Makan sirih ujung-ujungan Kurang kapur tambahi ludah Tanah Deli untung-untungan Hidup syukur matipun sudah ...
Apa yang dilihat dan dikenangnya, bisa dia pantunkan dengan indahnya.
K
etika Al Ustadz H. Bahrum Djamil, S.H., mengajak sa ya datang ke Medan untuk ikut mengisi acara peringa tan Buya Hamka yang diadakan oleh Universitas Islam Sumatra Utara, saya menyambutnya dengan gembira. Sebab, selain sudah lama tidak berkunjung ke Medan, saya juga akan bertemuPribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 51
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 51 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
52
dengan banyak sahabat lama dan murid-murid Almarhum Ayah. Saya merasa berkewajiban menyampaikan permintaan maaf apabila almarhum Ayah ada kesalahan kepada mereka, baik yang dise ngaja maupun yang tak disengaja.
Di samping itu, saya pun mengucapkan terima kasih kepada pencetus ide diadakannya peringatan ini, karena telah memberikan kehormatan yang begitu tinggi terhadap Almarhum, sebulan setelah kepergiannya. Saya juga senang tatkala diminta menyampaikan kata sambutan pada acara ini, sebagai saksi hidup perjuangan Ayah terhadap agama dan bangsa.
Beberapa hal yang saya sampaikan dalam acara tersebut, antara lain: sejak umur 10 tahun, saya telah dibawa bergerilya di hutan-hutan Sumatra Barat. Sering kali di waktu istirahat setelah naik dan turun gunung, saya mengurut kaki Ayahyang penat atau kepalanya yang sakit. Dan, kepada saya pula Ayah sering meminta tolong untuk mengoreksi artikel-artikel yang akan dikirimkan ke media cetak.
Sehari sebelum Ayah masuk rumah sakit, saya masih sempat jalan-jalan bersamanya hingga menjelang berbuka puasa. Maka, wajarlah bila orang banyak bertanya kepada saya tentang kehidupan Almarhum Buya Hamka. Tadinya saya pikir akan mudah menuliskan buku ini, ternyata saya menemukan beberapa kesulitan, terutama ... saya bingung hendak memulainya dari mana.
Ayah yang meninggal di usia 73 tahun, ternyata memiliki banyak sekali aktivitas. Sulit membicarakan semuanya dalam waktu singkat atau dalam beberapa lembar naskah pidato, atau dalam beberapa menit berbicara di mimbar. Mustahil.
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 52
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 52 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
53 Kesulitan lain, lebih ke psikologis saya, yakni:
1. Seorang anak lelaki biasanya akan memandang ayahnya sebagai seorang idola. Demikian pula dengan saya. Ayah seolah manusia paling sempurna tanpa cacat. Tentu saya akan kecewa bila mendapati Ayah tak sebaik prasangka saya. Dan sebagai anak lelaki, ada rasa ingin mengungguli Ayah. Saya pun akan bahagia bila Ayah dipuji, dan akan marah bila ada yang mengkritik. Maka, saya khawatir tulisan ini tidak objektif.
2. Suasana duka cita masih mengiringi keseharian saya, mengingat kepergian Ayah belum begitu lama, yakni baru sebulan.
Dua poin di ataslah yang menjadi kesulitan saya dalam menulis naskah buku ini.
Karena itu, saya berusaha mengurangi rasa “pemujaan”
terhadap Ayah yang dijuluki sebagai “orang besar” oleh banyak kalangan.Saya pun berusaha mengendalikan emosi bila teringat wajahnya yang tak pernah bisa saya lupakan.
Serasa dia meng gamit saya, menyuruh lebih dekat untuk mendengarkan fatwa-fatwa dan cerita-cerita, serta pantun-pantunnya yang tak pernah habis. Atau, memanggil saya untuk mengusap keningnya yang lebar dan telah berkerut itu.
Betapa sulitnya membendung air mata, bila kenangan seperti itu tergambar lagi di mata saya. Saya percaya hadirin akan memaafkan saya, apabila saya tidak sepenuhnya berhasil mengisi acara ini, berdasar alasan-alasan yang telah saya kemukakan di atas.
