STRATEGI PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN
(Kasus : Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan)
SKRIPSI
OLEH:
MUHAMMAD RIFKI 140304050 AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
STRATEGI PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN
(Kasus : Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan)
SKRIPSI
OLEH:
MUHAMMAD RIFKI 140304050 AGRIBISNIS
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
ABSTRAK
MUHAMMAD RIFKI (140304050/AGRIBISNIS) dengan judul STRATEGI PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN (Studi kasus: Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan ). Penelitian ini dibimbing oleh Ibu Ir. Iskandarini, M.M, PhD. Sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si. Sebagai Anggota Komisi Pembimbing.
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, dengan metode Purposive. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan besar pendapatan nelayan perbulan, menentukan faktor internal dan eksternal kegiatan nelayan dan menentukan strategi untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Metode analisis data untuk pendapatan nelayan menggunakan rumus Total Pendapatan dan analasis SWOT untuk menentukan strategi peningkatan pendapatan nelayan.
Hasil peneltian yang di peroleh adalah: Pendapatan nelayan rata-rata per bulan di lokasi penelitian adalah Rp.4.131.325. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah strategi defensif.
Kata kunci : Nelayan, Pendapatan, Strategi, SWOT.
ABSTRACT
MUHAMMAD RIFKI (140304050/AGRIBUSINESS) with the thesis entitled, is STRATEGY IN INCREASING OF INCOME BY FISHERMAN (case:
Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan ). Led by Ibu Ir.
Iskandarini M.M, Ph.D as a chairman of the Supervisory Committee and Ibu Ir.
Lily Fauzia M.Si as a member of the Supervisory Committee.
This study was conducted in Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, with Purposive method. The purpose of this study is to determine income of fisherman each month, determining internal and external factors in fishing activities, and determining strategies to increase fisherman’s income. Method of data analysis for the income of fisherman using total income and SWOT analysis to determine strategy in increasing of income by fisherman.
The results obtained are: the average fisherman’s income each month in the research area is Rp. 4.131.325. The strategy applied in these conditions is a defensive strategy.
Keyword: Fisherman, Income, Strategy, SWOT
RIWAYAT HIDUP
Muhammad Rifki, lahir di Kota Medan pada tanggal 10 Oktober 1996. Penulis merupakan anak kedua dari Bapak Ir. Ramadhoni dan Ibu Ir. Rifatul Kusniah.
Pendidikan Formal yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
1. Tahun 2002 masuk Sekolah Dasar dan lulus tahun tahun 2008 dari SD Negeri 060884 Medan.
2. Tahun 2008 masuk Sekolah Menegah Pertama dan lulus tahun 2011 dari SMP Negeri 1 Medan.
3. Tahun 2011 masuk Sekolah Menengah Atas dan lulus tahun 2014 dari SMA Negeri 4 Medan.
4. Tahun 2014 diterima di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN.
5. Bulan Juli-Agustus mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara.
Kegiatan yang pernah diikutin penulis selama duduk di bangku kuliah adalah sebagai berikut:
1. Anggota FSMM SEP di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
2. Anggota IMASEP Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
3. Melaksanakan penelitian skripsi di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.
KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul skripsi ini adalah
“Strategi Peningkatan Pendapatan Nelayan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan”.
Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua Orang Tua, Ayahanda Ir. Ramadhoni dan Ibunda Ir. Rifatul Kusniah yang telah memberikan kasih dan sayang serta doa dan dukungan terbaiknya kepada penulis.
2. Ibu Ir. Iskandarini, M.M, Ph.D sebagai ketua komisi pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
3. Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si sebagai anggota komisi pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
4. Bapak Dr.Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si, selaku ketua dan sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU.
5. Seluruh Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang selama ini telah membekali ilmu pengetahuan kepada penulis selama masa perkuliahan.
6. Seluruh pegawai di FP-USU khususnya Program Studi Agribisnis yang telah membantu seluruh proses administrasi.
7. Seluruh nelayan yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.
Segala hormat dan terima kasih penulis ucapkan kepada bapak Abdon Sinaga dan ibu Liza.
8. Saudara-saudara ku tercinta Haqi Ramadhan Noor S.Ab dan Safira Ainurrahma yang selalu memotivasi dan mendoakan penulis.
9. Dan seluruh teman-teman angkatan 2014 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU yang telah banyak membantu penulis selama masa perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya dengan senang hati penulis menerima kritik, saran dan masukan dari semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Mei 2018
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.3 Identifikasi Masalah ... 5
1.4 Tujuan Penelitian ... 5
1.5 Kegunaan Penelitian... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 7
2.2 Landasan Teori ... 9
2.2.1 Teori Pendapatan ... 9
2.2.2 Analisis SWOT ... 12
2.3 Penelitian Terdahulu ... 17
2.4 Kerangka Pemikiran ... 22
2.5 Hipotesis Penelitian ... 24
BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 25
3.2 Metode Pengambilan Sampel ... 25
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 26
3.4 Metode Analisis Data ... 26
3.5 Definisi Dan Batasan Operasional ... 31
3.5.1 Definisi ... 31
3.5.2 Batasan Operasional ... 32
BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK NELAYAN SAMPEL 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 33
4.1.1. Letak Geografis, Batas, dan Luas Wilayah ... 33
4.1.2. Keadaan Penduduk ... 33
4.1.3 Sarana Dan Prasarana ... 36
4.2 Karakteristik Nelayan ... 39
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pendapatan Nelayan ... 41
5.1.1. Biaya Produksi ... 41
5.1.2. Pendapatan Nelayan... 43
5.2 Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman yang mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Nelayan ... 44
5.2.1. Kekuatan Nelayan ... 44
5.2.2. Kelemahan Nelayan ... 46
5.2.3. Peluang Nelayan ... 47
5.2.4. Ancaman Nelayan ... 48
5.3 Strategi Peningkatan Pendapatan Nelayan ... 49
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 58
Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Judul Hal
Tabel 1 Jumlah Nelayan Sumatera Utara Menurut Kategori (orang) 2012-2016.
2
Tabel 2 Jumlah Nelayan Kota Medan Menurut Kategori (orang), 2012-2016.
3
Tabel 3 Produksi Perikanan Tangkap Menurut Provinsi Sumatera Utara Dan Subsektor (ton) 2012-2016.
4
Tabel 4 Produksi Perikanan Tangkap Menurut Kota Medan Dan Subsektor (ton) 2012-2016.
4
Tabel 5 Penelitian Terdahulu. 18
Tabel 6 Matriks SWOT. 28
Tabel 7 Model Matriks Strategi Internal dan Eksternal. 29
Tabel 8 Faktor Strategi Internal/Eksternal. 30
Tabel 9 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2016.
34
Tabel 10 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2016.
34
Tabel 11 Distribusi Penduduk Berdasarkan Lingkungan Tahun 2016.
35
Tabel 12 Sarana dan Prasarana Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2016.
37
Tabel 13 Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama/Aliran Kepercayaan Tahun 2016.
38
Tabel 14 Karateristik Nelayan Sampel Tahun 2018. 39 Tabel 15 Total Rata-Rata Biaya Produksi Nelayan Per Trip. 41
Tabel 16 43
Total Rata-Rata Pendapatan Nelayan Per Trip Di Daerah Penelitian.
Tabel 17 Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Nelayan.
