• Tidak ada hasil yang ditemukan

commit to user (4)Dilaksanakan secara berkelanjutan.

3. Beberapa Metode Pengajaran Bahasa Inggris di SMK

Sejarah pengajaran bahasa Inggris di SMK menunjukkan bahwa dalam rangka mencapai tujuan yang dirumuskan kurikulum, para guru berusaha menerapkan metode mengajar (methods of language teaching) yang mereka anggap paling baik. Methods yang pada hakikatnya adalah serangkaian cara pengajaran bahasa yang sistimatis berdasarkan teori kebahasaan dan teori pembelajaran tertentu yang kalau diterapkan dapat menjadikan kelas menjadi lebih efektif (Richards dan Rogers 2002: 1) dianggap sebagai kunci keberhasilan mereka. Kondisi ini mencerminan perkembangan TEFL yang tidak hanya terjadi di Indonesia. Salah satu fitur yang menonjol adalah berkembangnya kecenderungan di kalangan guru untuk mencari dan menerapkan metode yang mereka anggap terbaik yang dapat dipakai sebagai dasar perancangan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif di kelas mereka. Brown (2001: 14) menggambarkan fenemona ini sebagai upaya pencarian “...a single method, generalizable across widely varying audiences that

commit to user

would successfully teach students a foreign language in the classroom”, yaitu sebagai satu cara atau perosedur mengajar bahasa yang dapat diterapkan pada beragam kondisi siswa atau kelas sehingga mereka dapat mengajar bahasa asing dengan berhasil.

Beragam methods dalam kajian TEFL yang dapat dipilih guru berdasarkan kompetensi sasaran dan kondisi yang dihadapi. Munculnya berbagai method baru biasanya dimotivasi oleh kebutuhan yang dirasakan saat itu dan ditandai dengan aspek pembaharuan yang didasarkan pada kelemahan method sebelumnya dengan tetap mempertahankan keunggulannya, atau menawarkan perspektif yang berbeda dengan yang pernah dirumuskan. Brown (2001: 16-18) mengungkapkan fenomena tersebut sebagai “Each new method broke from the old but took with it some of the positive aspects of the previous practices”. Mengingat begitu banyaknya methods yang pernah diterapkan di kelas, banyak pula aspek pengajaran yang dianggap baik dan perlu dilanjutkan. Dengan demikian ada kecenderungan methods yang baru juga mengandung unsur-unsur pengajaran yang pernah ditawarkan pada masa lalu. Fenomena ini digambarkan sebagai perkembangan yang mengikuti a cyclical pattern (Brown, 2001: 16). Perkembangan disiplin methods tidak selalu bersifat progresif dengan batas atau pemisah yang jelas antara methods yang lama dengan yang baru. Perkembangan itu lebih bersifat cyclic, yaitu ada sebagian ranah perkembangan tersebut yang merupakan pemakaian unsur lama yang pernah digunakan sehingga terkesan mengulang apa yang pernah digunakan pada masa lampau.

Beberapa methods yang terkenal dan mempengaruhi pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, khususnya di SMK dapat disajikan berikut.

a. Grammar Translation Method (GTM)

GTM adalah metode pengajaran bahasa asing yang tercatat pertama kali dirumuskan berdasarkan embrio metode pengajaran bahasa Latin yang disebut the Classical Method. Metode ini mengutamakan pengajaran tata bahasa, kosa kata, penerjemahan dan telaah bahasa tertulis, khususnya bahasa Latin. Brown (2001: 18) menggambarkan arah pengajaran GTM sebagai “...focus on grammatical rules, memorization of vocabulary and of various declensions and conjugations, translations of texts, doing written exercises,” yaitu metode yang menekankan pada penguasaan tata bahasa, menghafalkan kosa kata dan mengenal berbagai perubahan bentuk kata, penerjemahan teks serta mengerjakan latihan tertulis.