Pada 1968, saya diajak oleh Ayah ke Aceh untuk men-dampinginya berjumpa Bapak Teungku Daud Beurueh. Ayah
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 53
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 53 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
54
ke sana dengan membawa pesan-pesan Presiden Soeharto.
Pesawat yang direncanakan berhenti beberapa menit di Medan, ternyata mengalami kerusakan teknis, sehingga baru keesokan harinya penerbangan ke Banda Aceh bisa di-teruskan. Begitu mendengar pengumuman lewat pengeras suara di Polonia, penumpang dipersilakan menginap semalam di Medan. Ayah tampak berwajah cerah. Dengan gembira dia berkata sambil menepuk bahu saya, “Kita menginap di Medan.”
Saya tak menanyakan kenapa Ayah gembira dan berseri, karena saya tahu di Medan ini dia mempunyai banyak saha bat dan kerabat lama. Bagi Ayah, Medan adalah sebuah kota yang penuh kenangan. Dari kota ini, dia mulai memantapkan diri menjadi seorang penulis yang melahirkan sejumlah novel, dan buku-buku falsafah, tasawuf, dan lain-lain. Di sini pula, dia sukses menjadi wartawan Majalah Pedoman Masyarakat.
Namun, disini pula dia mengalami kejatuhan yang sangat menyakitkan, hingga bekas-bekas luka yang membuatnya pergi meninggalkan kota ini, menjadi satu pupuk yang me-numbuhkan pribadinya di kemudian hari.
Karena mengetahui semua itu, saya tak banyak bertanya.
Namun, saya masih mencoba memancing nostalgianya de-ngan menanyakan letak Kampung Jati. Terutama jalan nomor 16, rumah “kominte” tempat kami tinggal waktu datang ke Medan ini.
Dalam hal bernostalgia, Almarhum Ayah memang tak ada tandingannya. Cerita-ceritanya pasti menarik. Kala itu Ayah tak langsung menjawab. Saya lihat hidungnya agak merah dan dia menghapus air mata. Kemudian, dia menatap wajah
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 54
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 54 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
55 saya sejenak. Lalu, senyumnya mengembang dan keluarlah pantunnya:
Makan sirih ujung-ujungan Kurang kapur tambahi ludah Tanah Deli untung-untungan Hidup syukur matipun sudah
Ayah (Buya Hamka) ketika masih muda benar-benar mengadu un tung di tanah Deli ini. Baginya, Medan adalah sebuah kota pelabuhan tempat bertolak, dan tempat kembali melabuhkan bahtera hidupnya. Pada 1927, dia naik haji pada usia sekitar 19 tahun, berangkat dari Belawan. Setelah 6 bulan bermukim di Makkah, dia pulang dan di Belawanlah dia berlabuh.
Sebelum meneruskan pulang ke kampungnya, Sungai Batang, dia tinggal dulu beberapa bulan di Medan atau Tanah Deli ini. Menjadi guru agama di sebuah perkebunan dekat Tebing Tinggi, bernama Bajalinggai.
Setelah berumah tangga dan tinggal bersama istri sebagai pasangan muda yang miskin, beberapa lama dia menetap di Padang Panjang, menjadi guru. Lalu, dia ke Makassar menjadi Mubalig Muhammadiyah. Namun pada 1935, Medan kembali menyerunya untuk menjadi wartawan dan penulis. Dia menerbitkan Majalah Pedoman Masyarakat. Di sinilah dia memantapkan diri sebagai seorang penulis dengan Majalah Pedoman Masyarakat itu, bersama sahabatnya, M.
Yunan Nasution. Bersamaan dengan itu, dia menjadi Konsul Muhammadiyah Sumatra Timur, sampai jatuhnya Jepang pada 1945.
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 55
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 55 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
56
Membaca riwayat hidupnya kembali, baik yang ditulisnya sendiri dalam buku “Kenang-Kenangan Hidup” yang terdiri 4 jilid, maupun himpunan tulisan kawan-kawannya dalam buku “Kenang-Kenangan 70 tahun Buya Hamka”, niscaya kita mengetahui bahwa di Medan inilah sebenarnya dia mulai dikenal sebagai salah seorang penulis Indonesia, di zaman sebelum perang dunia. Yaitu, bersamaan dengan kehadiran Angkatan Pujangga Baru yang kebanyakan berkumpul di Batavia atau Jakarta sekarang.
