• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODELOGI PENELITIAN

3.5 Definisi Dan Batasan Operasional

3.5.2 Batasan Operasional

1. Daerah penelitian adalah Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

2. Sampel dalam penelitian ini adalah nelayan.

3. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2018.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK NELAYAN SAMPEL

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1 Letak Geografis, Batas, dan Luas Wilayah

Daerah penelitian dilakukan di Kecamatan Medan Marelan, Kelurahan Labuhan Deli. Tempat penelitian terletak 24 km dari ibu kota kabupaten/kota dengan waktu tempuh 1 jam dan 26 km dari ibu kota Provinsi Sumatera Utara dengan waktu tempuh 1 jam. Kelurahan Labuhan Deli terletak 150 meter diatas di permukaan laut dengan suhu udara rata-rata berkisar 32° dengan curah hujan rata-rata 600 mm/tahun, dengan luas secara keseluruhan adalah 450 ha yang terdiri dari 11 lingkungan. Berdasarkan letak geografisnya, Kelurahan Labuhan Deli memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Belawan.

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Rengas Pulau.

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Medan Labuhan.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Paya Pasir.

Kelurahan Labuhan Deli memiliki prestasi yang pernah diraih yaitu juara 1 lomba penilaian kinerja kelurahan pada tahun 2016 dan juara 1 kebersihan tingkat kecamatan dalam rangka perayaan ulang tahun kota Medan ke 426.

4.1.2 Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Kelurahan Labuhan Deli tahun 2016 adalah sebanyak 17.445 jiwa atau 4055 KK yang terdiri dari 8.775 Laki-laki dan 8.570 Perempuan . Jumlah penduduk Kelurahan Labuhan Deli dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 9. Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2016.

Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017

Tabel 9. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk terbanyak terdapat pada kelompok umur 17-25 yaitu sebanyak 2.530 jiwa dengan persentase 14,5% dan jumlah penduduk terendah berada pada kelompok umur 41-45 yaitu sebanyak 1.425 jiwa dengan persentase 8,2%.

Mata pencaharian penduduk kelurahan Labuhan Deli terdiri dari nelayan, tani, pns, tni, polri, guru, bumn, pedagang, medis dan wirausaha.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 10. Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata PencaharianTahun 2016

No Pekerjaan Jumlah Penduduk (jiwa) Persentase (%)

1. Nelyan 1988 47,3

5. POLRI 22 0,5

Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017

Tabel 10. memperlihatkan bahwa mata pencaharian penduduk terbesar adalah Nelayan yaitu sebanyak 1988 jiwa dengan persentase 47,3% yang pada umumnya melaut mencari ikan, cumi dan udang .

Penduduk di Kelurahan Labuhan Deli tersebar di setiap lingkungan, yang berjumlah 11 lingkungan. Berikut akan disajikan dalam tabel di bawah ini

Tabel 11. Distribusi Penduduk Berdasarkan Lingkungan Tahun 2016

No Lingkungan Jumlah Penduduk

(jiwa)

Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017

Tabel 11. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk terbesar berada di lingkungan VII yaitu sebesar 2.274 jiwa (13%), sedangkan jumlah penduduk terkecil berada pada lingkungan X yaitu sebesar 150 jiwa (0,9%).

Hubungan kekeluargaan dapat dilihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan di Kelurahan Labuhan Deli seperti kegiatan gotong-royong dan beberapa kegiatan adat seperti perkawinan maupun acara-acara lainnya.

