• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bantuan Pemerintah dan “ Bargaining ” Politik

Dalam dokumen Gelagat di Balik Amandemen (Halaman 63-67)

D

inamika politik kepartaian sebagai bagian dari tatanan

politik baru dalam proses demokratisasi saat ini sedang menun­ jukkan geliatnya. Sistem multipartai, mendorong tumbuhnya parpol bagaikan jamur di musim hujan. Ada dua kecende­ rungan yang dapat terjadi dari fenomena ini. Pertama, sistem

multipartai yang telah melahirkan ratusan parpol menunjuk­ kan adanya devergensi kepentingan ideologi politik dari kul­ tur masyarakat pluralistis. Dalam kehadiran banyak parpol

diharapkan dapat memberikan ruang bagi sinergisme politik

kepentingan untuk diperjuangkan secara legal.

Kedua, lahirnya banyak parpol, dengan sendirinya akan menjadikan persaingan politik di antara mereka semakin kom­ pleks. Dalam suasana kompetisi, masing­masing parpol diha­ ruskan dapat menjual dirinya kepada konstituen dengan selalu

menampilkan performance partai yang memberikan harapan

dan ruang publik yang luas bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi.

Sistem multipartai sebagaimana telah dipraktikkan di

berbagai negara modern, dengan sendirinya harus didasar­

kan pada semangat demokrasi yang tinggi, adanya sikap dan perilaku politik yang tidak menafikan perbedaaan serta sema­ ngat untuk melakukan political coalition di antara parpol yang

kekuasaan politik mayoritas.

Berangkat dari kesadaran tersebut, setiap parpol yang ada sudah semestinya dibangun atas dasar idealisme profesional dan memiliki self confident baik dari segi manajemen, pe­ ngelolaan maupun sistem pendanaan bagi berjalannya kinerja partai.

Lahirnya tiga paket Undang­Undang Politik baru (UU No. 2,3 dan 4 Tahun 1999) sebagai pengganti UU bidang politik sebe­ lumnya, merupakan momentum baru bagi penataan kerangka

sistem politik Indonesia. Dari suatu kondisi sebelumnya yang

sangat jauh dari definisi ruang public, menuju tumbuhnya

proses partisipasi dalam kerangka demokratisasi rakyat. Ada tiga substansi mendasar yang dapat disimak dari pe­ rubahan tatanan politik itu. Pertama, mengenai susunan dan kedudukan DPR/MPR, dan DPRD sebagai lembaga legislatif yang ditempatkan pada fungsinya, bahkan cenderung legis-

lative heavy. Kedua, menyangkut keberadaan partai politik (Parpol), sebagai institusi politik yang diharapkan benar­benar

mampu memainkan perannya sebagai wahana artikulasi, agregasi kepentingan politik masyarakat. Ketiga, menyangkut Pemilu dengan sistem proporsional plus, dilaksanakan secara

langsung, umum, bebas dan rahasia serta jujur dan adil (luber­ jurdil).

Khusus tentang eksistensi parpol, dalam UU tersebut telah sangat jelas diatur bahwa pemerintah tidak lagi ditempatkan sebagai pembina politik. Dengan menganut sistem multipartai,

masyarakat diberikan kesempataan seluas­luasnya untuk mendirikan partai politik sebagai wahana partisipasi politik

dalam merebut kekuasaan. Sementara pengelolaan partai poli­

tik dan sumber­sumber keuangan parpol diharapkan dapat di­ usahakan secara mandiri dengan tidak menutup kemungkinan bagi sumbangan pihak ketiga, baik perorangan, organisasi atau perusahaan dan bantuan pemerintah dalam jumlah tertentu.

Dengan demikian, parpol sebagai wadah penampung dan penyalur aspirasi masyarakat dalam memperjuangkan kepen­

tingan lewat jalur kekuasaan, diharapkan benar­benar dapat menjalankan tugas dan fungsi sebaik­baiknya. Parpol diharap­ kan dapat menjalankan fungsi sosial dan politiknya secara mandiri dan berkelanjutan.

