Haji Dan Umrah
15) Beberapa larangan selama mengerjakan haji
Selama melakukan ihram haji ada larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar. Pelanggaran atas larangan-larangan tersebut, pelakunya wajib membayar dam (denda) tertentu menurut jenis larangannya. Di antara larangan-larangan tersebut ada yang berlaku untuk pria saja dan ada pula untuk wanita, bahkan ada larangan untuk keduanya. Larangan-larangan yang dimaksudkan adalah sebagai berikut : d) Larangan bagi Laki-laki
Memakai pakaian berjahit
Memakai kaos kaki atau sepatu yang menutupi mata kaki.
Memakai penutup kepada yang melekat
e) Larangan Bagi Perempuan
Menutup kedua tangan dengan kaos tangan
Menutup muka dengan cadar/masker. f) Larangan bagi laki-laki dan perempuan
Orang yang sedang ihram tidak boleh memakai wangi-wangian. Kecuali bau wangi yang ada disebabkan wangi-wangian yang dipakai sebelum ihram.
Tidak boleh mencukur rambut.
Dilarang memotong kuku sebelum tahalul pertama.
Tidak boleh meminang, menikah, menikahkan orang lain atau menjadi wall dalam akad pernikahan.
Tidak boleh bersetubuh (bersenggama). Firman Allah SWT. :
جَْْا
ٌرُ ْشَأ
ٌتاَموُ ْ م
نَمَف
َ َرَ ف
نِ يِف
جَْْا
َاَف
َ َفَر
َاَ
َ وُ ُف
َاَ
َلاَ ِ
ِِ
جَْْا
اَمَ
ْاوُ َ ْفَ
ْنِم
ٍَْْ
ُْمَ ْ َ ي
ُها
.
ُ
ةرقلا
:
197
َ
Artinya : “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,
barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats (birahi), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. (QS. al-Baqarah : 197)
Tidak boleh erburu atau membunuh binatang.
16)Perbedaan miqat makani dan miqat zamani
Miqat adalah batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji dan umrah. Miqat terdiri atas miqat makani dan miqat zamani.
c) Miqat Makani
Miqat makani ialah ketentuan-ketentuan batas tempat wajib memakai ihram. Semua jamaah haji dari seluruh penjuru dunia yang datang menuju Mekkah ditentukan lima tempat, di mana mereka wajib memakai ihram. Khusus bagi mereka yang bertempat tinggal di sekitar Mekkah bila akan mengerjakan umrah terlebih dahulu harus keluar dari kota Mekkah, seperti Ju'ranah, Tan'im dan Hudaibyah, lalu memakai ihram.
Adapun yang dimaksud dengan lima tempat itu adalah sebagai berikut :
Makkah, yaitu bagi penduduk asli Makkah.
Dzulhulaifah (Bir Ali), yaitu miqat bagi mereka yang datang dari arah Madinah dan Negara-negara yang searah.
Juhfah atau Rabig, yaitu miqat mereka yang datang dari Mesir, Syam, Maghribi, dan negeri yang berdekatan dengan negara itu.
Qarnul Manazil, yaitu miqat mereka yang datang dari Nejd (Najad).
Zatul Irqin, yaitu miqat yang datang dari Irak, Afganistan, Rusia dan Negara-negara yang searah.
Yalamlam, yaitu miqat mereka yang datang dari Yaman, India, dan negeri sekitarnya.
Jeddah, bagi jamaah haji yang memasuki tanah suci lewat Jeddah.
Bagi jamaah haji Indonesia yang datang ke Arab Saudi dengan menggunakan pesawat udara, miqatnya adalah Bir Ali di Madinah atau Bandar Udara King Abdul Aziz, Jeddah. Hal ini berdasarkan keputusan MUI tanggal 29 Maret 1980/12 Jumadil Awal 1404 H dan Fatwa Syekh Abdullah bin Zaid A1 Mahmud, Ketua Mahkamah Syariah negara Qatar.
BAHAN AJAR FIQIH 8/2 KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI JAWA TENGAH
d) Miqat Zamani
Miqat zamani adalah penetapan yang berhubungan dengan batas waktu ihram untuk haji, yaitu mulai 1 Syawal sampai dengan 10 Zulhijah tahun itu juga. Oleh karena itu barang siapa melakukan ihram haji sebelum atau sesudah tanggal tersebut maka hajinya tidak sah, melainkan dianggap sebagai umrah saja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ihram haji dilakukan hanya sekali dalam setahun, sedangkan ihram umrah dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun.
17)Tata urutan pelaksanaan ibadah haji
m) Niat
Jika haji dengan cara ifrad atau Qiran, berihram dari miqat yang ditetapkan. Jika melakukan haji tamattu, maka berihramlah pada hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah. Mandi dan pakailah wangi-wangian lebih dahulu sekiranya hal itu memungkinkan, kemudian kenakanlah pakaian ihram, lalu berniatlah dengan membaca :
َةَمْ لاَ َ ْمَْْا نِإ َ ْي بَل َ َل َ ْيِرَش َا َ ْي بَل َ ْي بَل مُ لا َ ْي بَل اجَح َ ْي بَل
َ َل َ ْيِرَش َا َ ْ ُمْلاَ َ َل
Niat haji juga dapat melafalkan :
ََاَ َ ِه ِ ِِب ُتْمَرْحَا جَْْا ُتْيَوَ ن
Artinya :
"Saya niat haji dengan berikhram karena Allah ta`ala."