4.1.3 Sarana dan Prasarana

Infrasturktur adalah sarana atau prasana yang disediakan baik oleh pemerintah maupun oleh swasta dalam rangka menunjang kegiatan produksi dan proses pembangunan. Sarana dan prasarana yang tersedia dengan baik dapat mempelancar jalannya pembangunan sehingga dapat mempengaruhi perkembangan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di kelurahan labuhan deli dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 12. Sarana dan Prasarana Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2016

No Sarana dan Prasarana Jumlah (unit)

1. Prasaran Kesehatan a. Puskesmas 2. Prasarana Pendidikan

a. Taman Kanak – Kanak b. Sekolah Dasar

c. SLTP d. SLTA

e. Pendidikan Non Formal

10 9 2 - - 3. Prasarana Ibadah

a. Mesjid 4. Prasarana Air Bersih

a. Sumur Pompa b. Sumur Gali

825 1.246 5. Sarana Keamanan Lingkungan

a. Pos Keamanan Lingkungan b. Pos Penjaga Satpam Perumahan

7 2 6. Sarana Komunikasi

a. Pesawat Telepon b. Pesawat Tv

Sumber: Kelurahan Labuhan Deli Tahun, 2017

Tabel 12. memperlihatkan bahwa sarana dan prasarana yang terdapat di desa ini dinilai sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari tersedianya sarana kesehatan, pendidikan, komunikasi, dan air bersih.

Pada tabel 12 terdapat kelompok nelayan yang ada di Kelurahan Labuhan Deli juga ada dalam kondisi yang aktif. Kelompok nelayan yang terdapat di Kelurahan Labuhan Deli akan berperan dalam menerima bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada nelayan seperti asuransi kecelakaan di laut yang diterima oleh nelayan .

Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa sarana ibadah di Kelurahan Labuhan Deli sudah dapat dikatan sangat cukup mendukung. Ini terlihat dari tersedianya sarana ibadah bagi warga beragama Islam, Kristen, dan juga Budha. Berikut akan dijelaskan tentang keadaan penduduk di Kelurahan Labuhan Deli berdasakan dengan agama atau aliran kepercayaan masing-masing.

Tabel 13. Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama/Aliran Kepercayaan Tahun 2016

Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017.

No Agama Jumlah Penduduk (jiwa) Persentase (%)

1. Islam 16.529 94,7

2. Kristen Protestan 585 3,3

3. Kristen Katholik 162 1

4. Hindu 0 0

5. Budha 169 1

Total 17.445 100

4.2 Karateristik Nelayan Sampel

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan dan besarnya pendapatan yang diperoleh dalam suatu usaha nelayan. Faktor tersebut diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Yang termasuk dalam faktor internal adalah umur nelayan, pendidikan atupun pengetahuan (pengalaman melaut dan keterampilan), jumlah tanggungan keluarga, frekuensi melaut dan modal. Sedangkan yang termasuk dalam faktor eksternal adalah input, baik dari segi ketersediannya maupun harganya, dan output, baik dari segi jumlah permintaan maupun dari segi harga.

Karateistik nelayan sampel dalam penelitian ini terdiri dari umur, lama menjadi nelayan, frekuensi melaut, pendidikan dan jumlah tanggungan kelurga.

Karateristik nelayan sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 14. Karateristik Nelayan Sampel Tahun 2018

No Uraian Satuan Range Rata – rata 6 Pendapatan Nelayan Rupiah

204.000-2.105.000

286.493

Sumber: Lampiran 1, 2018

Berdasarkan tabel 14 dapat di lihat bahwa umur nelayan sampel di kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan berkisar 29-66 tahun dengan rata-rata ber usia 47 tahun. Hal ini berarti bahwa umur nelayan sampel dalam usia yang masih cukup produktif. Nelayan sampel tersebut masih memiliki potensi besar unutk melakukan pekerjaan sebagai nelayan.

Pengalaman nelayan sampel di daerah penelitian berkisar 15-50 tahun dengan rata-rata pengalaman sebagai nelayan selama 30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa nelayan sudah memiliki pengalaman yang cukup baik dalam melakukan kegiatan mereka sehari-hari yaitu melaut.

Jumlah tanggungan keluarga nelayan sampel berkisar dari 0-6 orang dengan rata-rata jumlah tanggungan keluarga 3 orang. Rata-rata-rata ini menujukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga setiap nelayan cukup banyak.

Frekuensi melaut nelayan sampel berkisar 8-25 hari per bulan dengan rata-rata 18 hari perbulan .Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata jumlah hari melaut nelayan per bulan cukup tinggi.

