BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 KERANGKA KONSEP
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.15 Kerangka Konsep.
Pengetahuan
Sikap
BHD selama pandemi COVID-19
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat kuantitatif dengan cross sectional, dimana pengambilan data penelitian ini dilakukan secara bersamaan dan diambil dalam satu waktu.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada rentang waktu Agustus - September 2021.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi yang menjadi target penelitian ini adalah petugas Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini petugas Puskesmas memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan sebagai berikut :
3.3.2.1 Kriteria Inklusi
1. Petugas kesehatan atau non kesehatan di Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X.
2. Bersedia menjadi responden.
30
3.3.2.2 Kriteria Eksklusi
1. Tidak masuk kerja pada saat penelitian.
2. Petugas puskesmas yang sedang bekerja dari rumah.
3.3.3 Besar Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus besar sampel slovin sebagai berikut :
Keterangan :
n : Jumlah Sampel
N : Jumlah Populasi masyarakat
e : Tingkat batas toleransi kesalahan (margin of error 10 %)
Maka , dalam penilitian ini besar sampel yang digunakan adalah
= dibulatkan 51
Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik simple random sampling, yang mana dalam penelitian ini
pengambilan sampel dilakukan secara acak melalui cara yang sederhana.
Penarikan sampel menggunakan teknik ini memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sampel penelitian.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA 3.4.1 Data Primer
Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan memberikan kuesioner google form kepada responden. Kuesioner berisi beberapa pertanyaan dan pernyataan tentang bantuan hidup dasar untuk menilai tingkat pengetahuan dan sikap. Kuesioner penelitian ini menggunakan kuesioner yang berbentuk multiple choice dan skala likert yang telah disusun sesuai dengan rumusan permasalahan yang diteliti.
3.4.2 Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder berasal dari data yang didapatkan dari staf tata usaha puskesmas yang berupa jumlah petugas puskesmas.
3.5 UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS KUESIONER 3.5.1 Uji Validitas
Pada penelitian ini dilaksanakan uji validitas terhadap soal tes pengetahuan dan sikap tentang bantuan hidup dasar. Soal yang diuji validitas sebanyak 15 soal tentang pengetahuan dan 15 soal tentang sikap terhadap bantuan hidup dasar.
Dengan tes pengetahuan r tabel = 0,308 dan tes sikap r tabel = 0,361. Kemudian dilakukan uji validitas dengan komputerisasi menggunakan product moment pearson dari 15 soal pengetahuan dan 15 tes sikap tentang bantuan hidup dasar dinyatakan valid.
32
3.5.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta dan kenyataan, diukur dan diamati berkali-kali dalam waktu yang bersamaan.
Penelitian ini menggunakan uji reliabilitas dengan rumus alpha cronbach, jika di dapatkan nilai alpha cronbach >0.60 maka dikatakan reliabel (Wiranata, 2014).
Hasil uji validitas kemudian diuji reliabilitas menggunakan alpha cronbach. Hasil uji reliabilitas pada pertanyaan tingkat pengetahuan bantuan hidup dasar dengan jumlah 15 pertanyaan didapatkan nilai alpha cronbach 0,902 dan pada tes sikap nilai alpha cronbach 0,870 yang berarti kuesioner tingkat pengetahuan dan sikap layak untuk digunakan. Penelitian ini menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan yang telah tervaliditasi dan uji reliabilitasi pada penelitian Abdillah Pujo Priosusilo (Priosusilo, 2019) serta kuesioner sikap yang telah tervaliditasi dan uji reliabilitasi yang dapat dilihat pada lampiran.
3.6 DEFINISI OPERASIONAL
Variabel di dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Jenis kelamin
Definisi : Karakteristik seksual yang dimiliki oleh responden dan dibagi menjadi laki-laki dan perempuan.
Alat ukur : Kuesioner Hasil ukur : Laki-laki Perempuan Skala data : Nominal 2. Usia
Definisi : Umur individu mulai dari kelahiran sampai sekarang.
