Ditulis dalam buku: “Pendidikan Untuk Indonesia Raya, Belajar Dari Sekolah Lengkong”,Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia, Tanggerang Selatan, September 2013
W
aktu saya bertugas sebagai Gubernur OPEC pada tahun 2008, sekali waktu Sekretaris Jenderal OPEC waktu itu, El Badri, bertanya kepada saya bagaimana kabarnya Prof Subroto, yang sudah berumur 85 tahun waktu itu. Saya jawab Pak Subroto masih sehat dan aktif.“ He is a great man”, gumam beliau. Ekspressi yang sama juga muncul di
mata para menteri OPEC yang lain, yang juga sering menanyakan kabar Pak Broto. Peran Pak Subroto di masa tugas beliau tahun 1988-1994 masih jernih di ingatan mereka. Saya merasa bangga mengenal warga Indonesia seperti beliau yang dikagumi dan dihormati dunia internasional.
Waktu OPEC International Seminar tahun 2004, saya bertugas sebagai Acting For OPEC Secretary General, Pak Subroto juga diundang sebagai mantan menteri dan mantan sekjen OPEC. Di seling acara beliau melihat hadir Gubernur OPEC Kuwait, Miss Razzouqi, yang sudah lama beliau kenal sejak jadi Sekjen OPEC. Miss Razzouqi sedang duduk di kursi. Pak Broto datang, jongkok dan menyalami beliau dengan senyum lebar. Inilah salah satu karakter terpuji Pak Broto, beliau sangat rendah hati, santun, dan ramah, sikap yang juga selalu dikenang oleh staf sekretariat jenderal OPEC.
Saya tidak mengalami waktu Bapak Subroto bertugas sebagai Sekjen OPEC selama 2 periode, tahun 1998-2004, jadi saya tidak bisa bercerita tentang masa-masa tersebut. Tapi dari forum rapat menteri yang saya hadiri waktu saya bertugas sepuluh tahun sesudah itu, saya dapat menangkap nuansa sidang OPEC, yang bisa menjadi keras dan sulit, khususnya bila ada perbedaan kepentingan dan pendapat antar menteri/negara OPEC. Dan itulah yang dialami Pak Broto, karena pada era beliau harga minyak sangat rendah, sedangkan negara-negara OPEC sedang “haus” dana. Di satu pihak diinginkan harga tinggi sehingga kuota harus dipotong, di lain pihak negara-negara anggota ingin menjual lebih banyak dan tidak mau kehilangan pangsa pasar. Namun dunia mengakui bahwa Pak Subroto berhasil menyelamatkan OPEC
dengan mengubah sistem penetapan harga ke penetapan tingkat produksi. Demikian juga waktu Pak Broto menjabat presiden OPEC di tahun 1980, dua anggota OPEC, yaitu Irak dan Iran, sedang berperang. Dengan penuh kebijakan, serta kemampuan komunikasi dan negosiasi dan kesabaran yang tinggi, ternyata Pak Broto dapat meliwati masa-masa tersebut dengan menciptakan kerukunan di internal sidang OPEC .
Ke dunia internasional Bapak Subroto berhasil menciptakan era strategi baru OPEC, yaitu dialog antara produsen dan konsumen, dan dialog antara produsen OPEC dan non-OPEC, yang berlanjut sampai sekarang ini. Dengan demikian Pak Broto berhasil membawa OPEC menjadi organisasi internasional yang disegani, dan Indonesia dianggap negara-negara anggota OPEC sebagai negara yang sangat besar kontribusinya kepada OPEC. Waktu Indonesia diberitakan keluar dari OPEC, realitanya oleh OPEC tidak dianggap demikian, Indonesia tetap dianggap sebagai anggota, cuma dibekukan untuk sementara, sampai saatnya Indonesia kembali sebagai eksporter, maka Indonesia dapat otomatis sebagai anggota aktif kembali. Hal yang serupa terjadi dengan Equador, yang juga membekukan keanggotaannya dari tahun 1996-2007.
Selama setahun bertugas sebagai Acting for Secretary General, saya memahami betapa sibuknya tugas Bapak Subroto waktu beliau bertugas sebagai sekjen dulu. Sepanjang tahun penuh dengan sidang-sidang, yaitu sidang Economic Commission Board , sidang Dewan Gubernur, sidang Ministerial Monitoring Sub Commitee dan ujungnya sidang Menteri OPEC, baik sidang tertutup maupun terbuka. Jumlah sidang-sidang tersebut minimal dua kali dalam setahun. Dan sekali lima tahun sidang OPEC Summit yang dihadiri kepala-kepala negara negara anggota.
Di samping itu ada pula pertemuan rutin OPEC dan Non OPEC Producing Country, pertemuan dengan organisasi konsumen energi seperti IEA (International Energy Agency), organisasi energi IEF (International Energy Forum) dan banyak lagi kunjungan-kunjungan dan pertemuan lainnya. Sekali dua tahun dilakukan pula International OPEC Seminar, suatu event yang melibatkan negara-negara produsen, konsumen, perusahaan dan investor dunia di bidang migas dan energi. Sekjen OPEC juga bertindak sebagai corong
OPEC sehingga sering mengadakan Konferensi pers untuk menginformasikan kebijakan, posisi dan keputusan OPEC terkait dengan peran OPEC dalam pasar minyak internasional. Selain itu, sebagai pimpinan organisasi internasional, Sekjen OPEC juga harus hadir dalam acara-acara diplomatik di kota Wina, yang penuh dengan berbagai organisasi internasional.