50
Tabel 18 Matriks Evaluasi Faktor – Faktor Strategi Internal (IFAS).
51
Tabel 19 Matriks Evaluasi Faktor – Faktor Strategi Eksternal (EFAS).
51
Tabel 20 Penggabungan Matriks Evaluasi Faktor – Faktor Strategi Internal dan Eksternal Peningkatan Pendapatan Nelayan.
52
Tabel 21 Matriks SWOT. 55
DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
Gambar 1 Matriks Posisi SWOT 15
Gambar 2 Skema Kerangka Pemikiran 23
Gambar 3 Matriks Posisi Strategi Peningkatan Pendapatan Nelayan
53
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul
Lampiran 1 Karakteristik Nelayan Sampel Di Daerah Penelitian.
Lampiran 2 Biaya Variabel.
Lampiran 3 Biaya Penyusutan Kapal.
Lampiran 4 Biaya Penyusutan Ambai.
Lampiran 5 Biaya Penyusutan Fiber.
Lampiran 6 Biaya Penyusutan Jaring.
Lampiran 7 Biaya Total Nelayan dalam Satu Trip.
Lampiran 8 Penerimaan Nelayan.
Lampiran 9 Pendapatan Nelayan per Trip dan per Bulan.
Lampiran 10 Parameter Penilaian Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman.
Lampiran 11 Penentuan Faktor Internal dan Eksternal Nelayan.
Lampiran 12 Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman Nelayan.
Lampiran 13 Matriks Evaluasi Faktor Strategi Internal (IFAS).
Lampiran 14 Matriks Evaluasi Faktor Strategi Eksternal (EFAS).
Lampiran 15 Penggabungan Matriks Evaluasi Faktor Strategi Nelayan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah air Indonesia yang sebagian besar terdiri dari perairan, memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat tinggi tingkat kesuburannya yang sejak dahulu dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia secara turun-temurun untuk memberi kehidupan dan tingkat kesejahteraannya (Yunita, 2005).
Indonesia secara geografis merupakan negara kepulauan memiliki jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau dengan panjang pantai 81.000 km. Apabila sumberdaya kelautan yang ada tersebut dapat dikembangkan secara optimal akan menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan masa depan masyarakat Indonesia khususnya Sumatera Utara (Mulyadi, 2005).
Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peranan dalam pembangunan ekonomi nasional. Pada saat krisis ekonomi, peranan sektor perikanan semakin signifikan, terutama dalam hal mendatangkan devisa. Akan tetapi ironisnya, sektor perikanan selama ini belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan kalangan pengusaha. Padahal bila sektor perikanan dikelola secara secara serius akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan ekonomi nasional serta dapat mengentaskan kemiskinan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat nelayan dan petani ikan (Mulyadi, 2005).
Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun
budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya (Imron, 2003).
Nelayan di Sumatera Utara berjumlah 321.000 jiwa, yang tersebar di 13 kabupaten dan kota dimana dari jumlah tersebut 70% adalah nelayan tradisional yang memiliki teknologi penangkapan yang rendah, 20% adalah nelayan menengah dan 10% adalah nelayan sekolah besar. Berarti 70% nelayan di Sumatera Utara memiliki pola aktivitas ekonomi yang berbeda dari nelayan modern lainnya (Badiran, 2009).
Berikut Jumlah Nelayan Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 1:
Tabel 1. Jumlah Nelayan Sumatera Utara Menurut Kategori (orang) 2012-2016.
Tahun Jumlah
Penuh Sambilan
2012 136.223 38.369 179.232
2013 111.603 35.680 154.601
2014 202.014 55.374 262.695
2015 180.629 55.308 252.015
2016 155.646 50.003 219.527
Sumber: Sumatera Utara Dalam Angka 2017
Dari Tabel 1 tersebut dapat dilihat, bahwa jumlah nelayan tertinggi ada pada tahun 2014 yaitu nelayan penuh berjumlah 202.014 orang, dan nelayan sambilan berjumlah 55.374 orang dan jumlah total nelayan adalah 262.695, sedangkan jumlah nelayan terendah ada pada tahun 2013 yaitu nelayan penuh berjumlah 111.603 orang dan nelayan sambilan berjumlah 111.603 orang dan jumlah total nelayan adalah 154.601 orang.
Nelayan
Tabel 2. Jumlah Nelayan Kota Medan Menurut Kategori (orang) 2012-2016.
Tahun Jumlah
Penuh Sambilan
2012 10.155 2.700 12.855
2013 10.143 2.436 12.579
2014 10.153 2.711 12.864
2015 10.143 2.721 12.864
2016 8.648 3.707 12.355
Sumber: Medan Dalam Angka 2017
Dari Tabel 2 tersebut dapat dilihat, bahwa jumlah nelayan di kota Medan tertinggi ada pada tahun 2014 dan 2015, pada tahun 2014 nelayan penuh berjumlah 10.153 orang, dan nelayan sambilan berjumlah 2.711 orang dan jumlah total nelayan adalah 12.864, dan pada tahun 2015 nelayan penuh berjumlah 10.143 orang, dan nelayan sambilan berjumlah 2.721 orang dan jumlah total nelayan adalah 12.864 orang. Sedangkan jumlah nelayan kota Medan terendah ada pada tahun 2016 yaitu nelayan penuh berjumlah 8.648 orang dan nelayan sambilan berjumlah 3.707 orang dan jumlah total nelayan adalah 12.355 orang.
Rendahnya produktivitas nelayan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya pendapatan nelayan. Jika tidak bekerja nelayan tidak akan mendapatkan penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari dan akan mengakibatkan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan semakin menurun (Constantin, 2014).
Nelayan
Berikut Jumlah Perikanan Tangkap Menurut Provinsi Sumatera Utara dapat Dilihat Pada Tabel :
Tabel 3. Produksi Perikanan Tangkap Menurut Provinsi Sumatera Utara Dan Subsektor (ton) 2012-2016.
Tahun Jumlah
2012 563.134
2013 555.311
2014 572.149
2015 579.549
2016 408.094
Sumber :
Direktorat Jenderal Perikanan TangkapDari Tabel 3 menunjukkan bahwa Provinsi Sumatera Utara memiliki jumlah produksi perikanan tangkap terendah adalah pada tahun 2016 yaitu sebesar 408.094 ton dan jumlah produksi perikanan tangkap tertinggi adalah pada tahun 2015 yaitu sebesar 579.549 ton.
Berikut jumlah perikanan tangkap menurut kota Medan dapat dlihat pada tabel : Tabel 4. Produksi Perikanan Tangkap Menurut Kota Medan Dan Subsektor
(ton) 2012-2016.
Tahun Jumlah
2012 77.687,7
2013 79.305,4
2014 90.181,7
2015 86.003,9
2016 88.521,0
Sumber :Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Medan 2017.
Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa kota medan memiliki jumlah produksi perikanan tangkap terendah adalah pada tahun 2012 yaitu sebesar 77.687,7 ton
dan jumlah produksi perikanan tangkap tertinggi adalah pada tahun 2016 yaitu sebesar 88.521,0 ton.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang pendapatan nelayan dan strategi peningkatan pendapatan nelayan karena Kecamatan Medan Marelan merupakan salah satu kawasan produksi perikanan yang potensial tetapi pendapatan dari nelayan di tempat tersebut sangat rendah.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Berapa besar pendapatan nelayan di tempat penelitian?
