• Tidak ada hasil yang ditemukan

69 BAPPEDA DAN LINGKUNGAN HIDUP

C. SISTEM PRASARANA LAINNYA

III- 69 BAPPEDA DAN LINGKUNGAN HIDUP

4) Sistem Jaringan Prasarana Perkotaan

Sistem jaringan prasarana perkotaan ditetapkan dalam rangka meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan perkotaan yang dikembangkan secara terintegrasi dan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara.

Sistem jaringan prasarana terdiri atas:

a. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional; dan b. sistem pengelolaan persampahan regional.

SPAM dilaksanakan melalui pengembangan SPAM regional untuk wilayah kabupaten/kota yang berdekatan dilakukan kerjasama lintas wilayah secara terpadu dalam hal lokasi maupun sistem pengelolaan

Sistem pengelolaan persampahan dilaksanakan melalui:

a. pengembangan sistem persampahan untuk wilayah kabupaten/kota yang

berdekatan dilakukan kerjasama lintas wilayah melalui sistem pengelolaan sampah secara terpadu dalam hal lokasi maupun sistem pengelolaan;

b. pengembangan sistem pengelolaan persampahan untuk kabupaten/kota akan dikembangkan pada masing-masing kabupaten dengan lokasi tempat pengelolaan jauh dari permukiman atau dengan melakukan sistem pengelolaan daur ulang; dan c. pengelolaan persampahan untuk daerah yang belum terjangkau oleh sistem pelayanan ini, terutama yang ada di pulau-pulau diarahkan penanganannya melalui pengelolaan secara individu atau secara komunal setempat atau pengembangan pengelolaan daur ulang seperti pembuatan pupuk kompos.

III-71

D. KAWASAN STRATEGIS PROVINSI

a) Kriteria Kawasan Startegis Provinsi (KSP)

Kawasan strategis provinsi merupakan bagian wilayah provinsi yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan. Penentuan kawasan strategis provinsi lebih bersifat indikatif. Batasan fisik kawasan strategis provinsi akan ditetapkan lebih lanjut dalam rencana tata ruang kawasan strategis.

Kawasan strategis provinsi berfungsi:

4. untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa terakomodasi dalam rencana struktur ruang dan rencana pola ruang;

5. sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah provinsi yang dinilai mempunyai pengaruh sangat penting terhadap wilayah provinsi bersangkutan; dan

6. sebagai dasar penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis provinsi. Kawasan strategis provinsi ditetapkan berdasarkan:

1. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah provinsi;

2. nilai strategis dari aspek-aspek eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi penanganan kawasan;

3. kesepakatan para pemangku kepentingan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan; 4. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup lingkungan hidup wilayah provinsi;

dan

5. ketentuan peraturan perundang-undangan terkait. Kawasan strategis provinsi ditetapkan dengan kriteria:

1. memperhatikan faktor-faktor di dalam tatanan ruang wilayah provinsi yang memiliki kekhususan;

2. memperhatikan kawasan strategis nasional (KSN) yang berada di wilayah provinsi; 3. dapat berhimpitan dengan kawasan strategis nasional, namun harus memiliki

kepentingan/kekhususan yang berbeda serta harus ada pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi yang jelas;

4. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi yaitu merupakan aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi yang memiliki:

 potensi ekonomi cepat tumbuh;

 sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi;

 potensi ekspor;

 dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi;

 kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi;

 fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan; atau

 fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energy dalam rangka mewujudkan ketahanan energi.

5. dapat merupakan kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal di dalam wilayah provinsi;

6. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial antara lain kawasan yang:

 merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya;

 merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya;

 merupakan aset yang harus dilindungi dan dilestarikan;

 merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya;

 memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya; atau

 memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial.

7. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi di wilayah provinsi, antara lain:

 diperuntukan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategi, pengembangan antariksa, serta tenaga atom dan nuklir;

 memiliki sumber daya alam strategis;

 memiliki fungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa;

 memiliki fungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir; atau

 memiliki fungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis.

8. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, seperti halnya kawasan yang:

 merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati;

 merupakan kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem, flora dan/atau fauna yang hamper punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan;

III-73

 memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian;

 memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro;

 menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup;

 merupakan kawasan rawan bencana alam; atau

 merupakan kawasan yang sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak luas terhadap kelangsungan kehidupan.

9. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan kepentingan pembangunan wilayah provinsi.