Bakat sebagai pengarang atau penulis, telah tampak sejak dia berumur 17 tahun. Ketika itu dia menulis buku
“Khatibul Umat” sampai 3 jilid di Padang Panjang. Buku itu mirip suatu penerbitan periodik yang beredar di antara kawan-kawan secara terbatas. Kemudian dia mengarang sebuah roman dalam bahasa Minang berjudul “Si Sabariyah”, yang ditulisnya dengan memakai huruf Arab Melayu. Kisah Si Sabariyah diangkat dari satu peristiwa nyata yang terjadi di Sungai Batang, dibumbui dengan imajinasi hingga enak dibaca masyarakat waktu itu. Apalagi jika dinyanyikan dengan rebab. Buku itu mengalami cetak ulang sampai 3 kali. Dari honor buku itulah Buya Hamka membiayai perkawinannya dengan Ummi kami, Siti Raham pada 1929, dan meninggal pada 1 Januari 1972.
Tulisan-tulisannya itu baru beredar di kalangan pem-baca yang terbatas, karena oplahnya belum bisa ditingkatkan, maklum penulisnya belum terkenal. Namun dengan bekal itu, anak muda ini datang ke Medan. Medanlah yang mem-bukakan matanya, memberinya ilham melalui penanya yang tak pernah kering.
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 56
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 56 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
57 Sebagai redaktur Majalah Pedoman Masyarakat, dia bertemu de ngan penulis sebaya dan secita-cita. Kalau kita melihat-lihat bundelan Pedoman Masyarakat itu sekarang, kita akan bertemu dengan nama-nama penyair: A. Hasymi, O.R. Mandank, Samadi (Anwar Rasyidi), Bandaro, Dada Mauraxa, dan Prosais Yoesoef Soe’ib. Di samping itu, akan kita temui pengarang atau kolum nis politik, agama, dan penulis esai, seperti: Yunan Nasution dan Ghazali Hasan.
Tidaklah berkelebihan kalau sekarang kita mengatakan bahwa Medan sekitar tahun 1930 sampai tahun 40-an, menandingi Batavia sebagai pusat bacaan dan perkembangan bahasa Indonesia. Kalau di Batavia ada Balai Pustaka milik pemerintah atau gubernemen, dan ada Majalah Pujangga Baru yang menjadi media intelektual didikan barat di Medan, dan sejumlah penerbit-penerbit swasta, seperti: Firma Cerdas, Pustaka Antara, Pustaka Islamiyah, yang keba nyakan menerbitkan karya-karya pengarang Islam, baik berupa roman maupun buku-buku agama.
Di samping Pedoman Masyarakat, di Medan pula terbitnya Maja lah Panji yang dipimpin oleh Zainal Abidin Ahmad. Kedua majalah itu tercatat dalam sejarah kebangkitan Islam di Indonesia sebagai media yang besar pengaruhnya dalam membawa paham-paham pembaruan di kalangan Islam. Begitupun buku-buku yang terbit di Me dan sebelum perang,itu pun tak kalah nilai literaturnya dibandingkan penerbit an Balai Pustaka. Buya Hamka merupakan salah seorang pengarang yang paling terkenal di antara pengarang-pengarang Medan, menurut Prof. Teew.
Sangat menarik melihat nama-nama pengarang Medan itu sambil membandingkan latar belakang mereka dengan
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 57
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 57 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
58
pengarang-pengarang yang berada di Batavia saat itu.
Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang ter-didik dari kalangan surau, terutama dari Perguruan Thawalib Sumatra Barat.
