu: Bagian Arab yang terdiri dari Arabia, Irak, Suria, Palestina, Mesir dan Afrika Utara, dengan Mesir sebagai pusat, dan Bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia Kecil, Persia dan Asia Tengah dengan Iran sebagai Pusat.

Pada fase pertengahan merupakan fase kemunduran peradaban umat Islam karena filsafat dan ijtihad mulai dijauhkan dari umat Islam sehingga ada kecenderungan akal dipertentangkan dengan wahyu, iman dengan ilmu, dunia denga akhirat. Pemikiran yang berkembang saat itu adalah dikotomis antara agama dengan ilmu, urusan dunia dan akhirat. Titik kulminasinya adalah ketika para ulama sudah mendekat

dan menjadi alat para penguasa pemerintahan. Para penguasa terbuai dengan kemewahan yang sudah dirasakan, sehingga lupa melanjutkan tradisi keilmuwan yang dibina sejak zaman klasik. Akibatnya umat Islam tenggelam ke dalam lembah kehancuran, kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. b. Fase Tiga Kerajaan Besar (1500-1700 M) Kerajaan Usmani

(Ottoman Empire) di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India.

Setelah kejatuhan Baghdad, politik Islam sempat mengalami kemajuaan di tiga kerajaan besar Kerajaan Usmani (Ottoman Empire) di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Kemajuan pada masa ini dalam bentuk literature dan arsitek. Masjid-masjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini masih dapat dilihat di Istambul, di Tibriz, Isfahan, serta kota-kota lain di Iran dan Delhi. Tiga kerajaan ini tidak mampu bertahan lama. Kerajaan Usmani terpukul di Eropa, Kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afgam, dan daerah kekuasaan kerajaan Mughal diperkecil oleh pukulan-pukulan raja-raa India. Kekuatan militer dan kekuatan politik umat Islam menurun umat Islam dalam keadaan kemunduran drastis. Akhirnya Napoleon pada tahun 1798 M. menduduki Mesir, sebagai salah satu pusat Islam.

4. Priode Modern (1800 M-dan seterusnya)

Kedudukan Napoleon di Msir meberikan kesadaran baru di kalangan umat Islam. Pada awal abad ke 19 pemikir dan Ulama Islam mulai menyadari ketertinggalan umat Islam, antara lain pemikir Afganistan dan Mesir seperti Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Thaha Husein dan lainnya memulai mencerahkan pemikiran umat Islam dengan mengembangkan berbagai ijtihad dalam Islam.

BAB XIII

STUDI ISLAM KONTEMPORER

A. Hakekat Kontemporer

Pemikiran Islam kontemporer umumnya ditandai dengan lahirnya suatu kesadaran baru atas keberadaan tradisi di satu sisi dan keberadaan modernitas di sisi yang lain, serta bagaimana sebaiknya memandang keduanya. Maka ―tradisi dan modernitas‖ (turâts wa al-hadâtsah) merupakan isu pokok dalam pemikiran Islam kontemporer. Apakah tradisi harus dilihat dengan kacamata modernitas ataukah modernitas harus dilihat dengan kacamata tradisi atau bisakah keduanya dipadukan?

Berbeda dengan pemikiran Islam tradisional yang melihat modernitas sebagai semacam dunia lain, dan berbeda pula dengan pemikiran Islam modernis yang menggilas tradisi demi pembaharuan, pemikiran Islam kontemporer melihat bahwa turâts adalah prestasi sejarah, sementara hadâtsah adalah realitas sejarah. Pembaruan tidak bisa menekan turâts apalagi menafikannya hanya demi pembaharuan.

Keduanya, turâts dan hadâtsah harus bisa dibaca secara kreatif, dengan sadar, dengan ―model pembacaan kontemporer‖ (qirâ‟ah mu‟âshirah). Turâts tidak hanya dibaca secara harfiah tetapi sampai pada basis pembentuknya untuk menemukan makna potensial sehingga bisa ditransformasikan di zaman kita. Tidak sebagaimana perspektif modernisme, apa saja yang datang dari Barat diterima tanpa kritik, bahkan dianggap pasti baik dan benar. Dalam pembacaan kontemporer, hadâtsah juga harus dibaca secara kritis, dengan kritik, dengan mengambil jarak, juga untuk membongkar basis filosofis dan ideologisnya. Di sinilah peran filsafat ilmu, juga sosiologi dan sejarah ilmu sebagai perspektif sangat diperlukan. Setelah keduanya dibaca secara kritis-kreatif, lalu terbangun konstruksi pemaknaan yang baru.

Paparan seorang alumnus Islamic Studies McGill University Montreal, Kanada tentang perkembangan ideologi gerakan pemikiran Islam kontemporer, menyiratkan bahwa sejarah perkembangan

pemikiran merupakan fenomena dialektika, di mana sebuah pemikiran selalu ditimpali, dilanjutkan dan dengan pemikiran yang lain. Reformisme misalnya, berpandangan bahwa Islam adalah sistem keyakinan yang sempurna dan fleksibel untuk mengakomodir perkembangan modern. Sedangkan salafisme mengatakan hal yang berbeda, bahwa sumber Islam yang otentiklah yang harus diwujudkan dalam kehidupan, tanpa mengakomodir modernitas.

Dalam dokumen Metodologi Studi Islam (Halaman 169-176)

Dokumen terkait