• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan (amandemen) kedua UUD 1945, pada Pasal 18 ayat (2) dengan tegas dinyatakan bahwa pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Sedang pada ayat (5)-nya dinyatakan bahwa pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat.

Berdasarkan pada ketentuan tersebut di atas berarti ada paradigma baru yang diletakkan oleh UUD 1945 setelah dilakukan perubahan terkait kewenangan pemerintahan daerah, yaitu:

a. pemerintahan daerah disusun dan dijalankan berdasarkan prinsip (asas) otonomi dan tugas pembantuan;

b. pemerintahan daerah disusun dan dijalankan berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya;

c. pemerintah daerah memiliki kewenangan mengatur dan mengurus semua urusan pemerintahan (administratief regelen en bestuur) di daerah, kecuali oleh atau berdasarkan ketentuan undang-undang ditentukan sebagai urusan (kewenangan) pemerintah pusat.

Dalam rangka menjalankan urusan-urusan tersebut di atas, berdasarkan Pasal 18 ayat (6) UUD 1945: “Pemerintah daerah berhak (baca: berwenang) menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”.

53 Peraturan daerah yang dimaksud di sini adalah peraturan daerah provinsi dan peraturan daerah kabupaten/kota (Pasal 1 butir 10 UU Pemda No. 32/ 2004).

Selanjutnya, ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah terkait dengan peraturan daerah (dan peraturan kepala daerah) diatur dalam Pasal-pasal 136-149 UU Pemda No. 32/2004. Sedangkan asas-asas dan ketentuan tentang pembentukan peraturan daerah mengacu pada UU No. 10/2004 serta peraturan perundang-undangan lain terkait dengan pedoman dan petunjuk teknis pembuatan peraturan daerah.

Pasal 136 ayat (1) UU Pemda No. 32/2004 menegaskan bahwa peraturan daerah (atau dapat disingkat Perda) ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. Hal ini berarti bahwa pejabat atau lembaga yang berwenang menetapkan Perda adalah kepala daerah, meskipun demikian penetapan Rancangan Perda (Raperda) menjadi Perda baru bisa dilakukan oleh kepala daerah apabila sebelumnya telah ada persetujuan bersama dengan DPRD. Dengan demikian, berarti lembaga legislasi daerah yang berwenang membentuk Perda adalah Kepala Daerah dan DPRD secara bersama-sama. Ketentuan Pasal 136 ayat (1) tersebut di atas terkait dan sejalan dengan ketentuan Pasal 25 (khususnya huruf c.) yang mengatur tugas dan wewenang kepala daerah serta ketentuan Pasal 42 (khususnya huruf b.) yang mengatur tentang tugas dan wewenang DPRD.

Pasal 25 UU Pemda No. 32/2004 menentukan bahwa Kepala Daerah mempunyai tugas dan wewenang:

a. memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD;

b. mengajukan rancangan Perda;

54 d. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk

dibahas dan ditetapkan bersama;

e. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah;

f. mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan dan menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

g. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan, mengenai tugas dan wewenang DPRD menurut Pasal 42 ayat (1) UU Pemda No. 32/2004 adalah sebagai berikut:

a. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama;

b. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah;

c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, ABPD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah; d. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah

kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota;

e. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah;

f. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah;

55 g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama internasional yang dilakukan oleh

pemerintah daerah;

h. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah;

i. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah;

j. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah;

k. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama antar daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah.

Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 42 ayat (2) UU Pemda No. 32/2004). Khusus mengenai tugas dan wewenang DPRD, diatur lebih lanjut dengan Keputusan DPRD tentang Peraturan Tata Tertib DPRD, yang isinya hanya mengambilalih ketentuan-ketentuan yang sudah diatur pada Pasal 42 UU Pemda No. 32/2004 tersebut di atas.

Selanjutnya, Pasal 136 ayat (2) UU Pemda No. 32/2004 menentukan bahwa Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah provinsi/kabupaten/ kota dan tugas pembantuan. Sedang, ayat (3)-nya menentukan, Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah.