Para kritikus sastra modern Indonesia, kebanyakan tidak meng golongkan pengarang-pengarang Medan ini dalam pem bagian ang katan-angkatan, yang kriterianya telah mereka bikin sendiri. Mereka tidak digolongkan pada angkatan Balai Pustaka, seperti: Marah Rusli, Abdul Muis, dan Nur Sutan Iskandar. Dan, ti dak pula dimasukkan ke angkatan Pujangga Baru, seperti: Tak dir Alisyahbana, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah. Kalaupun ada pembahasan tentang pengarang Medan ini, mereka dina makan sebagai pengarang-pengarang roman picisan.
Namun, pernahkah dibicarakan betapa peranan dan sumbangan mereka terhadap perkembangan bahasa Indonesia yang dinyatakan se bagai bahasa kesatuan dalam Sumpah Pemuda pada 1928?
Menurut Buya Hamka, bahasa Indonesia dialek Medan adalah yang terbaik penggunaannya dalam bahasa per gaulan sehari-hari. Baik susunan tata bahasanya, maupun pengucap-annya pada lidah orang Medan. Oleh karena itu, pengarang-pengarang asal Minangkabau yang tinggal di Medan, mem punyai kemungkinan dan potensi yang besar untuk berkembang sebagai seorang pengarang In donesia.
Kenapa? Karena orang Mi nang kaya akan pepatah dan petitih.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dalam memperkaya istilah-istilah bahasa Indonesia yang terus
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 58
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 58 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
59 ber kembang sebagai bahasa modern, pertama-tama harus digali dari daerah-daerah yang meng gunakan bahasa Melayu sebagai bahasa ibunya. Di sinilah dia melihat peranan para pengarang Minang yang berdomisili di Medan. Namun, ada lagi yang membuat Buya Hamka begitu gandrung pada bahasa Mela yu, yaitu pengaruh Islam yang dominan dalam kehidupan masyara kat dan sastra Melayu. Lidah Melayu yang telah menerima Islam sejak abad-abad pertama tahun hijriah, tidak asing dengan istilah-isti lah Arab,bahasa agamanya.
Maka, bahasa Arab dapat mem perkaya istilah-istilah bahasa Indonesia.
Bahkan, dalam pidatonya tentang bahasa Indonesia di Sidang Konstituante, Buya Hamka lebih berani lagi mengatakan bahwa bahasa Arab bukan bahasa asing bagi bahasa Indonesia.
Kalau saudara-saudara kita dari Jawa mengambil istilah-istilah Sansekerta yang kehindu-hinduan, dan orang-orang didikan barat mengambil bahasa Belanda atau bahasa Inggris, kita pun boleh me nunjukkan keislaman kita. Tak perlu takut dan merasa rendah diri dikatakan kearab-araban. Demikianlah pandangan Buya Hamka da lam masalah bahasa ini.
Dalam Seminar Kebudayaan Melayu di Kuala Lumpur pada 1974, Buya menegaskan keyakinannya: “Tak ada Melayu tanpa Islam”, di balik Melayu adalah Islam. Hal ini sesuai dengan pandangan hidupnya sebagai seorang Ulama Islam asal Minangkabau, dan kedudukannya sebagai Peng-hulu Adat yang bergelar Datuk Indomo. Bahwa: “Adat ber-sendi syara’ dan syara’ ber ber-sendi Kitabullah”.
Dengan bergurau dia sering mengatakan, “Melayu tanpa Islam, hilang ‘me’nya, dan layulah dia. Minang kabau tanpa Islam, hilang ‘minang’nya, jadi kerbaulah dia.”
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 59
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 59 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
60
Jelaslah bahwa Buya Hamka sebagai seorang pengarang yang telah di anggap terkemuka di antara kawan-kawannya, seperti Teew itu, mengarang adalah suatu perjuangan. Bukan sekadar bersenandung memuja alam dan keindahan bela ka, tetapi mengarang adalah suatu mata rantai perjuangan yang panjang untuk me negakkan Islam dari sektor kebudayaan, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur seni, akhlak, budi, dan daya, serta ilmu pengetahuan, de ngan Islam sebagai sumbernya. Dia tak peduli apakah kritikus dan para ahli sastra akan menggo longkannya satu angkatan atau tidak, karena bukan untuk itu dia mengarang. Ketika orang bertanya apa yang mendorongnya menjadi penga rang yang begitu produktif sampai hari tuanya, Buya Hamka menjawab, “Dasar kepengarangan saya adalah cinta.”
