OPPORTUNITIES (O) Tentukan faktor peluang
3.4. Defenisi dan Batasan Operasional
3.4.2. Batasan Operasional
1. Tempat daerah penelitian adalah desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.
2. Sampel penelitian ini adalah petani yang mengusahakan tanaman kopi Arabika di desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.
3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian
Pemilihan daerah penelitian dilakukan secara metode purposive yakni dengan pertimbangan tertentu (sengaja). Kabupaten Samosir dipilih dengan pertimbangan bahwa kabupaten Samosir merupakan salah satu sentra produksi kopi di Sumatera Utara seperti diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 6. Luas Tanaman, Produksi dan Produktivitas kopi Sumatera Utara tahun 2011
Kabupaten Luas Tanaman produktif (ha) Produksi (ton) Produktivitas(ton/ha) Mandailing Natal 956,73 1.142,77 1,19 Tapanuli Utara 9.512,75 10.142,39 1,06 Toba Samosir 1.897,34 2.480,96 1,30 Simalungun 5.655,64 8.487,45 1,50 Dairi 7.936,50 10.131,80 1,27 Karo 5.040,00 5.841,68 1,10 Deli Serdang 531,20 530,38 0.99 Humbang Hasudutan 7.174,50 5.815,65 0.81 Pakpak Barat 1.158,00 1.146,50 0.99 Samosir 2.580,05 2.630,46 1,01 Total 41.904,71 48.350,04 Rata-rata 4.190,471 4.835,004 1,12
Sumber : Sumatera Utara dalam Angka 2012
Dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Samosir, maka kecamatan Sitio-tio dipilih sebagai daerah penelitian dengan pertimbangan bahwa kecamatan ini merupakan kecamatan yang memiliki produktivitas tertinggi diantara kecamatan yang ada sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 7. Luas Tanaman Produktif, Produksi dan Produktivitas kopi Arabika kabupaten Samosir tahun 2011
Kecamatan Luas Tanaman Produktif (ha) Produksi (ton) Produktivitas(ton/ha) Sianjur Mulamula 218,50 262,07 1,19 Harian 98,80 104,49 1,05 Sitio-tio 82,10 108,96 1,32 OnanRunggu 166,50 168,65 1,01 Nainggolan 130,10 133,62 1,02 Palipi 295,60 281,30 0,95 Ronggurnihuta 821,00 900,09 1.09 Pangururan 390,50 383,78 0,98 Simanindo 195,30 199,72 1,02 Total 2388,40 2542,68 9,53
Sumber: Samosir dalam Angka 2012
Desa Tamba Dolok dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa desa ini merupakan desa yang memiliki luas tanaman kopi yang paling luas diantara desa yang ada sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 8. Luas tanaman, Produksi dan Produktivitas Kopi Arabika Kecamatan Sitio-tio tahun 2011
Desa Luas tanaman (ha) Produksi
(ton) Produktivitas(ton/ha) Tamba Dolok 66,7 158 2,36 Cinta Maju 40 125,5 3,13 Buntu Mauli 17,5 53 3,02 Sabulan 30,35 62,5 2,05 Holbung 30 70 2,33 Janji Raja 31 65 2,09 Janji Maria - - - Parsaoran - - - Total 215,55 376 14,98
Sumber :Sitio-tio dalam Angka 2012
3.2. Metode Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani kopi Arabika di desa Tamba Dolok. Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti dan
dianggap dapat mewaliki populasi. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode Slovin. Menurut Slovin dalam pengantar Metode Penelitian (Sevilla, 1993), besarnya sampel dapat ditentukan dengan rumus:
n = N 1+Nd2 Dimana: n = ukuran sampel N = ukuran populasi d = galat penduga (10 %)
Jumlah populasi petani kopi arabika di daerah penelitian adalah sebanyak 239 maka dengan menggunakan rumus Slovin besar sampel penelitian diperoleh sebagai berikut: n = N 1+Nd2 n = 239 1+239 (0,1)2 n = 70
Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 orang petani kopi.
2.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil wawancara peneliti langsung dengan responden yang menjadi sampel dengan daftar kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari BPS, Kabupaten Samosir,
Dinas Perkebunan Kabupaten Samosir, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, PPL, Kepala Desa, literatur, buku, dan media internet yang sesuai dengan penelitian ini.
3.3. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu ditabulasi secara sederhana dan selanjutnya dianalisis dengan metode analisis yang sesuai.
Untuk tujuan (1) digunakan analisis deskriptif dengan cara menggambarkan dan menjelaskan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) usahatani kopi Arabika di daerah penelitian.
