• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 BANTUAN HIDUP DASAR PADA PANDEMI COVID-19

Coronavirus yang berkembang dan meluas sudah membangun tantangan penting bagi upaya resusitasi dan memerlukan modifikasi potensial dari proses dan praktik yang sudah ada. Tantangannya adalah untuk memastikan bahwa korban dengan atau tanpa terinfeksi COVID-19 yang mengalami henti jantung mendapatkan peluang terbaik untuk bertahan hidup tanpa mengorbankan keselamatan penolong. Hal ini dikarenakan COVID-19 sangat menular, terutama selama melakukan bantuan hidup dasar yang dapat membawa morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Edelson et al., 2020).

2.2.1 Himbauan untuk Para Penolong di Masa Pandemi C0VID-19 a. Hati-hati risiko terhadap penolong dan orang lain

Mewaspadai risiko kontaminasi saat harus mendekati korban untuk menilai atau memeriksa pernapasan korban.

b. Jaga tetap aman

Pastikan mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, sebelum dan sesudah menolong korban. Penolong memastikan ketika memberikan pertolongan tidak batuk atau bersin. Kenakan sarung tangan atau tutup tangan saat kontak dengan luka terbuka dan apabila terdapat luka di tangan penolong tutupi luka dengan balutan anti air.

c. Berikan pertolongan segera

Kemungkinan berhasil semakin besar jika segera diberikan pertolongan.

d. Selalu mencari informasi terbaru

Karena COVID-19 adalah penyakit baru, situasi akan terus berubah.

(KREKI, 2020).

Bantuan hidup dasar

2.2.2. Prinsip Umum Resusitasi pada Pasien yang Diduga atau Dikonfirmasi COVID-19.

1. Mengurangi paparan tenaga kesehatan terhadap COVID-19.

Rasional : Sangat penting bagi tenaga kesehatan melindungi diri dan kolega dari paparan yang tidak perlu.

Strategi :

a. Sebelum memasuki lokasi, semua penyelamat harus mengenakan APD yang sesuai.

b. Batasi personel di ruangan resusitasi.

c. Pertimbangkan untuk mengganti kompresi dada manual dengan perangkat CPR mekanis untuk mengurangi jumlah penyelamat.

d. Berkomunikasi tentang status pasien COVID-19 ke tenaga kesehatan yang akan datang ke tempat kejadian atau yang menerima pasien saat mentransfer ke rumah sakit rujukan.

2. Prioritaskan strategi oksigenasi dan ventilasi dengan risiko aerosolisasi yang lebih rendah.

Rasional : Prosedur intubasi memiliki risiko aerosolisasi yang tinggi, tetapi pasien yang diintubasi dengan endotracheal tube yang memiliki cuff dan dihubungkan ke ventilator dengan filter high efficiency particulate air (HEPA) di exhalation dan juga penggunaan in-line (closed) suction catheter akan menghasilkan sirkuit tertutup sehingga risiko aerosolisasi lebih rendah dibandingkan bentuk ventilasi tekanan positif lainnya.

Strategi:

a. Pasang filter HEPA dengan aman ke perangkat ventilasi manual atau mekanis di jalur exhalation sebelum memberikan napas.

b. Setelah menilai ritme dan melakukan defibrilasi aritmia ventrikel, pasien henti jantung harus diintubasi dengan ET yang memiliki cuff sesegera mungkin. Hubungkan ET ke ventilator dengan HEPA filter.

c. Minimalkan kemungkinan gagal intubasi dengan:

16

a) Menetapkan orang yang paling mahir dalam melakukan intubasi.

b) Saat intubasi hentikan melakukan kompresi dada.

c) Gunakan video laringoskopi untuk mengurangi paparan intubator pada partikel aerosol.

d) Mengggunakan headbox untuk intubasi.

