Bab ini menjelaskan mengenai basis modal nafkah rumahtangga di wilayah banjir dan wilayah tidak banjir. Modal nafkah yaitu modal alam, modal manusia, modal fisik, modal finansial, dan modal sosial. Basis nafkah rumahtangga dilihat dari pentagonal modal nafkah. Basis nafkah rumahtangga juga dilihat dari lapisan rumahtangga berdasarkan tingkat pendapatan yaitu lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas. Modal nafkah dimanfaatkan oleh rumahtangga dalam melakukan aktivitas nafkahnya. Modal nafkah terdiri dari lima modal yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal finansial, dan modal alam. Rumahtangga memiliki pemanfaatan modal nafkah yang berbeda pada situasi dan kondisi berbeda.
Modal manusia dalam penelitian ini mencakup tingkat pendidikan, tingkatalokasi tenaga kerja rumahtangga, tingkat penggunaan tenaga kerja, dan tingkat keterampilan kepala keluarga. Modal sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh sumber daya sosial di dalam masyarajat yang menjadi tiga yaitu banyaknya organisasi yang diikuti, banyaknya jaringan yang dimiliki rumahtangga, dan tingkat kepercayaan rumahtangga. Modal fisik dalam penelitian ini adalah aset rumahtangga. Modal fisik dalam penelitian ini adalah aset rumahtangga yang dimaksud segala benda atau barang yang dimiliki oleh rumahtangga sewaktu-waktu dapat dijual atau digadaikan ketika rumahtangga sedang dalam kondisi krisi. Berbagai aset tersebut diantaranya barang elektronik, kendaraan, perhiasan, dan ternak. Modal alam mencakup pola penguasaan lahan dan pola kepemilikan lahan. Modal finansial mencakup tabungan, pinjaman, hutang dan cicilan.
Komunitas petani di wilayah banjir merupakan petani yang sawah dan rumah mereka selalu tergenang banjir setiap musim hujan. Banjir terjadi karena akibat luapan sungai yang tidak mampu menahan volume air sehingga menggenangi sawah dan rumah warga. Banjir mengakibatkan petani gagal panen akibat lahan yang penuh limbah dan hasil panen menjadi puso.
Ketersediaan Modal Nafkah Rumahtangga Di Wilayah Banjir
Rumahtangga di wilayah banjir dibagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan bawah, lapisan menengah dan lapisan atas. Pembagian lapisan tersebut berdasarkan tingkat pendapatan dari masing-masing rumahtangga. Setiap lapisan petani memiliki kecenderungan terhadap pemanfaatan terhadap pemanfaatan modal nafkah yang berbeda. Pembagian lapisan tersebut bertujuan untuk mengetahun sejauh mana pemanfaatan modal nafkah yang dilakukan rumahtangga lapisan ruamhtangga atas, menengah dan bawah. Kecenderungan pemanfaatan modal tertentu akan berdampak pada tumpuan utama rumahtangga dalam melakukan aktivitas nafkahnya. Jika modal yang menjadi tumpuan tersebut terganggu maka rumahtangga akan semakin rentan ketika berada dalam kondisi krisis. Pemanfaatan modal nafkah oleh masing-masing lapisan rumahtangga dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Modal Alam Modal Manusi a Modal Fisik Modal Finansi al Modal Sosial
Modal Nafkah Lapisan Menengah Modal Alam Modal Manus ia Modal Fisik Modal Finansi al Modal Sosial
Modal Nafkah Lapisan Bawah
Gambar 14 Pemanfaatan modal nafkah berdasarkan lapisan atasrumahtangga di wilayah banjir, Dusun Pangasinan, Desa Karangligar tahun 2014-2015 Berdasarkan gambar 14 dapat diketahui basis modal nafkah yang digunakan masing-masing lapisan rumahtangga di wilayah banjir. Rumahtanagga petani lapisan bawah merupakan rumahtangga yang menguasai lahan dibawah 6000m2. Rumahtangga lapisan bawah memiliki pendapatan yang rendah, tingkat pendapatan yang dimiliki rumahtangga lapisan bawah kurang dari Rp48,74 juta dalam setahun. Pendapatan tersebut merupakan hasil dari non pertanian, karena pendapatan berdasarkan sektor pertanian tidak dapat diraih akibat puso pasca banjir. Petani lapisan bawah di wilayah banjir berjumlah 10 rumahtangga.
