BAB V MASAMBO SUATU NYANYIAN RATAPAN
H. Pengetahuan Masyarakat
I. Tulude Sebuah Adaptasi Ritus Modern
2. Tamo
Tamo adalah kue adat Sangihe yang maknanya sudah mengalami adaptasi dengan budaya kekristenan. Tamo terbuat dari sumber-sumber makanan masyarakat Sangihe yakni beras ketan, beras biasa, pisang masak, kelapa muda, gula aren, gula, singkong, minyak kelapa, cabe merah dan
~ 128 ~
sumber makanan sebagai sarana kehidupan masyarakat lainnya. Ini melambangkan bahwa milik kita adalah milikNya kita wajib mempersembahkan kepada Ghenghonalangi sebagai sumber segala berkat.
Tamo harus dibuat oleh orang-orang yang di khusus, biasanya para wanita yang dituakan yang kehidupan dijadikan panutan dalam masyarakat. Dalam pembuatan Kue Tamo lingkungan sekitarnya harus bersih dan tahir baik lingkungan pribadi sang pembuat Tamo secara fisik harus bersih tidak sedang bermasalah dengan orang lain, tidak sedang datang bulan, hubungan dengan sang Maha kuasa terjalin dengan baik. Tidak ada bunyi keributan. Karena Tamo melambang kehadiran reinkarnasi Allah. Makanya pada saat prosesi atau Mendangeng tambo banua seluruh peserta upacara harus berdiri. Setelah dimasak diproses dengan ritual khusus tamo kemudian dimasukan dicetakan yang berbentuk kerucut seperti gunung yang disebut tekahe.
Pembuatan tamo harus dibuat tiga hari sebelum pelaksanaan.
Semua ini merupakan simbol. Tamo sendiri merupakan simbol kehadiran Ghenghonalangi pada masyarakat Sangihe. Kue Tamo harus dibuat oleh orang-orang khusus biasanya para wanita yang dituakan yang kehidupan dijadikan panutan dalam masyarakat. Para wanita ini merupakan simbol dari gereja atau kelompok masyarakat.
Kelompok masyarakat apakah gereja, desa atau kelurahan, kantor pemerintah harus menyiapkan dengan serius. Jika ada salah paham harus diselesaikan dulu, jangan dibuat tergesa-gesa tapi dengan perhitungan yang tepat.
Tiga hari pembuatan kue Tamo dilambangkan dengan tiga hari pergumulan Tuhan Yesus dari kematian hingga kebangkitan sebagai simbol kemenangan dan penyucian manusia dari dosa.
~ 129 ~
Bentuk seperti kerucut/gunung karena gunung seperti Gunung Awu, Gunung Sahandarumang, Karangetang dan lainnya bagi masyarakat Sangihe melambangkan sumber kehidupan.(Ghenghonalangi) gunung adalah tempat perteduhan. Semua ini merupakan simbol-simbol dalam masyarakat yang telah terinkultutrasi.
Ukuran tinggi tamo disebut hoko. Hoko sama dengan centimeter. Ada empat ukuran untuk tinggi tamo yaitu : Hoko mahasu (100), Hoko ualumpulo (80), Hoko limampulo (50), hoko Telumpulo (30). Itu berarti jika hoko mahasu sama dengan 100 cm.Tamo dilengkapi (Bawungang) atau hiasan.
Pada puncak tamo dihiasi telur ayam rebus yang telah dikeluarkan kulitnya, bagian tengah dihiasi dengan buah buahan. Selain itu cabe merah simbol peleburan diri dalam suatu kesatuan atau kesepakatan. Kalau merah sama-sama jadi merah. Pada bagian pangkal kue dihiasi pisang matang dan ketupat ketupat jenis bawatung. Pisang merupakan simbol keutuhan dan ketupat jenis bawatung mengandung arti panjang umur,serta kelimpahan rejeki. Keberadaan temu menjadi simbol kemakmuran sekaligus ucapan trima kasih atas berkat yang Tuhan sudah berikan tahun yang lalu.
~ 130 ~
Gambar 15 Kue adat Tamo
Perangkat lain yang perlu diperhatikan dan disiapkan adalah Pakaian adat. Pakaian adat menjadi simbol dan tanda dalam mengklasifikasi seseorang yang hadir pada saat upacara Tulude. Dalam upacara Tulude masyarakat Sangihe mengenal tiga model pakaian adat antara lain Laku Tepu.