Untuk tujuan (2) digunakan metode analisis SWOT pada usahatani kopi Arabika didaerah penelitian untuk menentukan strategi pengembangan usahatani. Sesuai dengan teori yang dikemukakan alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis adalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik ini menghasilkan empat sel kemungkinann alternative strategis, seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini IFAS
EFAS
STRENGTH (S)
Tentukan faktor kekuatan internal
WEAKNESSES (W) Tentukan faktor kelemahan internal
OPPORTUNITIES (O) Tentukan faktor peluang eksternal STRATEGI SO Strategi yang menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang STRATEGI WO Strategi yang meminimalkan kelemahan dan memanfaatkan peluang TREATHS (T)
Tentukan faktor ancaman eksternal
STRATEGI ST
Strategi yang
menggunakan kekuatan dan mengatasi ancaman
STRATEGI WT
Strategi yang
meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman
Sebelum melakukan analisis data seperti diatas maka terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan model matrik faktor strategi eksternal seperti di bawah ini.
Tabel 9. Keterangan Rating Menurut Kategori
Rating Kategori Faktor Internal Faktor Eksternal
4 Sangat Baik Kekuatan Peluang
3 Baik Kekuatan Peluang
2 Cukup Baik Kekuatan Peluang
1 Tidak Baik Kekuatan Peluang
4 Tidak Baik Kelemahan Ancaman
3 Cukup Baik Kelemahan Ancaman
2 Baik Kelemahan Ancaman
1 Sangat Baik Kelemahan Ancaman
Dari tabel diatas skor masing-masing faktor dapat dihitung dengan memberikan skala mulai dari 4 sampai dengan 1 berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi usahatani yang bersangkutan.
Pada faktor internal, skala 1 dan 2 menunjukkan kelemahan, skala 3 dan 4 menunjukkan kekuatan. Pada faktor eksternal, skala 1 dan 2 menunjukkan ancaman, sedangkan skala 3 dan 4 menunjukkan peluang.
Setiap faktor internal kekuatan dan faktor eksternal peluang diberi kategori sangat baik sampai tidak baik dan diberi rating mulai dari 4 untuk kategori sangat baik sampai 1 intuk kategori tidak baik dan untuk faktor internal kelemahan dan faktor eksternal ancaman diberi kategori sangat baik sampai tidak baik dan diberi rating mulai dari 1 untuk kategori sangat baik sampai 4 untuk kategori tidak baik yang selanjutnya di perlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 10. Faktor Strategi Faktor Strategi
Internal/Eksternal
Rating Bobot Scoring
(Rating x Bobot) Kekuatan/peluang
1. 2. 3.
Total bobot kekuatan/peluang 100
Kekuatan/Ancaman 1.
2. 3.
Total Bobot Kelemahan/ancaman 100
Selisih kekuatan-kelemahan/peluang-ancaman Sumber: David (2006)
Berdasarkan tabel diatas, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor strateginya adalah menentukan faktor yang menjadi kelemahan-kekuatan serta peluang-ancaman dalam kolom 1, lalu diberi bobot masing-masing faktor tersebut yang jumlahnya tidak boleh melebihi total pada kolom 3. Secara matematis penentuan bobot dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Bobot= Rating x total bobot Total rating
Kemudian peringkatkan setiap faktor dari 4 (sangat baik) sampai 1 (tidak baik) dalam kolom 3 berdasarkan respon pedagan terhadap faktor itu.Kemudian yang terakhir kalikan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan scoring dalam kolom 4. Setelah itu hasil analisis pada tabel matriks faktor strategi internal dan faktor strategi eksternal dipetakan pada matriks posisi.
3.4. Defenisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penafsiran penelitian ini, maka perlu dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut:
3.4.1. Defenisi
1. Petani kopi Arabika adalah petani yang memiliki lahan sendiri dan mengusahakan serta mendapat penghasilan dari usaha tani kopi Arabika.
2. Usahatani adalah suatu kegiatan yang dilakukan petani mulai dari memproduksi biji kopi Arabika hingga dipasarkan yang dilakukan oleh petani di desa Tamba Dolok.
3. Strategi pengembangan usahatani kopi Arabika adalah hal-hal yang dapat digunakan untuk meningkatkan usahatani kopi Arabikadi Desa Tamba Dolok. 4. Strengths adalah kekuatan-keuatan yang ditemukan dalam usaha tani kopi
Arabika di Desa Tamba Dolok.
5. Weaknesses adalah kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam usaha tani kopi Arabika di Desa Tamba Dolok.
6. Opportunities adalah berbagai peluang yang muncul dalam usaha tani kopi Arabika di Desa Tamba Dolok.
7. Threats adalah berbagai ancaman yang muncul dalam usaha tani kopi Arabika di Desa Tamba Dolok.
3.4.2. Batasan Operasional
1. Tempat daerah penelitian adalah desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.
2. Sampel penelitian ini adalah petani yang mengusahakan tanaman kopi Arabika di desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.