Rumahtangga lapisan menengah di wilayah banjir merupakan petani yang memiliki pendapatan Rp 48,74 juta sampai Rp 77,65 juta dalam setahun. Lapisan menengah rumahtangga, layaknya pendapatan lapisan bawah, pendapatan pada rumahtangga lapisan menengah memiliki pendapatan berasal dari non farm akibat tidak ada hasil dari bidang pertanian. Rumahtangga lapisan menengah berjumlah 12 orang.
Rumahtangga lapisan atas wilayah banjir merupakan petani yang memiliki pendapatan terbesar yaitu memiliki pendapatan lebih dari Rp 77,65 juta dalam setahun. Lapisan atas rumahtangga di wilayah banjir sama dengan kedua lapisan sebelumnya untuk struktur nafkahnya, dimana pendapatan hanya berasal dari non farm akibat tidak ada hasil dari bidang pertanian. Rumahtanga lapisan atas terdapat delapan rumahtangga.
Modal Manusia
Lapisan bawah rumahtangga memiliki modal manusia yang tinggi nilainya. Salah satu komponen modal manusia yaitu tingkat penggunaan tenaga kerja rumahtangga. Petani lapisan bawah yang mayoritas adalah buruh tani membutuhkan lebih dari satu anggota keluarga untuk membantu pekerjaan untuk menopang hidupnya ketika banjir tiba akibat tidak ada penghasilan dari sawah.
Modal Manusia dalam rumahtangga lapisan menengah juga bernilai tinggi. Salah satu komponen modal manusia lapisan menengah yaitu tingkat keterampilan yang dimiliki kepala keluarga. Rumahtangga lapisan menengah kebanyakan melakukan pola nafkah ganda, sehingga keterampilan mereka tidak hanya sebatas pertanian. Ketika sawah dan perumahan mereka sering dilanda banjir, petani lapisan menengah melakukan aktivitas nafkah lain seperti berdagang, menjadi buruh bangunan, menjadi buruh bangunan.
Modal manusia petani lapisan atas bernilai tinggi yaitu jumlah anggota keluarga yang bekerja, tingkat penggunaan tenaga kerja, dan tingkat keterampilan kepala keluarga. Anggota keluarga petani lapisan atas seperti isteri dan anak juga bekerja sehingga menambah penghasilan keluarga. Isteri petani lapisan atas biasanya membuka warung di depan rumah mereka, sedangkan anak petani bekerja sebagai karyawan.
Modal Alam
Modal alam bagi rumahtangga lapisan bawah bernilai sedang. Rumahtangga lapisan bawah di wilayah banjir hanya memiliki akses pada sumberdaya alam sawah. Hal ini disebabkan banjir yang selalu datang setiap tahun dan merendam lahan pertanian mereka sehingga sulit jika hanya bergantung pada sektor pertanian. Sehingga sektor pertanian sudah buka pilihan dalam menangani kemapanan sumber hidupnya.
Modal alam yang dimiliki oleh petani lapisan menengah bernilai sedang. Struktur nafkah petani lapisan menengah lebih banyak. Artinya, petani lapisan menengah hanya buruh tani. Hal ini sesuai dengan modal manusia petani lapisan menengah yang hanya mengandalkan sektor non farm. Petani lapisan menengah juga memiliki pendapatan yang lebih tinggi daripada petani lapisan bawah. Bencana banjir mengakibatkan akses petani terhadap sumberdaya sawah semakin rendah karena akses terhadap lahan semakin berkurang. Modal alam rumahtangga lapisan atas bernilai tinggi. Hal ini dikarenakan petani lapisan atas memiliki lahan yang cukup luas. Sehingga ketika luas lahan yang dimiliki dan luas lahan yang dikuasai menjadi faktor penentu modal alam maka rumahtangga lapisan atas memiliki lapisan yang tinggi.