10. mengikuti ketentuan pemetaan kawasan strategis provinsi sebagai berikut:

 delineasi kawasan strategis harus dipetakan pada satu lembar kertas yang menggambarkan wilayah provinsi secara keseluruhan;

 pada peta kawasan strategis provinsi juga harus digambarkan delineasi kawasan strategis nasional yang berada di dalam wilayah provinsi bersangkutan;

 pada bagian legenda peta harus dijelaskan bidang apa yang menjadi pusat perhatian setiap delineasi kawasan strategis provinsi; dan

 penggambaran peta kawasan strategis provinsi harus mengikuti peraturan perundang-undangan terkait pemetaan rencana tata ruang.

b) Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Kalimantan Utara

Berdasarkan pertimbangan kriteria nilai strategis untuk kawasan strategis nasional yang meliputi aspek eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dalam penanganan kawasan, bahwa rencana Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang Provinsi Kalimantan Utara,terdiri atas:

a. Kawasan yang memilik inilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi

 Kawasan perbatasan dengan kegiatan utama ekonomi di:

- Long Bawan dan Long Layu di Kabupaten Nunukan;

- Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan; dan

- Long Nawang di Kabupaten Malinau;

 Kawasan Food Estate dan Rice Estate di Kabupaten Bulungan;

 Kawasan Tanah Kuning di Kabupaten Bulungan; dan

 Koridor perkotaan Tarakan – Tanjung Selor.

b. Kawasan strategis dari sudut kepentingan social dan budaya di dalam wilayah provinsi

 Warisan Budaya Kerajaan Bulungan

c. Kawasan yang memilikinilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup di dalam wilayah provinsi

 Koridor Sungai Sesayap; dan

 Delta Tanjung Palas (Kabupaten Bulungan).

d. Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan teknologi tinggi

III-75

3.2.4 Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI) untuk Kalimantan Utara Belum ada.

3.2.5. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

KEK merupakan kawasan dengan batas tertentu yang tercangkup dalam wilayah Hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. Sementara untuk Provinsi Kalimantan Utara belum termasuk dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

Pada dasarnya KEK dibentuk untuk menbuat lingkungan kondusif bagi akitivitas investasi, ekspor, dan perdagangan guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi serta sebagai katalis reformasi ekonomi. Beberapa keunggulan wilayah di Indonesia dapat menjadi peluang dalam menarik investasi, diantaranya, letak geografis Indonesia yang sangat ideal bagi pengembangan pusat logistik dan distribusi karena dilewati oleh jalur maritim internasional dan posisi Indonesia terletak di tengah pasar yang sangat besar, yaitu pasar ASEAN.

Sementara itu, pengembangan kawasan ekonomi di Indonesia bukanlah hal yang asing. Pasalnya pada tahun 1970 Indonesia berhasil mengembangkan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas melalui UU NO. /1970, dilanjutkan pada tahun 1972 dikebangkan pula Kawasan Berikat (Bounded Warehouse) Kemudian tahun 1989 dikembangkan Kawasan Industri, setelah itu pada tahun 1996 dikembangkan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), dan terakhir pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus pada tahun 2009.

Tabel 3.8

Perkembangan Beberapa Kawasan Ekonomi dan Kawasan Khusus Lainnya di Indonesia

Bentuk Kawasan Landasan Hukum Definisi/Tujuan

Kawasan Berikat (7 lokasi)

PP No. 33/1996 à PP No.32/2009

Kawasan dengan batas tertentu untuk pengolahan barang asal impor dan DPIL yang hasilnya untuk tujuan ekspor

III-77

Bentuk Kawasan Landasan Hukum Definisi/Tujuan

(86 Lokasi) à PP No. 24 /2009 yang dikelola oleh perusahaan KI

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) (13 Lokasi) PP No. 26/2007 Keppres Pembentukan Kapet

Kawasan yang memiliki potensi cepat tumbuh, sektor unggulan dan potensi pengembalian investasi yang besar

FTZ atau KPBPB (4 lokasi)

UU No.37/2000

PP No. 46, 47, 48 Tahun 2008

Kawasan dengan batas tertentu yang terpisah dari daerah pabean sehingga terbebas dari bea masuk, PPN, PPnBM dan cukai

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) (50 pengusul) UU No. 39/2009 Perpres No. 33/2010 Kepres No. 8/2010

Kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah NKRI untuk menyelenggarakan fungsi perekonmian yang bersifat khusus dan memperoleh fasilitas tertentu.

Sumber: Hasil Olahan Deputi Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2010

Dokumen terkait