BAB I PENDAHULUAN
C. Batas Usia Minimal Kawin Dalam Hukum Islam dan
1. Ketentuan Batas Usia Minimum untuk Menikah dalam Hukum Islam
Islam dalam hal ini al-Qur‟an dan Hadis tidak menentukan batas minimal
umur untuk kawin6. Para ulama mazhab pda umumnya dahulu membolehkan seorang
bapak sebagai „wali mujbir‟ mengawinkan anaknya lelaki/wanita yang gadis dan
masih dibawah umur tanpa harus meminta persetujuan anaknya terlebih dahulu, dengan alasan bahwa Nabi Muhammad mengawini Aisyah r.a pada waktu usia 7 dan mulai berumah tangga pada usia 9. Peristiwa ini yang terjadi lebih kurang 14 abad yang lalu dan tidak ada keterangan yang otentik dari Nabi bahwa perkawinannya dengan Aisyah itu termasuk tindakan yang khusus untuk Nabi, maka fakta/kejadian
6
Masjfuk Zuhdi, Studi Islam jilid 3: Muamalah, (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 1993), Cet. Ke-2, h. 32
tersebut lalu dijadikan dalil oleh para Ulama mazhab tentang boleh dan sahnya perkawinan anak-anak.
Rasulullah pun menganjurkan umatnya terutama bagi para pemuda untuk segera kawin apabila segala sesuatunya sudah memungkinkan. Dan berpuasa menjadi solusi bagi para pemuda yang belum mampu untuk kawin. Sebagaimana dalam sabdanya:
ر دوعسم نب هادبع نع
ىض
اَيُُ : ملس و هيلع ها ىلص ها لوسر انل لاق : لاق هنع ها
َو ,ِجْرَفْلِل ُنَصْحَأَو ,ِرَصَبْلِل ضَغَأ ُهنِإَف ,ْجّوَزَ تيْلَ ف َةَءاَبْلا ُمُكْنِم َعاَطَتْسا ِنَم ,باَبشلا َرَشْعَم
ْنَم
ََْ
ٌََءاَجِو ُهَل ُهنِإَف ,ِمْوصلاِب ِهْيَلَعَ ف ْعِطَتْسَي
7.
Artinya: “Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah mampu mengongkosi
perkawinan di antara kalian, maka segeralah kawin! Karena dengan kawin itu akan menjaga kehormatan dan pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu (kawin), hendaklah ia berpuasa, karena dengan puasa dapat menekan hawa nafsu.”
Apabila kita perhatikan hadis Nabi di atas, maka kita tidak menemui pernyataan Nabi tentang batasan umur, tetapi yang ditekankan adalah masalah ongkos kawin (membiayai rumah tangga), dan kesiapannya termasuk fisik maupun
mentalnya8.
Nasroen Harun menyatakan dalam bukunya, bahwasanya seorang manusia belum dikenakan taklif (pembebanan hukum) sebelum ia cakap untuk bertindak hukum. Dan kemampuan untuk memahami taklif tersebut hanya bisa dicapai melalui akal manusia, akan tetapi, karena akal adalah sesuatu yang abstrak dan sulit di ukur,
7
Ibnu Hajar Al-Asqolani, Bulughul Maram Jam’I Adillatil Ahkam, (Kairo: Darul Hadis, 2003), h. 168
8
44
serta berbeda antara seseorang dengan yang lainnya, maka syara‟ menentukan
patokan dasar sebagai indikasi yang konkrit (jelas) dalam menentukan seseorang telah berakal atau belum. Indikasi itu adalah balighnya seseorang. Penentu seseorang telah baligh itu ditandai dengan keluarnya haid pertama kali bagi wanita dan
keluarnya mani bagi pria melalui mimpi yang pertama kali9. Sesuai dengan firman
Allah dalam surat al-Nur, 59:
َُِِ بُ ي َكِلَذَك ْمِهِلْبَ ق ْنِم َنيِذلا َنَذْأَتْسا اَمَك اوُنِذْأَتْسَيْلَ ف َمُلُْْا ُمُكْنِم ُلاَفْطأا َغَلَ ب اَذِإَو
ْمُكَل ُهللا
ٌميِكَح ٌميِلَع ُهللاَو ِهِتاَيآ
Artinya: "Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka
hendaklah mereka meminta ijin, seperti orang-orang yang sebelum mereka (yang sudah balig), meminta ijin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana."
Didalam Ushul Fiqh, seseorang dikatakan cakap bertindak hukum atau ahli
untuk menduduki/menangani suatu jabatan/posisi/urusan disebut dengan ahliyyah10.
Ahliyyah adalah sifat yang menunjukkan seseorang itu telah sempurna jasmani dan akhlaknya, maka ia di anggap telah sah melakukan suatu tindakan hukum, seperti transaksi yang bersifat pemindahan hak milik kepada orang lain, atau transaksi yang bersifat menerima hak dari orang lain, dan telah cakap menerima tanggung jawab, seperti nikah, nafkah dan menjadi saksi.