Kemudian berangkat menuju Arafah dengan membaca talbiyah, yaitu:
َا َ ْ ُمْلاَ َ َل َتَمْ لاَ َ ْمَْْا نِإ َ ْيَ بَل َ َل َ ْيِرَش َا َ ْيَ بَل مٌ لَا َ ْيَ بَل
َ َل َ ْيِرَش
Artinya :
"Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu (syarikat) bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan kekuasaan adalah kepunyaan-Mu, tiada sekutu (syarikat) bagi-Mu."
Membaca talbiyah ini hendaklah terus menerus dilakukan. Bagi jamaah pria hendaklah dengan suara keras, sedangkan bagi jamaah wanita cukup dengan suara pelan. Kemudian keluarlah menuju Mina. Lakukanlah shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di Mina.
Apabila matahari telah terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka berangkat menuju Arafah. Wukuf ialah berkumpul di padang Arafah beberapa saat yang dimulai dari tergelincir matahari pada tanggal 9 Zulhijjah sampai menjelang fajar tanggal 10 Zulhijjah. Wukuf ini merupakan urutan terpenting dalam ibadah haji. Sebab tanpa wukuf, hajinya tidak sah. Wukuf dapat dilakukan di mana saja asal masih berada dalam batas wilayah Arafah. Wukuf diawali dengan mendengarkan khutbah wukuf oleh imam yang ditunjuk. Kemudian dilanjutkan shalat Zuhur dan Asar dijamak takdim dan diqasar (diringkas rakaatnya) menjadi dua rakaat Zuhur dan dua rakaat Asar. Selesai shalat lalu berdoa, berzikir, istigfar, salawat, dan membaca al-Qur'an sebanyak-banyaknya.
Apabila matahari telah terbenam, berangkat menuju Muzdalifah dengan tenang sambil membaca talbiyah, dan hindarilah jangan sampai mengganggu sesama muslim. Sesampainya di Muzdalifah, lakukanlah shalat Maghrib dan Isya. Hendaklah anda menetap di sana hingga anda melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat Shubuh perbanyaklah doa dan zikir hingga hari tampak mulai terang, sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di sini pula kita mengambil batu kerikil sebanyak 49 butir atau 70 butir untuk melontar jumrah di Mina nanti. Selesai mengambil batu, lalu kita tidur sampai Subuh, dan shalat Subuh dilaksanakan di sini pula.
o) Mabid di Mina
Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju Mina sambil membaca talbiah, lalu berhenti sebentar di Masy'ar haram (monumen suci) untuk berzikir kepada Allah SWT. Setelah sampai di Mina, melakukan hal-hal sebagai berikut :
p) Melempar jumrah Aqabah, yaitu jumrah yang terdekat dari Mekkah, dengan tujuh batu kecil secara berturut-turut sambil bertakbir pada setiap kali lemparan. q) Menyembelih kurban jika anda berkewajiban melakukannya dan makanlah
sebagian dagingnya, serta berikan sebagian besarnya kepada orang-orang fakir. r) Bercukurlah dengan bersih (gundul) atau pendekkan rambut anda, akan tetapi
mencukur bersih lebih utama. Sedang bagi wanita cukup menggunting ujung rambutnya kurang lebih seujung jari. Lebih utama jika ketiga perkara ini dilakukan secara tertib. Namun tak mengapa jika anda dahulukan yang satu dari yang lain.
Apabila anda telah selesai melempar dan mencukur, berarti anda telah melaksanakan tahallul Awwal, dan selanjutnya anda boleh mengenakan pakaian biasa dan melakukan hal-hal yang tadinya menjadi larangan ihram, kecuali berhubungan dengan istri.
BAHAN AJAR FIQIH 8/2 KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI JAWA TENGAH
t) Sa`i , bagi melakukan haji Tamattu u) Tahalul
v) Setelah thawaf Ifadhah pada hari Nahr, kembalilah ke Mina. Bermalamlah di sana pada hari Tasyriq, yaitu tgl. 11, 12, dan 13 dan tidak mengapa jika anda bermalam hanya dua malam saja.
w) Melempar tiga jumrah selama menetap dua atau tiga hari di Mina setelah matahari tergelincir. Anda mulai dari Jumrah Ula, yaitu yang jaraknya paling jauh dari Mekkah, kemudian jumrah Wustha (tengah) dan selanjutnya jumrah Aqabah, setiap jumrah dilempar dengan tujuh batu kecil secara berturut-turut sambil bertakbir pada setiap kali lemparan.
Jika menghendaki untuk menetap selama dua hari saja, hendaklah meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam di hari kedua itu (Nafar Awwal). Dan jika ternyata matahari telah terbenam sebelum anda keluar dari batas Mina, maka hendaklah anda bermalam lagi pada malam hari ketiganya dan melempar jumrah pada hari ketiga itu (Nafar Tsani).
x) Thawaf wada’ (perpisahan), yaitu thawaf yang dilakukan jika seluruh rangkaian ibadah haji sudah selesai.