BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Definisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
1. Daerah penelitian dilakukan di beberapa desa di Kabupaten Deli Serdang.
2. Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang sekaligus menjabat sebagai ketua lembaga P3A.
3. Waktu penelitian dilakukan pada tahun 2016.
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian 4.1.1 Luas dan Letak Geografis
Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu kabupaten yang secara administratif berada di Provinsi Sumatera Utara. Ibukota kabupaten ini berada di Kecamatan Lubuk Pakam. Kabupaten Deli Serdang memiliki luas 2.497,72 km2 atau sekitar 3,34 % dari luas Sumatera Utara yang terdiri dari 22 kecamatan dan 394 desa/kelurahan.
Secara geografis, Kabupaten Deli Serdang berada pada 2057‟-30016‟ Lintang Utara dan 98033‟-99027‟ Bujur Timur dengan ketinggian 0-500 m diatas permukaan laut. Kabupaten Deli Serdang memiliki batas wilayah yaitu sebagai berikut:
- Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Kabupaten Langkat - Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Simalungun - Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Serdang Berdagai
- Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat
4.1.2 Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2015 tercatat berjumlah 2.029.308 jiwa. Jumlah penduduk Kabupaten Deli Serdang menurut 11 kecamatan dapat dilihat pada table dibawah ini:
Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut 11 Kecamatan Tahun 2015
No. Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)
1. Pagar Merbau 41.793
2. Galang 69.964
3. Hamparan Perak 170.065
4. Gunung Meriah 2.874
5. Tanjung Morawa 218.084
6. Percut Sei Tuan 436.003
7. Lubuk Pakam 91.981
8. Sibolangit 22.476
9. Namorambe 41.479
10. Beringin 59.537
11. Sunggal 276.263
Jumlah 1.430.519
Sumber: Deli Serdang Dalam Angka, 2016
Dari Tabel 7 diatas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Deli Serdang di 11 (sebelas) kecamatan adalah sebanyak 1.430.519 jiwa. Dimana jumlah penduduk tertinggi terdapat pada Kecamatan Percut Sei Tuan yaitu sebanyak 436.003 jiwa dan jumlah penduduk terendah terdapat pada Kecamatan Gunung Meriah yaitu sebanyak 2.874 jiwa.
4.1.3 Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana di 11 kecamatan di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 8. Sarana dan Prasarana Kabupaten Deli Serdang Menurut 11 Kecamatan Tahun 2015
No. Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit) 1. Sarana Ibadah
Mesjid dan Mushollah 1.150
Gereja 470
Kuil 8
Vihara 49
2. Sarana Kesehatan
Rumah Sakit 17
Rumah Bersalin 22
Puskesmas 22
Puskesmas Pembantu 71
Posyandu 962
Sumber: Deli Serdang Dalam Angka, 2016
Dari Tabel 8 diatas, dapat dilihat bahwa Kabupaten Deli Serdang memiliki sarana ibadah dan sarana kesehatan. Jumlah sarana ibadah yang dimiliki ialah sebanyak 1.677 unit, dimana diantaranya ialah 1.150 mesjid dan musholla, 470 gereja, 8 kuil, dan 49 vihara. Sementara jumlah sarana kesehatan yang dimiliki ialah sebanyak 1.094 unit, dimana diantaranya ialah 17 rumah sakit, 22 rumah bersalin, 22 puskesmas, 71 puskesmas pembantu, dan 962 posyandu.
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa sarana dan prasarana di Kabupaten Deli Serdang sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis sarana yang telah tersedia baik sarana ibadah maupun sarana kesehatan sudah cukup lengkap.