Modal per trip nelayan sampel di daerah penelitian berkisar antara Rp. 54.000- 930.000 dengan rata – rata modal sebesar 266.159. Hasil ini menunjukkan bahwa nelayan sampel cukup memiliki modal untuk melaut.

Pendapatan nelayan per trip berkisar antara Rp. 204.000- 2.105.000 dengan rata-rata pendapatan nelayan per trip sebesar Rp. 286.493 menunjukkan bahwa pendapatan nelayan per trip cukup tinggi.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pendapatan Nelayan 5.1.1 Biaya Produksi

Rata-rata biaya produksi yang di keluarkan oleh nelayan kapal motor per trip dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 15. Total Rata-Rata Biaya Produksi Nelayan Per Trip

No Jenis Biaya Per Trip

1. Biaya Variabel

- Minyak (Rp) 54.682

- Makanan / Bekal (Rp) 92.500

- Es (Rp) 11.023

- Biaya Tenaga Kerja (Rp) 107.955 2. Biaya Tetap

- Penyusutan Peralatan 20.333

Total 286.493

Sumber : Data di olah dari lampiran 7

Dari tabel 15 dapat di ketahui bahwa rata-rata biaya produksi nelayan kapal motor per trip adalah Rp.286.493 dengan rata-rata biaya minyak yaitu Rp.54.682, biaya makan Rp.92.500, biaya es Rp.11.023, biaya tenaga kerja Rp.107.955 dan biaya penyusutan peralatan Rp. 20.333.

a. Biaya Variabel

Biaya variabel yang digunakan dalam kegiatan nelayan kapal motor didaerah penelitian terdiri atas biaya minyak, makanan/bekal, es, dan tenaga kerja. Adapun masing – masing biaya variabel akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Biaya Minyak

Nelayan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan memperoleh solar dari pedagang atau SPBU yang berada di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan. Jenis bahan bakar yang digunakan yaitu jenis bahan bakar solar.

Harga bahan bakar solar yang digunakan nelayan yaitu Rp 6.000/liter dan total rata – rata biaya yang dikeluarkan nelayan berdasarkan hasil penelitian adalah sebesar Rp.54.682.

2. Biaya Makanan

Nelayan didaerah penelitian umumnya pergi melaut dalam jangka waktu paling lama 3 hari, sehingga memerlukan bekal makanan. Berdasarkan hasil penelitian biaya makanan yang dikeluarkan oleh nelayan tergantung oleh jumlah nelayan yang berangkat dalam satu trip. Biaya rata – rata yang dikeluarkan nelayan untuk makanan adalah sebesar Rp.92.500.

3. Biaya Es

Es merupakan salah satu faktor penentu kualitas hasil tangkapan nelayan.

Perjalanan yang jauh dan memerlukan waktu lama merupakan penyebab diperlukannya es untuk menjaga ketahanan ikan hasil tangkapan nelayan sebelum sampai ke Tempat Tangkahan ikan .Hal ini bertujuan agar kualitas ikan tetap terjaga ketika dalam perjalanan. Berdasarkan hasil penelitian rata – rata biaya yang dikeluarkan nelayan untuk es adalah sebesar Rp. 11.023.

4. Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan nelayan untuk membayar upah tenaga kerja dalam sekali trip. Sistem pengupahan didaerah penelitian adalah sistem harian dengan upah pria rata-rata sebesar Rp. 50.000/hari. Berdasarkan hasil penelitian biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh nelayan adalah sebesar Rp. 107.955.

b. Biaya Tetap

1. Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan adalah biaya yang dikeluarkan akibat adanya penurunan nilai dari alat yang mengalami penyusutan. Ada beberapa alat yang mengalami penyusutan yaitu alat-alat dan perlengkapan milik nelayan. Alat-alat dan perlengkapan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kapal, jaring, ambai dan vibber. Berdasarkan hasil penelitian biaya rata-rata penyusutan alat yang dikeluarkan oleh nelayan pada adalah sebesar Rp.20.333.

