2.6.1 Pengertian Beban Kerja
Beban kerja perawat merupakan seluruh rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas disuatu unit pelayanan keperawatan dalam penerapan pendokumentasian asuhan keperawatan (Haris, 2009). Suryaningrum (2015) menyatakan bahwa beban kerja adalah tugas atau pekerjaan yang harus dikerjakan oleh perawat baik secara kualitas maupun kuantitas. Schultz dan Schultz (2006) dalam Suryaningrum (2015) menyatakan beban kerja adalah terlalu banyak pekerjaan pada waktu yang tersedia atau melakukan pekerjaan yang terlalu sulit untuk karyawan.
Menurut Myny et all (2012) dalam Hariyati (2014) beban kerja adalah fungsi waktu, kompleksitas dan volume dari intervensi yang harus dilakukan dalam satu periode tertentu. Beban kerja diartikan sebagai sejumlah prosedur, pemeriksaan, kunjungan pasien, tindakan dan sebagainya yang merupakan bagian selama kegiatan berlangsung terhadap pasien.
Menurut Hariyati (2014) beban kerja perawat merupakan serangkaian aktivitas yang harus dilaksanakan oleh perawat sesuai dengan uraian tugas yang diberikan, beban kerja perawat tidak bisa lepas dari jumlah pasien dan kategori atau tingkat ketergantungan pasien. Bila beban kerja terlalu tinggi akan menyebabkan komunikasi yang buruk antara perawat dan pasien, kegagalan kolaborasi perawat dan dokter, tingginya droup out perawat/turn over, dan rasa ketidak puasaan kerja perawat (Gellies, 2005 dalam Haris dkk, 2009).
Beban kerja (workload) diartikan sebagai patient days yang merujuk pada sejumlah prosedur dan pemeriksaan saat dokter berkunjung ke
pasien, (Nursalam, 2003 dalam Haris dkk, 2009). Beban kerja yang dilakukan tenaga kerja dapat diperberat oleh kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung secara fisik maupun non fisik (Depkes RI, 2007).
Berdasakan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja perawat adalah serangkaian kegiatan yang dikerjakan oleh perawat pada saat bertugas baik secara kualitas maupun kuantitas pekerjaannya.
2.6.2 Indikator Beban Kerja
Pengukuran tinggi rendahnya beban kerja menggunakan konsep dari Spector dan Jex dalam Kumalasari (2014) dalam Suryaningrum (2015) yang meliputi dua aspek yaitu:
2.6.2.1 Jumlah pekerjaan
Jumlah beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit merupakan pembangkit stres. Perawat harus mengerjakan pekerjaan dengan jumlah beban yang bervariasi tergantung jenis bangsal.
2.6.2.2 Kecepatan
Kecepatan dalam melakukan pekerjaan berkaitan dengan waktu yang tersedia. Perawat di tuntut untuk bekerja dengan cepat dan sigap dalam melayani pasien, seperti menangani pasien yang sedang kritis. Semakin cepat pekerjaan harus dikerjakan, semakin tinggi tingkat stres kerja.
2.6.3 Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Menurut Rodahl dan Manuaba dalam Prihatini (2007) menyatakan bahwa beban kerja dipengaruhi oleh faktor berikut:
2.6.3.1 Faktor eksternal yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti:
a. Tugas-tugas yang dilakukan yang bersifat fisik seperti stasiun kerja, tata ruang, tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja, sedangkan tugas-tugas yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, tingkat kesulitan pekerjaan, tanggung jawab pekerjaan.
b. Organisasi kerja seperti lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.
c. Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis.
Ketiga aspek ini sering disebut sebagai sumber stresor.
2.6.3.2 Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri akibat dari reaksi beban kerja eksternal.
Reaksi tubuh disebut strain, berat ringannya strain dapat dinilai baik secara obyektif maupun subyektif. Faktor internal meliputi faktor somatis (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi kesehatan), faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan dan kepuasan).
2.6.4 Dampak Beban Kerja
Menurut Susanto, Ambarwati dalam Suryaningrum (2015) Beban kerja yang dapat menimbulkan stres terbagi menjadi dua:
2.6.4.1 Role overload
Role overload terjadi ketika tuntutan-tuntutan melebihi kapasitas dari seorang manajer atau karyawan untuk memenuhi tuntutan tersebut secara memadai. Perawat dengan tuntutan tugas yang terlalu banyak akan mengalami kelelahan fisik dan penurunan kondisi fisik perawat.
2.6.4.2 Role underload
Role underload adalah pekerjaan di mana tuntutan-tuntutan yang dihadapi dibawah kapasitas yang dimiliki seorang karyawan. Ambarwati (2007) dalam Suryaningrum (2015) mengungkapkan bahwa beban kerja yang terlalu sedikit juga dapat menyebabkan stres kerja. Karena beban kerja yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang terjadi karena pengulangan gerak akan menimbulkan kebosanan, rasa monoton. Kebosanan dalam kerja rutin sehari-hari karena tugas atau pekerjaan yang terlalu sedikit mengakibatkan kurangnya perhatian pada pekerjaan sehingga secara potensial membahayakan pekerja.