Dalam ribuan kali pidato, dakwah, dan khutbahnya, Buya Hamka menguraikan arti cinta itu. “Cinta tertinggi adalah kepada Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pandanglah alam dengan penuh cinta, dan berjuang dengan semangat cinta. Dengan begitu, Anda akan berbalas-balasan cinta dengan Dia Pemberi cinta.
Cinta sejati adalah tatkala Anda memasuki gerbang maut dan berte mu Dia:‘Almautu ayatu bi sadiq’.”
Betapa sulit mengategorikan seorang pengarang yang me miliki pandangan hidup seperti itu. Barangkali itulah sebabnya, kritikus dan para ahli sastra modern kita tak bisa memasukkannya ke angkatan-angkatan sastra Indonesia.
Demikianlah Buya Hamka, seseorang yang mendasarkan karangannya dengan cinta, dan memperoleh ilhamnya dari Kota Medan ini, dengan tinta yang tak pernah kering, sampai dia menemukan cin ta sejati tatkala memasuki gerbang maut
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 60
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 60 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
61 pada 22 Ramadhan 1401, bertepatan dengan 23 Juli 1981 di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina. Kemudian dia dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir. Innalillâhi wa inna Ilaihi raji’ûn.
Beberapa hari setelah meninggalnya Buya Hamka, Taufi k Ismail, seorang penyair yang terkenal itu mengatakan kepada saya, “Yang mengagumkan saya, ialah Buya selesai dengan tugasnya.” Sebelum meninggal dia telah banyak mengajak dan merangsang pengarang-pengarang muda Islam mengikuti jalannya. Dia pun telah menyelesaikan pekerjaan besarnya, menulis Tafsir Al-Azhar yang 30 jilid itu. Pada 1978, ketika selesai mengoreksi se luruh pekerjaan itu, yaitu Juz ke-29, Almarhum melakukan sujud syukur. Kepada saya, Almarhum menyerahkan naskah itu untuk diterbitkan, lalu berkata, “Hari ini selesailah tugas Ayah.”
Terakhir, dia menyelesaikan pula tugasnya sebagai Ketua Majelis Ulama, yaitu dua bulan sebelum kepergiannya. Dia meletakkan jaba tan dengan wajah berseri, setelah menjabat kedudukan itu selama 6 tahun.
“Selesai, selesai,” ujar Taufi k Ismail berulang-ulang.
Khusus kepada saya yang telah membantunya sebagai Pemimpin Majalah Panji Masyarakat, selama lebih 20 tahun, Buya mengamanat kan agar meneruskan khittah atau per-juangannya. Dapat saya tambahkan bahwa apa pun yang dikerjakan Almarhum selama hidupnya, yaitu: mengarang, pidato, konferensi, berpolitik, menjadi wartawan, dan lainnya, tujuannya satu, yaitu menegakkan keagungan Tuhan dengan semangat cinta.
Mengakhiri uraian ini, saya tak dapat menghindari tragedi yang dialami di Kota Medan, yang menyebabkannya
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 61
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 61 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
62
meninggalkan kota tersebut. Bukanlah maksud saya hendak membangkitkan kemba li kenangan yang telah lama dilupakan itu.Namun menurut saya dan yang sering pula dikatakan Ayah kepada kami, kesuksesan dan kebesaran yang diperolehnya selama 35 tahun sisa usianya setelah meninggalkan Medan pada 1945 itu, sangatlah ditentukan oleh tragedi pahit tersebut.
Dia mengalami fi tnah keji karena dituduh melarikan diri pulang ke kampung, sewaktu Jepang kalah. Sebagai seorang pemimpin yang percaya kepada janji-janji Jepang, dia turut bersama pemimpin lainnya untuk bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang itu. Dia me ngakui kesalahannya. Ada beberapa pemimpin lain yang juga bekerja sama dan percaya pada janji Jepang itu, tetapi mereka tetap berada di tempat, ketika Jepang bertekuk lutut. Namun dia pulang ke kampung, sementara orang mengatakan dia “lari malam”.