2. Apa yang menjadi faktor internal dan eksternal dalam kegiatan nelayan?
3. Bagaimana strategi untuk meningkatkan pendapatan nelayan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengidentifikasi besar pendapatan nelayan di tempat penelitian.
2. Untuk menganalisis faktor internal dan eksternal dalam kegiatan nelayan.
3. Untuk menganalisis strategi peningkatan pendapatan nelayan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi para nelayan dan pihak-pihak yang berkepentingan.
2. Sebagai bahan referensi dan informasi bagi pemerintah sebagai badan pengambil keputusan dan kebijakan.
3. Sebagai bahan referensi dan informasi untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir laut. Komunitas nelayan adalah kelompok yang bermata pencaharian hasil laut dan tinggal di desa-desa pantai atau pesisir. Ciri komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu:
a. Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah mereka yang aktivitasnya berkaitan dengan lingkungan laut atau pesisir, atau mereka yang menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian mereka.
b. Dari cara segi hidup, komunitas nelayan adalah komunitas gotong royong. Kebutuhan gotong royong dan tolong menolong terasa sangat penting pada saat untuk mengatasi keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan pengerahan tenaga kerja yang banyak.
c. Dari segi keterampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan berat namun pada umumnya mereka hanya memiliki keterampilan sederhana. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai nelayan adalah profesi yang diturunkan oleh orang tua, bukan yang dipelajari secara professional (Sastrawidjaya, 2002).
Masyarakat nelayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang dianggap miskin bahkan paling miskin di antara penduduk miskin (the poorest of the poor).
Namun demikian, data yang pasti tentang jumlah nelayan miskin di Indonesia sampai saat ini tidak pernah tersedia (Satria, 2009).
Pekerjaan nelayan adalah pekerjaan yang sangat berat. Mereka yang menjadi nelayan tidak dapat membayangkan pekerjaan yang lain yang lebih mudah, sesuai kemampuan yang mereka miliki, keterampilan sebagai nelayan bersifat amat sederhana dan hampir sepenuhnya dapat dipelajari dari orang tua mereka sejak mereka masih kanak-kanak. Apabila orang tua mampu, mereka pasti akan berusaha menyekolahkan anak setinggi mungkin sehingga tidak harus menjadi nelayan seperti orang tua mereka. Tetapi dari kasus-kasus keluarga yang diteliti, ternyata kebanyakan mereka tidak mampu membebaskan diri dari profesi nelayan (Mubyarto, 2002).
Faktor-faktor yang paling mendasar sebagai indikator dari kemiskinan nelayan yaitu:
a) Keterbatasan modal untuk mengembangkan usaha.
Hal ini disebabkan oleh tanggungan keluarga yang tinggi. Selain biaya kehidupan nelayan yang banyak, hal ini diperburuk lagi dengan jumlah anak yang mereka miliki. Keterbatasan modal dalam mengembangkan usahanya dikarenakan tidak dimilikinya akses ke pelayanan kredit. Selain kurangnya informasi mengenai pengajuan kredit juga dikarenakan ketidakmampuan nelayan dalam memenuhi persyaratan dan ketentuan yang diajukan oleh pihak pemberi kredit.
b) Tingkat pendidikan rendah
Hal ini disebabkan oleh biaya pendidikan yang tinggi, lokasi sekolah yang jauh dari tempat tinggal merupakan alasan bagi nelayan untuk memilih tidak bersekolah. Selain itu nelayan merasa tidak memerlukan pendidikan formal karena sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskan di laut,
c) Pendapatan yang rendah
Hal ini disebabkan oleh teknologi yang rendah, skala usaha/modal yang dimiliki kecil dan masih bersifat tradisional, kemamapuan nelayan dalam memanfaatkan peluang usaha dan mengatasi tantangan lingkungan yang rendah. Kemudian dalam penentuan fishing ground nelayan yang mempunyai izin untuk melakukan operasi di tempat tersebut akan memperoleh hasil yang banyak, tetapi bagi nelayan yang tidak memiliki akses ke lokasi hasil tangkapannya tidak maksimal dan juga biayanya tinggi (Nikijuluw, 2002).
d) Perilaku ekonomi rumah tangga nelayan
Hal ini disebabkan oleh budaya boros dari perilaku ekonomi nelayan.
Dimana pendapatan hari ini dihabiskan pada hari itu juga, tidak ada kesadaran untuk memiliki tabungan dan pola konsumsi yang cendderung tidak teratur.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Pendapatan
Suatu kegiatan perekonomian yang bergerak dalam sektor apapun dalam penentuan tingkat produksi akan memperhitungkan tingkat pendapatan yang akan dihasilkan dalam suatu produksi. Dengan efisiensi biaya produksi maka akan mencapai profit/keuntungan yang maksimum karena profit merupakan salah satu tujuan penting dalam berusaha (Constantin, 2014).
Peningkatan pendapatan petani atau pengusaha pertanian ditentukan oleh :
1. Jumlah produksi yang dapat dihasilkan oleh satu orang petani atau perusahaan pertanian.
2. Harga penjualan produk
3. Biaya produksi/usahatani atau usaha pertanian (Simanjuntak, 2004).
Pendapatan
Pendapatan adalah suatu ukuran balas jasa terhadap faktor-faktor produksi yang ikut dalam proses produksi. Pengukuran pendapatan untuk tiap-tiap jenis factor produksi yang ikut dalam usahatani tergantung pada tujuannya. Pada akhirnya para nelayan dari setiap usahataninta mengharapkan pendapatan yang disebut dengan pendapatan usahatani. Pendapatan usaha tani adalah selisih antara total penerimaan (TR) dengan total biaya (TC) atau dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut :
Dimana :
I = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan TC = Total biaya (Soekartawi, 1995).
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul akibat aktivitas normal perusahaan selama satu periode arus masuk itu mengakibatkan kenaikan modal (ekuitas) dan tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Arus masuk dimaksud adalah hasil dari penjualan produk perusahaan (Kuswadi,2008).
I = TR-TC
Penerimaan
Menurut Suratiyah (2015), Pendapatan kotor atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diperoleh dari usahatani selama satu periode diperhitungkan dari hasil penjualan atau penaksiran kembali. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut:
Dimana :
Y = Jumlah Produksi
Py = Harga per kesatuan
Biaya
Biaya nelayan biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk tenaga kerja.
Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut:
Dimana :
TC = Total biaya
FC = Fixed Cost ( Biaya Tetap ) VC = Variabel Cost ( Biaya Variabel ) (Soekartawi, 2002).
Pendapatan kotor = Y x Py
TC = FC + VC
Tujuan pembangunan pertanian sebagai salah satu pembangunan ekonomi di Indonesia bertujuan memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bidang usaha pertanian (petani, nelayan, dan peternak) dipedesaan. Hal ini dapat tercapai bila pendapatannya dapat ditingkatkan dari sumber pendapatannya baik dari pertanian maupun non pertanian (Rahim dan Hastuti, 2008).
2.2.2 Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).
Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 2009).
Sebelum melakukan analisis, maka diperlukan tahap pengumpulan data yang terdiri atas tiga model yaitu:
a. Matriks Faktor Strategi Internal
Sebelum membuat matriks faktor strategi internal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu cara-cara penentuan dalam membuat tabel IFAS .
1. Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan).
2. Beri rating masing-masing faktor dalam kolom 2 sesuai besar kecilnya pengaruh yang ada pada faktor strategi internal, mulai dari nilai 4 (sangat baik),
nilai 3 (baik), nilai 2 (cukup baik) dan nilai 1 (tidak baik) terhadap kekuatan dan nilai “rating” terhadap kelemahan bernilai negatifnya.
3. Beri bobot untuk setiap faktor dari 0 sampai 100 pada kolom bobot (kolom 3).
Bobot ditentukan secara subyektif, berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan.
4. Kalikan rating pada kolom 2 dengan bobot pada kolom 3, untuk memperoleh skoring dalam kolom 4.
5. Jumlahkan skoring (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategi internalnya.
Hasil identifkasi faktor kunci internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan, pembobotan dan rating dipindahkan ke tabel Matrik Faktor Strategi Internal (IFAS) untuk dijumlahkan dan kemudian di perbandingkan antara total skor kekuatan dan kelemahan.
b. Matriks Faktor Strategi Eksternal
Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu cara-cara penentuan dalam membuat tabel EFAS.
1. Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor eksternalnya (peluang dan ancaman).
2. Beri rating dalam masing-masing faktor dalam kolom 2 sesuai besar kecilnya pengaruh yang ada pada faktor strategi eksternal, mulai dari nilai 4 (sangat baik), nilai 3 (baik), nilai 2 (cukup baik) dan nilai 1 (tidak baik) terhadap peluang dan nilai “rating” terhadap ancaman bernilai negatif.
3. Beri bobot untuk setiap faktor dari 0 sampai 100 pada kolom bobot (kolom 3).
Bobot ditentukan secara subyektif, berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan.
4. Kalikan rating pada kolom 2 dengan bobot pada kolom 3, untuk memperoleh skoring dalam kolom 4.
5. Jumlahkan skoring (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategi eksternalnya.
Hasil identifkasi faktor kunci internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan, pembobotan dan rating dipindahkan ke tabel Matrik Faktor Strategi eksternal (EFAS) untuk dijumlahkan dan kemudian di perbandingkan antara total skor peluang dan ancaman.
c. Matriks Posisi
Hasil analisis pada tabel matriks faktor strategi internal dan faktor strategi eksternal dipetakan pada matriks posisi dengan cara sebagai berikut:
a. Sumbu horizontal (x) menunjukkan kekuatan dan kelemahan, sedangkan sumbu vertikal (y) menunjukkan peluang dan ancaman.
b. Posisi perusahaan ditentukan dengan hasil sebagai berikut:
- Kalau peluang lebih besar daripada ancaman maka nilai y > 0 dan sebaliknya kalau ancaman lebih besar daripada peluang maka nilainya y <
0.
- Kalau kekuatan lebih besar daripada kelemahan maka nilai x > 0 dan sebaliknya kalau kelemahan lebih besar daripada kekuatan maka nilainya x
< 0
Y(+)
X(-) X (+)
Y(-)
Gambar 1. Matriks Posisi SWOT Kuadran I
- Merupakan posisi yang menguntungkan.
- Perusahaan mempunyai peluang dan kekuatan sehingga ia dapat memanfaatkan peluang secara maksimal.
- Seyogyanya menerapkan strategi yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif.
EKSTERNAL FAKTOR
Kuadran III Strategi Turn-around
Kuadran I Strategi Agresif
Kuadran IV Strategi Defensif
Kuadran II Strategi Diversifikasi
I N T E R N A L F A K T O R
Kuadran II
- Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan mempunyai keunggulan sumber daya.
- Perusahaan-perusahaan dalam posisi seperti ini menggunakan kekuatannya untuk memanfaatkan peluang jangka panjang.
- Dilakukan dengan penggunaan diversivikasi produk atau pasar.
Kuadran III
- Perusahaan menghadapi peluang besar tetapi sumber dayanya lemah, karena itu dapat memanfaatkan peluang tersebut secara optimal fokus strategi perusahaan pada posisi seperti inilah meminimalkan kendala-kendala internal perusahaan.
Kuadran IV
- Merupakan kondisi yang serba tidak menguntungkan.
- Perusahaan menghadapi berbagai ancaman eksternal sementara sumberdaya yang dimiliki mempunyai banyak kelemahan.
- Strategi yang diambil adalah penciutan dan likuidasi.
(Situmorang dan Dilham, 2007).
Matriks SWOT dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis yaitu:
a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
b. Strategi ST
Strategi ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
d. Strategi WT
Strategi ini didasarkan pada kegiatan meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dimuat untuk mengetahui bahwa suatu permasalahan sudah pernah diteliti dan sudah dipecahkan, sehingga dapat menghindari adanya penelitian yang berulang-ulang namun sebenarnya sama.. Adapun gambaran penelitian terdahulu yang sudah dilakukan dapat dilihat pada berikut :
Tabel 5. Penelitian Terdahulu No Nama
Peneliti
Judul Penelitian
Tujuan Penelitian
Metode Analisis
Kesimpulan 1. Arisa
Viniasari Lubis (2013).
Strategi peningkatan pendapatan Usahatani Ubi Kayu
(Studi Kasus : Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang ).
Untuk
Menganalisis pendapatan usahatani ubi kayu dan menentukan strategi peningkatan pendapatan usahatani ubi kayu
berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal di daerah penelitian.
Metode Analisis Pendapatan dan
Analisis SWOT.
Besar pendapatan usahatani ubi kayu per petani di daerah penelitian adalah rata-rata Rp.27.665.125, - per sekali musim tanam dengan jumlah rata-rata produksi 29.075 kg.
Strategi yang diterapkan adalah strategi Turn-Around.
No Nama Peneliti
Judul Penelitian
Tujuan Penelitian
Metode Analisis
Kesimpulan No Nama
Peneliti
Judul Penelitian
Tujuan Penelitian
Metode Analisis
Kesimpulan 2. Sri Novi
Yanti (2014).
Strategi peningkatan pendapatan petani padi organik (Studi Kasus : Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)
Untuk menghitung besarnya pendapatan petani padi organik dan menentukan strategi peningkatan pendapatan berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan di daerah
penelitian.
.
Analisis Pendapatan dan analisis SWOT.
Besar Pendapatan petani organic didaerah penelitan adalah rata – rata Rp 9. 193.512,- / Musim tanam dengan jumlah rata – rata produksi 2.785 Kg/
Musim Tanam.
Strategi yang dapat
diterapkan didaerah penelitian dalma upaya untuk
meningkatkan pendapatan petani adalah Strategi Agresif atau Strategi (SO).
3. Fritz Mesakh Tarigan Silangit ( 2014 ).
Strategi peningkatan pendapatan petani karet rakyat di Kabupaten Labuhan batu Selatan (Studi Kasus:
Kelurahan Langgapayung , Kecamatan Sungai Kanan).
Untuk merumuskan strategi peningkatan pendapatan petani karet rakyat di Kabupaten Labuhan Batu Selatan.
Metode Analisis SWOT.
Strategi yang diterapkan untuk
meningkatkan pendapatan petani karet rakyat adalah strategi SO (Strengths- Opportunities), yaitu dengan menggunakan kekuatan internal untuk menarik keuntungan dari peluang yang tersedia.
