• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Masalah yang Dihadapi Negara-negara Anggota ASEAN untuk Berintegrasi dalam Bidang Ekonomi

INTEGRASI EKONOMI NEGARA-NEGARA ANGGOTA ASEAN: BEBERAPA KEMUNGKINAN DAN HAMBATANNYA

2. Beberapa Masalah yang Dihadapi Negara-negara Anggota ASEAN untuk Berintegrasi dalam Bidang Ekonomi

Sekalipun tampak adanya berbagai peluang bagi negara-negara anggota ASEAN untuk mengembangkan kerjasa­ ma ekonomi ke dalam bentuk integrasi seperti telah di-uraikan di atas, namun tidak sedikit pula masalah-masalah yang dihadapi negara-negara tersebut .’.ilam upaya mereali-sasikannya. Uraian di bawah ini akan msngetengahkan masa­ lah-masalah yang dimaksud serta akan beru^aya mencari ja-lan keluarnya.

Salah satu penghalang utama kerjasama ekonomi a n ­ tar negara-negara anggota ASEAN ialah tidak adanya pemu-satan perhatian pada prioritas yang sama. Hal ini bukan-lah karena tidak disadari, melainkan karena sikap negara negara angota ASEAN yang melihat kondisi ekonominya ma-sing-masing sehingga peningkatan secara terprogram dan desetralisasi struktural merupakan jalan yang paling

a-23

man bagi kemajuan ASEAN. Ciri yang paling menonjol da­ lam pendekatan ini ialah dominasi berkelanjutan oleh menteri-menteri luar negeri. Karena itu penekanan kerja­ sama diletakkan pada masalah-masalah internasional,hubu-ngan internasional dan penyebarluasan kesan bahwa ASEAN merupakan "corporate entity",24 yang berinteraksi dengan faktor-faktor lain sebagai sesama. Sebagai akibatnya ada­ lah pengembangan internal ASEAN terabaikan.

Sekalipun dalam kerangka organisasi ASEAN telah dilembagakan Sidang Menteri-Menteri Ekonomi ASEAN, akan tetapi dukungan bagi pemberian prioritas pada kerjasama ekonomi ini tidak memberikan keuntungan yang besar

Hasil wawancara dengan Ibu Tetty Latupapua, Kepala Biro Sosial Budaya Setnas ASEAN Departemen Luar Negeri Republ'ik Indonesia, 4 April 1989.

23

seperti yang diharapkan dari adanya kerjasama intra ASE­ AN. Hal ini disebabkan karena perbedaan sikap yang sela-ma ini diperlihatkan oleh menteri-menteri ekonomi di satu pihak dan menteri-menteri luar negeri di lain pihak. Menteri-menteri luar negeri melihat kemajuan ASEAN seba­ gai suatu modal bagi kegiatan ekstra regional, sedangkan menteri-menteri ekonomi lebih melihat perbaikan dari d a ­ lam sebagai tugas urtama mereka. Sikap pandang yang ber­ beda ini disebabkan antara lain belum berfungsinya Se­ kretariat ASEAN (baca Sekretaris Jenderal ASEAN) secara semestinya sebagaimana layaknya organisasi internasional lainnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan beberapa nyesuaian organisasional serta perbaikan atau bahkan pe-rubahan pedoman pelaksanaan kerja Sekretariat ASEAN.

iMasalah yang kedua yang dihadapi negara - negara anggota ASEAN untuk mngembangkan kerjasama ekonominya ke dalam bentuk integrasi adalah pemilihanbentuk-bentuk in­ tegrasi itu sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan sis -tem ekonomi negara-negara tersebut yang saling berbeda. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, ada beberapa ben­ tuk integrasi ekonomi. Assosiasi Perdagangan Bebas misalnya, di mana negaranegara anggota suatu organisasi re -gional menghapuskan halangan-halang in perdagangan tanpa harmonisasi dalam kebijaksanaan lain termasuk kebijaksa-naan terhadap negara ketiga. Bila ini t^rjadi pada ASEAN,

maka akan sangat menarik bagi Singapura sebagai negara yang menganut perdagangan bebas. Sementara di pihak lain yaitu Indonesia, Filipina dan Muangthai dengan tingkat proteksinya yang inasih tinggi cenderung melihat kawasan perdagangan bebas sebagai bentuk integrasi hanya akan menguntungkan Singapura. Dalam suatu kawasan perdagangan bebas ASEAN dikhawatirkan bahwa impor yang hendak diba-tasi oleh Indonesia, Filipina maupun Muangthai akan m a ­ suk secara bebas melalui Singapura.