Alat ukur : Kuesioner
3. Petugas Puskesmas
Definisi : Setiap orang yang mengabdikan diri dalam melayani masyarakat dalam bidang kesehatan. Tenaga kesehatan adalah orang-orang yang secara professional memberikan pelayanan kesehatan seperti dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan. Sedangkan tenaga non kesehatan adalah tenaga kesehatan yang tidak langsung berhubungan dengan pasien misalnya administrasi, sopir, dan sebagainya.
Alat ukur : Kuesioner
Hasil ukur : Dokter umum, perawat, perawat gigi, bidan, staf tata usaha, nutrisionis, apoteker, asisten apoteker, sanitarian, keteknisian medis, sopir ambulans.
Skala data : Nominal
4. Masa bekerja
Definisi : Kurun waktu yang telah dilalui tenaga kesehatan dan non kesehatan sejak pertama kali bertugas sampai pada waktu dilakukan penelitian.
34
Hasil ukur : 1. Dikatakan baik, bila masyarakat mengetahui sebagian besar atau menjawab pertanyaan dengan benar dengan skor 11-15.
2. Dikatakan cukup, bila masyarakat menjawab dengan benar dengan skor 6-10.
3. Dikatakan kurang, bila mengetahui sebagian kecil atau menjawab pertanyan dengan skor 0-5.
Skala data : Ordinal
6. Pelatihan
Definisi : Suatu hal yang akan memperkuat kemampuan seseorang dalam melakukan sebuah tindakan (keterampilan).
Alat ukur : Kuesioner Hasil ukur : Pernah
Tidak Pernah
Skala data : Nominal
7. Sikap
Definisi : Pandangan, penilaian dan perasaan responden.
Alat ukur : Kuesioner
Hasil ukur : Baik (skor 56-75) Cukup (skor 36-55) Kurang (skor <36) Skala data : Ordinal
3.7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 3.7.1 Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti, selanjutnya akan diolah. Proses pengolahan data ini melalui tahap tahap sebagai berikut :
a. Editing, merupakan pemeriksaan kembali kebenaran data yang diperoleh atau yang dikumpulkan.
b. Coding, adalah proses pemberian kode numerik (angka) terhadap kuesioner yang telah dibuat untuk mempermudah pada saat analisis data.
c. Entri data, merupakan kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi.
d. Cleaning, adalah membersihkan data dari kesalahan memasukkan data.
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
3.7.2 Analisis Data
Data dari setiap responden yang diperoleh akan dimasukkan ke dalam komputer oleh peneliti. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer oleh peneliti. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer yaitu statistic product and solution for windows (SPSS).
36
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Aek Kota Batu, Kec. NA-IX-X, Kab.
Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara pada bulan September 2021. Dari 104 petugas puskesmas didapatkan 51 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
4.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN
Dari keseluruhan responden yang ada, diperoleh gambaran karakteristik responden meliputi jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, masa bekerja, dan riwayat pelatihan bantuan hidup dasar.
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (N) Persentase (%)
Laki-laki 6 11.8
Perempuan 45 88.2
Total 51 100.0
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin yaitu didapatkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 45 orang (88.2%), sedangkan laki-laki dengan jumlah 6 orang (11.8%).
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia (Tahun) Frekuensi (N) Persentase (%)
17-25 4 7.8
dengan jumlah 34 orang (66.7%), dan usia 36-45 tahun dengan jumlah 12 orang (23.5%). Responden paling sedikit adalah pada 46-55 tahun sebanyak 1 orang (2.0%).
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Pekerjaan Frekuensi (N) Persentase (%)
Dokter 4 7.8
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis pekerjaan yaitu dokter dengan jumlah 4 orang (7.8%), perawat dengan jumlah 9 orang (17.6%), perawat gigi dengan jumlah 1 orang (2.0%), bidan dengan jumlah 19 orang (37.3%), staf tata usaha dengan jumlah 4 orang (7.8%), nutrisionis dengan jumlah 2 orang ( 3.9%), apoteker dengan jumlah 1 orang (2.0%), asisten apoteker dengan jumlah 2 orang (3.9%), sanitarian dengan jumlah 4 orang (7.8%), keteknisian medis dengan jumlah 4 orang (7.8%), sopir ambulans dengan jumlah 1 orang (2.0%).