Modal Sosial
Modal sosial rumahtangga lapisan bawah termasuk dalam kategori sedang. Pada komponen banyaknya jaringan yang diikuti, beberapa petani masih aktif dalam berbagai kegiatan kelompok tani yang diadakan oleh pemerintah desa. Para petani juga sangat antusias apabila terdapat bantuan berupa bibit gratis dan traktor. Ketika petani mengalami gagal panen akibat banjir, pengurus kelompok tani akan mendata besar kerugian yang dialami oleh masing-masing petani yang akan diajukan ke pemerintah desa. Namun, sebagian petani lainnya lebih fokus terhadap aktivitas nafkah non pertanian sehingga sudah jarang menghadiri pertemuan kelompok tani. Banyaknya organisasi yang diikuti, setiap organisasi yang diikuti akan sulit untuk membantu bila banjir datang akibat organisasinya juga harus menghadapi banjir.Demikian pula pada komponen tingkat kepercayaan, ketika sedang dalam kondisi krisis rumahtangga memiliki kepercayaan yang tinggi untuk meminta bantuan terhadap saudara dan kerabat, sebagian kecil juga percaya terhadap pemerintah Desa Karangligar.
Modal sosial merupakan modal nafkah yang memiliki nilai tinggi yang dimiliki oleh rumahtangga lapisan menengah. Komponen yang paling membedakan antara rumahtangga lapisan menengah dengan rumahtangga lapisan bawah yaitu tingkat kekuatan jejaring. Sebagian besar petani di lapisan menengah selain aktif sebagai anggota kelompok tani, mereka juga memiliki organisasi lain di luar.
Modal sosial rumahtangga lapisan atas tidak jauh berbeda dengan petani lapisan menengah yaitu bernilai tinggi. Tingkat kekuatan jejaring dalam rumahtangga lapisan atas bernilai tinggi karena petani memiliki dua atau lebih organiasasi selain kelompok tani. Organisasi tersebut seperti kelompok supir atau kelompok arisan di pabrik. Pada komponen tingkat kepatuhan pada norma, petani lapisan atas memiliki keterbukaan kepada komponen tingkat kepercayaan, rumahtangga lapisan atas memiliki kepercayaan terhadap kerabat, tetangga, dan pemerintah desa ketika terjadi bencana banjir.
Modal Fisik
Modal fisik yang dimiliki petani lapisan bawah termasuk kategori tinggi. Wilayah yang selalu terendam banjir setiap musim hujan membuat rumahtangga memiliki aset rumahtangga yang berharga seperti elektronik. Rumah mereka dibangun secara sederhana hanya tembok belum dilantai. Selain itu, para petani mengaku banyak ternak mereka seperti kambing yang mati ketika banjir karena kekurangan makanan sehingga mereka kehilangan banyak ternak.
Modal fisik rumahtangga lapisan menengah bernilai tinggi layaknya rumahtangga lapisan bawah. Rumahtangga juga tidak memiliki ternak karena banjir yang menyebabkan kehilangan banyak ternak karena kekurangan makanan. Banjir juga merusak barang-barang milik rumahtangga. Rumahtangga lapisan menengah memiliki barang elektronik dan kendaraan beroda dua.
Modal fisik rumahtangga lapisan atas bernilai tinggi seperti lapisan bawah dan atas. Pendapatan rumahtangga lapisan atas tinggi, sebanding dengan apa yang mereka punya seperti kendaraan beroda dua yang berjumlah lebih dari satu ataupun kendaraan beroda empat.
Modal Finansial
Modal finansial merupakan modal paling rendah yang dimanfaatkan oleh rumahtangga lapisan bawah wilayah banjir. Seluruh petani lapisan bawah memiliki tabungan berupa uang yang sedikit di rumah dan tidak memiliki tabungan di bank. Mereka mengaku bahwa tanggungan yang banyak untuk makan dan kebutuhan sehari-hari sehingga membuat menabung bukan menjadi prioritas utama mereka, akan tetapi pendapatan yang lebih dari pada pengeluaran di lakukan untuk memberi modal bagi sawahnya kembali.
Modal finansial yang dimiliki rumahtangga lapisan menengah bernilai rendah, lebih rendah dibandingkan rumahtangga lapisan bawah. Hal ini dikarenakan rumahtangga mempunyai tabungan berupa uang yang bersifat sedikit. Namun, mereka lebih memilih untuk membeli emas yang dapat dijual sewaktu- waktu. Selain itu, setiap rumahtangga lapisan menengah pasti memiliki cicilan yang belum lunas untuk mencicil kendaraan beroda dua.
