BAB V MASAMBO SUATU NYANYIAN RATAPAN
K. Sangihe Ekspresi Kerinduan pada orang tua
1. Bawowo Masambo Untuk Anak
Menurut Kasihan Mare Masambo adalah nyanyian yang digunakan untuk menidurkan anak yang di dalamnya berisi nasihat, petuah, dan harapan-harapan orang tua untuk anak-anaknya atau Bawowo. Bawowo adalah nyanyian etnik yang di khususkan untuk menidurkan anak bawowo juga merupakan bentuk kasih sayang orang tua di Sangihe dengan
~ 143 ~
mengungkapkan perasaan mereka lewat nyanyian dengan ucapan syukur kepada yang Maha kuasa dengan maksud agar bayi cepat tidur. Bawowo sendiri memiliki arti ungkapan perasaan melalui irama (nyanyian/syair). Menurut Mare seorang pensiunan guru di Paghulun Manganitu bahwa bawowo merupakan salah satu nyanyian yang dinyanyikan oleh orang tua di zaman dahulu untuk menidurkan bayi.
Selain itu ada beberapa masyarakat yang mempercayai bahwa jika bayi yang menangis bayi tersebut menginginkan suatu permintaan kepada saudaranya laki-laki untuk dibuat salah satu alat untuk menidurkan bayi yang disebut bebe ure.
Bebe ure adalah salah satu alat mengahibuang atau menidurkan bayi yang menangis, pada zaman dahulu seorang bayi perempuan sangat diagung-agungkan oleh orang tua mereka, dikarenakan mereka menganggap seorang bayi perempuan nilainya seperti emas. Oleh karena itu bayi perempuan memiliki tempat atau rumah khusus yang berbentuk seperti tangga dan mereka tinggal ditempat paling tinggi, mereka mempercayai bahwa anak bayi perempuan dapat membawah berkat bagi kehidupan keluarga mereka, cara orang tua di zaman dahulu menyanyikan bawowo dengan cara mengele dan hantage, mengele adalah gaya melantunkan satu huruf atau satu kata dengan cara seperti cengkok-cengkokan atau seperti teknik melismatis pada music Yahudi. Sedangkan yang disebut hantage adalah menyanyikan teks lagu mendahului lagu pokok atau bisa juga disebut pengulangan kalimat.
Bawowo memiliki makna yang sangat penting untuk anak, karena orang tua di zaman dahulu mempercayai jika menyanyikan nyanyian bawowo mereka sangat merasakan bahwa anak bayi yang menangis memiliki permintaan yang khusus untuk mereka. Unsur-unsur pokok dalam nyanyian
~ 144 ~
bawowo yaitu sastra daerah (syair atau lirik) diungkapkan dalam bentuk bahasa kiasan (sasahara atau sasalili) yang diangkat dari tradisi kehidupan masyarakat sub etnik di kepulauan Sangihe. Maknanya tergantung pada maksud dan tujuan yang terkandung dalam kalimat liriknya. Dalam bawowo biasanya dinyanyikan pada saat anak atau bayi yang sedang menangis setiap ungkapan dari syair nyanyian bawowo mengungkapkan perasaan orang tua di zaman dahulu lewat nyanyian dan menurut narasumber yang Penulis temui mengatakan bahwa orang tua di zaman dahulu jika sudah menyanyikan nyanyian bawowo dengan menggunakan mangele sepertinya mereka juga merasakan dan ikut menangis dengan bayi atau anak mereka, menurut pemahaman bapak zakarias longi beliau mengatakan bahwa bawowo juga merupakan nyanyian untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu bayi yang sedang menangis.
Masyarakat Manganitu mempercayai bahwa zaman dahulu jin, roh-roh halus sering datang menemui bayi yang baru lahir alasan beliau mengatakan seperti itu, karena bayi yang baru lahir sangat harum atau biasanya mereka menyebutnya mawengi. Selain itu masyarakat Manganitu mempercayai bahwa nyanyian bawowo harus dinyanyikan ketika bayi menangis. Selain itu mereka juga menggunakan beberapa tanaman yang dimasukan ke dalam rumah mereka seperti tanaman tanaman dibawah ini :
daung kalu lenta tepu.
daung kalu banehe.
daung kalung hego.
Orang tua dizaman dahulu mempercayai bahwa selain mereka diharuskan menyanyikan nyanyian bawowo mereka juga harus memiliki penangkal-penangkal atau daun-daunan tradisional Sangihe yang harus diberikan kepada bayi
~ 145 ~
mereka, daung kalu lenta tepu dan daung kalu banehe memiliki fungsi untuk mengusir roh-roh jahat yang mau mengganggu bayi. Mereka menggunakan daung kalu lenta tepu dan daung kalu banehe dengan cara dimasukan kedalam rumah atau kedalam kamar yang ditidurkan bayi, sedangkan daung kalu hego berfungsi untuk menangkal segala jenis-jenis hewan yang berbisa seperti ular, kalajengking dan lain-lain. orang tua menyediakan segala penangkal-penangkal untuk bayi mereka kemudian mereka memulai menyanyikan nyanyian bawowo untuk bayi yang sedang menangis.
Dilihat dari jenisnya lagu bawowo dibagi dalam tiga jenis yaitu Bawowo untuk bayi perempuan, Bawowo untuk bayi laki-laki dan Bawowo untuk bayi yatim piatu. Untuk lagu Bawowo untuk bayi perempuan sebagai berikut.