Setiba di Bukittinggi, dia mendapat informasi dari pemimpin Sumatra Barat tentang Proklamasi Kemerdekaan yang diucapkan Soekarno-Hatta di Jakarta, 17 Agustus 1945.
Hanya beberapa hari tinggal di kampung, dia kembali ke Medan. Maksudnya, hendak turut berjuang dan mengobarkan semangat ke Sumatra Timur dan Medan khususnya, tetapi kehadirannya ditolak. Dia dihina sebagai kolaborator, penjilat, lari malam, dan sebagai nya. Ini adalah hukum revolusi.
Revolusi kadang-kadang memakan anaknya sendiri.
Betapa getir pengalaman itu bagi dirinya. Pernah Ayah bercerita pada kami, “Sekiranya tidak ada iman, barangkali Ayah sudah bunuh diri waktu itu.” Masih teringat sebuah sajaknya yang tercipta saat Ayah dalam kondisi tersebut:
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 62
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 62 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
63 Biar mati badanku kini
payah benar menempuh hidup hanya khayal sepanjang umur biar muram pusaraku sunyi cucuk kerah pudingnya redup lebih nyaman tidur di kubur
Di dalam suasana kebencian dan penghinaan, dia kembali ke kam pung bersama istri dan kelima orang anaknya. Tak ada anggota-ang gota Muhammadiyah yang dipimpinnya selama 12 tahun, turut mengantarnya. Tak pula kawan-kawan sesama pengarang. Juga tidak sahabat-sahabat yang pernah bersama-sama bekerja dengan Jepang.
Saya tidak ingin memperpanjang soal ini, tetapi saya per caya bahwa pengalaman yang begitu pahit ternyata mem-punyai hikmah besar baginya, yaitu bertambahnya kekayaan batin, sehingga menjadikan dirinya sebagai pribadi tahan uji.
Ketika tahun 1963 dan 1964, PKI-Lekra membuat kampanye besar untuk menghancurkannya dengan tuduhan plagiat atas karya: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Untuk menentramkan anak -anaknya yang resah di rumah, Ayah berkata, “Serangan PKI sekarang Ayah rasakan tidak sehebat tragedi di Medan dulu.”
Begitupun ketika dipenjara oleh Soekarno selama 2 tahun 6 bulan, dia tidak hilang lenyap seperti yang diinginkan lawan-lawannya. Bahkan, dia berhasil menyelesaikan karya yang terbesar, “Tafsir Al-Azhar” itu.
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 63
Pribadi dan martabat Buya Hamka isi set2 170109.indd 63 1/13/2017 6:18:37 PM1/13/2017 6:18:37 PM
64
Terakhir, ketika beberapa orang mubalig yang tak menyetujuinya duduk menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia, mengejeknya di masjid dan di muka umum, dengan tenang Buya Hamka berkata, “Lebih dari itu telah aku alami.”
Syukurlah dia tidak lenyap ditelan revolusi dan melalui tragedi 1945 di Medan itu, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada nya untuk tampil kembali.
Di Sumatra Barat, dia turut ambil bagian dalam perjuangan re volusi menjadi Ketua Front Pertahanan Nasional yang menghimpun tenaga rakyat melawan NICA. Dia tampil pula sebagai pembela perkara “Peristiwa 3 Maret” di Bukittinggi, dengan kemenangan di pihaknya. Dia menjadi orang kepercayaan Wakil Presiden Mohammad Hatta, meskipun tak mem punyai jabatan resmi dalam pemerintahan.
Meskipun menjabat sebagai Majelis Ketua atau Konsul Muhammadiyah di Sumatra Barat, tetesan penanya tak ber-henti mengalir. Dia melahirkan buku Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, dan Adat Minangkabau Menghadapi Revo-lusi. Dengan ketiga buku itu, dia menuntun dan memimpin revolusi ke jalan yang diridhai Tuhan.
Setelah penyerahan kedaulatan, dia pindah ke Jakarta.
Setelah penyerahan kedaulatan, dia pindah ke Jakarta.