Di Kabupaten Deli Serdang ini juga terdapat luas lahan sawah irigasi dan non-irigasi. Luas lahan sawah irigasi dan non-irigasi di 11 kecamatan di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 9. Luas Lahan Sawah Menurut 11 Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2015
No. Kecamatan Irigasi (Ha) Non-Irigasi (Ha)
1. Pagar Merbau 2.163 8
2. Galang 1.040 18
3. Hamparan Perak 1.789 4.438
4. Gunung Meriah 474 10
5. Tanjung Morawa 2.028 481
6. Percut Sei Tuan 3.800 1.496
7. Lubuk Pakam 1.528 52
8. Sibolangit 650 -
9. Namorambe 697 189
10. Beringin 1.774 937
11. Sunggal 1.553 863
Jumlah 17.496 8.492
Sumber: Deli Serdang Dalam Angka, 2016
Dari Tabel 9 diatas, dapat dilihat bahwa lebih dari 50% lahan sawah Kabupaten Deli Serdang sudah memiliki irigasi, dimana luas lahan sawah beririgasi di 11 kecamatan di Kabupaten Deli Serdang adalah 17.496 ha dan luas lahan saawah non-irigasi adalah 8.492 ha. Lahan beririgasi terluas di kabupaten ini yaitu berada di Kecamatan Percut Sei Tuan dengan luas 3.800 ha dan terkecil yaitu berada di Kecamatan Gunung Meriah dengan luas 474 ha.
4.2 Karakteristik Sampel Penelitian 4.2.1 Karakteristik Lembaga Sampel
Penelitian ini mempunyai jumlah responden lembaga sebanyak 47 orang.
Lembaga responden merupakan ketua dari P3A di 11 kecamatan di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Karakteristik responden satu dengan yang lainnya tidak banyak berbeda.
Aktif atau tidaknya suatu lembaga didukung oleh banyak faktor diantaranya lamanya lemnaga tersebut dibentuk. Dari segi tahun dibentuknya lembaga P3A di Kabupaten Deli Serdang, masih tergolong dalam tahap pengembangan, karena
masih banyak dibeberapa kecamatan yang belum terbentuk lembaga P3A-nya.
Jadi belum bisa dipastikan kapan lembaga P3A tersebut resmi dibentuk. Untuk lebih jelasnya klasifikasi umur lembaga dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 10. Karakteristik Umur Lembaga
No. Umur Lembaga (Tahun) Jumlah Lembaga (Unit)
1. Belum dibentuk 4
2. < 5 2
3. 5 - 15 24
4. 16 - 25 13
5. 26 > 4
Jumlah 47
Sumber : Data Primer Diolah
Tabel 10 diatas menunjukkan tentang umur lembaga atau lamanya P3A terbentuk, dimana umur lembaga yang belum dibentuk adalah sebanyak 4 unit, kurang dari 5 tahun sebanyak 2 unit, diantara 5 sampai 15 tahun sebanyak 24 unit, diantara 16 sampai 25 tahun sebanyak 13 unit, dan lebih dari 26 tahun sebanyak 4 unit P3A.
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa P3A yang paling banyak adalah dengan umur 5-15 tahun yaitu sebanyak 24 unit P3A dan yang paling sedikit adalah kurang dari 5 tahun atau lima tahun kebawah yaitu sebanyak 2 unit P3A.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Bentuk Kelembagaan Irigasi
Menurut North, kelembagaan adalah aturan-aturan yang diciptakan oleh manusia untuk mengatur dan membentuk interaksi politik, sosial, dan ekonomi. Aturan-aturan tersebut terdiri dari Aturan-aturan-Aturan-aturan formal (misalnya: perAturan-aturan-perAturan-aturan, undang-undang, dan konstitusi) dan aturan-aturan informal (misalnya: norma sosial, konvensi, adat-istiadat, dan sistem nilai) serta proses penegakan aturan tersebut menentukan struktur insentif bagi masyarakat. Kelembagaan juga didefinikan sebagai suatu jaringan yang terdiri dari sejumlah orang atau sekelompok orang yang memiliki tujuan tertentu sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku serta memiliki struktur yang tegas dalam menjalankan setiap fungsi dan perannya.