Suryaningrum (2015) mengungkapkan bahwa dampak negatif dari meningkatnya beban kerja adalah kemungkinan timbul emosi perawat yang tidak sesuai dengan yang diharapkan pasien. Beban kerja yang berlebihan ini sangat berpengaruh terhadap produktifitas tenaga kesehatan dan tentu saja berpengaruh terhadap produktifitas rumah sakit.
2.6.5 Jenis Beban Kerja
Menurut Munandar (2001) dalam Suryaningrum (2015) beban kerja meliputi 2 jenis, yaitu:
2.6.5.1 Beban kerja kuantitatif
Beban kerja kuantitatif, meliputi: harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam kerja, banyaknya pekerjaan dan beragamnya pekerjaan yang harus dikerjakan, kontak langsung perawat dengan pasien secara terus menerus selama jam kerja, rasio perawat dan pasien.
2.6.5.2 Beban kerja kualitatif
Beban kerja kualitatif meliputi: pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki perawat tidak mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan di rumah sakit, tanggung jawab yang tinggi terhadap asuhan keperawatan pasien kritis, harapan pimpinan rumah sakit terhadap pelayanan yang berkualitas, tuntutan keluarga pasien terhadap kesembuhan dan keselamatan pasien, setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat, tugas memberikan obat secara intensif, menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan kondisi terminal.
Gellies (2005) dalam Haris (2009) Beban kerja dibedakan menjadi dua jenis yaitu beban kerja secara kualitatif dan kuantitatif. Beban kerja kualitatif artinya persepsi beban kerja yang bisa dirasakan oleh perawat. Misalkan perawat merasa saat ini beban kerjanya berat daripada yang seharusnya, lebih sulit dari yang sudah pernah dilaksanakan dan keluahan lain seperti adanya penerapan pendokumentasian asuhan keperawatan. Adapun beban kerja kuantitatif artinya jumlah pekerjaan yang biasa dihitung dan dibandingkan dengan waktu yang tersedia. Misalkan perawat memiliki waktu 8 jam tiap shift, maka berapa banyak tindakan keperawatan yang bisa dilakukan selama 8 jam itu.
2.6.6 Faktor Beban Kerja
Menurut Thomas and Bond Model dalam Gillies, D.A (1994) dalam Kurniadi (2013) membuat identifikasi faktor yang penting dalam membedakan tugas perawatan yang bervariasi, yaitu:
2.6.6.1 Pengelompokan perawat dan alokasi pasien khusus 2.6.6.2 Alokasi pekerjaan perawat
2.6.6.3 Pengorganisasian tugas
2.6.6.4 Tanggungjawab kepada pasien
2.6.6.5 Tanggung dalam pencatatan
2.6.6.6 Penghubung/mediator dengan staf perawat dan dokter
Beban kerja perawat tiap waktu akan berubah. Perubahan ini dapat disebabkan oleh faktor intern (junlah pasien dalam ruang rawat inap) atau faktor eksternal (diluar rumah sakit). Faktor intern lebih mudah diatasi daripada faktor luar. Hal ini disebabkan karena faktor luar tidak bisa dikendalikan oleh pihak manajmeen rumah sakit sendiri melainkan memerlukan bantuan pihak luar.
Secara umum faktor internal yang mempengaruhi beban perawat menurut Kurniadi (2013) antar lain: Jumlah pasien yang dirawat tiap hari, tiap bulan dan tiap tahun, Kondisi atau tingkat ketergantungan pasien, Rata-rata hari perawatan tiap pasien, Pengukuran tindakan keperawatanlangsung dan tidak langsung, Frekuwensi tindakan keperawatan yang dibutuhkan, Rata-rata waktu keperawatan langsung dan tidak langsung.
Faktor eksternal yang bisa mempengaruhi beban kerja perawat antara lain: Masalah komunitas, Disaster, Hukum/undang-undang dan kebijakan, Politik, Pengaruh Cuaca, Ekonomi, Pendidikan Konsumen dan Kemajuan Ilmu dan Teknologi
2.6.7 Hubungan Beban Kerja Dengan Pelaksanaan Operan
Semakin sedikit jumlah tenaga perawat atau tidak seimbang jumlah perawat dengan jumlah pasien yang dirawat maka semakin berat beban kerja perawat di ruangan dalam melakukan operan dan tentunya tingkat stres perawatpun akan meningkat karena dengan beban kerja yang tinggi akan berpengaruh terhadap pekerjaan perawat. Perawat dengan beban kerja yang tinggi akan berpengaruh terhadap pekerjaannya dalam hal ini salah satunya pelaksanaan operan, jumlah
pasien yang banyak dan dengan berbagai tingkat ketergantungan yang berbeda merupakan salah satu beban kerja perawat dan faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan operan. sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Kasmarani (2012) bahwa ada pengaruh beban kerja mental terhadap stres kerja perawat di IGD RSUD Cianjur. Begitu juga berdasarkan hasil penelitian Muslimah (2015) bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan kinerja perawat.
Pramudya dan Sudalhar (2017) bahwa lebih dari sebagian perawat yang memiliki beban kerja yang tinggi (berat) dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai SOP yang ada. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa semakin tinggi beban kerja perawat maka semakin kurang perawat melakukan operan sesuai SOP. SOP merupakan langkah yang dilakukan seseorang dalam melakukan tindakan agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan tindakan.