Sama dengan paradigma the Classical Method, prinsip GTM dalam pengajaran bahasa asing mengutamakan pengembangan penguasaan tata bahasa serta penerjemahan. Ciri-ciri khusus metode ini yang digambarkan Prator dan Celce- Murcia (dalam Brown, 2001: 18-19) meliputi hal-hal berikut.

(1) Siswa diajar bahasa sasaran dengan menggunakan bahasa ibu. Bahasa sasaran hanya dipakai komunikasi dalam lingkup terbatas.

(2) Sejumlah kosa kata diajarkan dalam bentuk daftar kata yang terpisah dari konteks pemakaiannya untuk dihafalkan dan nantinya digunakan.

(3) Pengajaran tata bahasa diarahkan pada pemahaman siswa untuk menyusun serangkaian kata menjadi kalimat serta mengenal berbagai pembentukan dan perubahan kata-kata.

(4) Sejak dini, siswa dilatih membaca teks klasik yang berjenjang dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

commit to user

(5) Pengajaran kurang memperhatikan kontek teks yang ada. Teks yang dihadapi dianggap sebagai latihan analisis tata bahasa.

(6) Sering kali latihan-latihan yang diberikan kepada siswa berupa menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa sasaran yang terpisah ke dalam bahasa ibu.

(7) Pengajaran kurang memperhatikan pengembangan pelafalan kata.

Prinsip pengajaran ini masih banyak diterapkan di kelas bahasa asing sampai sekarang. Sebelum diterapkannya KBK dan KTSP, banyak guru mengembangkan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris yang mengikuti prinsip-prinsip di atas. Meskipun kurikulum yang kini diterapkan mengutamakan pemakaian bahasa sasaran dalam konteks komunikasi yang terjadi sehari-hari, baik di lingkungan kehidupan nyata maupun antisipasi lingkungan tempat kerja nanti, beberapa kegiatan pembelajaran yang merupakan ciri GTM masih sering dipraktikkan guru, khususnya butir 1-3 di atas. Banyaknya kritik dan kelemahan yang terdapat GTM, tidak membuat para guru meninggalkan metode ini. Salah satu penyebabnya adalah bahwa model pengajaran seperti ini lebih mudah diterapkan di kelas karena guru tidak dituntut untuk memiliki kompetensi bahasa sasaran yang tinggi, khususnya kompetensi berbahasa lisan.

b. Direct Method (DM)

DM adalah metode pengajaran bahasa asing yang pada awalnya dirumuskan sebagai reaksi atas kelemahan GTM yang mengabaikan pengembangan keterampilan berbahasa lisan. DM dirancang sebagai metode yang menerapkan prinsip pembelajaran bahasa asing sebagaimana yang dialami oleh anak ketika mereka belajar bahasa ibu mereka. Dalam konteks ini kegiatan pembelajaran dirahkan pada pengembangan kemampuan berkomunikasi lisan dengan cara melibatkan anak

dalam berbagai kegiatan berkomunikasi lisan. Karenanya metode ini juga disebut Naturalistic Method.

Embrio metode ini berasal dari the Series Method yang dirumuskan Gouin yang menyatakan bahwa mengajarkan bahasa asing seharusnya dilakukan secara langsung mengajak pembelajar berkomunikasi. Guru tidak perlu menjelaskan tata bahasa yang dipakai tetapi mengajarkan bagaimana menggunakan bahasa dalam tindak komunikasi. Prinsip tersebut digambarkan Brown (2001: 20) sebagai berikut “...that taught the learner directly (without translation) and conceptually (without grammatical rules and explanation) (through ) a series of conncected sentences that are easy to perceive”, yaitu metode pengajaran bahasa yang mengajari pembelajar langsung tanpa melalui penerjemahan dan secara konseptual tanpa menjelaskan kaidah-kaidah bahasa melalui serangkaian ujaran yang mudah difahami.