Modal finansial petani lapisan atas lebih tinggi satu tingkat dibandingkan petani lapisan bawah dan petani lapisan menengah. Modal finansial petani lapisan
Modal Alam Modal Man… Modal Fisik Modal Finan… Modal Sosial
Modal Nafkah Lapisan Menengah Modal Alam Modal Manus ia Modal Fisik Modal Finansi al Modal Sosial
Modal Nafkah Lapisan Bawah
atas bernilai sedang. Hal ini disebabkan beberapa petani lapisan atas memiliki tabungan berupa emas serta anak mereka yang telah bekerja memiliki pendapatan tambahan untuk menghidupi rumahtangga, namun layaknya lapisan rumahtangga menengah lapisan rumahtangga atas juga memiliki cicilan untuk membayar kredit kendararaan berdoa dua ataupun beroda empat.
Ketersediaan Modal Nafkah Rumahtanggadi Wilayah Tidak Banjir Rumahtagga petani di wilayah tidak banjir memiliki karakteristik yang berbeda dengan rumahtangga di wilayah banjir. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari jumlah strategi nafkah dan jumlah rumahtangga yang melakukan pola nafkah ganda. Aktivitas nafkah yang dilakukan oleh rumahtangga dipengaruhi oleh keadaan alam yang memang tidak tergenang banjir pada saat musim hujan. Aktivitas nafkah tersebut juga akan mempengaruhi basis modal nafkah yang dimanfaatkan oleh rumahtangga.Rumahtangga di wilayah tidak banjir dibagi ke dalam tiga lapisan berdasarkan tingkat pendapatan rumahtangga yaitu lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas. Pembagian tingkat pendapatan tersebut berdasarkan data emik yang ada dalam masyarakat. Masing-masing lapisan rumahtangga di wilayah tidak banjir memiliki basis modal nafkah yang berbeda.
Gambar 15. Pemanfaatan modal nafkah berdasarkan lapisan rumahtangga di wilayah non banjir, Dusun Kampek, Desa Karangligar tahun 2014- 2015
Berdasarkan gambar 15, dapat diketahui basis modal nafkah yang digunakan masing-masing lapisan rumahtangga di wilayah tidak banjir. Rumahtanagga petani lapisan bawah merupakan rumahtangga yang menguasai lahan dibawah 6000m2. Rumahtangga lapisan bawah memiliki pendapatan yang rendah, tingkat pendapatan yang dimiliki rumahtangga lapisan bawah kurang dari Rp56,65juta dalam setahun. Pendapatan tersebut merupakan hasil dari non farm serta off farm. Petani lapisan bawah di wilayah banjir berjumlah 14 rumahtangga.
Rumahtangga lapisan menengah di wilayah non banjir merupakan petani yang memiliki pendapatan Rp 56,65juta sampai Rp 97,47juta dalam setahun. Lapisan menengah rumahtangga, layaknya pendapatan lapisan bawah, pendapatan pada rumahtangga lapisan menengah memiliki pendapatan berasal dari non farm dan off farm. Rumahtangga lapisan menengah berjumlah 7 orang.
Rumahtangga lapisan atas wilayah banjir non merupakan petani yang memiliki pendapatan terbesar yaitu memiliki pendapatan lebih dari Rp 97,47 juta dalam setahun. Lapisan atas rumahtangga di wilayah non banjir sama dengan kedua lapisan sebelumnya untuk struktur nafkahnya, dimana pendapatan hanya berasal dari non farm dan off farm. Rumahtanga lapisan atas terdapat sembilan rumahtangga.
Modal Manusia
Modal manusia rumahtangga lapisan bawah terhitung rendah karena pada keterampilan kerja dan tingkat pendidikan tergolong rendah dimana pendidikan yang dimiliki oleh rumahtangga lapisan bawah hanya tingkat SD ataupun kebawah yang berarti tidak bersekolah dan keterampilan yang didapat hanya bisa bertani dan menjadi buruh tani
Modal manusia rumahtangga lapisan menengah di wilayah tidak banjir juga bernilai rendah. Hal ini disebabkan pendidikan petani rendah, rata-rata petani hanya berpendidikan SD atau tidak tamat SD. Selain itu, dalam rumahtangga lapisan menengah di wilayah tidak banjir kebanyakan hanya kepala keluarga yang bekerja serta penggunaan tenaga kerja yang rendah karena petani hanya sebagai buruh tani. Walaupun pendapatan rumahtangga tinggi, namun tanggungan yang dimiliki petani juga lebih banyak.
Modal manusia rumahtangga di wilayah yang tidak banjir lapisan atas terhitung tinggi. Hal ini disebabkan bukan dari pendidikan yang tinggi namun keterampilan dan jumlah anggota yang bekerja untuk mendapatkan tambahan jauh lebih banyak.
