Menurut Depkes RI (2007), Beban kerja adalah suatu kondisi yang membebani tenaga kerja, baik secara fisik maupun non fisik dalam menyelesaikan pekerjaan. Kondisi tersebut dapat diperberat oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung secara fisik atau non fisik. Menurut Iridiastadi (2014), beban kerja yang berlebihan juga dapat berakibat buruk pada kualitas dan performansi kerja. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima seseorang harus sesuai
commit to user II-36
dan seimbang terhadap kemampuan fisik maupun psikologis pekerja yang menerima beban kerja tersebut (Tarwaka, 2004). Maka dari itu, untuk menyeimbangkan beban fisik terhadap kemampuan fisik diperlukan standar penilaian beban kerja yang dapat dihitung berdasarkan tingkat kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi pada tenaga kerja (SNI 7269:2009). Menurut Suma’mur (1984) bahwa kemampuan kerja seseorang berbeda dari satu pada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat keterampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia, dan ukuran tubuh dari pekerja yang bersangkutan.
a. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Beban kerja dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Menurut Manuaba (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja antara lain :
Faktor eksternal, yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti : 1. Tugas-tugas yang bersifat fisik, seperti stasiun kerja, tata ruang, tempat
kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja, dan tugas-tugas yang bersifat psikologis, seperti kompleksitas pekerjaan, tingkat kesulitan, tanggung jawab pekerjaan.
2. Organisasi kerja, seperti lamanya waktu bekerja, waktu istirahat, shift kerja, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.
3. Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis.
Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Faktor internal meliputi faktor somatis (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, dan kondisi kesehatan) dan faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan dan kepuasan).
b. Penilaian Beban Kerja
Menurut Tarwaka (2004), Setiap pekerjaan yang dilakukan seorang operator akan menjadi beban fisik maupun mental. Seorang tenaga kerja mempunyai kemampuan berbeda dalam hubungannya dengan beban kerja. Aktivitas manusia dapat digolongkan menjadi kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Meskipun
commit to user II-37
tidak dapat dipisahkan, namun masih dapat dibedakan pekerjaan dengan dominasi fisik dan pekerjaan dengan dominasi aktivitas mental. Menurut Utami (2012) perhitungan beban kerja setidaknya dilihat dari tiga aspek, meliputi
1. Fisik, Aspek Fisik meliputi perhitungan beban kerja berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia.
2. Mental, Aspek mental merupakan perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis).
3. Penggunaan waktu, Sedangkan pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk bekerja.
Dalam Tarwaka (2004) menyatakan bahwa pengukuran beban kerja dapat digunakan untuk beberapa hal berikut, yaitu :
1. Evaluasi dan perancangan tata cara kerja 2. Keselamatan kerja
3. Pengaturan jadwal istirahat
4. Spesifikasi jabatan dan seleksi personil 5. Evaluasi jabatan
6. Evaluasi tekanan dari faktor lingkungan.
Menurut Tarwaka (2004) Secara umum yang berhubungan dengan beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor eksternal dan internal. Setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun mental Penilaian beban kerja fisik dapat dilakukan dengan dua metode yaitu secara objektif (penelitian secara langsung) dan metode tidak langsung. Dalam Suma’mur (1982) menyatakan bahwa Seorang tenaga kerja mempunyai kemampuan berbeda dalam hubungannya dengan beban kerja. Ada beberapa macam definisi beban kerja, yang pertama beban kerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh tubuh manusia dan berat ringannya beban kerja sangat mempengaruhi konsumsi, yang kedua beban kerja adalah beban yang diterima pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya seperti mengangkat, mencangkul, berlari, memikul, mendayung dan lain–lain, yang ketiga beban kerja adalah beban fisik maupun non fisik yang ditanggung oleh pekerja untuk menyelesaikan pekerjaanya. Penilaian beban kerja fisik dapat dilakukan dengan dua metode yaitu secara objektif (penelitian secara langsung) dan
commit to user II-38
metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur oksigen yang dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan energi selama bekerja. Semakin berat kerja semakin banyak energi yang dikeluarkan. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun hanya mengukur secara singkat dan peralatan yang diperlukan sangat mahal. Salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi energi, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas tertentu ventilasi paru, denyut jantung, dan suhu tubuh mempunyai hubungan yang linier dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan (Grandjean, 1988)
Pada penelitian yang dilakukan, perhitungan beban kerja dilihat dari aspek fisik. Penilaian beban kerja fisik dilakukan dengan mengukur tingkat aktivitas konsumsi energi beradasarkan SNI 7269:2009 tentang Penilaian beban Kerja Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Kalori Menurut Pengeluaran Energi. Aktivitas kerja dihitung dengan menilai kategori pekerjaan dan posisi badan pekerja dengan ketentuan seperti pada tabel 2.5 sebagai berikut.
Tabel 2.5 Penilaian Aktivitas Pekerja
Perhitungan nilai beban kerja disesuaikan dengan nilai ambang batas ISBB yang diperkenankan sehingga dihasilkan beban kerja ringan, sedang, atau berat.
Rumus untuk menghitung rerata beban kerja adalah sebagai berikut:
1 2 3 4
Kategori I (contoh : menulis, merajut) (0,30) 0,60 0,90 3,30 4,10
Kategori II (contoh : menyetrika) (0,70) 1,00 1,30 3,70 4,50
Kategori III (contoh : mengetik) (1,10) 1,40 1,70 4,10 4,90
Kategori I (contoh : menyapu lantai) (0,90) 1,20 1,50 3,90 4,70
Kategori II (contoh : menggergaji) (1,60) 1,90 2,20 4,60 5,40
Kategori III (contoh : memukul paku) (2,30) 2,60 2,90 5,30 6,10
Kategori I (contoh : mengemas barang dalam dus) (1,25) 1,55 1,85 4,25 5,05
Kategori II (contoh : memompa) (2,25) 2,55 2,85 5,25 6,05
Kategori III (contoh : mengetik) (3,25) 3,55 3,85 6,25 7,05
Kategori I (contoh : menulis, merajut) (3,75) 4,05 4,35 6,75 7,55
Kategori II (contoh : menyetrika) (8,75) 9,05 9,36 11,75 12,55
Kategori III (contoh : mengetik) (13,75) 14,05 14,35 16,75 17,55
Pekerjaan dengan menggunakan gerakan tangan
commit to user II-39
Rerata BK =((𝐵𝐾1 𝑥 𝑇1)+(𝐵𝐾2 𝑥 𝑇2)+⋯+(𝐵𝐾𝑛 𝑥 𝑇𝑛))
(𝑇1+𝑇2+𝑇3+⋯+𝑇𝑛) 𝑥 60 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚 ...(2.1) MB untuk laki-laki = berat badan (kg) x 1 kkal/jam
MB untuk wanita = bereat badan (kg) x 0,9 kkal/jam
Total BK = Rerata BK + MB...(2.2) Keterangan :
BK : beban kerja per jam
BK1, BK 2, .... BKn : beban kerja sesuai aktivitas kerja pekerja 1,2,..., n (dalam menit)
T1, T2,...,Tn : waktu sesuai aktivitas kerja pekerja 1,2,...,n (dalam menit)
MB : metabolisme basal
Disebutkan pula bahwa pada beban kerja ringan dibutuhkan kalori 100 – 200 Kkal/jam, beban kerja sedang membutuhkan kalori >200 – 350 Kkal/jam, dan pada beban kerja berat membutuhkan kalori >350 – 500 Kkal/jam.