No Nama Peneliti
Judul Penelitian
Tujuan Penelitian
Metode Analisis
Kesimpulan 4. Constantin G
Panggabean (2014)
Analisis Faktor-faktor yang
mempengaruhi Pendapatan dan persepsi nelayan pada program peningkatan pendapatan (Studi Kasus : Kecamatan Tanjung Beringin dan Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai ).
Untuk
Menganalisis pengaruh modal kerja, jam kerja, pengalaman kerja, dan teknologi terhadap pendapatan nelayan dan Mengetahui persepsi nelayan terhadap program peningkatan pendapatan yang
dilaksanakan oleh
pemerintah. di daerah
penelitian.
Analisis Pendapatan dan Linear berganda
Modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan nelayan.
Teknologi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan nelayan. Jam kerja dan pengalaman melaut tidak berpengaruh terhadap pendapatan nelayan di Desa Kuala Lama dan Desa Pekan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
2.4 Kerangka Pemikiran
Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut,baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.
Pendapatan adalah nilai barang atau jasa tertentu pada akhir jangka tertentu yang mempunyai indikasi bahwa makna pendapatan bisa saja bergeser seiring dengan tingkat pengeluaran konsumsi masyarakat.
Setiap kegiatan yang dijalankan tentunya memiliki faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan nelayan. Diperlukan penentuan alternative strategi dalam peningkatan pendapatan dengan menggunakan analisis SWOT. Setelah dilakukan analisis faktor SWOT, maka kita dapat menetukan strategi peningkatan apa yang cocok dan bisa diterapkan untuk meningkatkan pendapatan nelayan di daerah penelitian. Secara sistematis kerangka pemikiran dapat dilihat pada skema gambar berikut:
Secara sistematis kerangka pemikiran dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
KETERANGAN :
: Hubungan : Pengaruh
Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran NELAYAN
FAKTOR INTERNAL
FAKTOR EKSTERNAL PENDAPATAN
NELAYAN
( S ) KEKUATAN
( W ) KELEMAHAN
( O ) PELUANG
( T ) ANCAMAN
STRATEGI PENINGKATAN
PENDAPATAN NELAYAN
2.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah dan landasan teori yang dibuat, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:
1. Pendapatan nelayan di daerah penelitian tergolong rendah.
2. Strategi untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah dengan strategi SO yaitu memanfaatkan seluruh kekuatan dan peluang sebesar-besarnya.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian ditentukan secara purposive atau secara sengaja, yaitu secara sengaja memilih kelurahan Labuhan Deli, kecamatan Medan Marelan, kota Medan. Pemilihan daerah ini dikarenakan daerah ini merupakan salah satu produksi ikan laut di kota Medan. Selain itu daerah ini mudah dijangkau oleh peneliti sehingga mempermudah penelitian.
3.2 Metode Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah para nelayan di Kecamatan Medan Marelan, Kelurahan Labuhan Deli, Kota Medan. Jumlah nelayan di daerah penelitian adalah 1988 orang. Jumlah sampel nelayan ditentukan dengan rumus slovin.
Dimana :
n = Ukuran sampel
N = Ukuran populasi
e = Kesalahan Pengambilan sampel yang di tolerir (dalam penelitian ini digunakan α = 15%).
n =
Diketahui bahwa jumlah populasi nelayan di kecamatan Medan Marelan, kelurahan Labuhan Deli, kota Medan sebanyak 1988. Dengan menggunakan rumus slovin maka jumlah sampel yang di ambil adalah:
n =
n =
n =
n =
44(Sugiyono, 2010)
Dari hasil Slovin di atas, jumlah sampel nelayan yang diambil adalah 44 orang dari 1.988 orang dengan penentuan sampel ditentukan secara simple random sampling yaitu metode pengambilan sampel sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk di pilih sebagai sampel.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer di peroleh dari nelayan di kelurahan Labuhan Deli, kecamatan Medan Marelan, kota Medan. Sedangkan data skunder diperoleh dari instansi dan dinas yang terkait dengan penelitian ini seperti dinas perikanan dan kelautan kota Medan, kantor lurah Labuhan Deli, kantor camat Medan Marelan,
Badan Pusat Statistik Kota Medan dan Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, serta literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.4 Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif, lalu dianalisis dengan metode analisis yang sesuai.
Untuk hipotesis 1, diambil dengan menghitung pendapatan nelayan digunakan rumus total pendapatan. Adapun rumus total pendapatan adalah sebagai berikut:
I = TR – TC
Dimana:
I = Pendapatan usahatani
TR = Total penerimaan
TC = Total biaya (Soekartawi, 1995).
Adapun Upah Minimum Kota (UMK) Medan tahun 2017 berdasarkan Keputusan nomor 188.44/698/Kpts/Tahun 2016 tanggal 1 Desember 2016 yaitu sebesar Rp. 2.528.815 per bulan.
Secara serempak hipotesis yang di gunakan adalah :
= Diterima jika pendapatan nelayan lebih kecil dari pada UMK.
= Diterima jika pendapatan nelayan lebih besar dari pada UMK.
Untuk menyelesaikan hipotesis 2, digunakan metode analisis SWOT, sesuai dengan teori yang telah dikemukakan alat yang dipakai untuk menyusun faktor- faktor strategis adalah matriks SWOT. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuaatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis, seperti digambarkan pada diagram dibawah ini.
Tabel 6. Matriks SWOT
STRENGTHS (S) Tentukan 5-10 faktor kekuatan internal
WEAKNESSES (W) Tentukan 5-10 faktor kelemahan internal
OPPORTUNITIES (O) Tentukan 5-10 faktor peluang eksternal
STRATEGI SO
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
STRATEGI WO Ciptakan strategi yang meminimalkan
kelemahan untuk memanfaatkan peluang TREATHS (T)
Tentukan 5-10 faktor ancaman Eksternal
STRATEGI ST
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi
ancaman
STRATEGI WT Ciptakan strategi yang meminimalkan
kelemahan dan
menghindari ancaman Sumber : Rangkuti, 2008.
Sebelum melakukan analisis data seperti tabel 6 di atas maka terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan model matriks faktor strategi internal, matriks faktor strategi eksternal seperti tabel 7 ini:
IFAS EFAS
Tabel 7. Model Matriks Strategi Internal dan Eksternal
Rating Kategori Faktor internal Faktor eksternal
4 Sangat Baik Kekuatan Peluang
3 Baik Kekuatan Peluang
2 Cukup Baik Kekuatan Peluang
1 Tidak Baik Kekuatan Peluang
-4 Sangat Baik Kelemahan Ancaman
-3 Baik Kelemahan Ancaman
-2 Cukup Baik Kelemahan Ancaman
-1 Tidak Baik Kelemahan Ancaman
Total Skor
Dari tabel 7 di atas, setiap faktor internal kekuatan dan faktor eksternal peluang diberi kategori sangat baik sampai tidak baik dan diberi rating mulai dari 4 untuk ketegori sangat baik sampai 1 untuk kategori tidak baik. Sedangkan setiap faktor internal kelemahan dan faktor eksternal ancaman diberi kategori sangat baik sampai tidak baik dan diberi rating mulai dari -4 untuk kategori sangat baik sampai -1 untuk kategori tidak baik.