Modal Alam
Modal alam pada lapisan rumahtangga bawah terhitung rendah karena pada dalam modal alam petani sudah hampir tidak memiliki tanah lagi dan hasilnya adala maro dengan petani lain ataupun maro dengan dari luar wilayah, akibat pembelian tanah untuk golf di daerah ini.
Modal alam di lapisan menengah juga memiliki kasus yang sama karena pada modal alam petani sudah hampir tidak memiliki tanah, namun masih memiliki pendapatan yang cukup besar dan mampu menopang, dan untuk bertani harus maro dengan petani yang memiliki tanah lebih luas.
Modal alam yang dimiliki lapisan rumahtangga atas lebih banyak karena pendapatan yang dimiliki lebih besar hasil darimaro dengan lahan yang lebih luas. Modal sosial
Modal sosial rumahtangga lapisan bawah di wilayah banjir juga bernilai sedang. Penyababnya tidak jauh berbeda dengan rumahtangga di wilayah banjir. Para petani aktif dalam berbagai kegiatan kelompok tani. Selain itu, hubungan kekerabatan dan tingkat kepercayaan masih tinggi namun tidak dengankeikutsertaan dalam organisasi organisasi.
Modal sosial rumahtangga lapisan menengah di wilayah banjir bernilai rendah. Penyebabnya rumahtangga lapisan menengah sudah jarang mengikuti organisasi namun masih memiliki kepercayaan yang tinggi untuk kerabat ataupun tetangga. Modal sosial petani lapisan atas tidak jauh berbeda dengan rumahtangga lapisan atas wilayah banjir karena jaringan yang dimiliki oleh rumahtangga yaitu jaringan pada kelompok tani serta rumahtangga lapisan atas memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kerabat dan teman, serta aktif daam berorganisasi
Modal Fisik
Modal fisik yang dimiliki petani lapisan bawah termasuk kategori tinggi. Wilayah yang tidak terendam setiap musim hujan membuat rumahtangga memiliki aset rumahtangga yang berharga seperti elektronik. Rumahtangga lapisan bawah mereka memiliki beberapa ternak. Sedangkan infrastruktur jalan menuju lokasi wilayah non banjir tersebut tidak seperti wilayah banjir.
Modal fisik rumahtangga lapisan menengah bernilai sedang layaknya rumahtangga lapisan bawah. Rumahtangga juga memiliki beberapa ternak. Rumahtangga lapisan menengah memiliki barang elektronik dan kendaraan beroda dua.
Modal fisik rumahtangga lapisan atas bernilai tinggi seperti lapisan bawah dan menengah. Pendapatan rumahtangga lapisan atas tinggi, sebanding dengan apa yang mereka punya seperti kendaraan beroda dua yang berjumlah lebih dari satu ataupun kendaraan beroda empat serta beberapa ternak.
. .
Modal Finansial
Modal finansial rumahtangga lapisan bawah di wilayah tidak banjir bernilai rendah. Hal ini disebabkan masyarakat masih tidak memprioritaskan menabung berupa uang. Selain itu, sama seperti rumahtangga di wilayah banjir, rumahtangga lapisan bawah di wilayah tidak banjir. Rumahtanggalapisan bawah juga memiliki jumlah pengeluaran yang besar daripada jumlahtabungan namun memiliki pendapatan cukup tinggi. Modal finansial rumahtangga lapisan menengah di wilayah tidak banjir bernilai rendah. Hal ini disebabkan masyarakat masih tidak memprioritaskan menabung berupa uang. Selain itu, sama seperti rumahtangga di wilayah banjir, rumahtangga lapisan menengah di wilayah tidak banjir serta memiliki banyak cicilan dibandingkan rumahtangga lapisan bawah. Modal finansial rumahtangga lapisan atas di wilayah tidak banjir bernilai rendah. rumahtangga tidak memiliki tabungan berupa yang disimpan di rumah maupun di bank swasta. Rumahtangga juga memiliki cicilan yang banyak sehingga mengakibatkan modal finansialnya menjadi rendah.