Sebagai contoh, menurut Pasal 11 ayat (2) Keputusan DPRD Kota Probolinggo Nomor 12 Tahun 2004 tentang Peraturan Tata Tertib DPRD Kota Probolinggo: “DPRD sebagai unsur lembaga pemerintahan daerah memiliki tanggungjawab yang sama dengan

56 Pemerintah Daerah dalam membentuk Peraturan Daerah untuk kesejahteraan rakyat”. Jadi, tujuan membentuk Perda menurut ketentuan tersebut adalah sebagai instrumen hukum untuk menciptakan suatu masyarakat yang sejahtera. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka materi muatan yang dirumuskan dalam suatu Perda harus sejalan dan tidak bertentangan dengan tujuan pembentukan Perda, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah yang bersangkutan secara keseluruhan, bukan terbatas pada kelompok atau golongan masyarakat tertentu dan bukan pula terbatas pada para pejabat di daerah.

Ketentuan tentang materi muatan Perda yang terdapat pada Pasal 136 ayat (2) dan (3) tersebut, juga diatur pada Pasal 12 UU No. 10/2004. Materi muatan Perda ini pada hakikatnya merupakan amanat dan penjabaran lebih lanjut ketentuan Pasal 18 ayat (2) dan (5) UUD 1945 yang memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah provinsi dan kabupaten/kota.

Dengan demikian berarti, wewenang pemerintahan daerah membentuk Perda dalam rangka melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan bukanlah wewenang delegasi (limpahan) dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah, melainkan merupakan

wewenang atribusi, yaitu wewenang mandiri yang langsung diberikan oleh UUD 1945 atau

undang-undang untuk membentuk Perda atas kekuasaan dan tanggungjawab sendiri (Bagir Manan dan Kuntata Magnar, 1997:210).

Tentang materi muatan Perda, Pasal 12 UU No. 10/2004 menentukan bahwa: “Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi”. Materi muatan

57 peraturan perundang-undangan lainnya, selain Undang-undang/ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden (sekarang harus dibaca: Peraturan Presiden), dalam hal ini termasuk Perda, menurut Maria Farida Indrati Soeprapto (1998:132) merupakan materi muatan yang bersifat atribusian dan delegasian dari materi muatan undang-undang dan keputusan presiden, karena peraturan perundang-undangan lainnya merupakan peraturan pelaksanaan undang-undang dan keputusan presiden.

Berdasarkan ketentuan Pasal 12 UU No. 10/2004 tersebut di atas, materi muatan Perda meliputi:

a. seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b. materi muatan yang mengatur kondisi khusus daerah atau daerah otonom;

c. materi muatan yang merupakan penjabaran lebih lanjut atau delegasi wewenang dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Persoalannya adalah hal-hal apa saja yang merupakan wewenang daerah sebagai daerah otonom, sehingga pemerintahan daerah berwenang mengaturnya dalam suatu Perda? Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 secara tegas menentukan bahwa: ”Pemerintahan daerah menjalankan otonomi yang seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat”. Ketentuan yang mengatur mengenai pembagian urusan pemerintahan itu adalah UU Pemda No.32/2004.

Ketentuan yang terdapat pada Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 tersebut kemudian dijabarkan pada pasal 10 UU Pemda No. 32/2004 yang menentukan:

58 (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ini ditentukan menjadi urusan pemerintah;

(2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan;

(3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. politik luar negeri; b. pertahanan; c. keamanan;

d. yustisi (peradilan);

e. moneter dan fiskal nasional; dan f. agama.

(4) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa.

(5) Dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemerintah dapat:

59 b. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil

pemerintah; atau

c. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan.

Berdasarkan ketentuan yang terdapat pada Pasal 18 UUD 1945 dan Pasal 10 UU Pemda No. 32/2004 tersebut di atas berarti bahwa dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dalam perundang-undangan di Indonesia menganut pola otonomi luas (general competences).

