1. Jual beli yang terdapat gharar [ketidakpastian] di dalamnya. Banyak bentuk jual beli yang dilarang dalam syariat karena adanya gharar yang biasa dipraktekkan pada zaman jahiliah, di antaranya:
z Jual beli hashah, yaitu membeli tanah dengan batasan yang
batu di areal tanah yang akan dibeli, di mana batu tersebut jatuh, maka di situlah batas tanah yang dibelinya.
z Jual beli nitaj, yaitu menjual susu yang belum diperah dari seekor hewan atau menjual janin hewan yang masih di dalam kandungan.
z Jual beli mukhadharah, yaitu menjual buah mentah yang masih di pohon.
z Jual beli mulamasah, yaitu jual beli kain atau pakaian jika pembeli sudah menyentuh kain tersebut, maka ia wajib membeli.
z Jual beli muhaqalah, yaitu menjual [barter] biji gandum atau padi dan sejenisnya yang masih di tangkai [belum dipanen]
dengan gandum atau beras jadi yang ditakar.
z Jual beli muzabanah, yaitu menjual [barter] kurma yang masih di pohon dengan kurma masak yang ditakar atau menjual anggur yang masih di pohon dengan kismis yang ditakar.
2. Menjual barang yang haram atau najis.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesunguhnya Allah dan RasulNya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai? Karena dia bisa dipakai untuk mengecat perahu, meminyaki kulit dan dipakai sebagai [bahan] untuk penerangan manusia.” Beliau menjawab, “Tidak boleh, dia itu haram.” [HR. Bukhari dan Muslim].
3. Jual beli pada jual beli orang lain atau menyela tawar menawar orang lain.
Maksudnya, seorang muslim dilarang mengatakan kepada saudaranya: “Kembalikanlah barang yang sudah engkau beli itu kepada penjualnya, aku akan menjual barang yang sama kepadamu dengan harga yang lebih murah.”
Seorang muslim juga dilarang untuk menyela tawar menawar antara pembeli dan penjual lain sebelum mereka menyepakati harga dengan menawarkan barang dagangannya dengan harga lebih murah sehingga pembeli tersebut beralih kepada dagangannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seseorang melakukan jual beli pada jual beli saudaranya.” [HR.
Bukhari dan Muslim].
Beliau juga bersabda, “Dan janganlah dia menawar pada penawaran orang lain.” [HR. Muslim].
4. Jual beli najsy
Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli najsy.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Jual beli najsy adalah praktek dagang di mana ketika terjadi tawar-menawar antara penjual dan pembeli, masuk orang ketiga ikut menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi padahal dia sebenarnya tidak bermaksud untuk membelinya, melainkan hanya untuk mempengaruhi calon pembeli agar membeli barang tersebut.
5. Menjual utang dengan utang.
Contohnya: A meminjamkan uang sebesar Rp. 1.000.000 kepada B dan waktu pembayarannya di akhir tahun, ketika waktu pembayaran tiba B belum mampu membayarnya, sehingga pelunasan utangnya ditangguhkan satu bulan berikutnya dengan menambah Rp. 100.000, baik atas permintaan B ataupun dengan penawaran A. Praktek ini adalah riba jahiliah. Dalam contoh ini seakan-akan A menjual piutangnya yang sebesar Rp. 1.000.000 itu dengan utang baru sebesar Rp. 1.100.000.
Contoh lain: A meminjamkan uang sebesar Rp. 10.000.000 kepada B dan waktu pembayarannya di pertengahan tahun. Kemudian datang C kepada A dan berkata, “Berikanlah piutang anda yang ada di B tersebut dan saya akan memberikan kepada anda sebuah motor di akhir tahun.
6. Jual beli dengan cara ‘iinah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian berjual beli dengan cara ‘iinah, berpegang dengan ekor-ekor sapi,
ridha dengan tanam-tanaman, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan campakkan kehinaan kepada kalian dan tidak akan mengangkatnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR.
Abu Daud, shahih].
Contohnya A menjual motornya kepada B seharga Rp. 10.000.000 yang akan dibayar di akhir tahun, namun sebelum jatuh tempo pembayaran, B datang kepada A dan menjual kembali motor tersebut kepadanya dengan harga Rp. 7.000.000 tunai.
Praktek ini termasuk riba karena pada hakikatnya A meminjam uang Rp. 7.000.000 ke B dan akan membayarnya di akhir tahun sebesar Rp. 10.000.000, sedangkan jual beli motor itu hanyalah rekayasa untuk menghindari pinjam meminjam uang dengan riba.
7. Bai’atani fi bai’ah, yaitu dua akad jual beli dalam satu akad dan tidak ada kejelasan mana di antara kedua akad tersebut yang disepakati oleh dua pihak.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bai’atani fi bai’ah. [HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Nasai, shahih].
Contohnya: penjual menawarkan barangnya dengan dua harga;
harga tunai dan harga cicilan, mereka sepakat untuk bertransaksi namun tidak menetapkan akad mana yang dipilih tunai ataukah cicil.
Contoh lain: A menjual rumah atau mobil seharga Rp. 100.000.000 kepada B, B harus membeli salah satu dari keduanya tanpa ada kesepakatan apakah yang dibeli rumah atau mobil.
Sebagian ulama menafsirkan bai’atani fi bai’ah dengan suatu akad yang dipersyaratkannya akad lain di dalamnya. Contohnya: A menjual rumahnya kepada B dengan syarat B harus menjual mobilnya kepada A.
8. Jual beli musharrah yaitu menjual hewan dengan membiarkan susunya tidak diperah selama berhari-hari sehingga pembeli menyangka hewan tersebut memang banyak susunya. Jual beli ini dilarang karena ada unsur penipuan di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian melakukan
tashriyah [sengaja membiarkan susu hewan tidak diperah selama berhari-hari ketika akan dijual agar terlihat banyak susunya] pada unta dan kambing. Barang siapa membelinya, maka dia memiliki dua pilihan setelah dia memerah susunya, jika dia mau dia boleh memilikinya dan jika dia mau dia boleh mengembalikan hewan tersebut dan [ditambah] satu sha’ kurma.” [HR. Bukhari dan Muslim]
9. Jual beli di mesjid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika engkau melihat orang yang menjual atau membeli di mesjid maka katakanlah:
Semoga Allah tidak memberi untung pada perniagaanmu.” [HR.
Tirmidzi, shahih].
10. Jual beli orang yang wajib shalat Jumat ketika azan Jumat sudah berkumandang.