Tabel 8. Faktor Strategi Internal/Eksternal
Faktor Strategi Rating Bobot Skoring
Internal / Eksternal (Rating x Bobot )
Kekuatan / Peluang : 1. .
2. . 3. . 4. . 5. .
Total skor Kekuatan/Kelemahan 100
Kelemahan / Ancaman : 1. .
2. . 3. . 4. . 5. .
Total skor Peluang/Ancaman 100
Selisih Kekuatan – Kelemahan / Peluang – Ancaman
Berdasarkan Tabel 8 di atas, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor strateginya adalah menentukan faktor-faktor yang menjadi kelemahan-kelemahan serta peluang ancaman dalam kolom 1, lalu beri bobot masing-masing faktor tersebut yang jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 100 pada kolom 3. Secara matematis penentuan bobot dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:
Kemudian yang terakhir, kalikan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan skoring dalam kolom 4.
3.5 Defenisi dan Batasan Operasional
Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpahaman mengenai pengertian tentang istilah-istilah dalam penelitian, maka dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut:
3.5.1 Definisi
1. Nelayan adalah orang/individu yang aktif dalam melakukan penangkapan ikan dan hasil laut lainnya.
2. Pendapatan adalah seluruh penerimaan dikurangi biaya produksi dihitung dalam rupiah.
3. Strategi peningkatan pendapatan adalah hal-hal yang digunakan untuk meningkatkan pendapatan nelayan.
4. Analisis SWOT adalah Identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi peningkatan pendapatan nelayan.
5. Strengths (kekuatan) adalah kekuatan-kekuatan yang dimiliki nelayan.
6. Weaknesses (kelemahan) adalah kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh nelayan.
7. Opportunities (peluang) adalah berbagai peluang yang muncul terhadap nelayan.
8. Threats (ancaman) adalah berbagai ancaman yang muncul terhadap nelayan.
3.5.2 Batasan Operasional
1. Daerah penelitian adalah Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.
2. Sampel dalam penelitian ini adalah nelayan.
3. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2018.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK NELAYAN SAMPEL
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian
4.1.1 Letak Geografis, Batas, dan Luas Wilayah
Daerah penelitian dilakukan di Kecamatan Medan Marelan, Kelurahan Labuhan Deli. Tempat penelitian terletak 24 km dari ibu kota kabupaten/kota dengan waktu tempuh 1 jam dan 26 km dari ibu kota Provinsi Sumatera Utara dengan waktu tempuh 1 jam. Kelurahan Labuhan Deli terletak 150 meter diatas di permukaan laut dengan suhu udara rata-rata berkisar 32° dengan curah hujan rata-rata 600 mm/tahun, dengan luas secara keseluruhan adalah 450 ha yang terdiri dari 11 lingkungan. Berdasarkan letak geografisnya, Kelurahan Labuhan Deli memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Belawan.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Rengas Pulau.
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Medan Labuhan.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Paya Pasir.
Kelurahan Labuhan Deli memiliki prestasi yang pernah diraih yaitu juara 1 lomba penilaian kinerja kelurahan pada tahun 2016 dan juara 1 kebersihan tingkat kecamatan dalam rangka perayaan ulang tahun kota Medan ke 426.
4.1.2 Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kelurahan Labuhan Deli tahun 2016 adalah sebanyak 17.445 jiwa atau 4055 KK yang terdiri dari 8.775 Laki-laki dan 8.570 Perempuan . Jumlah penduduk Kelurahan Labuhan Deli dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 9. Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2016.
Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017
Tabel 9. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk terbanyak terdapat pada kelompok umur 17-25 yaitu sebanyak 2.530 jiwa dengan persentase 14,5% dan jumlah penduduk terendah berada pada kelompok umur 41-45 yaitu sebanyak 1.425 jiwa dengan persentase 8,2%.
Mata pencaharian penduduk kelurahan Labuhan Deli terdiri dari nelayan, tani, pns, tni, polri, guru, bumn, pedagang, medis dan wirausaha.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini
Tabel 10. Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata PencaharianTahun 2016
No Pekerjaan Jumlah Penduduk (jiwa) Persentase (%)
1. Nelyan 1988 47,3
2. Tani 245 5,9
3. PNS 87 2,1
4. TNI 22 0,5
No Umur Jumlah Penduduk Persentase (%)
1. 0-5 1671 9,6
2. 6-9 1679 9,7
3. 10-16 2.455 14
4. 17-25 2.530 14,5
5. 26-30 1.751 10
6. 31-35 1.798 10,3
7. 36-40 1.633 9,4
8. 41-45 1.425 8,2
9. ≥46 2.503 14,3
Total 17.445 100
5. POLRI 22 0,5
6. Guru 114 2,7
7. Bumn 141 3,3
8. Pedagang 319 7,6
9. Medis 21 0,4
7. Wirausaha 1251 29,7
Total 4210 100
Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017
Tabel 10. memperlihatkan bahwa mata pencaharian penduduk terbesar adalah Nelayan yaitu sebanyak 1988 jiwa dengan persentase 47,3% yang pada umumnya melaut mencari ikan, cumi dan udang .
Penduduk di Kelurahan Labuhan Deli tersebar di setiap lingkungan, yang berjumlah 11 lingkungan. Berikut akan disajikan dalam tabel di bawah ini
Tabel 11. Distribusi Penduduk Berdasarkan Lingkungan Tahun 2016
No Lingkungan Jumlah Penduduk
(jiwa)
Persentase (%)
1. I 1.472 8,5
2. II 1.807 10,3
3. III 1.354 7,8
4. IV 1.718 9,8
5. V 1.481 8,4
6. VI 1.382 8
7. VII 2.274 13
8. VII 2.157 12,3
9. IX 2.083 12
10. X 150 0,9
11. XI 1.567 9
Total 17.445 100
Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017
Tabel 11. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk terbesar berada di lingkungan VII yaitu sebesar 2.274 jiwa (13%), sedangkan jumlah penduduk terkecil berada pada lingkungan X yaitu sebesar 150 jiwa (0,9%).
Hubungan kekeluargaan dapat dilihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan di Kelurahan Labuhan Deli seperti kegiatan gotong-royong dan beberapa kegiatan adat seperti perkawinan maupun acara-acara lainnya.
4.1.3 Sarana dan Prasarana
Infrasturktur adalah sarana atau prasana yang disediakan baik oleh pemerintah maupun oleh swasta dalam rangka menunjang kegiatan produksi dan proses pembangunan. Sarana dan prasarana yang tersedia dengan baik dapat mempelancar jalannya pembangunan sehingga dapat mempengaruhi perkembangan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di kelurahan labuhan deli dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 12. Sarana dan Prasarana Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2016
No Sarana dan Prasarana Jumlah (unit)
1. Prasaran Kesehatan a. Puskesmas b. Poliklinik c. Pos KB d. Posyandu e. Bidan
- 5 1 10 13 2. Prasarana Pendidikan
a. Taman Kanak – Kanak b. Sekolah Dasar
c. SLTP d. SLTA
e. Pendidikan Non Formal
10 9 2 - - 3. Prasarana Ibadah
a. Mesjid b. Mushola c. Gereja d. Kelenteng e. Wihara
4 12
1 1 5 4. Prasarana Air Bersih
a. Sumur Pompa b. Sumur Gali
825 1.246 5. Sarana Keamanan Lingkungan
a. Pos Keamanan Lingkungan b. Pos Penjaga Satpam Perumahan
7 2 6. Sarana Komunikasi
a. Pesawat Telepon b. Pesawat Tv
- 1.241
7. Kelembagaan Ekonomi -
8. Kantor Kelurahan 1
9. Kelompok Nelayan 1
Sumber: Kelurahan Labuhan Deli Tahun, 2017
Tabel 12. memperlihatkan bahwa sarana dan prasarana yang terdapat di desa ini dinilai sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari tersedianya sarana kesehatan, pendidikan, komunikasi, dan air bersih.
