Pembelajaran PAI
D. Belajar Cerdas Dengan Gerakan Dalam Pembelajaran PAI
Dalam belajar, fungsi tubuh sama pentingnya dengan otak, yang telah mendorong Jalaluddin Rakhmat kepada hasilnya yang dituangkan dalam bukunya “Belajar Cerdas, Belajar Berbasiskan Otak.” Bertahun-tahun Jalaluddin Rakhmat
16
menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengajarkan orang bagaimana caranya belajar, namun nilai rata-rata tes standar menurun dan tingkat buta huruf meningkat. Rasa keingintahuan ini membawa Jalaluddin Rakhmat kepada penelitian yang lebih intens dalam labirin neurofisiologi, yang telah Jalaluddin Rakhmat ajarkan di universitas selama bertahun-tahun. Pencariannnya meluas pada sumber-sumber informasi yang terus berkembang tentang fungsi pikiran atau tubuh dan keterkaitan yang mendasar antara gerakan, indera, dan emosi dengan pembelajaran yang efektif.
Menurut Paul E. Dennison “gerakan adalah pintu menuju pembelajaran.” Semakin setiap orang memperhatikan hubungan timbal balik yang rumit antara otak dan tubuh, semakin jelas muncul satu hal: gerakan sangatlah penting bagi pembelajaran. Gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental setiap orang. Gerakan menyatukan dan menarik informasi-informasi baru ke dalam jaringan neuron. Gerakan sangat vital bagi semua tindakan untuk mewujudkan dan mengungkapkan pembelajaran, pemahaman, dan diri setiap orang.
Setiap gerakan adalah kejadian sensoris-motorik, yang berkaitan dengan pemahaman akan dunia fisik, dunia tempat semua pembelajaran berasal. Gerakan kepala mengarahkan organ sensoris (mata, telinga, hidung, dan lidah) terhadap masukan dari lingkungan. Gerakan halus pada mata memungkinkan setiap orang melihat jarak jauh, mempersepsi benda tiga dimensi, menyerap sekeliling dan memperhatikan huruf-huruf kecil dihalaman buku. Gerakan lembut pada tangan memungkinkan menyentuh dan memanipulasi dunia dengan cara-cara yang amat luar biasa kompleksnya. Gerakan mengarahkan setiap orang untuk mencium bebauan yang akan mengingatkan pikiran akan suatu kejadian, atau bebunyian yang akan membentuk citra internal untuk perlindungan dan pemahaman. Gerakan memungkinkan setiap orang untuk merasakan angin menerpa wajah, hanya demi pembelajaran.
Melalui pembelajaran selama bertahun-tahun, setiap orang menjadi mampu untuk bermain, menghubungkan dan menciptakan pemahaman baru. Melalui gerakan, kita dapat mmenyalurkan pemikiran dan emosi kedalam kata-kata dan gerakan, serta
memperkaya dunia dengan gagasan kreatif kita. Howard Gardner, Jean Ayres, Rudolph Steiner, Maria Montessori, Moshe Feldenkreis, Glenn Doman, Neil Kephardt dan para pembaharu ternama lainnya di dunia pendidikan telah menekankan pentingnya gerakan dalam proses pembelajaran.17
Dalam proses pembelajaran, sangat penting untuk membiarkan anak menjajaki setiap aspek gerakan dan keseimbangan dalam lingkungan mereka, apakah itu berjalan diatas titian, memanjat pohon, atau melompati kursi. Seorang guru dari Navajo mengatakan bahwa “ketika ia kecil, ia dan anak-anak lainnya akan menjelajahi mesa dari pagi sampai matahari terbenam.” Mesa adalah tempat tinggi yang rata, dikelilingi pada satu atau kedua sisinya dengan batua yang terjal. Tak ada seorangpun yang terluka dalam petualangan ini, dan ia merasa bahwa pengalaman ini amat penting bagi proses pembelajaran yang ia tempuh.
Namun dengan persepsi saat ini yang melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya, ia tak pernah mengizinkan anaknya untuk pergi ke mesa. Tanpa adanya mesa untuk dijelajahi, anak-anaknya lalu menjadikan televisi sebagai pengisi waktu luang favorit. Ia mengakui anak-anaknya mengalami kesulitan dalam gerakan dan keseimbangan. Ia berpikir mungkin ini berhubungan dengan kesulitan belajar, terutama dalam membaca dan menulis, yang dialami mereka di sekolah.
Jalaluddin Rakhmat seringkali menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kesulitan belajar akan juga mengalami kesulitan ketika mereka diminta untuk memperhatikan ibu jari yang Jalaluddin Rakhmat gerakkan mengitari bidang visual mereka. Mata mereka bergulir, mereka mengeluh kesakitan, dan mereka kesulitan mempertahankan fokus. Stres visual mereka, ketika mata tidak fokus dengan efektif atau tidak menyusuri teks dengan efisien, disebabkan perkembangan otot mata yang tidak memadai, seringkali dikarenakan oleh kurangnya gerakan. Brain Gym memberikan cara mudah untuk mengaktifkan semua otot mata. Latihan-latihannya
17
akan mengurangi reaksi stress dan membantu untuk membaca dan memahami secara lebih mudah.
Disini Jalaluddin Rakhmat menambahkan saran-saran yang telah didapat dari hasil-hasil penelitian lainnya dan penerapannya dalam pembelajaran PAI, diantaranya:
1. Sebagaimana anak-anak kecil mengembangkan sel-sel otak mereka dengan banyak bergerak, kita juga harus memasukkan gerakan dalam proses pembelajaran, misalnya Jalaluddin Rakhmat ketika sedang mengajar, beliau menyelingi kegiatan membaca buku dan kegiatan belajar lainnya dengan menggerakkan tubuh, menggerak-gerakkan tangan, dan mengerak-gerakkan kaki (ice braker) untuk menyegarkan suasana dan pemecah kejenuhan agar peserta didik siap secara psikologis dalam belajar Pendidikan Agama Islam.
2. Melakukan kegiatan olahraga secara rutin setiap hari. Dalam laporan James Pollatscheck dan Frank Hagen disebutkan bahwa “anak-anak yang melakukan pendidikan jasmani setiap hari menunjukkan kebugaran gerak, prestasi akademis, dan sikap sekolah yang unggul dibandingkan dengan lawannya yang tidak melakukan pendidikan jasmani harian. Sebagaimana sekolah SMA Muthahhari menerapkan belajar cerdas dengan gerakan berolahraga atau keluar kelas dan meninggalkan ruangan setiap 2 jam.
3. Dalam mengikuti pelajaran di sekolah, peserta didik harus terlibat dalam kegiatan-kegiatan seni, seperti menari, musik, drama, dan seni rupa. Sebagaimana yang diterapkan disekolah SMA Plus Muthahhari, disekolah itu mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum banyak yang dikurangi dan menggantikannya dengan pelajaran seni yang memungkinkan murid banyak bergerak, yang kemudian mempunyai prestasi akademis diatas anak-anak yang tidak aktif.
4. Guru Pendidikan Agama Islam seharusnya memberikan pelajaran dengan permainan, drama, teater, serta memberikan peluang kepada anak-anak didik untuk bergerak, seperti