Praktik dan prosedur pembelajaran DM ini tidak banyak berbeda dengan metode Gouin. Brown (2001: 21) menggambarkan prinsip metode DM sebagai “...that second language learning should be more like the first language learning— lots of oral interaction, spontaneous use of the language, no translation between first and second langauge and little or no analysis of grammatial rules”, bahwa pembelajaran bahasa asing seharusnya dirancang seperti proses pembelajaran bahasa ibu yang menekankan pada pengembangan interaksi lisan, pemakaian bahasa secara langsung, tidak menggunakan terjemahan ke dalam bahasa ibu dan tidak atau sedikit melibatkan siswa dalam menganalisis kaidah bahasa.

Beberapa ciri utama DM yang dirumuskan Richards and Rogers (dalam Brown 2001: 21) adalah sebagai berikut.

commit to user

(2) Hanya kosa kata yang dipakai sehari-hari yang diajarkan.

(3) Keterampilan berbahasa lisan dikembangkan dengan intensif dan seksama berbasis tanya-jawab antara guru dan siswa dalam kelas kecil yang intensif. (4) Grammar diajarkan secara induktif

(5) Butir pengajaran baru diajarkan melalui pemberian contoh dan pelatihan. (6) Kosa kata yang konkrit diajarkan melalui demonstrasi, benda dan gambar;

sedangkan kosakata abstrak diajarkan melalui asosiasi konsep. (7) Keterampilan wicara dan menyimak dikembangkan.

(8) Pelafalan yang benar dan pemakaian grammar yang tepat ditekankan.

Pada awalnya, metode ini sangat terkenal khususnya di kelas-kelas yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi lisan pembelajar. Namun demikian karena sulit dan rumit penerapannya, sedikit sekali guru atau kelas yang menerapkan metode ini sebagai metode tunggal. Hambatan utama yang dihadapi adalah terbatasnya lingkup penerapannya serta terbatasnya guru yang memiliki kemampuan berbahasa sasaran yang tinggi untuk dapat menerapkannya dengan baik.

Dalam konteks pengajaran bahasa Inggris di SMK, guru hampir tidak pernah menerapkan metode ini secara eksklusif atau sebagai metode tunggal. Hal ini mungkin karena rata-rata jumlah siswa setiap kelas di SMK mencapai 30-40 siswa. Selain itu langkanya guru yang memiliki kompetensi berbahasa Inggris yang memadai khususnya keterampilan berbahasa lisan yang dipakai sebagai modal untuk menerapkan metode ini. Berdasarkan rambu-rambu kurikulum bahasa Inggris yang lalu, guru jarang sekali menggunakan unsur kegiatan seperti di atas karena pengajaran lebih menekankan pada penguasaan bahasa tertulis. Berdasarkan KTSP, kompetensi berbahasa lisan termasuk dalam ranah lingkup SKL untuk SMK.

Pencapaian SKL ini menuntut guru mampu mengadopsi beberapa unsur kegiatan seperti yang dirancang dalam DM sebagai teknik penyajian materi seperti pemakaian bahasa Inggris dalam menyajikan materi di kelas, penahapan dalam pengembangan keterampilan bahasa lisan, dan penyajian unsur tata bahasa secara induktif. Perubahan orientasi pembelajaran ini karena kurikulum yang diterapkan di SMK sekarang memberi perhatian yang cukup proporsional dalam pengembangan kemampuan siswa dalam unjuk kerja berkomunikasi lisan dalam bahasa Inggris.

c. AudioLingual Method (ALM)

ALM adalah metode mengajar bahasa asing yang menekankan pada pengembangan penguasaan bahasa lisan, seperti DM. Metode ini pertama kali dirancang untuk merespon tingginya kebutuhan masyarakat Amerika untuk mengirim personil dan tentara ke luar negeri setelah menang dalam Perang Dunia kedua. Sebagai salah satu negara pemenang, Amerika menerapkan politik luar negeri yang menuntut mereka untuk berkomunikasi langsung dengan bangsa-bangsa lain, baik sebagai koloni atau mitra dalam menghadapi lawan. Menyadari pemerlunya kemampuan berkomunikasi dengan orang asing secara lisan dan langsung, mereka mendirikan Army Specialized Teaching Program, yaitu semacam lembaga program pelatihan bahasa untuk para tentara dan personel yang akan ditugaskan ke luar negeri yang penduduknya tidak menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Lembaga ini menggunakan the Army Method, yaitu metode pengajaran bahasa bagi para tentara yang mengutamakan pengembangan keterampilan menggunakan bahasa lisan tanpa harus belajar kaidahnya secara eksplisit.