Laku tepu adalah baju bentuk panjang menutup kaki, lengan panjang dan bentuk leher bulat polos. Tidak ada belahan atau tidak terbuka, tidak menggunakan kancing; dulu bahannya dari kain kofo kain hasil tenunan masyarakat
~ 131 ~
Sangihe. Pada upacara tradisi tulude sekarang bahan tidak dipentingkan lagi tetapi warnanya saja karna warna menunjukan strata/ status masyarakat. Warna kuning (maririhe), dipakai tamu upacara yang berstatus sebagai pemerintah, petuah adat dan keluarganya. Warna Ungu (kamumu) dipakai pemerintah dibawahnya jika ditingkatn propinsi maka seperti camat, bobato, pentua adat.
Selanjutnya warna Hijau (Kinalea) dipakai wanita baik tua maupun muda kemudian warna Putih (ledo) digunakan masyarakat biasa. Warna Merah (mahamu) biasanya dipakai oleh prajurit (bahani).
Gambar 16 Pemerintah dan Pentuah Adat Menggunakan Laku Tepu dan Paporong
Selajutkan pakaian adat yang disebut Baniang yang merupakan pakaian adat laki-laki berbentuk seperti laku tepu modelnya seperti kemeja lengan panjang, dibagian muka menggunakan kancing, dilengkapi dubuah saku, pada bagian
~ 132 ~
bawah kiri dan kanan. Pasangan baniang adalah celana panjang yang berwarna gelap. Model pakaian ini banyak digunakan oleh grup-grup Masamper pada saat perlombaan.
Gambar 17 Pakaian Baniang.
Sumber: Video RRI Tahuna 2016
Kongkong dan kingking. Kongkong adalah celana model setengah betis dan kingking adalah pakaian oblong tanpa lengan. Kostum adat lainnya adalah Paporong.
Paporong adalah tutup kepala untuk pria atau umbe sedangkan wanita menggunakan konde di atas ubun-ubun yang disebut dengan boto pusige
Selain itu masyarakat sangihe juga mengenal yang disebut Bawandang dan Papehe. Bawandang adalah selendang khusus wanita sedangkan pria adalah ikat pinggang yang disebut dengan papehe. Bawandang ukuran panjang 250 cm dan lebar 10cm bagi wanita yang sudah menikah bawandang dipakai dari bahu kanan kepinggang kiri sedangkan untuk yang masih gadis dari bahu kiri
~ 133 ~
kepinggang kanan. Sedangkan papehe diikat dibagian pinggang ke arah kiri, dengan kedua ujung terurai ukuran sama dengan bawandang yaitu panjang 250cm dan lebar 10cm.
Dalam pelaksanaan upacara tulude personil atau orang-orang yang mengambil bagian harus sesuai adat diantaranya petuah adat. Petuah adat adalah seseorang yang membawa kata-kata adat dimana biasanya dari budayawan setempat atau orang yang telah dikokohkan sebagai budayawan khusus upacara tulude. Tugas para budayawan ini adalah membawakan menahulending, sasalamate, kakumbaede, tetengkamohong, dan pemotongan tamo. Selain itu ada juga sebagai personil yang bewrtugas sebagai pimpinan barisan adat, penerima penerima tamu, penyerahan tamo, penerima tamo, orang yang dipercayakan sebagai penabuh balang banua, penabuh tambor dan tagonggong.
Selain itu ada juga yang dipercayakan sebagai koordinator untuk pertunjukan akhir dari tulude yang biasanya diisi oleh atraksi musik dan tari serta Masamper makantari secara bersama-sama.
Selain bertugas sebagai petugas budaya dalam mengambil bagian pada kekiatan tulude, panitia juga harus mempersiapkan tamu-tamu dalam kegiatan ini. Tamu ini terdiri atas para pimpinan atau pejabat pemerintahann yang ada di tempat itu. Para tamu ini harus mengikluti prosesi adat yang disebut mendangeng sake.
Di samping itu pada upacara tulude ada yang disebut Gagaweaang atau barisan adat. Biasa terdiri atas mayore labo dibantu Bebaton delahe sebagai pasukan pengawal.
Mayore labo memimpin kelompok tari tradisi yang digunakan pada saat prosesi dan penabuh Balang banua berupa gong besar dari kuningan, ukuran kurang lebih 60 cm.
~ 134 ~
Fungsi balong banua sebagai alat komunikasi. Pada upacara tulude pertanda upacara dimulai dibanyikanlah balong banua dengan sebutan memansele. Kegiatan upacara tulude diakhiri dengan Karameang atau atraksi masyarakat menyambut tahun yang baru biasa terdapat pertunjukan seni tradisi sangihe, seperti Tari Salo,Tari Allabadiri,Tari Ransasahabe, Upase, salai, hadra magut. Selain itu Musik bambu, Mesampere Makantari menghiasi kegiatan bagian akhir ini.
Sekarang ini mulai ada fenomena lain seperti tulude yang dilaksanakan di Keluarahan Bahu Manado, pengisi acara terdiri dari seni yang berasal dari budaya masyarakat sekitar yang terdiri dari berbagai daerah di Indonesia.