Dalam hal pembagian (distribusi) kewenangan antara pemerintah pusat (central

government) dengan pemerintah daerah (local government) secara universal dikenal dua

pola besar, yaitu: pertama, pola otonomi luas (general competences) dan kedua, pola otonomi terbatas (limited competences; ultra vires). Dalam otonomi luas dirumuskan bahwa urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah (pusat) bersifat limitatif dan sisanya (urusan residu) menjadi kewenangan pemerintah daerah. Sebaliknya, dalam pola otonomi terbatas, urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah ditentukan secara limitatif dan sisanya merupakan urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat (Oentarto Sindung Mawardi., 2004:21).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, secara a contrario dapat ditafsirkan bahwa semua urusan pemerintahan merupakan kewenangan pemerintahan daerah, kecuali berdasarkan undang-undang secara tegas ditentukan bahwa urusan-urusan tersebut merupakan kewenangan pemerintahan pusat. Sedangkan, urusan-ururan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat secara limitatif sudah ditentukan berdasarkan Pasal 10 ayat (3) UU Pemda No. 32/2004. Dengan demikian, semua urusan yang bukan merupakan

60 kewenangan pemerintah pusat pada dasarnya merupakan urusan yang dapat dijadikan materi muatan Perda, karena merupakan kewenangan pemerintahan daerah.

Persoalannya adalah urusan-urusan apa saja yang menjadi wewenang pemerintahan daerah dan apa kriteria pembagian penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut?

Pasal 11 ayat (1) UU Pemda No. 32/2004 menegaskan bahwa: “Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan”. Dalam penjelasan pasal tersebut dikatakan bahwa yang dimaksud kriteria eksternalitas dalam ketentuan ini adalah penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas, besaran, dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. Kriteria akuntabilitas berarti penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas, besaran, da jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. Sedang, kriteria efisiensi berarti penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh.

Selanjutnya mengenai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah, yang diselenggarakan berdasarkan tiga kriteria tersebut di atas, menurut Pasal 11 ayat (3) dan (4) UU Pemda No. 32/2004 terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Penyelengaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh pemerintah.

Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah dilihat dari

61 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan

urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;

b. perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang;

c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat; d. penyediaan sarana dan prasarana umum;

e. penanganan bidang kesehatan;

f. penyelengaraan bidang pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial; g. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;

h. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;

i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota;

j. pengendalian lingkungan hidup;

k. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota; l. pelayanan kependudukan dan catatan sipil;

m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;

n. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;

o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota; dan

p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan (Pasal 13 ayat (1) UU Pemda No. 32/2004).

(2) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi:

62 a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;

b. perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang;

c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat; d. penyediaan sarana dan prasarana umum;

e. penanganan bidang kesehatan; f. penyelengaraan bidang pendidikan; g. penanggulangan masalah sosial; h. pelayanan bidang ketenagakerjaan;

i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah; j. pengendalian lingkungan hidup;

k. pelayanan pertanahan;

l. pelayanan kependudukan dan catatan sipil; m. pelayanan administrasi umum pemerintahan; n. pelayanan administrasi penanaman modal; o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan

p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan (Pasal 14 ayat (1) UU Pemda No. 32/2004).

Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah, menurut Pasal 12 ayat (1) UU Pemda No. 32/2004, disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan. Sedangkan urusan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur, menurut Pasal 12 ayat (2) disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang didekonsentrasikan.

63

Urusan pilihan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah dilihat dari

tingkatannya juga dibagi menjadi dua, yaitu:

(1) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan;

(2) Urusan pemerintahan kabupatan/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.

Berdasarkan uraian di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah merupakan urusan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hak-hak dan pelayanan dasar warga negara, yang pada hakikatnya merupakan urusan-urusan yang terkait dengan:

a. perlindungan hak-hak konstitusional warga negara;

b. perlindungan kepentingan nasional, kesejahteraan masyarakat (social welfare), ketenteraman dan ketertiban umum dalam kerangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan

c. pemenuhan komitmen nasional yang berhubungan dengan perjanjian dan konvensi internasional.