5.1.2 Pendapatan Nelayan

Tabel 16. Total Rata-Rata Pendapatan Nelayan Per Trip Di Daerah Penelitian.

NO Keterangan Total (Rp)

1 Penerimaan (Rp) 585.000

2 Biaya Produksi (Rp) 286.493

3 Pendapatan (Rp) 298.508

Sumber : Data di olah dari lampiran 9

Tabel 16 memperlihatkan bahwa pendapatan per nelayan dalam satu trip adalah sebesar Rp.298.508/melaut atau rata-rata pendapatan per bulan sebesar Rp.4.131.325. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan bersih nelayan yang telah dikurang dengan seluruh biaya produksi yaitu biaya solar, makanan, es tenaga kerja dan biaya penyusutan.

UMK (upah minimun kota) kota Medan pada saat penelitian ini adalah Rp.2.528.815/bulan, maka pendapatan nelayan di tempat penelitian tersebut >

UMK kota medan, Rp.4.131.325 > Rp.2.528.815, Maka H0 di terima, artinya total pendapatan bersih nelayan lebih tinggi dari upah minimum kota Medan.

5.2. Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman yang Mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Nelayan

5.2.1. Kekuatan Nelayan

Adapun kekuatan nelayan di daerah penelitian:

1. Ketersediaan Tenaga Kerja

Nelayan buruh di Kelurahan Labuhan Deli dikelola oleh warga di tempat penelitian. Hal ini dikarenakan wilayah tempat tinggal warga merupakan salah satu produksi ikan di kota Medan. Kalaupun memiliki aktivitas yang lain, maka sumber pemasukan utama bagi keluarga nelayan buruh tetap dari hasil ikut melaut.

Menurut nelayan sampel tidak ada kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja untuk memproduksi hasil laut, karena ketersediaan tenaga kerja di daerah penelitian sangat mudah di dapatkan. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan

tenaga kerja di kelurahan labuhan deli menjadi suatu kekuatan dalam meningkatkan pendapatan nelayan.

2. Pengalaman Nelayan

Faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan memproduksi hasil laut adalah pengalaman nelayan. Semakin tinggi tingkat pengalaman nelayan maka akan semakin baik pula produksi hasil lautnya. Rata-rata pengalaman nelayan yaitu 30 tahun. Pengalaman memproduksi hasil laut membantu nelayan dalam aktivitasnya sebagai nelayan. Karena itu, pengalaman nelayan merupakan kekuatan bagi nelayan dalam meningkatkan pendapatan.

5.2.2. Kelemahan Nelayan

Adapun kelemahan nelayan di daerah penelitian:

1. Ketidakstabilan Jumlah Produksi Nelayan

Jumlah produksi nelayan memiliki hubungan dengan terbatasnya jarak menempuh oleh nelayan sampel, serta adanya faktor lain yang mempengaruhi seperti ukuran mesin kapal sehingga mengakibatkan produksi nelayan menjadi tidak stabil.

Sehingga hal ini merupakan salah satu kelemahan yang dimiliki oleh nelayan di daerah penelitian.

2. Rendahnya Tingkat Pendidikan Nelayan

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Lamanya pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapan dalam keadaan tertentu.

Sudah tentu kecakapan tersebut akan mengakibatkan kemampuan yang lebih besar dalam menghasilkan pendapatan. Berdasarkan hasil penelitian, rata – rata tingkat

pendidikan di daerah penelitian yaitu 6 – 7 tahun. Dimana hal ini masih tergolong rendah.

3. Kurangnya Ketrampilan yang dimiliki Nelayan

Keterampilan yang dimiliki nelayan merupakan salah satu faktor keberhasilan nelayan di daerah penelitian. Nelayan di daerah penelitian sudah berpengalaman tetapi tidak aktif mengikuti pelatihan yang di sediakan. Hal ini membuat nelayan terkesan tidak mau menambah pengetahuan mereka dengan kurang aktifnya mereka menghadiri sosialisasi yang diberikan oleh penyuluh perikanan terkait tentang kebutuhan mereka. Berdasarkan hasil penelitian, keterampilan yang dimiliki nelayan tergolong kurang baik.

4. Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga berkaitan erat dengan pendapatan yang diperoleh.

Keadaan ini mendorong nelayan untuk terus berusaha meningkatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya jika memiliki tanggungan keluarga yang banyak. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata tanggungan keluarga nelayan sampel yaitu 4 jiwa. Dengan pendapatan nelayan yang tidak menentu, sehingga jumlah tanggungan menjadi kelemahan dalam kegiatan nelayan.

5. Jenis alat tangkap dan perawatan

Alat tangkap yang digunakan nelayan di tempat penelitian yaitu alat tangkap tradisional dengan menggunakan jaring dan ambai. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat dalam meningkatkan produksi nelayan. Kemudian perawatannya pun harus diperhatikan dengan baik karena hal tersebut berkaitan dengan produksi nelayan tersebut.

5.2.3. Peluang Nelayan

Adapun peluang nelayan di daerah penelitian:

1. Permintaan Pasar

Kebutuhan hasil laut khususnya ikan merupakan hal utama bagi kesehatan masyarakat sehingga tidak dapat tergantikan. Ikan merupakan hasil tangkapan laut yang digemari oleh masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, permintaan pasar untuk ikan tergolong banyak, dikarenakan banyaknya peminat hasil laut yaitu ikan.

2. Dukungan Pemerintah

Dukungan pemerintah merupakan salah satu faktor peluang untuk nelayan yang berada di kelurahan Labuhan Deli. Kebijakan dari pemerintah kepada nelayan di daerah penelitian yaitu seperti asuransi kecelakaan. Akan tetapi nelayan sangat membutuhkan asuransi jiwa karena nelayan berharap keluarga terlindungi masa depannya jika nelayan terjadi yang tidak di inginkan saat melaut. Kemudian pemerintah melarang penggunaan alat tangkap illegal guna menjaga ekosistem laut dan mensejahterakan nelayan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dukungan pemerintah di daerah penelitian tergolong baik.

3. Penyuluhan Perikanan

Keberhasilan penyebaran suatu teknologi tidak terlepas dari peran penyuluh perikanan yang menjalankan fungsinya. Dalam menjalankan usahanya penyuluh menyampaikan program yang diberikan dari pemerintah kepada nelayan. Materi yang disampaikan oleh penyuluh berkaitan dengan meningkatkan produksi nelayan. Jadi tujuannya adalah menambah pengetahuan nelayan di daerah penelitian dalam menghasilkan pendapatan yang maksimal. Penyuluh di daerah

penelitian bernama bu Liza dimana setiap 2 bulan sekali memberikan penyuluhan terhadap nelayan. Berdasarkan penelitian penyuluhan perikanan di daerah penelitian di daerah penelitian tergolong aktif.

5.2.4. Ancaman Nelayan

Adapun ancaman nelayan di daerah penelitian:

1. Harga Jual Hasil Laut

Fluktuasi harga ikan laut merupakan salah satu ancaman yang sangat dirasakan oleh nelayan di Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Marelan. Ikan merupakan hasil laut yang banyak di dapatkan oleh nelayan yang berada di daerah penelitian. Sehingga harga ikan bisa sangat rendah yang mengakibatkan nelayan rugi. Berdasarkan penelitian, di daerah penelitian harga ikan gulama Rp 4.000-8.000/kg, ikan lidah Rp 10.000-20.000/kg, ikan tenggiri Rp 35.000-50.000/kg, ikan gembung Rp 15.000-45.000/kg, udang Rp 20.000-50.000/kg, cumi-cumi Rp 30.000-60.000/kg. Ketidakpastian harga jual di atas ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan nelayan sehingga mengalami kerugian.

2. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana perikanan di daerah penelitian merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan nelayan. Seperti tidak adanya kelembagaan ekonomi dimana nelayan tidak bisa mendapatkan pinjaman modal. Berdasarkan penelitian, nelayan tidak merasakan sarana dan prasarana yang mendukung di daerah penelitian.

3. Keadaan Iklim

Iklim merupakan salah satu faktor yang menentukan hasil laut nelayan di kelurahan Labuhan Deli. Untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimal, nelayan biasanya melaut pada musim ombak yang tenang. Hal ini tidak ditemukan di daerah penelitian yang kondisi lautnya tidak menentu. Sehingga keadaan ini membuat nelayan rugi karena tangkapan mereka berkurang.

4. Penggunaan Alat tangkap Ilegal

Hasil tangkapan nelayan memiliki hubungan dari alat tangkap yang mereka gunakan. Berdasarkan penelitian, ada perusahaan kapal swasta yang menggunakan alat tangkap ilegal dan membuat nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional mengalami kerugian. Jenis alat tangkap illegal yaitu Pukat harimau dan Langgai. Dikarenakan hasil tangkapan mereka jadi sedikit dan ikan-ikan tidak banyak lagi akibat kerusakan yang disebabkan oleh pengguna alat tangkap illegal.

5.3. Strategi Peningkatan Pendapatan Nelayan di Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan.

Dalam menetapkan strategi peningkatan pendapatan yang tepat bagi nelayan, dilakukan identifikasi faktor – faktor internal dan eksternal yang berpengaruh bagi nelayan. Melalui faktor internal dapat diketahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, sedangkan melalui faktor – faktor eksternal dapat diketahui peluang dan ancaman yang dihadapi nelayan. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang diperoleh di daerah penelitian, maka dapat dilihat faktor – faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor – faktor eksternal

(peluang dan ancaman) nelayan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan sebagai berikut:

Tabel 17. Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Nelayan

Faktor – Faktor Parameter Faktor Internal

1. Kekuatan

2. Kelemahan

a. Ketersediaan tenaga kerja b. Pengalaman nelayan

a. Ketidakstabilan jumlah produksi nelayan b. Rendahnya tingkat pendidikan nelayan

c. Kurangnya ketrampilan yang dimiliki nelayan d. Jumlah tanggungan keluarga

e. Jenis alat tangkap dan perawatan

Faktor Eksternal 1. Peluang

2. Ancaman

a. Permintaan pasar b. Dukungan pemerintah c. Penyuluhan perikanan

a. Harga jual hasil laut b. Sarana dan prasarana c. Keadaan iklim

d. Penggunaan alat tangkap ilegal

Setelah diketahui faktor – faktor internal dan eksternal pada nelayan di daerah penelitian, selanjutnya tahap pengumpulan data, Model yang digunakan adalah Matriks Faktor Strategi Internal (IFAS) dan Matriks Faktor Strategi Eksternal (EFAS).

Hasil identifikasi faktor – faktor internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan, rating dan pembobotan dipindahkan ke tabel matriks IFAS untuk diberi scoring (rating x bobot) seperti Tabel 18 berikut:

Tabel 18. Matriks Evaluasi Faktor – Faktor Strategi Internal (IFAS)

Faktor – faktor Strategi Internal Rating Bobot Skor Strengths (kekuatan)

1. Ketersediaan tenaga kerja 3 15 45

2. Pengalaman nelayan 3 15 45

Weakness (kelemahan)

1. Ketidakstabilan jumlah produksi nelayan

3 16,15 48,45

2. Rendahnya tingkat pendidikan nelayan

4 21,53 86,12

3. Kurangnya ketrampilan yang dimiliki nelayan

2 10,77 21,54

4. Jumlah tanggungan keluarga 2 10,77 21,54

5. Jenis alat tangkap dan perawatan 2 10,77 21,54 Selanjutnya, hasil dari identifikasi faktor – faktor eksternal yang merupakan peluang dan ancaman, rating dan pembobotan dipindahkan ke tabel matriks EFAS untuk diberi scoring (rating x bobot) seperti Tabel 19. berikut ini:

