• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Catatan Kunci

Dalam dokumen Melawan Intoleransi di Tahun Politik (Halaman 43-47)

Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan Tahun 2018

G. Beberapa Catatan Kunci

Dengan mencermati data-data dan analisis pada variabel tingkat pelanggaran, aktor pelanggaran, serta sikap dan perlakuan negara sepanjang tahun 2018, SETARA Institute mengambil beberapa catatan kunci. Pertama, secara umum, angka peristiwa dan tindakan pelanggaran KBB pada tahun 2018 lalu melanjutkan tren relatif rendahnya peristiwa dan tindakan dalam dua tahun terakhir. Tahun 2018 jumlah peristiwa hanya naik 5 angka dari sebelumnya 155 peristiwa, sedangkan jumlah tindakan hanya naik 1 poin. Padahal dua tahun sebelumnya SETARA Institute mencatat angka tertinggi dalam pemerintahan ini sehingga kondisi KBB pada waktu itu disintesiskan sebagai situasi supremasi intoleransi. Hal itu menunjukkan, langkah masyarakat sipil dan pemerintah untuk melawan intoleransi di tahun politik—melalui countering politisasi identitas, kebangkitan kelompok-kelompok sipil toleran, kesadaran untuk melawan hoaks dan menciptakan Pemilu damai, serta kebijakan-kebijakan negara untuk memberikan ‘perlawanan ideologis’ atas deideologi Pancasila dan NKRI—telah relatif berhasil mencegah terjadinya peningkatan signifikan dalam angka peristiwa dan tindakan pelanggaran KBB.

Kedua, patut mendapat catatan aspek aktor non negara pada data termutakhir, dimana kelompok warga dan individu semakin dominan sebagai aktor non negara dengan jumlah tindakan tertinggi. Akumulasi tindakan individu dan kelompok warga adalah 78 tindakan (individu 46, kelompok warga 32).

Tahun sebelumnya akumulasi tindakan individu dan kelompok warga 33

0

13 1

5 2

0 0

0 2 4 6 8 10 12 14

Aliran Keagamaan Gereja Klenteng Masjid Pura Sinagog Vihara

42

tindakan. Bahkan tahun 2016 dimana angka tindakan dan peristiwa mencapai level tertinggi dalam pemerintahan ini, akumulasi tindakan kelompok warga dan individu ‘hanya’ 45 tindakan. Dinamika tindakan warga tersebut menunjukkan semakin meningkatnya kapasitas warga untuk melakukan tindakan pelanggaran dan restriksi atas hak-hak konstitusional seluruh warga untuk beragama/berkeyakinan secara bebas. Oleh karena itu dibutuhkan upaya yang lebih signifikan untuk peningkatan resiliensi sosietal serta penguatan narasi, etika, dan kultur kewargaan agar tindakan warga tidak berkontribusi lebih besar bagi peningkatan angka peristiwa dan tindakan pelanggaran KBB.

Ketiga, tingginya angka tindakan yang dilakukan oleh pelaku non negara juga harus menjadi perhatian. Terjadi pergeseran drastis dalam tren tindakan dimana tindakan pelanggaran oleh aktor non negara hampir dua kali lipat lebih tinggi dari tindakan negara. Data tersebut menunjukkan bahwa kita dituntut untuk menggunakan perspektif yang lebih progresif soal pemenuhan KBB sebagai hak dasar. Di samping kita mesti selalu menuntut negara untuk menunaikan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai duty bearer, kita juga harus memberikan perhatian pada pentingnya penguatan basis sosial masyarakat sipil untuk memastikan penguatan praktik dan promosi toleransi dalam tata kelola kebhinnekaan.