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan oleh manusia untuk mengairi lahan pertanian dengan cara membendung sumber air. Fungsi dan peran dari irigasi ialah menambah kekurangan air pada lahan pertanian yang diperoleh dari air hujan atau air sungai yang dibendung, karena jumlah air yang diberikan kepada tanaman tidak mencukupi kebutuhan tanaman.
Dalam upaya menciptakan pengelolaan air irigasi secara efisien dan merata, diperlukan penyesuaian kelembagaan baik untuk kelembagaan pemerintah, swasta, maupun petani. Pada tingkat petani, sangat penting untuk mengembangkan kapasitas asosiasi pemakai air menjadi suatu organisasi yang
mampu berperan ganda, bukan hanya sebagai pengelola jaringan irigasi tetapi juga kegiatan ekonomi.
Lembaga irigasi adalah lembaga yang menangani dan mengelola jaringan irigasi di daerah yang terdapat irigasi guna memudahkan masyarakat atau petani untuk mendistribusikan air irigasi yang sesuai dengan fungsi dan peran irigasi. Lembaga irigasi yang dimaksud ialah P3A dimana P3A berfungsi untuk mendistribusikan air irigasi secara adil dan efisien, mengelola konflik yang terjadi, dan memelihara jaringan irigasi. Untuk meningkatkan kapasitas P3A dalam mengelola jaringan irigasi secara mandiri, diperlukan adanya penyesuaian dalam fungsi kelembagaan P3A. Fungsi tersebut adalah sebagai wahana belajar bagi petani, wadah kerjasama, modal sosial, pengelola prasarana irigasi, dan layanan jasa. P3A wajib dibentuk oleh petani pemakai air secara demokratis pada setiap daerah irigasi yang dapat difasilitasi oleh pemerintah dan terdiri atas rapat anggota, pengurus, dan anggota dimana pengurus ditentukan dalam rapat anggota.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa P3A di Kabupaten Deli Serdang bisa dikatakan kurang berkembang. Hal ini dapat diketahui dari masih banyaknya P3A yang masih baru dibentuk, tidak aktif dan bahkan belum terbentuk. Sehingga dari 47 sampel yang seharusnya dianalisis berkurang menjadi 43 sampel karena 4 (empat) sampel lainnya yang diteliti di kecamatan bersangkutan belum terbentuk.
Adapun data yang diperoleh yaitu:
Tabel 11. P3A yang Melembaga
Tirta Mekar Sejati, Tirta Makmur Raya, Wonosari I, Terpadu, dan Lestari
5
2. Beringin 6
Sidomulyo, Binakarya, Sidomulyo, Karang Tirta, Beringin Tirta, dan L. Sidoarjo II
6
Perbarakan Blok III, Tanjung Garbus, Bandar Tirta, Sejahtera, Tirto Mulyo, dan Sumber Tirta Mulia
6
6. Sunggal 7
Medan Krio, Simande Angin, Sri Mentari, Suka Maju, Arih Ersada, dan Subur Tani
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa P3A yang belum dibentuk atau belum ada yaitu sebanyak empat unit P3A dimana terdapat di Kecamatan Sunggal dan Kecamatan Namorambe. Hal ini disebabkan oleh petani tidak ada yang mau untuk masuk dalam suatu kelompok tani, namun tetap mau melakukan gotong royong dalam memelihara irigasi sehingga irigasinya tetap teratur serta menerima bantuan dari pemerintah untuk irigasi melalui perangkat desa. Penyebab lain dari belum dibentuknya lembaga P3A ialah karena petani merasa tidak ada gunanya
bantuan, saluran irigasi yang masuk ke daerah mereka belum merata, dan belum ada kesadaran dalam diri petani untuk memelihara irigasi di daerah mereka sendiri tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah.
