D
inamika politik kepartaian sebagai bagian dari tatananpolitik baru dalam proses demokratisasi saat ini sedang menun jukkan geliatnya. Sistem multipartai, mendorong tumbuhnya parpol bagaikan jamur di musim hujan. Ada dua kecende rungan yang dapat terjadi dari fenomena ini. Pertama, sistem
multipartai yang telah melahirkan ratusan parpol menunjuk kan adanya devergensi kepentingan ideologi politik dari kul tur masyarakat pluralistis. Dalam kehadiran banyak parpol
diharapkan dapat memberikan ruang bagi sinergisme politik
kepentingan untuk diperjuangkan secara legal.
Kedua, lahirnya banyak parpol, dengan sendirinya akan menjadikan persaingan politik di antara mereka semakin kom pleks. Dalam suasana kompetisi, masingmasing parpol diha ruskan dapat menjual dirinya kepada konstituen dengan selalu
menampilkan performance partai yang memberikan harapan
dan ruang publik yang luas bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi.
Sistem multipartai sebagaimana telah dipraktikkan di
berbagai negara modern, dengan sendirinya harus didasar
kan pada semangat demokrasi yang tinggi, adanya sikap dan perilaku politik yang tidak menafikan perbedaaan serta sema ngat untuk melakukan political coalition di antara parpol yang
kekuasaan politik mayoritas.
Berangkat dari kesadaran tersebut, setiap parpol yang ada sudah semestinya dibangun atas dasar idealisme profesional dan memiliki self confident baik dari segi manajemen, pe ngelolaan maupun sistem pendanaan bagi berjalannya kinerja partai.
Lahirnya tiga paket UndangUndang Politik baru (UU No. 2,3 dan 4 Tahun 1999) sebagai pengganti UU bidang politik sebe lumnya, merupakan momentum baru bagi penataan kerangka
sistem politik Indonesia. Dari suatu kondisi sebelumnya yang
sangat jauh dari definisi ruang public, menuju tumbuhnya
proses partisipasi dalam kerangka demokratisasi rakyat. Ada tiga substansi mendasar yang dapat disimak dari pe rubahan tatanan politik itu. Pertama, mengenai susunan dan kedudukan DPR/MPR, dan DPRD sebagai lembaga legislatif yang ditempatkan pada fungsinya, bahkan cenderung legis-
lative heavy. Kedua, menyangkut keberadaan partai politik (Parpol), sebagai institusi politik yang diharapkan benarbenar
mampu memainkan perannya sebagai wahana artikulasi, agregasi kepentingan politik masyarakat. Ketiga, menyangkut Pemilu dengan sistem proporsional plus, dilaksanakan secara
langsung, umum, bebas dan rahasia serta jujur dan adil (luber jurdil).
Khusus tentang eksistensi parpol, dalam UU tersebut telah sangat jelas diatur bahwa pemerintah tidak lagi ditempatkan sebagai pembina politik. Dengan menganut sistem multipartai,
masyarakat diberikan kesempataan seluasluasnya untuk mendirikan partai politik sebagai wahana partisipasi politik
dalam merebut kekuasaan. Sementara pengelolaan partai poli
tik dan sumbersumber keuangan parpol diharapkan dapat di usahakan secara mandiri dengan tidak menutup kemungkinan bagi sumbangan pihak ketiga, baik perorangan, organisasi atau perusahaan dan bantuan pemerintah dalam jumlah tertentu.
Dengan demikian, parpol sebagai wadah penampung dan penyalur aspirasi masyarakat dalam memperjuangkan kepen
tingan lewat jalur kekuasaan, diharapkan benarbenar dapat menjalankan tugas dan fungsi sebaikbaiknya. Parpol diharap kan dapat menjalankan fungsi sosial dan politiknya secara mandiri dan berkelanjutan.
Perubahan paradigma politik kekuasaan, yang tidak lagi
menempatkan pemerintah sebagai pembina politik, sudah se
mestinya disikapi oleh parpol sebagai ajang pengembangan jati diri dan kemandirian. Semangat ini telah menempatkan parpol
tidak lagi di bawah bayangbayang kekuasaan pemerintah. Menyimak dinamika politik kepartaian kontemporer saat ini, ruang politik yang ada tampaknya belum dapat dikelola
secara optimal. Era kepartaian yang sesungguhnya mesti di
maknai sebagai era kebebasan dan demokratisasi politik bagi tumbuhnya pengorganisasian politik yang modern dalam
mempersiapkan sirkulasi kekuasaan yang kompetitif, rasional dan partisipatif, ternyata masih menyisakan metamorfosis paradigma politik lama yang usang. Hal ini terlihatnya dari sikap dan perilaku politik yang kurang kondusif sebagaimana terlihat dari perselisihan paham tentang pendistribusian dana bantuan parpol oleh pemerintah.
Di satu sisi, parpol yang jumlahnya mencapai puluhan itu menghendaki adanya pembagian yang merata, karena ini me nyangkut bantuan terhadap organisasi (dengan mengabaikan besar kecilnya perolehan suara pada Pemilu 1999). Di sisi yang lain pembagian merata dianggap kurang adil, utamanya oleh partai besar yang memenangkan suara terbanyak pada pemilu lalu.
Untuk menjembatani perbedaan persepsi tentang keadi lan tersebut, pemerintah membuat peraturan yang disepakati adanya pembagian dana bantuan berdasarkan jumlah konsti tuen yang dihitung dari besarnya jumlah suara yang diraih oleh masingmasing parpol. Konsekuensinya, parpol yang meraup suara terbesar akan mendapatkan bantuan terbanyak.
Adanya dualisme interpretasi terhadap aturan tersebut, memang tidak terlepas dari proses dan kepentingan politik
yang melekat pada masingmasing pihak yang ada di wilayah politik itu. Fenomena ini bukanlah hal yang baru dalam proses politik, apalagi menyangkut pembagian “rezeki”.
Tidak tertutup kemungkinan penetapan besarnya bantu an dan pola pendistribusian yang didasarkan atas kesepaka
tan legislatif ikut memberikan warna terhadap keputusan
yang dihasilkan. Oleh karena menyangkut proses politik yang melibatkan legislatif dalam penetapan bantuan, sudah dapat dipastikan peranan politik dominan di legislatif akan sangat memberikan warna bagi keputusan itu. Dalam hal ini peme rintah sebagai fasilitator diposisikan hanya sebagai pelaksana dari keputusan politik yang telah disepakati oleh Dewan.
Terlepas dari semuanya itu, ke depan tampaknya perlu di
kaji lagi efektivitas dan relevansi bantuan pemerintah terse
but dalam mewujudkan kesadaran dan peningkatan pemaha
man politik bagi terciptanya iklim politik yang demokratis bagi
masyarakat. Sepanjang bantuan dimaksud dapat diarahkan manfaatnya bagi kepentingan konstituen dalam artian yang sesungguhnya, tentu bantuan tersebut masih relevan untuk tetap dianggarkan. Namun kalau tidak, hendaknya dana yang ada diarahkan untuk kepentingan publik yang lebih mende sak.
Adanya bantuan dana dari pemerintah dalam bentuk uang segar kepada parpol, di samping sebagai bagian dari paradigma politik lama yang kurang relevan, bisa saja dimanfaatkan seba
gai ajang bargaining politik dan tentunya akan sangat meng
ganggu kredibilitas dan ekstensi parpol di mata rakyat.