Tabel 19. Matriks Evaluasi Faktor – Faktor Strategi Eksternal (EFAS)

Faktor – faktor Strategi Eksternal Rating Bobot Skor

4. Penggunaan alat tangkap ilegal 4 14,66 58,64

Selanjutnya dilakukan penggabungan antara faktor strategis internal dan faktor strategis eksternal pada Tabel 20 berikut:

Tabel 20. Penggabungan Matriks Evaluasi Faktor – Faktor Strategi Internal dan Eksternal Peningkatan Pendapatan Nelayan

Faktor – Faktor Strategi Rating Bobot Skor

Faktor – Faktor Strategi Internal Strengths (kekuatan)

1. Ketersediaan tenaga kerja 3 15 45

2. Pengalaman nelayan 3 15 45

Total Skor Kekuatan 6 30 90

Weakness (Kelemahan)

1. Ketidakstabilan jumlah produksi nelayan 3 16,15 48,45 2. Rendahnya tingkat pendidikan nelayan 4 21,53 86,12 3. Kurangnya ketrampilan yang dimiliki

nelayan

2 10,77 21,54

4. Jumlah tanggungan keluarga 2 10,77 21,54

5. Jenis alat tangkap dan perawatan 2 10,77 21,54

Total Skor Kelemahan 13 70 199,19

Selisih (Kekuatan – Kelemahan) -109,19

Faktor – Faktor Strategi Eksternal Oppurtunities (peluang)

Selisih (Peluang – Ancaman) -73,92

Tabel 20. memperlihatkan bahwa selisih faktor strategis internal (kekuatan – kelemahan) adalah sebesar -109,19 yang berarti pengaruh kelemahan lebih besar dibandingkan pengaruh kekuatan terhadap peningkatan pendapatan nelayan.

Sedangkan selisih faktor strategis eksternal (peluang – ancaman) sebesar -73,92

yang artinya pengaruh ancaman lebih besar dibandingkan pengaruh peluang terhadap peningkatan pendapatan nelayan.

Berdasarkan penggabungan matriks evaluasi faktor internal dan eksternal tersebut, maka dapat diketahui posisi strategi peningkatan pendapatan nelayan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan berada di kuadran IV.

Posisi strategi peningkatan pendapatan dianalisis menggunakan matriks posisi, sehingga menghasilkan titik koordinat (x,y). Nilai x diperoleh dari selisih faktor internal (kekuatan – kelemahan) dan nilai y diperoleh dari selisih faktor eksternal (peluang – ancaman). Posisi titik koodinatnya dapat dilihat sebagai berikut:.

Gambar 3. Matriks Posisi Strategi Peningkatan Pendapatan Nelayan

Matriks posisi strategi peningkatan pendapatan nelayan pada Gambar 3.

menunjukkan nilai x < 0 yaitu -109,19 dan nilai y < 0 yaitu -73,92. Hal ini berarti posisi strategi peningkatan pendapatan nelayan terletak pada kuadran IV.

Peningkatan pendapatan nelayan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan berada pada posisi yang sangat merugikan bagi nelayan karena memiliki ancaman (fluktuasi harga jual hasil laut, kurangnya sarana dan prasarana, keadaan iklim, dan penggunaan alat tangkap ilegal) dengan meminimalkan kelemahan (jumlah produksi yang tidak menentu, rendahnya tingkat pendidikan, ketrampilan yang dimiliki nelayan, jumlah tanggungan yang banyak, serta jenis alat tangkap dan perawatannya).

Tabel 21. Matriks SWOT IFAS

EFAS

Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weakness) 1. Ketersediaan tenaga

kerja.

2. Pengalaman nelayan

1. Ketidakstabilan jumlah produksi nelayan

2. Rendahnya tingkat pendidikan nelayan

3. Kurangnya ketrampilan yang dimiliki nelayan

4. Jumlah tanggungan keluarga

4. Jumlah tanggungan keluarga

Dokumen terkait