Kawowo inang kawowo Ana nitendengi lawo Suhiwang takahalaweng Takaendengangu apa.
(Sayang si manis sayang anak dimanja orang banyak Di pangkuan yang dibentengi tidak akan mengapa) Toneng su mahuanene makisosong bebeure
Tarai baru mediding papaloho su ana dimere Tamakatahang Mengele Ia sumangi e ringang
Ketika yang mau ditidurkan adalah seorang bayi atau anak perempuan, maka menurut orang tua di zaman dulu anak bayi yang menangis menginginkan saudaranya laki-laki untuk membuat bebeure yaitu salah satu alat mengahibuang (kain kopo) untuk menidurkan bayi. Bebe artinya diangkat.
Menurut Bapak Mahare, Bebe nilainya sama dengan emas karena seorang bayi perempuan sangat diagungkan oleh orangtua di zaman dahulu. Niklas mahare juga
~ 146 ~
mengungkapkan seorang bayi perempuan memiliki tempat tinggal yang khusus yang berbentuk seperti tangga yang terbuat dari berbagai jenis pohon yang dibuat seperti rumah panggung. Mereka menempatkan bayi perempuan di posisi paling tinggi kemudian disusul sanak saudara dari bayi perempuan yaitu saudaranya laki-laki, menempati posisi ke dua dan seterusnya. Alasan orang tua di zaman dahulu membuat tradisi yang dimaksud adalah agar saudaranya laki-laki bisa menjaga adik perempuan mereka. pada saat orang tua selesai menyanyikan nyanyian bawowo barulah tradisi menidurkan bayi perempuan di posisi paling tinggi dilakukan.
Pada waktu menidurkan anak, setiap bayi menangis ada kalimat berikut dinyanyikan seperti nyanyian di atas adalah tarai baru mediding papaloho su ana dimere. Kata
“tarai” artinya ke atas, baru (sagu baru) Mediding (tidak begitu subur) tetapi tetap hidup dan papaloho (pemberian secara tulus) pada anak yang sepertinya kurang hati.
Pemahaman anak kecil seperti anak besar karena ada kehendak atau minta bantuan dari saudara laki-laki. Kalimat tamakatahang mengele artinya kalau sudah lelah menangis sama-sama. Kata “eeee” adalah kalimat terakhir, karena keinginannya sudah terpenuhi.
Demikian juga dalam meninabobokkan bayi laki-laki dan anak yatim piatu maka para orangtua akan menyanyikan:
Ana polo mang sembau, Ana polo mang sembau amang
Dedaluhang keng gegahagho, Dedaluhang keng gegahagho
(Anak semata wayang disayang, Anak semata wayang disayang, opo/ungke
~ 147 ~
Dibesarkan dengan doa, Dibesarkan dengan doa)
Contoh bawowo untuk bayi yatim piatu : Ahu su tau nanentang, Ahu su tau nanentang inang/amang
Limanu paka dalending, Limanu paka dalending
(Sebagai ganti orang tua yang telah meninggal, Sebagai ganti orang tua yang telah meninggal, Inang/amang
Tanganmu mohon disejukan tanganmu mohon disejukan).
Ciri umum nyanyian bawowo adalah berirama tradisi, teks lagu berisi permintaan untuk sang bayi, janji dan doa untuk masa depannya. Bawowo juga mempunyai beberapa ciri khusus yaitu bawowo mempunyai gaya tersendiri seperti ada kata yang diulang-ulang dengan sebutan hantage, mengele baik naik maupun turun. Dalam melantunkan bawowo gaya karakteristik yang digunakan ada dua yaitu mengele dan hantage. Mengele dapat diartikan sebagai gaya resitatif pada musik Psalmoldi Musik Yahudi yakni menyanyikan not pada satu suku kata dengan cara dengan cara seperti cengkokan-cengkokan.
Di bawah ini adalah salah satu nyanyian bawowo khusus untuk bayi perempuan:
Isi teks : Kaliomaneng petowo gahagho medalu kalu
~ 148 ~ gahagho medalu kalu kai kaliomaneng
Nyanyian ini berisi ucapan syukur dan doa karena sudah diberikan seorang bayi perempuan yang menurut mereka sangat bernilai. Mengele terjadi dalam suku kata “o”
sama dengan “oh” dan neng pada kata kaliomaneng. Mengele juga terjadi dalam suku kata lainnya seperti suku kata to dan wo pada kata petowo. Kalimat gahagho medalu kalu mengalami hantage setelah ditegaskan dengan “e” seperti orang yang bermohon mengatakan “panjatkan doa, oh panjatkanlah doa”.
Menurut Zakarias Longi di zaman dulu jika seorang ibu melahirkan seorang bayi perempuan maka keluarga mereka sangat mengagungkan bayi tersebut seorang bayi perempuan memiliki nilai seperti emas orang tua di zaman dahulu memiliki nyanyian khusus untuk seorang bayi perempuan. Setiap kata-kata atau ungkapan nyanyian bawowo selalu mempunyai arti yang bermakna. Sedangkan nyanyian untuk bayi yang berjenis kelamin laki-laki tidak ada nyanyian yang dikhususkan, Mereka lebih mengkhususkan bayi perempuan.