Misi OPEC adalah mengkoordinasikan kebijakan bersama OPEC untuk melindungi kepentingan anggota, menstabilkan pasar minyak global, melindungi kepentingan produsen, menjamin pasokan yang teratur, ekonomis dan efisien untuk negara konsumen dan menjamin keuntungan yang layak bagi investor. Berdasarkan misi tersebut Sekretariat OPEC menyiapkan bahan untuk sidang menteri OPEC. Bahan rapat berupa studi dan kajian yang dihasilkan Sekretariat dibahas lebih dulu dalam Sidang Economic Commission Board yang dihadiri oleh perwakilan nasional dari seluruh negara anggota. Sidang ini, dua kali dalam setahun, kemudian merumuskan status energi dan pasar minyak dunia baik yang yang sedang berjalan maupun perkiraan ke depannya.
Sekretaris Jenderal, yang merupakan eksekutif puncak dari Sekretariat, bertanggung jawab kepada sidang menteri, yang dalam pelaksanaannya dilakukan melalui Dewan Gubernur OPEC. Bila analoginya para menteri adalah pemegang saham, maka Dewan Gubernur adalah dewan komisaris. Dewan Gubernur bertugas memberikan arahan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan Sekretariat, menerima laporan-laporan dari Sekjen, menentukan agenda sidang Menteri, menyetujui program dan anggaran dan mengawasinya auditnya, dan menyetujui pengangkatan anggota manajemen inti dari Sekretariat. Dari apa yang saya alami, Dewan Gubernur, dengan kewenangannya yang cukup besar, kadang-kadang cukup strict terhadap Sekjen. Saya membayangkan dulu bagaimana Bapak Subroto dengan sabar dan santun serta piawai dapat menghadapi Dewan Gubernur yang cukup “cerewet’ itu.
Untuk melaksanakan tugas Sekretariat di atas, inti organisasi ini terdiri dari Divisi Riset yang didukung oleh tenaga ahli dari berbagai bidang keilmuan, terutama ahli energi, ahli data, ahli statistik dan ahli pasar minyak. Pegawainya yang berjumlah sekitar 150 orang terdiri dari sekitar 30 kebangsaan.
Komposisi yang multi kultural ini juga memerlukan penanganan khusus agar jajaran pegawai itu dapat berkerja sama dengan baik tanpa konflik apapun. Kepribadian dan karakter Bapak Subroto yang rendah hati, komunikatif, jernih, disiplin dan tegas banyak memberi warna kepada kinerja sekretariat OPEC tersebut. Salah satu cara silaturahim yang diterapkan Bapak Subroto adalah
open house waktu idul fitri.
Saya sendiri, begitu diinstruksikan harus ke Wina sebagai akting sekjen, saya merasa akan masuk kandang harimau, karena inilah penugasan internasional saya yang pertama dan pada posisi yang “puncak” lagi. Alhamdulillah pengalaman saya memimpin lembaga riset di Lemigas banyak membekali saya dalam menangani sekretariat OPEC ini, yang intinya juga riset. Saya juga meniru langkah Bapak Subroto dengan mengadakan open house idul fitri yang ternyata sangat diapresiasi para staf sekretariat, karena suasananya penuh rileks dan kerukunan, berbeda dari suasana pekerjaan sehari-hari yang penuh keseriusan.
Gedung sekretariat OPEC pada waktu itu berlokasi di tepi sungai Danube dan kelihatan dari seberang sungai, yang merupakan pusat kota. Foto- foto gedung ini selalu menghiasi media dunia sehingga logo OPEC seolah-olah menjadi salah satu ikon kota Wina. Karena terbatasnya ruangan dengan pertambahan kegiatan, gedung Sekretariat dipindahkan dan sekarang berada di suatu bangunan klasik yang juga indah yang terletak di tengah kota Wina. Selepas dari tugas OPEC, saya ikut dalam mendukung kegiatan Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia dengan Ketua Dewan Pembina Bapak Subroto, dan Ketua Umum Bapak Dr Nafrizal Sikumbang. Yayasan ini, berhasil membina sekolah TK, SMP, SMK di Lengkong Wetan, Serpong, dengan biaya sangat murah untuk anak-anak desa sekitar yang umumnya kurang mampu. Sekolah ini berhasil membuat reputasi tidak kalah dari sekolah swasta yang mahal yang bertebaran di sekitar Serpong. Sekolah Pak Broto ini, dengan keberhasilan tersebut diusulkan untuk dijadikan suatu model pengembangan “sekolah bagus tidak perlu mahal” (SBTPM) untuk diterapkan di seluruh Indonesia. Pak Broto memberikan perhatian sepenuhnya kepada sekolah ini dan selalu aktif memberikan pencerahan bagi para murid dan guru. Di sini saya melihat sebagai sosok yang sangat cinta akan kemajuan generasi
muda bangsa ini. Beliau sangat ingin agar demography devident yang akan dialami Indonesia pada tahun 2030 an ke atas hendaklah diisi oleh sumber daya manusia berkualitas agar Indonesia menjadi salah satu negara besar dan kuat di dunia, dan “sekolah pinter yang tidak perlu mahal” adalah suatu solusi.
Professor Dr Subroto dalam wawancara dengan media di sela-sela sidang Konferensi OPEC di tahun 1998.