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Bekerja Masa Bekerja (Tahun) Frekuensi (N) Persentase (%)
<5 13 25.5
5-10 28 54.9
11-15 6 11.8
>15 4 7.8
Total 51 100.0
38
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat distribusi frekuensi responden berdasarkan masa bekerja yang terbanyak adalah selama 5-10 tahun dengan jumlah 28 orang (54.9%), diikuti masa bekerja kurang dari 5 tahun dengan jumlah 13 orang (25.5%), 11-15 tahun dengan jumlah 6 orang (11.8%), lebih dari 15 tahun dengan jumlah 4 orang (7.8%).
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Riwayat Pelatihan BHD
Pelatihan BHD Frekuensi (N) Persentase (%)
Pernah 13 25.5
Tidak pernah 38 74.5
Total 51 100.0
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat distribusi frekuensi responden berdasarkan riwayat pelatihan BHD bahwa dari 51 responden, hanya 13 orang (25.5%) menyatakan pernah mengikuti pelatihan BHD sebelumnya, dan 38 orang (74.5%) menyatakan belum pernah mengikuti pelatihan BHD.
Dalam keadaan pandemi COVID-19 membuat terhambatnya pelatihan BHD, sehingga pelatihan-pelatihan BHD hanya dapat dilakukan melalui online webinar.
Tentu pelatihan keterampilan secara langsung tidak ada dan hanya pemberian berupa teori terkait BHD. Oleh karena itu, hal ini akan mempengaruhi riwayat pelatihan BHD pada petugas puskesmas tersebut.
4.2 TINGKAT PENGETAHUAN
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan Frekuensi (N) Persentase (%)
Baik 32 62.7 pengetahuan baik, diikuti dengan 18 orang (35.3%) dengan tingkat pengetahuan cukup, dan 1 orang (2.0%) dengan tingkat pengetahuan kurang.
Tingkat pengetahuan responden sejalan dengan penelitian yang dilakukan Millizia et al., (2020) yaitu pengetahuan tenaga medis dan nonmedis dalam kategori baik. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Dahlan et al., (2014) dimana tingkat pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Wori tentang bantuan hidup dasar dalam kategori pengetahuan yang buruk.
Hal ini dikarenakan kesadaran petugas Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X akan pengetahuan tentang BHD telah meningkat, dimana pengetahuan mengenai BHD ini memang seharusnya dimiliki oleh semua orang terutama petugas puskesmas.
Pengetahuan merupakan suatu hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Buku, media massa dan jurnal yang telah dibaca merupakan sumber pengetahuan yang dapat meningkatkan pengetahuan responden (Millizia et al., 2020).
Tabel 4.7 Tingkat Pengetahuan Tentang BHD Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 3 orang (50.0%), pengetahuan cukup sebanyak 3 orang (50.0%) dan tidak ada yang memiliki pengetahuan kurang.
Responden perempuan memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 29 orang (64.4%), pengetahuan cukup sebanyak 15 orang (33.3%) dan pengetahuan kurang hanya 1 orang (2.2%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Lumangkun et al., (2014) dimana mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 79
40
orang (32.1%) memiliki tingkat pengetahuan baik, responden laki-laki sebanyak 51 orang (20.7%) memiliki tingkat pengetahuan baik.
Perbedaan kognitif antara perempuan dan laki-laki tidak selalu muncul dalam berbagai bidang, ada kalanya menghilang di bidang lain, dan ketika mereka muncul hanya sedikit yang terlihat (Santrock, 2003).