Pemberdayaan kelembagaan P3A ditekankan pada fungsi, dimana kelembagaan tersebut akan berfungsi apabila pengurusnya aktif, aktivitas pengurus menguntungkan anggota, dan anggota memberikan kontibusi kepada lembaga termasuk iuran. Dalam P3A sebaiknya tidak hanya diperlukan pengelolaan terhadap air irigasi, tetapi diperlukan juga pengelolaan terhadap pengadaan sarana produksi, simpan pinjam, jasa alsintan, dan lain sebagainya sehingga mampu melayani berbagai kebutuhan anggotanya, namun demikian dasar dari kegiatan tetap pada pengelolaan air irigasi.
Setiap kelembagaan memiliki bentuk yang tercipta dari tujuan lembaga itu sendiri untuk menunjukkan identitas lembaga tersebut. Bentuk organisasi atau kelembagaan didefinisikan sebagai mekanisme-mekanime formal organisasi yang sudah diolah berdasarkan strategi pencapaian tujuan sesuai dengan pembagian kerja yang terstruktur. Struktur kelembagaan P3A bisa dilihat dari gambar berikut:
Gambar 2. Struktur Kelembagaan P3A
Ketua/Wakil Ketua Rapat Anggota
Pelaksana Teknis
Anggota/Petani
Sekretaris Bendahara
Bentuk organisasi atau kelembagaan ada dua yaitu, organisasi formal dan organisasi informal. Organisasi atau kelembagaan formal merupakan organisasi yang memiliki struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritas, kekuasaan, dan tanggung jawab. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana komunikasi berlangsung dan menunjukkan tugas-tugas dari para anggotanya. Organisasi formal bersifat tahan lama dan terencana sehingga strukturnya beraturan dan relatif tidak fleksibel.
Sedangkan organisasi atau kelembagaan informal merupakan organisasi yang keanggotaannya dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan sangat sulit menentukan waktu yang tepat untuk seseorang menjadi anggota. Hubungan antaranggota dan tujuan organisasi tidak terspesifikasi atau tidak terinci.
Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan.
Tabel 12. Rekapitulasi Bentuk Kelembagaan Irigasi Setengah Teknis
No. Bentuk Kelembagaan Jumlah P3A (Unit)
1. Formal 24
2. Informal dialihkan menjadi formal 14
3. Informal 5
Total 43
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel diatas, diperoleh bahwa P3A di Kabupaten Deli Serdang rata-rata berbentuk formal, dimana lembaganya sudah terstruktur dengan baik dan masing-masing unsur lembaga telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Adapula P3A yang berbentuk informal, dimana struktur keanggotaannya tidak jelas dan kegiatan yang dilakukan juga tidak teratur, bahkan P3A tersebut hanya mempunyai nama saja. Terdapat pula P3A berbentuk informal
yang kemudian dialihkan menjadi formal. Hal ini dikarenakan pada awalnya merupakan P3A informal dimana struktur keanggotaan serta kegiatannya yang tidak jelas dan cenderung berantakan. Namun seiring berjalannya waktu, P3A tersebut dialihkan menjadi P3A berbentuk formal dikarenakan kegiatannya mulai terorganisir dan struktur keanggotaannya mulai terbentuk.
Para anggota dari pengurus P3A di kabupaten ini ikut berperan aktif dan bekerjasama untuk mengelola jaringan irigasi seperti membersihkan saluran-saluran irigasi dan memperbaiki dinding parit atau dinding saluran-saluran yang rusak, dan untuk meningkatkan hasil produksi dengan menargetkan swasembada pangan karena masyarakat di daerah penelitian masih menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur sehingga petani terdorong untuk bersikap lebih maju dalam hal perkembangan produktivitas. P3A di Kabupaten Deli Serdang juga memiliki peraturan-peraturan dengan struktur keanggotaan yang jelas. Selain itu, meskipun masih ada beberapa P3A yang belum berbadan hukum, sebagian besar P3A di Kabupaten Deli Serdang telah berbadan hukum yang telah lama berdiri dari menjalankan organisasi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
5.2 Kontribusi Masing – Masing Unsur Kelembagaan P3A
Kontribusi setiap lembaga sangat berpengaruh dalam proses perkembangan teknologi termasuk juga kontribusi P3A terhadap proses perkembangan jaringan irigasi setengah teknis. Setiap P3A yang telah terbentuk memiliki fungsi dan peran yang penting dalam memberikan kontribusi untuk para petani. Kontribusi yang dilakukan oleh P3A biasanya berbentuk pemeliharaan jaringan irigasi, cara pembagian air irigasi, pelaksanaan pembagian air dan rehabilitasi jaringan air jika
ada kerusakan. Pemeliharaan jaringan irigasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga agar jaringan irigasi tetap berfungsi dengan baik.