Keempat, berdasarkan data yang ada, beberapa gejala positif patut diapresiasi sebagai kemajuan dalam isu KBB, antara lain sebagai berikut. 1]

Stabilitas angka peristiwa dan tindakan pelanggaran KBB. 2] Menurunnya tingkat pelanggaran terhadap kelompok-kelompok minoritas keagamaan, seperti Umat Kristen, Jemaat Ahmadiyah, dan Syi’ah yang selama ini mendominasi angka korban di hampir setiap periode riset dan pemantauan. 3] Angka gangguan terhadap rumah ibadah juga jauh lebih rendah dari rata-rata gangguan yang terjadi pada periode-periode sebelumnya. 4] Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh aktor negara jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 5] Mulai marak inisiatif dan gerakan masyarakat sipil toleran yang selama ini sering dianggap sebagai silent majority untuk mengambil prakarsa dan peran untuk melawan intoleransi, diskriminasi, dan paham-paham yang mengarah pada destruksi nilai-nilai hidup damai bersama dalam perbedaan (peaceful co-existence) dan penguatan ideologi ekstrimisme dengan kekerasan.

Kelima, dilihat dari tingkat pelanggaran terhadap kelompok-kelompok minoritas keagamaan yang selama ini selalu dijadikan sasaran potensial pelanggaran, seperti Umat Kristen, Jemaah Ahmadiyat dan Syi’ah, sepanjang tahun 2018 pelanggaran yang menimpa secara rata-rata menurun tajam. Dengan tren tersebut, pelanggaran terhadap kelompok korban bergeser dari kelompok minoritas agama ke warga dan individu. Tingginya angka korban pada kategori warga dan individu beriringan dengan maraknya politisasi agama, penggunaan sentimen-sentimen keagamaan—termasuk untuk tindakan-tindakan yang sering dihakimi sebagai penistaan agama dan penistaan ulama—yang berujung pada maraknya tindakan persekusi, intimidasi, serta pelaporan penodaan agama dan ujaran kebencian.

Keenam, dalam hal angka gangguan terhadap rumah ibadah, kemajuan signifikan sebenarnya sudah bisa dilihat pada tahun 2016. Bandingkan dengan

43

periode riset sebelumnya yang selalu di atas 20. Pada tahun 2015, gangguan terhadap rumah ibadah terjadi sebanyak 30 kali dan tahun sebelumnya 26.

Bahkan, angka tahun 2013 mencapai 65 gangguan terhadap rumah ibadah.

Gambaran menurunnya gangguan terhadap rumah ibadah berbanding lurus dengan penyelesaian beberapa persoalan administratif pendirian rumah ibadah, seperti yang terjadi di Jambi dimana masalah IMB yang selalu mengalami hambatan selama dua dekade akhirnya selesai pada tahun 2017. Beberapa pemerintah daerah juga melakukan inisiatif untuk melakukan pendataan dan memutihkan administrasi perizinan rumah ibadah, seperti yang dilakukan oleh Bupati Gunungkidul DI Yogyakarta.

Ketujuh, berdasarkan data kondisi KBB tahun 2018, pemerintah daerah masih tercatat sebagai aktor negara yang menempati peringkat teratas pelaku pelanggaran KBB. Data tersebut melanjutkan tren tahun 2017 dan beberapa tahun sebelumnya bahwa pemerintah lokal merupakan salah satu kontributor terbesar pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan. Untuk itu, pemerintah pusat harus memberikan perhatian khusus bagi regulasi-regulasi di tingkat pusat yang memberikan peluang atau bahkan memicu pemerintah daerah untuk melakukan pelanggaran KBB. Di samping itu, pemerintah daerah harus memberikan perhatian yang lebih kepada aparat di masing-masing untuk meningkatkan perspektif HAM dan toleransi sehingga dapat menghadirkan kesetaraan dalam tata kelola pemerintahan daerahnya masing-masing, terutama dalam isu-isu yang berkenaan dengan identitas sosio-religius warganya.