Perubahan paradigma politik kekuasaan, yang tidak lagi

menempatkan pemerintah sebagai pembina politik, sudah se­

mestinya disikapi oleh parpol sebagai ajang pengembangan jati diri dan kemandirian. Semangat ini telah menempatkan parpol

tidak lagi di bawah bayang­bayang kekuasaan pemerintah. Menyimak dinamika politik kepartaian kontemporer saat ini, ruang politik yang ada tampaknya belum dapat dikelola

secara optimal. Era kepartaian yang sesungguhnya mesti di­

maknai sebagai era kebebasan dan demokratisasi politik bagi tumbuhnya pengorganisasian politik yang modern dalam

mempersiapkan sirkulasi kekuasaan yang kompetitif, rasional dan partisipatif, ternyata masih menyisakan metamorfosis paradigma politik lama yang usang. Hal ini terlihatnya dari sikap dan perilaku politik yang kurang kondusif sebagaimana terlihat dari perselisihan paham tentang pendistribusian dana bantuan parpol oleh pemerintah.

Di satu sisi, parpol yang jumlahnya mencapai puluhan itu menghendaki adanya pembagian yang merata, karena ini me­ nyangkut bantuan terhadap organisasi (dengan mengabaikan besar kecilnya perolehan suara pada Pemilu 1999). Di sisi yang lain pembagian merata dianggap kurang adil, utamanya oleh partai besar yang memenangkan suara terbanyak pada pemilu lalu.

Untuk menjembatani perbedaan persepsi tentang keadi­ lan tersebut, pemerintah membuat peraturan yang disepakati adanya pembagian dana bantuan berdasarkan jumlah konsti­ tuen yang dihitung dari besarnya jumlah suara yang diraih oleh masing­masing parpol. Konsekuensinya, parpol yang meraup suara terbesar akan mendapatkan bantuan terbanyak.

Adanya dualisme interpretasi terhadap aturan tersebut, memang tidak terlepas dari proses dan kepentingan politik

yang melekat pada masing­masing pihak yang ada di wilayah politik itu. Fenomena ini bukanlah hal yang baru dalam proses politik, apalagi menyangkut pembagian “rezeki”.

Tidak tertutup kemungkinan penetapan besarnya bantu­ an dan pola pendistribusian yang didasarkan atas kesepaka­

tan legislatif ikut memberikan warna terhadap keputusan

yang dihasilkan. Oleh karena menyangkut proses politik yang melibatkan legislatif dalam penetapan bantuan, sudah dapat dipastikan peranan politik dominan di legislatif akan sangat memberikan warna bagi keputusan itu. Dalam hal ini peme­ rintah sebagai fasilitator diposisikan hanya sebagai pelaksana dari keputusan politik yang telah disepakati oleh Dewan.

Terlepas dari semuanya itu, ke depan tampaknya perlu di­

kaji lagi efektivitas dan relevansi bantuan pemerintah terse­

but dalam mewujudkan kesadaran dan peningkatan pemaha­

man politik bagi terciptanya iklim politik yang demokratis bagi

masyarakat. Sepanjang bantuan dimaksud dapat diarahkan manfaatnya bagi kepentingan konstituen dalam artian yang sesungguhnya, tentu bantuan tersebut masih relevan untuk tetap dianggarkan. Namun kalau tidak, hendaknya dana yang ada diarahkan untuk kepentingan publik yang lebih mende­ sak.

Adanya bantuan dana dari pemerintah dalam bentuk uang segar kepada parpol, di samping sebagai bagian dari paradigma politik lama yang kurang relevan, bisa saja dimanfaatkan seba­

gai ajang bargaining politik dan tentunya akan sangat meng­

ganggu kredibilitas dan ekstensi parpol di mata rakyat.

18

Dalam dokumen Gelagat di Balik Amandemen (Halaman 63-67)