BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar dan Hasil Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan setiap orang dari lahir sampai mati. Kegiatan belajar tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir setiap saat manusia melakukan kegiatan belajar. Baik kegiatan belajar yang bersifat akademis maupun non akademis. Misalkan saja seorang anak kecil yang belum mampu berjalan maka ia akan belajar berjalan, orang yang belum mampu mengoperasikan computer maka ia akan belajar computer, dan sebagainya. Kegiatan belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Menurut Hilgard dalam Wina Sanjaya (2008 : 88) belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan ilmiah. Belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan akan tetapi proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Piaget (Dahar, 1989 : 152-155) berpendapat bahwa tiap orang belajar berdasarkan tingkat perkembangan intelektualnya yaitu :
a. Tahap sensorimotor (0 - 2 tahun)
Pada tahap ini, kecerdasan motorik anak berkembang dengan baik. Anak banyak melakukan tingkah laku yang bersifat motorik. Mereka belajar memegang sesuatu, tengkurap, merangkak dan berjalan. Mereka belum mengenal bahasa. Namun mereka dapat mengenali lingkungannya dengan menggunakan system penginderaan mereka. Mereka mengenali warna, tekstur, rasa, suara dan bau menggunakan indera mereka. Mereka belum mampu berfikir tentang dunia luar.
b. Tahap pre-operasional (2 -7 tahun)
Pada tahap ini, anak mampu melakukan kegiatan secara aktif. Mereka suka meniru tingkah laku maupun ucapan orang lain. Mereka menggunakan obyek yang mereka lihat maupun dengar sebagai model yang kemudian mereka tiru dalam kegiatan yang mereka lakukan. Pada usia ini, anak mampu mengelompokkan benda berdasarkan sifatnya. Misalnya membedakan besar kecilnya benda, halus kasarnya permukaan benda, dan berat ringannya benda. Anak pada usia ini sudah mampu melakukan simbolisasi, seperti marah, sedih, senang, setuju dan sebagainya.
c. Tahap konkrit operasional (7 – 11 tahun)
Pada tahap ini, anak telah mampu menggunakan operasi. Mereka mampu mengenal huruf, angka, operasi hitung dan sebagainya. Mereka juga sudah mampu menyelesaikan masalah secara logis baik dalam pelajaran maupun masalah dalam kehidupan sehari-hari.
d. Tahap formal operasional (11 tahun ke atas)
Tahap formal operasional merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif anak. Mereka mampu berfikir logis dan mampu mengatasi masalah yang mereka hadapi. Anak pada usia ini dapat menggunakan penalaran ilmiah dalam berfikir dan dapat menerima pendapat / pandangan orang lain.
Menurut Gagne 1984 (Ika, 2006 : 9), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme (makhluk hidup keseluruhan), berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Belajar merupakan suatu proses yang memungkinkan seseorang untuk mengubah tingkah lakunya cukup cepat dan perubahan tersebut bersifat relatif tetap, sehingga perubahan yang serupa tidak terjadi berulangkali setiap menghadapi situasi baru.
Ada beberapa ciri penting tentang belajar (Ika, 2006 : 8) yaitu:
a. Belajar itu merupakan suatu proses yang dapat dilakukan manusia. Sejak lahir manusia melakukan proses belajar untuk mengenal lingkungannya. Kegiatan belajar membutuhkan proses berfikir dengan menggunakan akal budi. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki akal budi. Mereka mampu berfikir tentang apa yang mereka lakukan dan apa yang ada dalam lingkungan.
b. Belajar menyangkut interaksi antara pelajar / orang yang belajar dengan lingkungan.
Kegiatan belajar dilakukan oleh orang yang belajar dan di dukung oleh lingkungan belajar. Manusia belajar untuk mengenal lingkungan yang ada disekitarnya. Mereka berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan hasil belajar yang mereka inginkan.
c. Belajar telah berlangsung bila telah terjadi perubahan tingkah laku yang bertahan cukup lama dalam kehidupan orang itu.