Di atas kedua regulasi ministerial tersebut, pemerintah juga harus menunjukkan keseriusan untuk merevisi Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, sebagaimana diamanatkan oleh Mahkamah Konstitusi. Dari sisi konten UU ini mengandung kelemahan akut. Pasal 1, misalnya, menegaskan bahwa: “Setiap orang dilarang di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.” Ketentuan itu memberikan ruang sangat elastis bagi siapapun, termasuk pemerintah dan peradilan, untuk mendiskriminasi pemeluk agama dengan tafsir yang secara subjektif dinilai

“tidak sejalan” dengan tafsir mayoritas. Hal ini menyebabkan fenomena eksklusi kelompok-kelompok minoritas, yang jelas-jelas tidak selalu atau hampir dipastikan tidak sejalan dengan mayoritas. Dengan konstruksi logis demikian, akan selalu terbuka potensi kekerasan demi kekerasan kepada minoritas yang tidak sejalan dengan tafsir dan keyakinan mayoritas tersebut.

Di samping itu, dengan UU tersebut negara mengintervensi terlalu jauh ke dalam ruang privat terdalam (forum internum) individu warga negara, bahkan hingga ke ruang tafsir di kepala dan hati mereka. Negara telah melakukan kekerasan legal yang serius dengan pilihan untuk menjadi “polisi moral”

tersebut. Dengan ketentuan demikian, negara tidak mungkin menjamin kepastian hukum bagi seluruh warga negara dengan membentuk dan menerapkan undang-undang yang mengatur objek dan substansi yang abstrak, kabur, dan absurd.

44

Dengan absurditas tersebut maka akan muncul kemungkinan-kemungkinan Negara mendasarkan diri pada aturan-aturan yang melegitimasi status sebagai

“polisi moral” tersebut, dan fatwa MUI lah yang biasanya menjadi landasan bertindak. Secara faktual, UU ini telah memicu terjadinya “banjir kasus”

penodaan agama. Sepanjang tahun 2017 terjadi 12 kasus penodaan agama.

Dalam catatan SETARA Institute terdapat 109 kasus penodaan agama sejak pengadopsian ketentuan hukum penodaan agama melalui Penetapan Presiden (PNPS) pada tahun 1965.

Selain itu, patut juga dilihat mulai muncul inisiatif dan gerakan masyarakat sipil toleran yang selama ini sering dianggap sebagai silent majority untuk mengambil prakarsa dan peran untuk melawan intoleransi, diskriminasi, dan paham-paham yang mengarah destruksi nilai-nilai hidup damai bersama dalam perbedaan (peaceful co-existence) dan ideologi ekstrimisme dengan kekerasan (violent extremism). Tindakan-tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ormas keagamaan dalam bentuk pembubaran pengajian dan penolakan ceramah keagamaan dari para tokoh agama yang diduga penganjur anti demokrasi dan anti Pancasila, tetap harus kita sebut sebagai cacatan negative pelanggaran di satu sisi. Namun di sisi lain, hal itu juga perlu diapresiasi sebagai indikasi dari kebangkitan kelompok-kelompok toleran, moderat, serta pro demokrasi, kebhinnekaan, dan negara Pancasila. Dalam konteks itu, maka yang sesungguhnya diperlukan adalah kehadiran negara dan aparatusnya untuk menjadi penjamin dan promotor bagi terwujudnya toleransi dan tertib hukum.

Namun demikian, “kemajuan kecil” di atas berhadap dengan konteks tahun politik elektoral pada tahun 2018 dan 2019 yang berpotensi untuk (1) semakin menguatkan fenomena politisasi agama dan pembelahan sosial menggunakan sentimen-sentimen keagamaan untuk kepentingan perebutan kekuasaan dalam Pilkada, Pemilu, dan Pilpres, (2) mengurangi fokus dan mengalihkan energi pemerintah dari agenda-agenda promosi toleransi dan pemajuan jaminan hak-hak konstitusional warga atas kebebasan beragama/berkeyakinan.

45

Bab 3

Dalam dokumen Melawan Intoleransi di Tahun Politik (Halaman 43-47)