Oleh karena urusan wajib menyangkut urusan yang sangat fundamental maka urusan wajib menurut undang-undang sifatnya sama dan berlaku untuk seluruh daerah di wilayah Indonesia. Ini berbeda dengan urusan pilihan. Urusan pilihan hanya menyangkut urusan

64 yang secara riil (nyata) ada di daerah dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah masing-masing.

Terkait dengan urusan pilihan ini, masing-masing pemerintahan daerah memiliki kewenangan yang tidak selalu sama dengan daerah lain. Di suatu daerah kabupaten/kota yang tidak memiliki areal hutan misalnya, tentu saja tidak memiliki kewenangan membuat suatu Perda yang substansinya mengatur urusan kehutanan. Begitu pula, suatu daerah kabupaten/kota yang tidak memiliki wilayah laut misalnya, tentu tidak berwenang membuat Perda yang materi muatannya mengatur masalah lautan. Sebab, bagaimana mungkin suatu Perda bisa ditetapkan dan disahkan, apalagi dilaksanakan secara efektif kalau ternyata materi muatannya tidak mengatur hal-hal yang konkrit (kondisi riil) di masyarakat? Perda yang demikian itu bukan hanya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara sosiologis, tetapi juga secara yuridis dan filosofis (moral) cacat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini berarti prinsip otonomi yang dianut oleh undang-undang kita bukan hanya berdasarkan pola otonomi luas, tetapi juga otonomi riil (nyata) dan bertanggungjawab.

Di samping urusan wajib dan urusan pilihan sebagaimana tersebut di atas, dalam menyelenggarakan otonomi, menurut Pasal 21 UU Pemda No. 32/2004, daerah mempunyai hak (baca: wewenang):

a. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya; b. memilih pimpinan daerah;

c. mengelola aparatur daerah; d. mengelola kekayaan daerah;

65 f. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya

yang berada di daerah;

g. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan

h. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Di samping mempunyai hak (wewenang), dalam menyelenggarakan otonomi, menurut Pasal 22 UU Pemda No. 32/2004, daerah mempunyai kewajiban:

a. melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat; c. mengembangkan kehidupan demokrasi; d. mewujudkan keadilan dan pemerataan; e. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan; f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan;

g. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak; h. mengembangkan sistem jaminan sosial;

i. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah; j. mengembangkan sumber daya produktif di daerah; k. melestarikan lingkungan hidup;

l. mengelola administrasi kependudukan; m. melestarikan nilai sosial budaya;

n. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan

66 Berdasarkan uraian di atas menurut hemat saya, materi muatan Perda adalah paralel dengan kewenangan pemerintahan daerah sebagaimana ditentukan oleh undang-undang. Dengan demikian, semua urusan pemerintahan yang oleh undang-undang dinyatakan sebagai wewenang pemerintahan daerah, baik urusan wajib maupun urusan pilihan, baik menyangkut hak (wewenang) maupun kewajiban daerah, maka semua urusan, wewenang dan kewajiban daerah tersebut merupakan hal-hal yang dapat dijadikan sebagai materi muatan Perda. Dengan perkataan lain, semua urusan yang menjadi wewenang pemerintahan daerah pada hakikatnya merupakan materi muatan Perda dalam rangka menyelenggarakan otonomi daerah dan tugas pembantuan, sepanjang hal-hal itu tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum.

Hal tersebut di atas juga dapat disimpulkan bahwa materi muatan Perda harus sesuai dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat”, yaitu kewenangan dari lembaga/organ yang membentuk Perda dan asas “kesesuaian antara jenis dan materi muatan” Perda berdasarkan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik (beginselen van behoorlijke wetgeving) sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 UU No. 10/2004. Karena itulah dalam pembentukan suatu Perda, di samping harus memperhatikan materi muatan yang merupakan wewenang pemerintahan daerah melainkan juga harus memperhatikan asas-asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 UU No. 10/2004 serta prosedur pembentukan Perda menurut Peraturan Tata Tertib DPRD di masing-masing daerah provinsi atau kabupaten/kota.

67 Akhirnya, supaya Perda dapat dipaksakan berlakunya, menurut pasal 143 UU Pemda No. 32/2004, Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perda juga dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

68 BAB V

Dokumen terkait