B. Keluarga Sakinah
3. Beberapa Faktor dalam Membentuk Keluarga Sakinah
Faktor-faktor yang diperlukan untuk membentuk keluarga sakinah adalah pertama, terpenuhinya kebutuhan ekonomi; kedua, terpenuhinya kebutuhan seksual; ketiga, saling pengertian, dapat memahami perbedaan dan berpegang teguh pada agama.
Keharmonisan kehidupan suatu keluarga sesungguhnya terletak pada erat tidaknya hubungan silaturahmi antar anggota keluarga, sebagaimana firman Allah tersebut terutama hubungan antar suami dan istri. Banyak orang berpendapat bahwa kebahagiaan suatu perkawinan terutama tergantung pada hubungan suami istri semata yang menitikberatkan kepada faktor: "cinta" dan "pemenuhan biologis" saja. Bekal cinta pemenuhan biologis saja tidak cukup. Akan tetapi pada hakikatnya suatu perkawinan terletak pada sampai berapa jauh kemampuan masing-masing pasangan untuk saling berintegrasi dan dua kepribadian yang berbeda. Cinta dan kepuasan biologik mungkin menyenangkan pada awal perkawinan, tetapi tidak akan berlangsung lama,
64
karena masing-masing pasangan tidak mampu untuk saling berintegrasi dan beradaptasi menjaga hubungan silaturahmi. Dua orang profesor dari Universitas Nebraska (AS) yaitu Nick Stinnet dan John DeFrain (1987) dalam studinya yang berjudul ''The National Study on Family Strength" mengemukakan enam hal sebagai suatu pegangan atau kriteria menuju hubungan perkawinan/keluarga yang sehat dan bahagia atau enam
pedoman keluarga sakinah.65
Pertama, ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga. Sebab dalam agama terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan. Krisis yang dihadapi negara-negara modern dan industri ialah adanya ketidakpastian yang fundamental di bidang nilai, moral dan etika kehidupan.
Semua itu harus dilandasi moral dan etika. Begitu juga sikap seorang anak, baik lelaki maupun perempuan, terhadap bapak, atau ibunya. Landasan utama dalam kehidupan keluarga berdasarkan ajaran agama ialah kasih sayang. Cinta-mencintai dan kasih-mengasihi. Artinya, silaturahmi jangan terputus, tetapi diperbaiki dan dikembangkan hubungan rasa kasih sayang tersebut.
Menurut Hawari keluarga yang tidak religius yang komitmen agamanya lemah dan keluarga-keluarga yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali mempunyai risiko empat kali untuk tidak berbahagia
65
dalam keluarganya. Bahkan berakhir dengan broken home, perceraian
perpisahan, tak ada kesetiaan- kecanduan alkohol dan sebagainya.66
Kedua, waktu untuk bersama keluarga itu harus ada. Seringkali bapak sibuk tidak ada waktu Ibu sibuk tidak ada waktu. Anak bagaimana? Jadinya ke teman dan mungkin sekali pengaruhnya negatif. Atau anak banyak komunikasi dengan televisi saja. Sesibuk-sibuknya ayah harus ada waktu untuk istri dan anak. Sesibuk-sibuknya ibu harus ada waktu untuk anak Jadi ini hanya masalah manajemen waktu. Kalau dituruti tidak ada waktu memang tidak akan ada waktu. Pantaskah seorang ayah ada waktu untuk orang lain, sedang untuk keluarganya sendiri tidak ada?
Perlu dicatat bahwa sakinah bukan sekadar apa yang terlihat pada ketenangan lahir yang tercermin pada kecerahan raut muka karena yang ini bisa muncul akibat keluguan, ketidaktahuan, atau kebodohan.
Akan tetapi, sakinah terlihat pada kecerahan raut muka yang disertai dengan kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang bulat. Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandang nama keluarga
sakinah.67
Di samping sakinah, al-Qur'an menyebut dua kata lain dalam konteks kehidupan rumah tangga, yaitu mawaddah dan rahmat. Shihab
66 Dadang Hawari, Al-Qur'an, Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: Dana Bhakti Primayasa. 1996), hlm. 283
67
menyadari bahwa ia mengalami kesulitan yang sangat besar untuk menemukan padanan kata mawadah dalam bahasa Indonesia karena kata cinta belum menggambarkan secara utuh makna kata tersebut. Karena kesulitan itu, di sini Shihab hanya akan melukiskan dampak mawaddah bila telah bersemai dalam jiwa seseorang. Ketika itu, yang bersangkutan tidak rela pasangan atau mitra yang tertuang kepadanya mawaddah disentuh oleh sesuatu yang mengeruhkan pasangannya, kendati boleh jadi si penyandang mawaddah memiliki sifat dan kecenderungan kejam.
Seorang penjahat yang bengis sekalipun, yang dipenuhi hatinya oleh mawaddah, tidak akan rela pasangan hidupnya disentuh sesuatu yang buruk. Dia bahkan bersedia menampung keburukan itu atau mengorbankan diri demi kekasihnya. Ini karena makna asal kata mawaddah, mengandung arti kelapangan dan kekosongan. Ia adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Kalau menginginkan kebaikan dan mengutamakannya untuk orang lain berarti orang itu telah mencintainya. Tetapi, jika seseorang menghendaki untuknya kebaikan serta tidak menghendaki untuknya selain itu apa pun yang terjadi mawaddah telah menghiasi hati seseorang. Mawaddah adalah jalan menuju terabaikannya pengutamaan kepentingan dan kenikmatan pribadi untuk siapa yang tertuju kepadanya mawaddah itu.
Siapa yang memilikinya, dia tidak pernah akan memutuskan hubungan, apa pun yang terjadi. Jika demikian, kata ini mengandung makna cinta, tetapi ia adalah cinta plus. Makna kata ini mirip dengan
makna kata rahmat. Hanya saja, rahmat tertuju kepada yang dirahmati, sedangkan yang dirahmati itu dalam keadaan butuh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rahmat tertuju kepada yang lemah, sedangkan
mawaddah tidak demikian. Mawaddah dapat tertuju juga kepada yang
kuat.68
Rumah tangga juga demikian, ada konsepnya, isteri bukan sekedar perempuan pasangan tempat tidur dan ibu yang melahirkan anak, suami bukan sekedar lelaki, tetapi ada konsep aktualisasi diri yang berdimensi horizontal dan vertikal. Orang bisa saja menunaikan hajat seksualnya di jalanan, dengan siapa saja, tetapi itu tidak iden- tik dengan kebahagiaan. Hubungan seksual dengan pelacur atau perselingkuhan mungkin bisa memuaskan syahwat dan hawa nafsunya, tetapi tidak pernah melahirkan rasa ketenteraman, ketenangan dan kemantapan psikologis.
Konsep keluarga bahagia yang Islami, biasanya disebut dengan istilah Keluarga Sakinah. Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan, segala sesuatu mengandung unsur positif dan negatif. Dalam membangun keluarga sakinah juga ada faktor yang mendukung ada faktor yang menjadi kendala. Faktor-faktor yang menjadi kendala atau penyakit yang
menghambat tumbuhnya "sakinah" dalam keluarga adalah:69
a. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, majic dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja
68 Quraish Shihab, Perempuan. (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. 139
69 Achmad Mubarok, Psikologi Keluarga dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Besar, (Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2005), hlm. 151
membuat langkah hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.
b. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith'at al lahmi
min al haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan juga
rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.
c. Kemewahan. Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (QS. 17:16), sebaliknya kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku menyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.
d. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL). Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan" dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis "berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.
e. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial.
f. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.
g. Jauh dari agama. Agama adalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu.