PERJUANGAN HAK KEPENDIDIKAN
B. Beberapa Masalah Fudamental
156
157 Ad.1. Melanggar hak sejarah yayasan
Bahwa jauh sebelum kemerdekaan RI, usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan telah dilaksanakan oleh Yayasan (swasta). Pengertian Yayasan disini termasuk yayasan, nazhir (badan penerima wakaf), perkumpulan dan badan sosial lain yang menyelenggarakan pendidikan. Oleh karena itu, makna nasional dalam kata-kata Sistem Pendidikan Nasional sangat terkait dengan terdapatnya potensi-potensi bangsa yang telah terbukti, sejak puluhan dan bahkan ratusan tahun, mempunyai andil besar dalam meajukan pendidikan bangsa dengan melalui berbagai ragam cara.
RUU BHP mengatur dalam pasal 40 bahwa untuk dapat menyelengarakan pendidikan tinggi, Yayasan harus membubarkan diri dan mengubah diri menjadi BHP, atau membentuk BHP. Ketentuan itu jelas melanggar hak sejarah yayasan, yang telah memiliki selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun, untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara langsung.
Ad.2. Melanggar hak asasi Yayasan yang dijamin UUD 1945
Hak sejarah Yayasan sebagaimana dijamin oleh UUD 1945, yaitu menyelenggaraka pendidikan secara langsung, yang sesungguhnya merupakan hak assasi Yayasan, mempunyai landasan konstitusional. Landasan konstitusional yang dimaksud adalah hak wadah aktualisasi kebebasan untuk berserikat (pasal 28E ayat 3 UUD 1945), kebebasan untuk memajukan diri dalam memperjuangkan hak secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan Negara (pasal 28C ayat 2 UUD
158
1945), dan kebebasan untuk memilih pendidikan dan pengajaran (pasal 28 E ayat 1 UUD 1945). Dalam pelaksanaan pasal 31 UUD 1945, hak asasi Yayasan tersebut harus dilindungi, karena menyangkut hak warga Negara yang dijamin UUD 1945.
RUU BHP pasal 40 telah menghilangkan hak asasi Yayasan untuk menyelenggarakan pendidikan secara langsung. Penjelasan pasal 40 yang menyatakan bahwa
“ketiga pilihan cara penyesuian BHP tersebut merupakan penghargaan dan penghormatan pada sejarah, ciri khas, serta jasa para pelopor pendidikan formal, terutama yang diselenggarakan oleh masyarakat” adalah tidak benar dan menyesatkan. Jelas bahwa ketentuan pasal 40 ayat (1) huruf b mengharuskan Yayasan membentuk BHP sehingga tidak dapat menyelenggarakan pendidikan secara langsung. Hak asasi Yayasan adalah menyelenggarakan pendidikan secara langsung. Pasal tersebut jelas tidak menghormati, tetapi merampas hak pelopor pendidikan formal.
Ad.3. Tidak sesuai dengan UU No.20 Tahun 2003
Ayat 1 sampai dengan ayat 4 pasal 53 UU No.20 Tahun 2003 mencantumkan “badan hukum pendidikan”
dalam huruf kecil dan penjelasan pasal 53 mencantumkan keterangan sebagai berikut: Badan hukum pendidikan dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi penyelenggara dan/atau satuan pendidikan, antara lain berbentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN)”
Dengan demikian BHMN adalah salah satu bentuk atau jenis badan hukum pendidikan, dan tentunya ada jenis-jenis yang lain lagi. Seharusnya badan hukum
159 pendidikan bukan hanya satu jenis . tetapi lebih dari satu jenis. Hal ini sesuai dengan penjelasan wakil Ketua Komisi X DPR-RI dalam sidang Mahkamah Konstitusi, yaitu bahwa badan hukum pendidikan (huruf kecil) adalah kata jenerik. Dalam bahasa Indonesia, kata jenerik dimaksud adalah kata benda jenis, bukan kata benda mati.
RUU BHP adalah derivasi dari dan lahir karena diamanatkan oleh UU No.20 Tahun 2003, Namun RUU BHP mencantumkan istilah “Badan Hukum Pendidikan”
dalam huruf besar, yang merupakan kata benda nama diri, yang satu-satunya jenis badan hukum pendidikan yang diakui oleh undang-undang. Dengan demikian, RUU BHP tidak sesuai dengan amanat UU No.20 Tahun 2003 sebagai undang-undang induknya.
Ad.4. Sangat etatis
RUU BHP mengatur penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan dengan sangat terinci dan memaksa penggunaan satu jenis badan hukum dan satu jenis tata keloka untuk perguruan tinggi sehingga tidak memberikan peluang besar pada penyelenggara pendidikan untuk mengembangkan diri sendiri sesuai tradisi, tantangan dan best practice. Oleh karena itu, hal ini bertentangan dengan maksud pemerintah untuk memberikan otonomi pada penyelenggaraan pendidikan.
RUU BHP seharusnya mengatur hal-hal dan prinsip-prinsip yang pokok saja dan tidak menjangkau hal-hal teknis.
160
Ad.5. Sangat berpotensi menurunkan mutu pendidikan Materi RUU BHP memuat ketentuan antara lain: a) hanya ada satu bentuk badan hukum pendidikan (keseragaman) untuk pendidikan tinggi, yaitu Badan hukum Pendidikan [lihat pasal 2 ayat {1}; b) hanya ada satu bentuk tata kelola (keseragaman) [lihat pasal 8 ayat 1]. Dengan perkataan lain, kalau selama ini ada keberagaman, maka RUU BHP memaksa keseragaman dalam bentuk badan hukum dan struktur tata kelola.
Langkah tersebut dipandang dari segi manapun merupakan suatu kemunduran besar. Penjelasan ahli dalam sidang Mahkamah Konstitusi - yang memeriksa permohonan pengujian Pasal 53 ayat (1) UU No.20 Tahun 2003 terhadap UUD 1945, Perkara No Perkara 021/PUU-IV/2006 - mengungkapkan hasil studi banding tentang tata cara penyelenggaraan dan pengelolaan di lima negara (Amerika Serikat. Australia, Cina, Inggris dan Jepang) yang banyak memiliki universitas unggul tingkat dunia.
Hasil studi tersebut memperlihatkan keberagaman jenis badan hukum dan struktur tata kelola disetiap negara tersebut. Dengan demikian, sistem yang mempunyai acuan yang jelas dan telah teruji adalah keberagaman dalam jenis badan hukum dan struktur tata kelola. Acuan pada best practice ini menjanjikan suatu peningkatan mutu, dan sebaliknya penyeragaman sangat berpotensi merugikan dan menurunkan mutu pendidikan.
Disamping itu, penyeragaman tidak sesuai dengan hakekat keberagaman masyarakat Indonesia. Dengan perkataan lain,pendekatan keberagaman tidak mempunyai legitimasi sosiokultural.
161 Ad.6. Memuat sejumlah kekacauan hukum
RUU BHP memuat sejumlah kerancuan dan kekacauan dalam logika hukum dan perbenturan dengan undang-undang lain,antara lain, yaitu:
a. Masalah nirlaba
Pengertian nirlaba dalam RUU BHP seperti penjelasan pasal 3 ayat (4) huruf a adalah dipergunakan untuk BHP yang didirikan oleh Pemerintah, oleh badan hukum nirlaba dan oleh badan usaha, tidak konsisten, diskriminatif dan saling bertentangan sehingga merancukan makna nirlaba itu sendiri.
b. Masalah pembubaran yayasan
Yayasan yang memilih alternatif sebagaimana dicantumkan dalam pasal 40 ayat (1) huruf a dan c RUU BHP, maka harus membubarkan diri. Alasan pembubaran diri ini tidak dimungkinkan oleh ketentuan pasal 62 UU No.16 Tahun 2001 jo UU No.28 Tahun 2004 tentang Yayasan, sehingga akan menimbulkan kerancuan dan sengketa hukum yang besar.
c. Masalah penyerahan
RUU BHP pasal 21 mengatur mengenai pemisahan dan pengalihan kekayaan pendiri kepada BHP. Dalam hal pendiri adalah Yayasan, maka pemisahan dan pengalihan kekayaan ini tidak dimungkinkan karena alasan tersebut tidak mencantumkan dalam persyaratan penyerahan kekayaan Yayasan sebagaimana diatur dalam pasal 68 UU No. 16 Tahun 2001 jo UU No.28 Tahun 2004 tentang Yayasan. Dalam hal pendiri adalah nazhir, maka pengalihan kekayaan tersebut juga tidak dimungkinkan
162
karena ketentuan pasal 40 UU No.41 Tahun 2004 tentang Wakaf, maka segala pengalihan harta benda wakaf tidak dimungkinkan.
Ad.7. Membahayakan proses pencerdasan bangsa Pemaksaan keseragaman merupakan etatisme berlebihan. Hal ini jelas akan membahayakan proses pendidikan dan pencerdasan kehidupan bangsa.
Kelompok yang akan paling dirugikan adalah peserta didik, orang tua peserta didik, dunia industri dan usaha serta masyarakat umum pemakai hasil pendidikan. Oleh karena itu,taruhannya sangat besar, sehingga pengaturan mengenai penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan harus dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana, mengacu pada best practice, dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh masukan dari pihak-pihak yang sudah berpengalaman dalam bidang pendidikan.
Dengan demikian pendekatan kekuasaan sangat tidak sesuai dengan tuntutan kebutuhan peningkatan mutu pendidikan.