Tabel 4.8 Tingkat Pengetahuan Tentang BHD Berdasarkan Usia
Usia pengetahuan baik sebanyak 1 orang (25.0%), pengetahuan cukup 3 orang (75.0%), usia 26-35 memiliki pengetahuan baik sebanyak 22 orang (64.7%), pengetahuan cukup 11 orang ( 32.4%), pengetahuan kurang 1 orang (2.9%), usia 36-45 pengetahuan baik sebanyak 9 orang (75.0%), pengetahuan cukup 3 orang (25.0%) dan usia 46-55 tahun memiliki pengetahuan cukup sebanyak 1 orang (100.0%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Millizia et al., (2020) yang menunjukkan bahwa distribusi usia responden terbanyak yaitu rentang 26-35 tahun dengan jumlah 65 orang (63.7%). Hal ini juga sesuai dengan teori dari Juliana et al dalam Hutapea bahwa semakin muda usia individu maka kemampuan mengingat akan semakin tinggi termasuk kemampuan untuk mengingat informasi yang diterima. Individu yang telah mengalami penuaan akan mengalami penurunan fisiologis tubuh yang akan mempengaruhi kemampuan untuk mengingat informasi (Hutapea, E.L).
Tabel 4.9 Tingkat Pengetahuan Tentang BHD Berdasarkan Jenis Pekerjaan (100.0), 4 perawat (44.4%), 1 perawat gigi (100.0%), 13 bidan (68.4%), 1 staf tata usaha (25.0%), 1 nutrisionis (50.0%), 1 apoteker (100.0%), 2 asisten apoteker (100.0%), 2 sanitarian (50.0%), 3 keteknisian medis (75.0%) memiliki tingkat pengetahuan baik. 5 perawat (55.6%), 5 bidan (55.6%), 3 staf tata usaha (75.0%), 1 nutrisionis (50.0%), 2 sanitarian (50.0%), 1 keteknisian medis (25.0%), 1 sopir ambulans (100%) memiliki pengetahuan cukup dan hanya 1 orang bidan (5.3%) yang memiliki pengetahuan kurang.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Millizia et al., (2020) dimana tenaga medis yang terdiri dokter, perawat, bidan, gizi, fisioterapis dan tenaga non medis yang terdiri karyawan, farmasi, satpam dalam kategori pengetahuan baik.
42
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rudini (2019) dimana hasil penelitiannya didapatkan hanya dokter dan perawat yang memiliki pengetahuan baik. Hal ini bisa dikarenakan jabatan dokter dan perawat merupakan jabatan yang memiliki keahlian tentang cara mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera sedangkan petugas lainnya memiliki tingkat pengetahuan kurang.
Tabel 4.10 Tingkat Pengetahuan Tentang BHD Berdasarkan Masa Bekerja Masa memiliki pengetahuan baik 2 orang (50.0%) dan cukup 5 orang (50.0%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Millizia et al., (2020) dimana lama bekerja seseorang akan menentukan banyak pengalaman yang didapatkannya. Pengalaman bekerja akan mempengaruhi tingkat kematangan dalam berpikir dan berperilaku, sehingga semakin lama masa kerja akan semakin tinggi tingkat kematangan seseorang dalam berpikir sehingga lebih meningkatkan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini juga sesuai dengan penelitian
Rizani et al., (2018) yaitu tingkat pengetahuan tentang RJP berdasarkan lama kerja menunjukkan bahwa responden dengan kategori lama kerja baru (1-5 tahun), kerja sedang (6-10 tahun) dan lama kerja yang lama (> 10 tahun) memiliki tingkat pengetahuan tentang resusitasi jantung paru dalam kategori tingkat pengetahuan baik. Penelitian lain diperoleh bahwa distribusi hasil penelitian terkait pengalaman berdasarkan lama kerja juga menunjukkan kesesuaian dengan teori Notoatmodjo (2003) yang mengatakan semakin tinggi pengalaman seseorang maka akan semakin tinggi tingkat pengetahuan individu tersebut (Dahlan et al., 2014).
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sofyan dan Sahputra dalam Hutapea yang menyatakan bahwa pengalaman tidak menjadi hal yang mempengaruhi pengetahuan. Hal ini disebabkan oleh semakin lama individu bekerja maka akan terjadi peristiwa pengabaian akan hal-hal yang biasa dilakukan setiap hari (Hutapea, E.L).