commit to user

Pada tahun 1950-an metode mengajar tersebut disempurnakan menjadi ALM. Metode ini didukung oleh teori linguistik struktural dan teori pembelajaran behaviorisme sehingga diterima sebagai metode alternatif yang sangat terkenal ke seluruh dunia. Menurut ALM, pembelajaran bahasa harus dirancang dengan menggunakan alur atau prosedur S Æ R Æ R. (Periksa pembahasan model behaviorist pada halaman 21-25).

Beberapa prinsip pembelajaran metode ALM yang dirumuskan Prator dan Celce-Murcia (dalam Brown, 2001: 23) adalah sebagai berikut.

(1) Bahan ajar baru disajikan dalam bentuk dialog.

(2) Penerapan tiga kegiatan yang saling terkait: menirukan, menghafalkan dan mengulang-ulang.

(3) Bentuk bahasa disusun berdasarkan konsep contrastive analysis dan diajarkan bertahap.

(4) Pola kalimat diajarjan dengan latihan yang berulang-ulang.

(5) Penjelasan grammar dikurangi sebanyak mungkin. Pengajarannya melalui analogi induktif dan bukan penjelasan deduktif.

(6) Pengajaran kosa kata dibatasi dan dilaksanakan dalam konteks.

(7) Memaksimalkan pemakaian media rekaman, lab bahasa dan visual aids. (8) Mengutamakan pelatihan pelafalan.

(9) Guru hanya diperkenankan menggunakan bahasa ibu sedikit saja. (10) Respon siswa yang benar perlu segera diberi reinforcement.

(12) Ada kecenderungan mengutamakan bentukan bahasa dan mengesampingkan makna.

Metode ini telah banyak diterima dan diterapkan di kelas-kelas bahasa asing di seluruh penjuru dunia. Dukungan media pembelajaran, khususnya laboratorium bahasa dengan kelengkapannya, telah banyak membantu guru mengajarkan bahasa asing dengan menggunakan rekaman ujaran penutur asli. Model pengajaran ini telah banyak menarik perhatian banyak lembaga dan institusi pengajaran bahasa asing karena dinilai sangat tepat dan efektif.

Di Eropa berkembang metode pengajaran dengan prinsip yang mirip dengan ALM yang disebut Situational Language Teaching atau SLT. Metode ini mengandalkan pada penciptaan situasi komunikasi sebagai wahana untuk menciptakan situasi pembelajaran yang menyerupai situasi komunikasi yang sesungguhnya. Situasi ini sangat berguna sebagai media penyajian bahan ajar untuk memudahkan proses pembelajaran.

Berdasarkan kurikulum yang pernah diterapkan di SMK, metode mengajar ini sangat jarang diterapkan oleh para guru. Selain tidak dicantumkannya dalam kurikulum, pada masa lalu kemampuan berbahasa Inggris lisan bukan merupakan tujuan utama pengajaran Inggris di SMK. Masa kini, ketika semua siswa dituntut untuk memiliki kompetensi berbahasa Inggris lisan semakin tinggi di samping kompetensi berbahasa tulis, masih sedikit sekali guru yang menerapkan metode ini. Saat ini, jumlah SMK yang mampu membeli atau membangun laboratorium bahasa semakin banyak, namun laboratorium tersebut hanya digunakan untuk mengembangkan keterampilan menyimak atau listening karena tuntutan dalam evaluasi belajar dan bukan sebagai media untuk menerapkan prosedur pembelajaran S Æ R Æ R.

commit to user

Dokumen terkait