Bentuk integrasi ekonomi yang lain ialah Custom Union, yaitu penghapusan tarif atas impor intra regional dan pengenaan tarif bersama aatas impor ekstra regional. Bentuk demikian ini akan sangat menarik bagi Indonesia, Filipina dan Muangthai. Akan tetapi tidak demikian bagi Singapura, sebab tarif bersama tersebut akan sangat mung-kin jauh lebih tinggi daripada tarif yang diberlakukan Singapura selama ini. Hal ini tidak dapat diterima oleh

negara yang disebut terakhir. ,

Sementara itu pilihan terhadap bentuk integrasi Pasar Bersama (Common Market), juga tidak sedikit kesuli-tan yang akan dihadapi oleh negara-negara anggota ASEAN. Dibanding dua bentuk integrasi yang telah diuraikan se-belumnya Pasar Bersama adalah lebih komprehensif dalam arti bahwa ia rneliput tidak saja lalu lintas barang, te­ tapi juga lalu lintas faktor tenaga kerja dan modal, di

samping juga berarti harmonisasi berbagai kebijaksanaan termasuk yang menyangkut hubungan ekonomi dengan negara ketiga. Karena adanya perbedaan kondisi ekonomi antara masing-masing negara anggota ASEAN, maka akan menghadapi

secara berbeda pula bentuk integrasi ekonomi yang tera -khir ini. Indonesia, Filipina dan Muangthai misalnya, a-kan menolak suatu pasar bersama karena khawatir akan terjadi banjir impor dari Singapura atau Malaysia disam-ping kekhawatiran bahwa suatu pasara bersama ASEAN akan mungkin menyebabkan investasi terpusat di Singapura dan Malaysia. Sementara itu Singapura dan Malaysia akan ber-keberatan sehubungan dengan kebebasan lalu lintas tenaga kerja.

Melihat kondisi ekonomi negaRnegara anggota A-SEAN sebagaimana diuraikan di atas, memang tidak mudah untuk memilih salah satu di antara bentuk-bentuk integra­ si. Namun hal ini tidak berarti menutup kemungkinan bagi ASEAN untuk menjajagi pendekatan alternatif lainnya. De­ ngan modifikasi seperlunya ASEAN dapat mempertimbangkan suatu kawasan ekonomi ASEAN yangmengandung untuk sebagian unsur-unsur Pasar Bersama dan untuk sebagian lainnya unr surunsur Kawasan Perdagangan Bebas. Dalam kawasan eko -nomi ASEAN, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Muangthai dapat menjalin Pasar Bersama, somentara Singapura dan Brunei Darussalam menjalin hubungan Assosiasi Perdagangan Bebas.

Memang masa depan kerjasama ekonomi negara-nega­ ra anggota ASEAN yang akan sangat mempengaruhi masa depan ASEAN secara keseluruhan sangat bergantung dari sejauh mana ASEAN bersedia menempuh pendekatan-pendeka-tan baru. Di samping penjajagan alternatif bentuk intc-grasi tersebut di atas, pendekatan yang menyangkut per­ dagangan perlu mendapat perhatian pokok. Bagaimanapun, penghapusan halangan-halangan atas perdagangan intra-ASEAN, harmonisasi kebijaksanaan perdagangan luar nege­ ri dan harnmonisasi kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berkaitan erat dengan perdagangan adalah esensial bagi kemajuan kerjasama ASEAN.

B A B IV