3. Pertimbangkan ketepatan untuk memulai dan melanjutkan resusitasi.

Rasional: Resusitasi jantung paru adalah upaya tim yang memiliki intensitas tinggi. Dalam konteks COVID-19, risiko terhadap tim meningkat dan sumber daya dapat jauh lebih terbatas, terutama di daerah yang mengalami beban penyakit yang tinggi. Mortalitas untuk pasien COVID-19 yang sakit kritis tinggi dan meningkat dengan bertambahnya usia dan komorbiditas, khususnya penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, masuk akal untuk mempertimbangkan usia, komorbiditas, dan keparahan penyakit dalam menentukan perlunya tindakan resusitasi dan mempertimbangkan kemungkinan keberhasilan terhadap risiko untuk tenaga kesehatan.

Strategi:

a. Tetapkan tujuan perawatan dengan pasien COVID-19 untuk mengantisipasi kebutuhan potensial dalam peningkatan tingkat perawatan.

b. Institusi kesehatan harus mempunyai kebijakan untuk memandu para tenaga kesehatan di garis depan dalam memulai dan mengakhiri RJP untuk pasien dengan COVID-19, dengan mempertimbangkan faktor risiko pasien (Edelson et al., 2020).

2.2.3 In Hospital Cardiac Arrest

Pedoman pelayanan gawat darurat untuk pasien yang diduga atau dikonfirmasi COVID-19 di lingkungan rumah sakit.

a. Sebelum henti jantung :

a. Tetapkan tujuan perawatan dengan pasien yang diduga atau dikonfirmasi pada saat masuk di rumah sakit dengan perubahan signifikan seperti peningkatan tingkat perawatan.

b. Pantau dengan cermat tanda dan gejala perburukan klinis untuk meminimalkan kebutuhan intubasi darurat yang dapat menempatkan pasien dan penyedia layananan pada risiko yang lebih tinggi.

c. Jika pasien berisiko mengalami henti jantung, pertimbangkan untuk memindahkan pasien ke ruang/unit bertekanan negatif untuk meminimalkan risiko pajanan dengan penolong selama resusitasi.

b. Saat Henti Jantung dan Resusitasi

a. Tutup pintu saat resusitasi untuk mencegah kontaminasi pada ruangan yang berdekatan.

b. Pasien segera diintubasi pada saat henti jantung lalu pasang ke ventilator mekanis dengan filter HEPA untuk mempertahankan sirkuit yang tertutup dan mengurangi aerosolisasi.

c. Lakukan pengaturan ventilator untuk memungkinkan ventilasi yang asinkron saat kompresi dada dengan ventilasi.

d. Jika kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) tercapai, atur setting ventilator sesuai dengan kondisi klinis pasien.

c. Setelah Resusitasi

Konsultasikan dengan panitia pengendalian infeksi (PPI) setempat mengenai transportasi pasien setelah resusitasi (Edelson et al., 2020).

2.2.4 Out Of Hospital Cardiac Arrest (OHCA)

Penolong awam tidak memiliki APD yang memadai sehingga risikonya meningkat pada COVID-19 selama RJP, dibandingkan dengan penolong layanan kesehatan dengan APD yang memadai. Penanganan henti jantung di luar rumah sakit :

a. Kenali serangan jantung, cari tanda-tanda kehidupan dan tanda pernapasan normal.

18

b. Jangan mendengarkan atau merasakan pernapasan dengan mendekatkan telinga dan pipi ke bagian mulut korban.

c. Korban diposisikan terlentang.

d. Jika curiga COVID-19, beritahu tenaga ambulans saat menelpon PSC 119 dan pastikan ambulans sedang dalam perjalanan.

e. Letakkan kain/handuk di atas mulut dan hidung korban jika dirasakan ada risiko infeksi.

f. Jika penolong memiliki alat pelindung diri seperti masker wajah, sarung tangan sekali pakai maka harus dipakai.

g. Lakukan RJP dan defibrilasi awal (jika tersedia AED) sampai ambulans tiba. Defibrilasi bukan prosedur yang aerosol sehingga tidak meningkatkan risiko infeksi, penolong awam wajib menggunakan AED jika tersedia untuk menilai dan memberi pertolongan pada korban OHCA karena penggunaan defibrillator terbukti meningkatkan peluang bertahan hidup (KREKI, 2020).