Seperti halnya setiap lembaga, lembaga P3A juga terdiri dari beberapa pihak yang bertanggung jawab pada setiap tugas dan fungsinya masing-masing yang sesuai dengan pencapaian tujuan dari lembaga itu sendiri. Beberapa pihak yang dimaksud yaitu:
a. Rapat Anggota
Rapat anggota mempunyai kekuasaan dan wewenang tertinggi dalam P3A. Rapat anggota akan dianggap sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya setengah dari jumlah anggota dan diselenggarakan sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun atau sewaktu-waktu bila diperlukan. Rapat anggota dipimpin oleh ketua, apabila ketua berhalangan hadir, maka digantikan oleh wakil ketua atau sekretaris.
Tugas dan fungsi dalam rapat anggota yaitu membuat dan menetapkan peraturan P3A, membentuk dan membubarkan pengurus, memberhentikan dan mengangkat seseorang atau beberapa orang anggota pengurus, menetapkan program kerja dan anggaran belanja, mengesahkan pertanggung jawaban pengurus, menetapkan jenis dan besarnya iuran anggota, dan menetapkan jenis pelanggaran dan sanksi-sanksi terhadap anggota yang tidak mematuhi ketentuan dalam peraturan P3A dan keputusan rapat anggota.
b. Pengurus
Pengurus merupakan anggota P3A yang dipilih dalam rapat anggota dimana susunan pengurus tergantung pada kebutuhan yang dikehendaki oleh anggota.
Lama kerja kepengurusan, susunan, tugas, dan fungsi dalam P3A diatur dalam AD
(Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga). Pengurus P3A terdiri dari ketua/wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan pelaksana teknis. Tugas dan fungsi pengurus yaitu memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan anggota, mengkoordinis kegiatan-kegiatan P3A, merencanakan kegiatan bersama anggota, menarik iuran pelayanan irigasi, melaksanakan administrasi kegiatan dan keuangan, mempertanggungjawabkan kepengurusan dalam rapat anggota, melaporkan administrasi dan keuangan dalam rapat anggota, menegur anggota yang melanggar serta dimungkinkan untuk menerapkan sanksi, dan kegiatan-kegiatan lain yang diatur dalam AD dan ART.
c. Anggota/Petani
Anggota/petani merupakan setiap orang yang menggunakan air irigasi untuk kepentingan ekonomi yang wajib menjadi anggota dalam P3A. Orang-orang yang dimaksud adalah pemilik dan penggarap sawah, penyewa/pengelola sawah, dan pengguna air irigasi lainnya. Tugas dan fungsi anggota/petani yaitu memenuhi segala peraturan P3A yang telah ditetapkan, membayar iuran anggota, melaksanakan dan mentaati sanksi-sanksi yang telah ditetapkan apabila melanggar peraturan P3A, menjaga dan membersihkan saluran irigasi, dan hadir secara aktif mengambil bagian dari rapat anggota.