Tabel 4.11 Tingkat Pengetahuan Tentang BHD Berdasarkan Riwayat Pelatihan BHD Pelatihan pengetahuan cukup dan hanya 1 orang yang memiliki pengetahuan kurang.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi &
Purwanto (2016) yang menyatakan bahwa yang memiliki pengalaman dan yang tidak memiliki pengalaman tingkat pengetahuan yang dimiliki adalah sama.
44
Menurut penulis hal ini disebabkan pengetahuan yang dimiliki oleh responden berasal dari berbagai sumber. Sumber informasi sangat berperan besar dalam meningkatkan pengetahuan responden seperti mendapatkan informasi dari internet, dari keluarga/teman, media cetak. Pada penelitian Hidayati (2020) sumber informasi tentang RJP terbanyak didapatkan responden melalui media televisi sejalan dengan penelitian Erawati (2015) juga menemukan bahwa 48,8%
mendapat informasi tentang RJP melalui media elektronik. Pengalaman responden selama bekerja, semakin lama masa kerja akan semakin tinggi tingkat kematangan seseorang dalam berpikir sehingga lebih meningkatkan pengetahuan yang dimiliki Millizia et al., (2020).
Tabel 4.12 Distribusi Jawaban Responden Pada Pertanyaan Tingkat Pengetahuan
No Pertanyaan Benar Salah
N % N %
1. Bantuan hidup dasar (BHD) atau dalam bahasa Inggris disebut Basic Life Support (BLS) merupakan pengertian dari
48 94,1 3 5,9
2. Dalam bantuan hidup dasar (BHD) dikenal istilah CAB yang merupakan singkatan dari
41 80,4 10 19,6
3. Bantuan hidup dasar (BHD) dapat dilakukan oleh 41 80,4 10 19,6 4. Indikasi dilakukannya bantuan hidup dasar (BHD) adalah 34 66,7 17 33,3 5. Tindakan bantuan hidup dasar (BHD) terdiri dari 33 64,7 18 35,3 6. Saat menemukan korban yang tidak sadar hal yang pertama
sekali kita lakukan adalah
40 78,4 11 21,6 11. Pijat jantung dilakukan dengan frekuensi 40 78,4 11 21,6 12. Dalam pelaksanaan pijat jantung, kedalaman pijat jantung
adalah
36 70,6 15 29,4
13.
15.
Setalah melakukan tindakan bantuan hidup dasar (BHD) dan korban telah sadar yang kita lakukan pada korban adalah posisi pemulihan (recovery position)
38 74,5 13 25,5
14. Tindakan resusitasi jantung paru dapat dihentikan apabila 30 58,8 21 41,2 15. Bantuan pernapasan yang paling efektif pada korban henti
jantung adalah
37 72,5 14 27,5
Berdasarkan tabel 4.12 dapat dilihat bahwa pertanyaan yang paling banyak dijawab benar oleh responden adalah pertanyaan nomor 1 dengan jumlah 48 orang (94.1%), pertanyaan tersebut mengenai pengertian dari bantuan hidup dasar (BHD). Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden sudah mengetahui BHD merupakan pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami henti jantung atau henti napas. Pertanyaan yang paling banyak salah dijawab oleh responden adalah pertanyaan nomor 14 dengan jumlah 21 orang (41.2%), pertanyaan ini tentang kapan tindakan resusitasi jantung paru dapat dihentikan. Mayoritas responden yang menjawab salah memilih pada opsi yaitu penolong merasa resusitasi jantung paru tidak berguna. Jawaban yang benar seharusnya adalah saat penolong dalam keadaan letih atau bantuan medis telah datang dan korban kembali pulih. Menurut penulis hal ini disebabkan karena responden belum sepenuhnya memahami maksud dari pertanyaan tersebut, selain itu responden sudah lupa akan prosedur penghentian RJP. Dari 15 pertanyaan mengenai pengetahuan bantuan hidup dasar didapati pertanyaan yang dijawab benar oleh mayoritas responden (>50%). Maka dari itu petugas Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X secara keseluruhan telah mengetahui pengertian dan langkah-langkah dalam melakukan BHD seperti kemampuan dalam tindakan untuk mengecek respons, menentukan posisi kompresi dada, menekan dan kedalaman saat kompresi dada, serta memposisikan pemulihan korban.