Dalam kitab-kitab hukum keluarga lama, disebutkan bahwa pria dapat melangsungkan perkawinannya kalau telah mimpi dan wanita juga telah menstruasi.
9
Nasrun Haroen, Ushul Fiqh 1,( Jakarta: Logos, 1996), Cet Ke-1, h. 306 10
Mimpi dan menstruasi adalah tanda bahwa baik pria maupun wanita telah dewasa atau akil baligh. Bila mimpi dan menstruasi datang tergantung pada kondisi (alam) dan situasi di suatu tempat dan masyarakat tertentu. Pada umumnya pada usia 13 atau 14 tahun. Kini keluarga dalam masyarakat kontemporer menentukan batas umur untuk dapat melangsungkan perkawinan, disandarkan pada kondisi Negara
masing-masing11.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat para ahli, sebagai berikut :
Saat paling ideal dalam menikah adalah saat dimana kedewasaan biologis telah merekah bersamaan dengan kedewasaan psikologis, dimana kedewasaan
biologis di ukur dengan „baligh‟ dan kedewasaan psikologis di ukur dengan tanggung
jawabnya, mereka yang sudah memenuhi ukuran itu, sesungguhnya sudah wajib
menikah12.
Terdapat perbedaan besar dalam soal umur dikalangan kelompok masyarakat yang berbeda-beda pula. Para tamatan perguruan tinggi dan orang-orang yang terjun dalam dunia professional biasanya kawin lebih kasip dibandingkan dengan golongan lainnya dalam masyarakat. Akan tetapi kini banyak mahasiswa perguruan tinggi
11
Moh. Daud Ali, h. 96 12
46
kawin sebelum mereka meraih gelar sarjana13. Tidak ada satu usia pun yang dapat
kita tetapkan sebagai patokan yang cocok bagi semua orang untuk dipertimbangkan. Muncul tanggapan dari seorang psikolog yang cenderung mendukung pelaksanaan perkawinan dibawah umur. Ia mengatakan bahwa faktor kesiapan mental untuk menikah bukan ditentukan dengan usia. Lagi pula pernikahan bukan penghambat dan penghalang untuk mencapai prestasi dalam pendidikan. Bahkan dengan menikah di usia bawah umur akan mempercepat proses aktualisasi diri
seseorang14.
2. Batas Usia Perkawinan Menurut Hukum Positif
Pada umumnya Negara-negara di dunia ini mempunyai Undang-undang Perkawinan yang menetapkan batas umur minimal untuk kawin bagi warga negaranya. Indonesia dengan Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 Pasal 7
(1) menetapkan bahwa : “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun”.
Pasal 7 (1) ini erat sekali hubungannya dengan Pasal 6 (2) yang menerangkan
bahwa : “Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21
harus mendapat izin kedua orang tua”.
Dan sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam mengatur tentang dispensasi
perkawinan dalam Pasal 15 ayat (1) dan (2); “Untuk kemaslahatan keluarga dan
13
Penerjemah Wimanjaya K. Liotohe, R.T Sirait, Before You Marry-Question to ask and answer, Di Ambang Pernikahan, (Jakarta: Penerbit Mitra Utama, 1993), h. 65
14
Syahrul Anam, dkk, Kado Untuk Sang Tunangan ‘Risalah Nikah Untuk Remaja’, (Bata-bata: M2KD PP. Mambaul Ulum, 2010), h. 136
rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang telah ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri
sekurang-kurangnya berumur 16 tahun.”
Sebelum pemberlakuan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, KUH Perdata telah memberikan gambaran tentang batasan usia minimal
perkawinan, ditegaskan “Seorang jejaka yang belum mencapai umur genap delapan
belas tahun, sepertipun seorang gadis yang belum mencapai umur genap lima belas tahun, tak diperbolehkan mengikat dirinya dalam perkawinan. Sementara itu, dalam hal adanya alasan-alasan yang penting, Presiden berkuasa meniadakan larangan ini
dengan memberikan dispensasi.” (pasal 29 BW)15
.
Di Indonesia praktek manipulasi umur untuk dapat menyegerakan perkawinan dibawah umur masih banyak terjadi, baik dilakukan oleh petugas kelurahan maupun
oleh pihak keluarga pengantin16.
Meskipun telah ditentukan batas umur minimal, undang-undang perkawinan tetap memperbolehkan penyimpangan terhadap syarat umum tersebut, melalui pasal 7
ayat (2) yang berbunyi; “Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat
15
Sudarsono, Hukum Kekeluargaan Nasional Cetakan Pertama, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1991), h. 7
16
48
meminta dispensasi kepada Pengadilan dan Pejabat lain, yang ditunjuk oleh kedua
orang tua pihak pria maupun pihak wanita.17”