P3A sebagai suatu lembaga pada umumnya, memiliki kegiatan yang dilakukan baik oleh para pengurusnya maupun para anggotanya guna mewujudkan tujuan dari P3A tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut ialah gotong royong dalam pelebaran tanggul saluran irigasi dan pembersihan lumpur di saluran irigasi, memeliharaan jalan usaha tani, mencari dan membuat inovasi teknologi
maupun irigasi desa secra baik dan berkesinambungan, memantau keberadaan debit air secara berkala, membuka dan menutup pintu bangunan irigasi, menyusun rencana tata tanam, menyusun rencana pembagian air, mendistribusikan air irigasi secara adil dan efisien, dan memberikan masukan kepada petani terhadap penyempurnaan sistem irigasi.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa rata-rata P3A di Kabupaten Deli Serdang sudah memberikan kontribusi kepada para petani seperti mengatur air ke sawah, menyusun/mengatur tata tanam, dan menyalurkan bantuan pemerintah ke petani. Ada juga beberapa P3A yang memberikan kontribusi lain seperti pembenahan drainase yang rusak dan merancang kegiatan gotong-royong misalnya saluran kotor atau rusak. Tetapi ada juga petani yang tidak mendapatkan kontribusi apapun dari P3A karena P3A di desa tersebut tidak aktif atau tidak berfungsi. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya bantuan dari pemerintah, sehingga para petani berinisiatif sendiri untuk mengelola saluran irigasinya tanpa adanya bantuan dari P3A.
Tabel 13. Rekapitulasi Kontribusi Masing-masing Unsur P3A
No. Kontribusi Rapat
Anggota Pengurus Anggota/Petani
1. Mengatur air ke sawah 30 35 34
2. Menyusun/mengatur
tata tanam 30 31 41
3. Menyalurkan bantuan
pemerintah ke petani 26 36 -
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan Tabel 13, tidak semua unsur kelembagaan berperan aktif dalam kontribusinya terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan. Pada kontribusi
menyalurkan bantuan pemerintah, salah satu unsur P3A yaitu anggota/petani tidak bertanggungjawab terhadap kontribusi tersebut.
Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa P3A di Kabupaten Deli Serdang mampu memelihara jaringan irigasi dengan baik dan berskala. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong oleh P3A dengan prosedur yang telah disepakati bersama oleh antar P3A di desa maupun di kecamatan. Cara pembagian air dilakukan berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara pengurus P3A di satu desa dengan P3A di desa lain atas pertimbangan ketersediaan debit air dari sumbernya. Pada musim hujan cara pemberian air dilakukan secara terus menerus ke setiap daerah tanam. Sedangkan pada musim kemarau karena debit air menurun maka pembagian air ke setiap daerah dilakukan secara bergiliran berdasarkan blok.
Para penyuluh desa yang bertanggungjawab untuk kepentingan pertanian di kabupaten ini, banyak yang ikut berpartisipasi dalam mengelola jaringan irigasi setengah teknis, tetapi masih ada juga penyuluh di desa yang tidak ikut berpartisipasi.
5.3 Evaluasi Kinerja Kelembagaan P3A
Pengelolaan sistem irigasi terdiri dari operasi dan pemeliharan komponen jaringan irigasi dalam pengaturan dan pemberian air yang tercapai secara baik, serta pemelihaaan secara rutin untuk menjaga jaringan irigasi agar selalu dalam kondisi yang baik. Dalam melaksanakan pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, dibutuhkan partisipasi dari masyarakat petani dan P3A untuk mewujudkan efisiensi, efektivitas, dan keberlanjutan sistem irigasi. Keberadaan P3A akan lebih
dinamis apabila dilakukan pembinaan dan koordinasi yang baik agar kinerja P3A dalam kegiatan perbaikan infrastruktur irigasi juga berjalan dengan baik. Untuk meningkatkan perkembangan P3A dalam mengelola jaringan irigasi, perlu dilakukan evaluasi kinerja terhadap P3A, sehingga dapat diketahui kemampuan, kesadaran, serta peran P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi sesuai dengan tujuan P3A itu sendiri.