4.3 SIKAP
Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Tingkat Sikap
Sikap Frekuensi (N) Persentase (%) orang (80.4%) berada pada tingkat sikap cukup, diikuti dengan tingkat sikap baik 9 orang (17.6%) dan 1 orang (2.0%) berada pada tingkat kurang. Tingkat sikap
46
yaitu melihat bagaimana sikap petugas puskesmas dalam menyikapi atau menghadapi korban jika sewaktu waktu menjumpai kasus kegawatdaruratan yang memerlukan keterampilan melakukan BHD dalam keadaan pandemi COVID-19.
Tabel 4.14 Distribusi Jawaban Responden Pada Pernyataan Tingkat Sikap 3. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan
kompresi dada untuk anggota keluarga.
1 2 6 11.8 4 7.8 38 74.5 2 3.9
4. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan kompresi dada untuk orang dewasa yang tidak dikenal (asing).
3 5.9 19 37.3 9 17.6 20 39.2 0 0
5. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan kompresi dada untuk orang tua yang tidak dikenal (asing).
2 3.9 18 35.3 7 13.7 24 47.1 0 0
6. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan kompresi dada untuk anak-anak yang tidak dikenal (asing).
3 5.9 13 25.5 5 9.8 30 58.8 0 0
7. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan ventilasi mulut ke mulut untuk anggota keluarga.
6 11.8 12 23.5 2 3.9 29 56.9 2 3.9
8. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan ventilasi mulut ke mulut untuk orang dewasa yang tidak dikenal (asing).
8 15.7 28 54.9 5 9.8 10 19.6 0 0
9. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan ventilasi mulut ke mulut untuk orang tua yang tidak dikenal (asing).
9 17.6 27 52.9 5 9.8 10 19.6 0 0
10. Ketakutan tertular COVID-19 akan menghentikan saya melakukan ventilasi mulut ke mulut untuk anak-anak yang tidak dikenal (asing).
10 19.6 16 31.4 7 13.7 18 35.3 0 0
11. Mengenai orang asing : alasan yang akan menghentikan saya dari melakukan ventilasi mulut ke mulut adalah ketakutan tertular COVID-19.
13 25.5 28 54.9 3 5.9 7 13.7 0 0
12. Mengenai orang asing : alasan yang akan menghentikan saya dari melakukan ventilasi mulut ke mulut adalah adanya muntah.
7 13.7 17 33.3 8 15.7 18 35.3 1 2.0 dari melakukan ventilasi mulut ke mulut adalah ketakutan tertular COVID-19.
12 23.5 16 31.4 5 9.8 18 35.3 0 0
15. Mengenai anggota keluarga : alasan yang akan menghentikan saya dari melakukan ventilasi mulut ke mulut adalah adanya muntah.