Analisis Modal Nafkah Di Kedua Wilayah
Basis nafkah rumahtangga menunjukan modal paling dibutuhkan dan dimanfaatkan rumahtangga dalam melakukan aktivitas nafkah. Rumahtangga di wilayah banjir dan non banjir memiliki modal nafkah yang berbeda. Perbedaan ini akan mempengaruhi ketahanan rumahtangga ketika terjadi krisis. Krisis tersebut dapat dilihat ketika banjir tiba dan mengakibatkan gagal panen akibat limbah yang
Modal Alam Modal Manusia Modal Fisik Modal Finansial
Modal Sosial Modal Nafkah DI
Wilayah Non Banjir Modal Nafkah Di Wilayah Banjir
dihasilkan. Modal nafkah rumahtangga di dua dusun di Desa Karangligar pada tahun 2014 – 2015 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 16. Basis modal nafkah rumahtangga di Desa Karangligar, tahun 2014 – 2015
Rumahtangga di wilayah banjir dan non banjir memiliki lima buah modal nafkah yang berbeda beda ketergantungannya antar modal. Modal sosial meiliputi tingkat kepercayaan, banyaknya jaringan yang dimiliki rumahtangga, dan banyaknya organisasi yang diikuti. Modal alam meliputi luas kepemilikan sawah dan luas penguasaan sawah. Modal manusia dalam penelitian ini mencakup tingkat keterampilan, tingkat pendidikan, dan banyaknya anggota keluarga yang produktif. Modal fisik dalam penelitian ini mencakup sarana dan prasarana yang mendukung non-pertanian serta sarana dan prasarana yang mendukung pertanian. Terakhir, modal finansial mencakup tingkat pendapatan serta banyaknya tabungan yang dimiliki rumahtangga. Masing- masing ketergantungan pada modal tersebut akan mempengaruhi basis dari modal nafkah tiap rumahtangga. Berikut penjabaran dari masing-masing modal nafkah rumahtangga di dua komunitas yaitu banjir dan non-banjir.
Rumahtangga di wilayah banjir memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap modal fisik sama dengan modal fisik yang dimiliki oleh wilayah non banjir. Hal ini disebabkan bahwa kepemilikan sarana dan prasarana dari kedua belah pihak terhitung tinggi. Sarana seperti kendaraan dan beberapa barang eletronik memang dimiliki sedikit dibandingkan kedua lapisan oleh rumahtangga lapisan bawah, namun seperti ternak, alat-alat pertanian yang tradisional, rumahtangga pertanian memilikinya sebagai modal, namun untuk lapisan menengah dan atas kepelimikan kendaraan untuk menopang serta kepemilikan ternak yang berjumlah lebih banyak juga dimiliki oleh rumahtangga lapisan menengah dan lapisan atas. Basis modal fisik wilayah banjir juga sama seperti basis modal fisik di non- banjir. Dimana lapisan bawah lebih cenderung memiliki kepemilikan sarana dan prasaran pertanian jauh lebih sedikit, seperti kendaraan untuk pertanian dan ternak tidak banyak dimiliki oleh rumahtangga lapisan
bawah. Rumahtangga lapisan menengah dan atas memiliki modal fisik yang tinggi dimana ternak yang siap dijual serta memiliki tabungan berupa emas.
Rumahtangga di wilayah banjir memiliki ketergantungan yang rendah terhadap modal finansial sama dengan modal finansial yang dimiliki oleh wilayah non banjir. Hal ini disebabkan bahwa kepemilikan tabungan berupa cashyang rendah yang dimilliki oleh lapisan bawah maupun menengah, serta dalam lapisan menengah dan keatas memiliki cicilan untuk kendaraan bermotor. Pada lapisan atas memiliki jumlah cicilan yang lebih banyak akibat lebih banyak memiliki kendaraan bermotor. Seperti lapisan bawah juga seperti di wilayah banjir, lapisan bawah di wilayah non- banjir juga memiliki basis modal finansial yang memiliki kepemilikan tabungan cash rendah. Untuk lapisan menengah dan atas sama seperti dengan wilayah banjir.
Rumahtangga di Desa Karangligar memiliki tingkat ketergantungan modal alam yang berbeda antara wilayah banjir dan non- banjir. Dimana pada wilayah banjir kepemilikan lahan sawah serta penguasaannya jauh lebih tinggi di banding wilayah non banjir. Ketergantungan yang tinggi dari wilayah banjir akibat lahan di wilayah non banjir masih dimiliki oleh rumahtangga berbeda dengan lahan yang berada di daerah non bajir merupakan lahan yang tidak dimiliki oleh