Pada tabel 12 terdapat kelompok nelayan yang ada di Kelurahan Labuhan Deli juga ada dalam kondisi yang aktif. Kelompok nelayan yang terdapat di Kelurahan Labuhan Deli akan berperan dalam menerima bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada nelayan seperti asuransi kecelakaan di laut yang diterima oleh nelayan .
Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa sarana ibadah di Kelurahan Labuhan Deli sudah dapat dikatan sangat cukup mendukung. Ini terlihat dari tersedianya sarana ibadah bagi warga beragama Islam, Kristen, dan juga Budha. Berikut akan dijelaskan tentang keadaan penduduk di Kelurahan Labuhan Deli berdasakan dengan agama atau aliran kepercayaan masing-masing.
Tabel 13. Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama/Aliran Kepercayaan Tahun 2016
Sumber: Kelurahan Labuhan Deli, 2017.
No Agama Jumlah Penduduk (jiwa) Persentase (%)
1. Islam 16.529 94,7
2. Kristen Protestan 585 3,3
3. Kristen Katholik 162 1
4. Hindu 0 0
5. Budha 169 1
Total 17.445 100
4.2 Karateristik Nelayan Sampel
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan dan besarnya pendapatan yang diperoleh dalam suatu usaha nelayan. Faktor tersebut diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Yang termasuk dalam faktor internal adalah umur nelayan, pendidikan atupun pengetahuan (pengalaman melaut dan keterampilan), jumlah tanggungan keluarga, frekuensi melaut dan modal. Sedangkan yang termasuk dalam faktor eksternal adalah input, baik dari segi ketersediannya maupun harganya, dan output, baik dari segi jumlah permintaan maupun dari segi harga.
Karateistik nelayan sampel dalam penelitian ini terdiri dari umur, lama menjadi nelayan, frekuensi melaut, pendidikan dan jumlah tanggungan kelurga.
Karateristik nelayan sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 14. Karateristik Nelayan Sampel Tahun 2018
No Uraian Satuan Range Rata – rata
1. Umur Tahun 29-66 47
2. Pengalaman Tahun 15-50 30
3. Jumlah Tanggungan Jiwa 0-6 4
4. Frekuensi Melaut (Hari/bulan) 8-25 18
5. Modal Rupiah 65.000-
930.000
266.159 6 Pendapatan Nelayan Rupiah 204.000-
2.105.000
286.493
Sumber: Lampiran 1, 2018
Berdasarkan tabel 14 dapat di lihat bahwa umur nelayan sampel di kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan berkisar 29-66 tahun dengan rata-rata ber usia 47 tahun. Hal ini berarti bahwa umur nelayan sampel dalam usia yang masih cukup produktif. Nelayan sampel tersebut masih memiliki potensi besar unutk melakukan pekerjaan sebagai nelayan.
Pengalaman nelayan sampel di daerah penelitian berkisar 15-50 tahun dengan rata-rata pengalaman sebagai nelayan selama 30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa nelayan sudah memiliki pengalaman yang cukup baik dalam melakukan kegiatan mereka sehari-hari yaitu melaut.
Jumlah tanggungan keluarga nelayan sampel berkisar dari 0-6 orang dengan rata- rata jumlah tanggungan keluarga 3 orang. Rata-rata ini menujukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga setiap nelayan cukup banyak.
Frekuensi melaut nelayan sampel berkisar 8-25 hari per bulan dengan rata-rata 18 hari perbulan .Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata jumlah hari melaut nelayan per bulan cukup tinggi.
Modal per trip nelayan sampel di daerah penelitian berkisar antara Rp. 54.000- 930.000 dengan rata – rata modal sebesar 266.159. Hasil ini menunjukkan bahwa nelayan sampel cukup memiliki modal untuk melaut.
Pendapatan nelayan per trip berkisar antara Rp. 204.000- 2.105.000 dengan rata- rata pendapatan nelayan per trip sebesar Rp. 286.493 menunjukkan bahwa pendapatan nelayan per trip cukup tinggi.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Pendapatan Nelayan 5.1.1 Biaya Produksi
Rata-rata biaya produksi yang di keluarkan oleh nelayan kapal motor per trip dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel 15. Total Rata-Rata Biaya Produksi Nelayan Per Trip
No Jenis Biaya Per Trip
1. Biaya Variabel
- Minyak (Rp) 54.682
- Makanan / Bekal (Rp) 92.500
- Es (Rp) 11.023
- Biaya Tenaga Kerja (Rp) 107.955 2. Biaya Tetap
- Penyusutan Peralatan 20.333
Total 286.493
Sumber : Data di olah dari lampiran 7
Dari tabel 15 dapat di ketahui bahwa rata-rata biaya produksi nelayan kapal motor per trip adalah Rp.286.493 dengan rata-rata biaya minyak yaitu Rp.54.682, biaya makan Rp.92.500, biaya es Rp.11.023, biaya tenaga kerja Rp.107.955 dan biaya penyusutan peralatan Rp. 20.333.
a. Biaya Variabel
Biaya variabel yang digunakan dalam kegiatan nelayan kapal motor didaerah penelitian terdiri atas biaya minyak, makanan/bekal, es, dan tenaga kerja. Adapun masing – masing biaya variabel akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Biaya Minyak
Nelayan di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan memperoleh solar dari pedagang atau SPBU yang berada di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan. Jenis bahan bakar yang digunakan yaitu jenis bahan bakar solar.
Harga bahan bakar solar yang digunakan nelayan yaitu Rp 6.000/liter dan total rata – rata biaya yang dikeluarkan nelayan berdasarkan hasil penelitian adalah sebesar Rp.54.682.
2. Biaya Makanan
Nelayan didaerah penelitian umumnya pergi melaut dalam jangka waktu paling lama 3 hari, sehingga memerlukan bekal makanan. Berdasarkan hasil penelitian biaya makanan yang dikeluarkan oleh nelayan tergantung oleh jumlah nelayan yang berangkat dalam satu trip. Biaya rata – rata yang dikeluarkan nelayan untuk makanan adalah sebesar Rp.92.500.
3. Biaya Es
Es merupakan salah satu faktor penentu kualitas hasil tangkapan nelayan.
Perjalanan yang jauh dan memerlukan waktu lama merupakan penyebab diperlukannya es untuk menjaga ketahanan ikan hasil tangkapan nelayan sebelum sampai ke Tempat Tangkahan ikan .Hal ini bertujuan agar kualitas ikan tetap terjaga ketika dalam perjalanan. Berdasarkan hasil penelitian rata – rata biaya yang dikeluarkan nelayan untuk es adalah sebesar Rp. 11.023.
4. Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan nelayan untuk membayar upah tenaga kerja dalam sekali trip. Sistem pengupahan didaerah penelitian adalah sistem harian dengan upah pria rata-rata sebesar Rp. 50.000/hari. Berdasarkan hasil penelitian biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh nelayan adalah sebesar Rp. 107.955.
b. Biaya Tetap
1. Biaya Penyusutan
Biaya penyusutan adalah biaya yang dikeluarkan akibat adanya penurunan nilai dari alat yang mengalami penyusutan. Ada beberapa alat yang mengalami penyusutan yaitu alat-alat dan perlengkapan milik nelayan. Alat- alat dan perlengkapan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kapal, jaring, ambai dan vibber. Berdasarkan hasil penelitian biaya rata-rata penyusutan alat yang dikeluarkan oleh nelayan pada adalah sebesar Rp.20.333.
5.1.2 Pendapatan Nelayan
Tabel 16. Total Rata-Rata Pendapatan Nelayan Per Trip Di Daerah Penelitian.
NO Keterangan Total (Rp)
1 Penerimaan (Rp) 585.000
2 Biaya Produksi (Rp) 286.493
3 Pendapatan (Rp) 298.508
Sumber : Data di olah dari lampiran 9
Tabel 16 memperlihatkan bahwa pendapatan per nelayan dalam satu trip adalah sebesar Rp.298.508/melaut atau rata-rata pendapatan per bulan sebesar Rp.4.131.325. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan bersih nelayan yang telah dikurang dengan seluruh biaya produksi yaitu biaya solar, makanan, es tenaga kerja dan biaya penyusutan.
UMK (upah minimun kota) kota Medan pada saat penelitian ini adalah Rp.2.528.815/bulan, maka pendapatan nelayan di tempat penelitian tersebut >
UMK kota medan, Rp.4.131.325 > Rp.2.528.815, Maka H0 di terima, artinya total pendapatan bersih nelayan lebih tinggi dari upah minimum kota Medan.
5.2. Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman yang Mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Nelayan
5.2.1. Kekuatan Nelayan
Adapun kekuatan nelayan di daerah penelitian:
1. Ketersediaan Tenaga Kerja
Nelayan buruh di Kelurahan Labuhan Deli dikelola oleh warga di tempat penelitian. Hal ini dikarenakan wilayah tempat tinggal warga merupakan salah satu produksi ikan di kota Medan. Kalaupun memiliki aktivitas yang lain, maka sumber pemasukan utama bagi keluarga nelayan buruh tetap dari hasil ikut melaut.
Menurut nelayan sampel tidak ada kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja untuk memproduksi hasil laut, karena ketersediaan tenaga kerja di daerah penelitian sangat mudah di dapatkan. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan
tenaga kerja di kelurahan labuhan deli menjadi suatu kekuatan dalam meningkatkan pendapatan nelayan.
2. Pengalaman Nelayan
Faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan memproduksi hasil laut adalah pengalaman nelayan. Semakin tinggi tingkat pengalaman nelayan maka akan semakin baik pula produksi hasil lautnya. Rata-rata pengalaman nelayan yaitu 30 tahun. Pengalaman memproduksi hasil laut membantu nelayan dalam aktivitasnya sebagai nelayan. Karena itu, pengalaman nelayan merupakan kekuatan bagi nelayan dalam meningkatkan pendapatan.
5.2.2. Kelemahan Nelayan
Adapun kelemahan nelayan di daerah penelitian:
1. Ketidakstabilan Jumlah Produksi Nelayan
Jumlah produksi nelayan memiliki hubungan dengan terbatasnya jarak menempuh oleh nelayan sampel, serta adanya faktor lain yang mempengaruhi seperti ukuran mesin kapal sehingga mengakibatkan produksi nelayan menjadi tidak stabil.
Sehingga hal ini merupakan salah satu kelemahan yang dimiliki oleh nelayan di daerah penelitian.
2. Rendahnya Tingkat Pendidikan Nelayan
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Lamanya pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapan dalam keadaan tertentu.
Sudah tentu kecakapan tersebut akan mengakibatkan kemampuan yang lebih besar dalam menghasilkan pendapatan. Berdasarkan hasil penelitian, rata – rata tingkat
pendidikan di daerah penelitian yaitu 6 – 7 tahun. Dimana hal ini masih tergolong rendah.
3. Kurangnya Ketrampilan yang dimiliki Nelayan
Keterampilan yang dimiliki nelayan merupakan salah satu faktor keberhasilan nelayan di daerah penelitian. Nelayan di daerah penelitian sudah berpengalaman tetapi tidak aktif mengikuti pelatihan yang di sediakan. Hal ini membuat nelayan terkesan tidak mau menambah pengetahuan mereka dengan kurang aktifnya mereka menghadiri sosialisasi yang diberikan oleh penyuluh perikanan terkait tentang kebutuhan mereka. Berdasarkan hasil penelitian, keterampilan yang dimiliki nelayan tergolong kurang baik.
4. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga berkaitan erat dengan pendapatan yang diperoleh.
Keadaan ini mendorong nelayan untuk terus berusaha meningkatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya jika memiliki tanggungan keluarga yang banyak. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata tanggungan keluarga nelayan sampel yaitu 4 jiwa. Dengan pendapatan nelayan yang tidak menentu, sehingga jumlah tanggungan menjadi kelemahan dalam kegiatan nelayan.
5. Jenis alat tangkap dan perawatan
Alat tangkap yang digunakan nelayan di tempat penelitian yaitu alat tangkap tradisional dengan menggunakan jaring dan ambai. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat dalam meningkatkan produksi nelayan. Kemudian perawatannya pun harus diperhatikan dengan baik karena hal tersebut berkaitan dengan produksi nelayan tersebut.
5.2.3. Peluang Nelayan
Adapun peluang nelayan di daerah penelitian:
1. Permintaan Pasar
Kebutuhan hasil laut khususnya ikan merupakan hal utama bagi kesehatan masyarakat sehingga tidak dapat tergantikan. Ikan merupakan hasil tangkapan laut yang digemari oleh masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, permintaan pasar untuk ikan tergolong banyak, dikarenakan banyaknya peminat hasil laut yaitu ikan.
2. Dukungan Pemerintah
Dukungan pemerintah merupakan salah satu faktor peluang untuk nelayan yang berada di kelurahan Labuhan Deli. Kebijakan dari pemerintah kepada nelayan di daerah penelitian yaitu seperti asuransi kecelakaan. Akan tetapi nelayan sangat membutuhkan asuransi jiwa karena nelayan berharap keluarga terlindungi masa depannya jika nelayan terjadi yang tidak di inginkan saat melaut. Kemudian pemerintah melarang penggunaan alat tangkap illegal guna menjaga ekosistem laut dan mensejahterakan nelayan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dukungan pemerintah di daerah penelitian tergolong baik.
3. Penyuluhan Perikanan
Keberhasilan penyebaran suatu teknologi tidak terlepas dari peran penyuluh perikanan yang menjalankan fungsinya. Dalam menjalankan usahanya penyuluh menyampaikan program yang diberikan dari pemerintah kepada nelayan. Materi yang disampaikan oleh penyuluh berkaitan dengan meningkatkan produksi nelayan. Jadi tujuannya adalah menambah pengetahuan nelayan di daerah penelitian dalam menghasilkan pendapatan yang maksimal. Penyuluh di daerah