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu lembaga secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan yang telah ditentukan oleh lembaga itu sendiri. Evaluasi kinerja adalah suatu metode dan proses penilaian dan pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang atau unit-unit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Evaluasi kinerja merupakan cara yang paling adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerja. Indikator kinerja yang akan dievaluasi dalam P3A adalah peningkatan kesadaran masyarakat tani untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengelola irigasi, tingkat kesejahteraan petani dan memberdayakan masyarakat petani, pengelolaan irigasi, pendistribusian air irigasi, pengelolaan konflik yang terjadi, pemeliharaan jaringan irigasi, dan pengaturan operasi dan pemeliharaan dengan memberikan fasilitas kepada para petani untuk menjalankan usaha-usaha ekonomi yang berbasis air.
5.3.1 Peningkatan Kesadaran Masyarakat untuk Berpartisipasi dalam Mengelola Irigasi
Partisipasi masyarakat petani dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dimaksudkan untuk meningkatkan rasa memiliki, rasa tanggung jawab dan
kemampuan perkumpulan petani pemakai air dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektivitas dan keberlanjutan sistem irigasi partisipatif dimaksudkan untuk mewujudkan sistem penyelenggaraan yang memenuhi prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Bentuk partisipasi dalam pengembangan dan pengelolaan sistem dimulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan, serta pelaksanaan kegiatan dalam pembangunan, operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi. Partisipasi tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk sumbangan pemikiran, gagasan, waktu, tenaga, material dan dana, yang dilakukan secara perseorangan atau melalui P3A.
Bentuk partisipasi tersebut didasarkan atas kemauan dan kemampuan masyarakat petani serta semangat kemitraan dan kemandirian, dan dapat disalurkan melalui P3A diwilayah kerjanya.
Peran masyarakat petani dapat pula dalam hal pembiayaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi yang menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu oleh pemerintah dan atau pemerintah daerah. Untuk itu, P3A berkewajiban untuk membantu para petani dalam meningkatkan kesadaran mereka agar ikut berpartisipasi dalam mengelola irigasi.
5.3.2 Tingkat Kesejahteraan Petani dan Memberdayakan Masyarakat Petani Pemberdayaan petani merupakan proses perubahan pola pikir, perilaku, dan sikap petani dari petani subsistem tradisional menjadi petani moden berwawasan agribisnis melalui proses pembelajaran berkelanjuatan. Bentuk pemberdayaan petani beranekaragam yang dapat diimplementasikan dalam bentuk pelatihan dan penyuluhan sebagai salah satu upaya mengubah perilaku. Pemberdayaan
masyarakat bertujuan untuk membuat masyarakat menjadi mandiri, dalam arti memiliki potensi untuk mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi, dan sanggup memenuhi kebutuhannya dengan tidak menggantungkan hidup mereka pada bantuan pihak luar, baik pemerintah maupun organisasi-organisasi non-pemerintah. Selain itu pemberdayaan kepada petani pemakai air harus didasarkan pada institusi lokal petani yang ada, berbasis pada permasalahan yang dihadapi oleh petani, dan dilakukan dengan bentuk pendampingan. Sehingga pemberdayaan yang dilakukan instansi pemerintah kabupaten kepada P3A berbasis kemampuan dari kelembagaan petani tersebut. Bagi kelembagaan petani
masyarakat bertujuan untuk membuat masyarakat menjadi mandiri, dalam arti memiliki potensi untuk mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi, dan sanggup memenuhi kebutuhannya dengan tidak menggantungkan hidup mereka pada bantuan pihak luar, baik pemerintah maupun organisasi-organisasi non-pemerintah. Selain itu pemberdayaan kepada petani pemakai air harus didasarkan pada institusi lokal petani yang ada, berbasis pada permasalahan yang dihadapi oleh petani, dan dilakukan dengan bentuk pendampingan. Sehingga pemberdayaan yang dilakukan instansi pemerintah kabupaten kepada P3A berbasis kemampuan dari kelembagaan petani tersebut. Bagi kelembagaan petani