PERJUANGAN HAK KEPENDIDIKAN
A. Pendahuluan
62
and the Teachers and Lecturers Act, the teacher’s protection can not be applied as regulated by the Article 41. In fact, in practice, teachers who are victims of violence from pupils and parents when carrying out duties at school are often in a weak bargaining position when faced with peace efforts between the parties so that cases of violence against teachers are settled out of court. A very different situation when teachers are accused of violence against children in school environments, although the case is minor, law enforcement officials are relatively quicker to bring the case to court due to the insistence of the victim's family by relying on child protection norms in the Child Protection Act.
63 termasuk dalam sistem norma yang dinamik (nomodynamics),20 oleh karena hukum itu selalu dibentuk dan dihapus oleh lembaga-lembaga atau otoritas-otoritas yang berwenang membentuk atau menghapusnya, sehingga dalam hal ini tidak dilihat dari segi isi dari norma tersebut, tetapi dilihat dari segi berlakunya atau pembentukannya.
Hierarki peraturan perundang-undangan secara berjenjang memuat norma hukum yang harus ditaati secara berjenjang, sehingga peraturan yang relatif lebih tinggi harus dijadikan acuan dalam pembentukan peraturan di tingkat lebih bawahnya. Ketaatan peraturan perundang-undangan yang kedudukan lebih rendah kepada peraturan perundang-undangan yang lebih atas dapat diuji melalui mekanisme judicial review, atau dikenal dengan istilah uji materi.21 Uji materi dapat dilakukan baik terhadap substansi peraturan perundang-undangan atau dikenal dengan istilah “uji materi” maupun prosedur pembentuka peraturan perundang-undangan atau disebut “uji formil”. Sistem pengujian peraturan perundang-undangan memiliki keragaman mekanisme ataupun lembaga yang melakukan pengujian peraturan.
Namun, pengujian satu peraturan pada satu tingkatkan
20 Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-Undangan, Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan (Jakarta: Penerbit Kanisius, Cetakan ke-9, Tahun ke-12, 2007), mengutip Hans Kelsen, General Theory of Law and Sate, New York: Russell & Russell, 1945, hal. 35.
21 Ahmad Syahrizal, Peradilan Konstitusi, Suatu Studi tentang Adjudikasi Konstitusional sebagai Mekanisme Penyelesaikan Sengketa Normatif (Jakarta: Pradnya Paramita, 2006), halaman 13.
64
horizontal tidak mudah melakukannya, terutama bila terjadi konflik norma pada peraturan perundang-undangan pada tingkatan sama secara horizontal seperti halnya konflik norma antara Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (selanjutnya disebut UUGD) terhadap Undang-Undang Nomor Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 (selanjutnya disebut UUPA).
UUGD memberikan perlindungan “hukum, kesehatan, dan ketenagakerjaan” kepada guru saat menjalankan profesinya. Sebaliknya, UUPA secara absolut memberikan perlindungan baik dari kekerasan maupun kekerasan fisik dalam tingkatan paling minor pun kepada anak saat mengikuti pendidikan di lingkungan sekolah. Pengaturan norma perlindungan guru dalam menjalankan profesi di sekolah dan pengaturan norma perlindungan anak di lingkungan sekolah melahirkan persoalan benturan norma. Dalam praktiknya, norma perlindungan anak dalam lingkungan sekolah lebih superior dan mengalahkan pemberlakuan norma perlindungan guru di sekolah ketika terjadi persoalan hukum berkaitan dengan pemberian hukuman disiplin kepada murid karena melanggar peraturan sekolah. Konflik norma tersebut telah melahirkan situasi diskriminatif terhadap guru.
Konflik norma antara UUGD dengan UUPA telah melahirkan ketidakadilan kepada guru. Para guru merasa
65 tidak ada kepastian hukum dalam menjalankan profesi sebagai pendidik di sekolah, terutama tidak ada kepastian hukum saat menegakkan aturan sekolah dalam memberikan hukuman kepada murid yang melanggar peraturan sekolah. Dalam praktiknya, sebagai perbandingan guru lebih mudah diberikan hukuman oleh aparat penegak hukum dibandingkan dengan proses hukum kepada murid yang melakukan kekerasan terhadap guru di sekolah. Aparat hukum memproses secara lebih cepat kekerasan verbal ataupun kekerasan fisik sekalipun dalam skala minor yang dilakukan guru ketika memberikan hukuman disiplin kepada murid di sekolah. Namun, aparat penegak hukum tidak dengan mudah memproses hukum murid yang melakukan kekerasan terhadap guru disebabkan adanya norma perlindungan huk\um absolut kepada anak sebagaimana diatur dalam UUPA. UUPA membuka ruang rekonsiliasi atau perdamaian antara guru korban kekerasan dengan anak pelaku kekerasan terhadap guru di sekolah.