h. Kompresi dada dengan meletakkan tangan di tengah dada dan tekan kuat cepat.

i. Kompresi dada terus-menerus dengan kecepatan minimal 100 kali per menit.

j. Mencari saran dari Hotline corona virus PSC 119.

k. Hindari menyentuh mulut, mata, atau hidung, kecuali sudah membersihkan tangan setelah melakukan kontak dengan korban.

l. Membersihkan area dimana bantuan diberikan atau hubungi petugas kebersihan.

m. Barang- barang limbah yang terkontaminasi dimasukkan ke dalam kantong sampah plastik dan letakkan di tempat yang sesuai, aman, serta diberi label sesuai dengan pedoman limbah COVID-19.

Ventilasi mulut ke mulut tidak dianjurkan karena pneumonia coronavirus yang baru dan sangat menular (Tri Atmojo et al., 2020).

Gambar 2.12 Langkah-Langkah BHD Pada Pandemi COVID-19.

Jika kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) tidak tercapai setelah upaya resusitasi yang sesuai di lapangan, pertimbangkan untuk tidak mentransfer ke rumah sakit atau jika kemungkinan korban bertahan hidup rendah, hal ini untuk mengurangi risiko paparan tambahan ke penyedia layanan rumah sakit dan di rumah sakit rujukan.

2.2.5 Transportasi Pasien COVID -19

Prinsip Umum Transportasi Pasien COVID-19 :

a. Kurangnya pengendalian infeksi dapat terjadi selama transportasi pasien di luar isolasi.

b. Manajemen pasien COVID-19 selama transportasi sangat penting dan sulit disebabkan staf mengenakan APD yang rumit. APD menjadi kebutuhan utama bagi tenaga kesehatan demi mencegah dari terpapar COVID-19. Dalam memakai atau melepas alat pelindung diri pun tidak bisa sembarangan. Harus benar-benar sesuai dengan panduan agar tidak terjadi kecelakaan saat bekerja.

Tak hanya itu, perlengkapan APD juga tidak bisa digunakan berkali-kali (DINKES, 2020). Alat pelindung diri berdasarkan tipe prosedur/lokasi :

- Level 1, digunakan pada pelayanan triase, rawat jalan non COVID-19, rawat inap non COVID-19, tempat praktik

20

umum dan kegiatan yang tidak mengandung aerosol terdiri dari penutup kepala, masker bedah, baju/pakaian jaga, sarung tangan lateks, pelindung wajah, pelindung kaki.

- Level 2, digunakan pada pemeriksaan pasien dengan gejala infeksi pernapasan, pengambilan spesimen non pernapasan yang tidak menimbulkan aerosol, ruang perawatan

COVID-19, pemeriksaan pencitraan pada

suspek/probable/terkonfirmasi COVID-19 terdiri dari penutup kepala, pelindung mata dan wajah, masker bedah, pakaian jaga, gown, sarung tangan lateks, pelindung kaki.

- Level 3, digunakan pada prosedur dan tindakan operasi pada pasien suspek/probable/terkonfirmasi COVID-19, kegiatan yang menimbulkan aerosol terdiri dari penutup kepala, face shield, masker N95, baju scrub/pakaian jaga, gown dan apron (PB IDI, 2020).

c. Perencanaan dan melakukan transportasi pasien yang aman untuk kasus yang diduga atau dikonfirmasi COVID-19 merupakan upaya untuk mengurangi penyebaran COVID-19.

d. Petugas kesehatan yang menangani transportasi pasien COVID-19 harus mempertimbangkan prinsip-prinsip berikut :

a) Pengenalan awal pasien yang kondisinya mengalami perburukan.

b) Keamanan petugas kesehatan.

c) Keamanan penolong pertama.

d) Rencana darurat.

e) Dekontaminasi pasca transportasi.

e. Transportasi COVID-19 membutuhkan area khusus, persediaan APD yang cukup, pelatihan staf dan personel pendukung (HIPGABI, 2020).

Dokumen terkait