• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suatu hari di bulan Desember tahun lampau 1980, saya mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan Buya di rumahnya di bilangan Kebayoran Baru. Bukan untuk

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 154

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 154 1/13/2017 6:18:53 PM1/13/2017 6:18:53 PM

155 konsultasi agama (saya sendiri beragama Kat holik), me-lainkan untuk wawancara.

Janji sebenarnya beberapa hari sebelumnya. Namun, ketika saya datang ternyata Buya tak ada di rumah, karena ada undangan mendadak untuk suatu acara penting. Pembatalan itu disampaikan oleh Ibu (istri Buya) kepada saya disertai permintaan maaf darinya. Agaknya Buya adalah orang yang sungguh menghargai janji. Walaupun sudah ada permintaan maaf, dia masih ju ga meninggalkan surat undangan tersebut dan meminta kepada Ibu untuk memperlihatkannya kepada saya.

Sesuai dengan janji, jam setengah lima sore saya sudah berada di ru mahnya. Wawancara mulai diadakan pukul lima.

Namun, melihat tamu yang antre di depan rumah, waktu itu saya ragu apakah janji tersebut dapat dipenuhi. Tua muda, pria maupun wanita berderet dari depan pintu hingga ke pagar. Semuanya punya satu tujuan: Bertemu dengan Buya.

Saya pun ikut menunggu.

Di samping saya, duduk seorang laki-laki setengah tua dengan se buah tas berwarna hitam. Mengisi waktu luang, saya sengaja mengajaknya ngobrol, dan dari tampang maupun bawaannya saya menduga agaknya dia seorang yang senang berkelana. Dugaan itu ternyata be nar, paling tidak menurut ceritanya. Katanya dia seorang yang telah ber keliling ke seluruh Indonesia. Di samping berdagang, juga mendalami agama Islam. Dan hasil dari petualangan dan pendalaman agamanya itu, dia dituangkan dalam sebuah buku yang akan diterbitkan.

“Lalu apa tujuan Anda datang bertemu Buya?” tanya saya.

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 155

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 155 1/13/2017 6:18:53 PM1/13/2017 6:18:53 PM

156

“Saya ingin meminta restu dari Buya tentang buku yang saya tulis di samping meminta Buya menulis sedikit sambutan,” jawabnya.

Selang beberapa waktu datang seorang pria yang kelihatannya sa ngat kumal. Dia bersalaman dan mengobrol bersama kami. Menilik pakai annya,dia seperti gelandangan saja.

Tujuannya bertemu Buya adalah meminta sumbangan untuk dirinya. Menurut ceritanya, keluarga nya tertimpa musibah, entah apa, dan Camat serta Kepala Desa dan Rt serta Rw (rumahnya katanya di Tanjung Priok), memberikan keterang an resmi mengenai musibah tersebut (surat-surat keterangan yang di bawanya semua diperlihatkannya kepada kami).

Ternyata dia yang malahan yang diterima duluan oleh Buya. Sama hangatnya, sama penuh perhatiannya seperti Buya menerima tamu -tamu yang datang bermobil atau berdasi.

Setelah berbincang-bincang sebentar (Buya menerima para tamu di beranda rumah sehingga tamu -tamu yang lainnya pun dapat melihatnya) dengan lelaki berpakaian gelandangan tersebut. Buya masuk ke rumah dan keluar lagi menye rahkan sesuatu ke dalam tangan tamunya. Mataku masih sempat me-lirik bahwa di dalam tangan Buya terselip beberapa lembar uang ribu an. Melihat hal itu ada perasaan kecil di dalam diri saya berhadapan dengan Buya.

Pukul lima tepat giliran saya untuk bertemu. Walaupun saya sempat melihat ada tamu yang hendak menerobos atau mendahului saya (padahal mereka datang belakangan, saya tak tahu apakah sudah ada janji atau belum) Buya dengan tenang mempersilakan mereka untuk menunggu.

Wawancara itu sendiri tentang kehidupan di tahun 1981.

Bagai mana perkembangan agama, apakah kehidupan akan

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 156

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 156 1/13/2017 6:18:53 PM1/13/2017 6:18:53 PM

157 lebih baik dan sebagainya. Semacam “ramalan” bertitik tolak dari keadaan negeri kita dewasa ini. Buya waktu itu sangat optimis mengenai perkembangan agama (Islam) dalam tahun 1981 nanti.

Kata Buya:

“Coba perhatikan betapa besar minat dan perhatian angkatan mu da sekarang terhadap kehidupan beragama.

Demikian pula di kalangan apa yang sering disebut sebagai kaum terpelajar, semangat untuk mem perdalam pengertian tentang agama makin tumbuh. Sebelum ini kita sulit membayangkan bahwa orang-orang seperti Soedjatmoko, Subadio Sastro Satomo pergi menunaikan ibadah haji demikian pula halnya dengan istri-istri mereka. Sungguh satu perkem-bangan yang tidak disangka-sangka. Selain itu di kalangan artis, apakah dia pemain fi lm atau penyanyi kesadaran akan pentingnya kehidupan beragama semakin besar. Pendek kata hampir di semua kalangan, tumbuh kesadaran beragama, yang makin meningkat. Untuk kesemua perkembangan tersebut kita wajib mengucapkan syukur alhamdulillah, Insya Allah di tahun 1981 mendatang, perkembangan akan lebih baik

Pendeknya dari keseluruhan uraian Buya waktu itu, dia sangat op timis terhadap masa depan negeri ini, khususnya perkembangan ke hidupan beragama.

Waktu ternyata berjalan demikian cepat. Tahun 1981 ternyata te lah memasuki akhir bulan 7.”[]

(Demikian ditulis oleh Wartawan dan Kolumnis Kons Kleden)

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 157

Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 157 1/13/2017 6:18:53 PM1/13/2017 6:18:53 PM

158

S

ampai mencapai usia lima puluh tahun Ayah masih belum punya menantu, karena anak-anak belum ada yang ingin berumah tangga. Tiga orang anak yang besar semuanya laki-laki, sedangkan kawan-kawan sebayanya telah pada punya cucu. Kerapkali kawan-kawan sebayanya membanggakan bahwa dia telah punya cucu beberapa orang, dan kerapkali pula dia diundang menghadiri perkawinan anak-anak kawan-nya.

“Kawinlah cepat-cepat, Ayah ingin punya cucu,” katanya beberapa kali pada anak sulungnya, Zaky, dan juga kepada saya yang waktu itu masih sekolah.

Di sebelah rumah kami keluarga Tuan Ong, baru saja memperoleh cucu pertama. Kerapkali kedengaran bayi itu menangis pagi, siang malam. Bila kedengaran tangis bayi itu, cepat-cepat Ayah menemui Ummi. Kedua orangtua itu