Menurut Maria Farida,22 dalam pelaksanaannya berlaku suatu norma karena adanya validity, dihadapkan pula pada efficacy dari norma tersebut. Kemudian menjadi masalah, apakah suatu norma yang ada dan berdaya laku itu berdaya guna secara efektif atau tidak, atau dengan lain perkataan apakah norma itu ditaati atau tidak.23
22 Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-Undangan, Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan (Jakarta: Penerbit Kanisius, Cetakan ke-9, Tahun ke-12, 2007, Buku I), halaman 4.
23 Ibid.
66
Sebagaimana adanya ketentuan perlindungan bagi guru dalam menjalankan profesi sebagaimana diatur dalam UUGD, maka terjadi bahwa suatu ketentuan dalam sebuah peraturan perundang-undangan tidak berdayaguna lagi walaupun peraturan tersebut masih berdayalaku karena belum dicabut.24
Sisi lain dari persoalan konflik norma dari kedua undang-undang tersebut juga disebabkan prosedur pembentukan undang-undang yang tidak memperhatikan undang-undang yang lebih dahulu diberlakukan, yaitu UUGD lebih dahulu lahir dibandingkan dengan UUPA. Cacat prosedur ini kemudian menjadi bukti bahwa UUPA tidak mengikuti proses penelitian yang baik dalam pembuatan rancangan undang-undang. Memperhatikan prosedur pembuatan rancangan undang-undang adalah adalah salah satu prasyarat agar undang-undang dibuat dengan mekanisme yang baik.25 Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik (good legislation), diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan system, asas, tata cara penyiapan dan pembahasan, teknik penyusunan maupun pengujiannya.26 Segenap persyaratan membentuk undang-undang harus diperhatikan oleh pembentuk undang-undang, karena
24 Ibid.
25 I Gde Pantja Astawa dan Suprin Na’a, Dinamika Hukum dan Ilmu Perundang-undangan di Indonesia (Bandung: Alumni, 2008), halaman 3.
26 Ibid.
67 membentuk undang-undang bukan pekerjaan mudah, karena harus memperhatikan aspek hukum dan aspek non-hukum yang terkait undang-undang tersebut.27
Pembahasan persoalan perlindungan guru dalam menjalankan profesi juga tidak lepas dari gagasan bahwa setiap warga Negara mendapatkan perlindungan hak dasarnya, termasuk hak guru dalam menjalankan profesi.28 Pengaturan untuk perlindungan hak dasar warga Negara diatur dalam konstitusi.29 Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Dasar 1945 muncul perdebatan di antara para pendiri Negara Republik Indonesia, yaitu apakah perlu memuat pengaturan perlindungan hak asasi manusia, karena Negara pasti akan melindungan hak warga Negara dengan Soepomo dan Sukarno berhadapan dengan Yamin dan Hatta dengan argument konstitusi perlu memuat aturan tentang hak asasi.30 Pentingnya Negara mengatur soal hak asasi dalam konstitusi menjadi elemen dalam gagasan pemerintahan konstitusional-demorkatis.31
27 HAS Natabaya, Menata Ulang Sistem Peraturan Perundang-undangan di Indonesia (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2008), Halaman 17.
28 Padmo Wahyono, Indonesia Negara Berdasarkan Atas Hukum (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), halaman 11.
29 M. Solly Lubis, Pembahasan UUD 1945 (Jakarta: Alumni, 1997), halaman 263.
30 Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik (Jakarta:
Grafiti Pers, 1994), halaman 8.
31 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, diterjemahkan oleh Sylvia Tiwon, dari The Aspiration for
68
Perlindungan hak warga Negara merupakan ciri dasar dari gagasan Negara Hukum.32
Menurut Sri Soemantri, pada umumnya setiap konstitusi sekurang-kurangnya mengatur tiga kelompok materi muatan, yaitu:33
1. Adanya pengaturan tentang perlindungan hak asasi manusia dan warganya;
2. Adanya pengaturan tentang susunan ketatanegaraan Negara yang mendasar;
3. Adanya pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang juga mendasar.