8 15.7 18 35.3 6 11.8 18 35.3 1 2.0
Berdasarkan tabel 4.14 dapat dilihat bahwa mayoritas responden khawatir tentang penularan penyakit selama melakukan BHD dengan jumlah setuju 24
48
orang (47.1%) dan sangat setuju 15 orang (29.4%). Responden juga menyatakan tidak setuju bahwa ventilasi mulut ke mulut berisiko rendah tertular COVID-19 dengan jumlah 29 orang (56.9%). Jadi mereka setuju bahwa ada risiko tinggi dalam melakukan ventilasi mulut ke mulut. Responden tampak lebih setuju melakukan kompresi dada baik untuk anggota keluarga maupun orang asing tetapi tidak setuju untuk melakukan ventilasi mulut ke mulut pada orang asing meskipun sebagian besar responden setuju untuk melakukan ventilasi mulut ke mulut untuk anggota keluarga mereka. Ketakutan akan COVID-19 ternyata menjadi alasan paling penting yang akan menghentikan responden melakukan ventilasi mulut ke mulut. Juga, sebagian besar responden akan berhenti melakukan ventilasi dari mulut ke mulut untuk orang asing karena takut tertular COVID-19 dengan jumlah responden setuju 28 orang (54.9%) dan sangat setuju 13 orang (25.5%), adanya muntah dengan jumlah yang setuju 17 orang (33.3%) dan sangat setuju sebanyak 7 orang (13.7%) serta karena adanya darah di mulut korban dengan jumlah setuju 25 orang (49.0%) dan sangat setuju 8 orang (15.7%). Responden lebih cenderung bersedia untuk melakukan BHD pada anak-anak asing dibandingkan dengan orang asing yang lebih tua. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yi Ern et al., serta didalam penelitiannya dikatakan bahwa Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi persepsi untuk melakukan BHD tetapi tidak banyak berpengaruh pada kesediaan untuk melakukan BHD tersebut (Yi Ern et al., 2020).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai tingkat pengetahuan dan sikap petugas Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X tentang bantuan hidup dasar selama pandemi COVID-19 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan petugas Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X tentang BHD selama pandemi COVID-19 dalam kategori baik dengan jumlah 32 orang (62.7%).
2. Tingkat pengetahuan petugas puskesmas tentang BHD berdasarkan karakteristik jenis kelamin yaitu 29 orang (64.4%) perempuan dan 3 orang (50.0%) laki-laki memiliki tingkat pengetahuan baik dari 51 total responden.
3. Tingkat pengetahuan petugas puskesmas tentang BHD berdasarkan karakteristik usia yaitu 26-35 yang merupakan usia responden terbanyak, memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 22 orang (64.7%).
4. Tingkat pengetahuan petugas puskesmas tentang BHD berdasarkan karakteristik masa bekerja yaitu mayoritas responden masa bekerjanya 5-10 tahun dengan jumlah 17 orang (60.7%) memiliki tingkat pengetahuan baik.
5. Tingkat pengetahuan petugas puskesmas tentang BHD berdasarkan karakteristik jenis pekerjaan, terdapat 4 dokter, 4 perawat, 1 perawat gigi, 13 bidan, 1 staf tata usaha, 1 nutrisionis, 1 apoteker, 2 asisten apoteker, 2 sanitarian, 3 keteknisian medis memiliki tingkat pengetahuan baik.
6. Tingkat pengetahuan petugas puskesmas tentang BHD berdasarkan riwayat pelatihan BHD yaitu 10 orang (76.9%) pernah pelatihan BHD dan 22 orang (57.9%) tidak pernah pelatihan BHD memiliki pengetahuan baik.
50
7. Jumlah petugas puskesmas yang pernah mengikuti pelatihan BHD sebanyak 13 orang (25.5%).
8. Tingkat sikap petugas Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X selama pandemi COVID-19 dalam melakukan bantuan hidup dasar dalam kategori cukup sebanyak 41 orang (80.4%).
5.2 SARAN
Saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu:
1. Bagi Kepala Puskesmas Aek Kota Batu
Diharapkan bagi Kepala Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan NA-IX-X dapat memberikan pelatihan BHD pada seluruh petugas puskesmas sehingga pengetahuan mereka mengenai BHD dapat lebih baik lagi.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lanjutan dan dapat memperluas area penelitian dengan jumlah responden yang lebih banyak mengenai tingkat, sikap, dan pengetahuan tentang BHD.
DAFTAR PUSTAKA
AHA. 2020. American Heart Association. Hospital management, 86(2).
https://cpr.heart.org/-/media/CPR-Files/CPR-Guidelines Files/Highlights/
Hghlght _2020ECCGuidelines_Indonesian.pdf.
AHA. 2015. HIGHLIGHTS of the 2015 American Heart Association.
AHA. 2015. HIGHLIGHTS of the 2015 American Heart Association.