Manusia dikatakan telah belajar apabila terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya yang bersifat menetap. Mereka mengalami perubahan dari yang belum bisa menjadi bisa, dari yang belum tahu menjadi tahu. Tngkah laku mereka pun menjadi berubah dari sebelum dan sesudah melalui proses belajar. Perubahan tersebut bersifat menetap pada diri manusia yang melakukan kegiatan belajar.
Proses belajar dapat berlangsung secara formal maupun non formal. Salah satu proses belajar yang berlangsung secara formal yaitu belajar di sekolah. Menurut Winkel (1984 : 17), pendidikan sekolah adalah proses kegiatan terencana dan teroganisir yang terdiri atas kegiatan mengajar dan belajar yang bertujuan menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam anak didik yang menuju ke kedewasaan. Di sekolah belajar berlangsung antara guru dan murid yang berbeda sisi tanggung jawabnya. Ada tiga bidang belajar di sekolah yaitu bidang pengetahuan, bidang ketrampilan dan bidang nilai dan sikap. Penyampaian bahan ajar berlangsung secara terencana dan sistematis dalam bentuk mata pelajaran.
Melalui kegiatan belajar, diharapkan seseorang mampu mengalami perubahan perilaku secara utuh. Proses belajar akan menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Perubahan tersebut dapat terlihat dalam prestasi belajar yang merupakan hasil belajar seseorang.
2. Prinsip-prinsip Belajar
Ada beberapa prinsip belajar yang dikemukakan oleh Winkel (1984 : 28), yaitu :
a. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi antara siswa dengan lingkungan.
Kegiatan belajar dilakukan siswa di dalam lingkungannya. Lingkungan belajar siswa meliputi suasana belajar, fasilitas belajar, guru, teman belajar, dan orang tua. Antara siswa dan lingkungan terjadi hubungan yang saling mempengaruhi proses belajar. Factor lingkungan seperti tersedianya sarana belajar, suasana belajar mendukung, orangtua dan teman yang selalu memberi support, sangat mempengaruhi tercapainya tujuan belajar bagi siswa. Namun hal tersebut tidak berarti apa-apa apabila tidak ada minat dan motivasi dari diri siswa sendiri. Oleh karena itu antara siswa dan lingkungan memiliki hubungan saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar.
b. Belajar harus memiliki tujuan, jelas dan terarah bagi siswa
Tujuan belajar yang aka dicapai siswa merupakan arah bagi kegiatan belajar. Tanpa tujuan yang jelas, maka belajar tidak akan memiliki
makna bagi siswa dan kegiatan yang dilakukan siswa akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan belajar, kita harus menentukan tujuan dan langkah belajar yang akan kita tempuh agar kegiatan belajar kita jelas dan terarah.
c. Belajar paling efektif didasari oleh dorongan motivasi yang bersumber dari diri sendiri.
Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Salah satunya yaitu motivasi belajar. Motivasi belajar dalam diri siswa memiliki pengaruh sangat besar bagi tercapainya tujuan belajar. Meskipun siswa memiliki fasilitas mencukupi namun apabila ia tidak memiliki motivasi belajar, maka hal tersebut tidak ada gunanya. Oleh karena itu kita harus bisa memotivasi siswa agar kegiatan belajar menjadi lebih efektif.
d. Belajar memerlukan bimbingan
Belajar tidak bisa dilakukan sendiri. Belajar membutuhkan bimbingan dari orang lain, agar apa yang dipelajari dapat lebih dimengerti, dan kegiatan yang dilakukan lebih terarah. Seorang anak tidak mampu belajar sendiri, mereka membutuhkan bimbingan dari orangtua, dan guru karena mereka belum memiliki pengalaman dan pengetahuan cukup. Mereka juga belum bisa menentukan tujuan belajar mereka sendiri sehingga mereka membutuhkan bimbingan dari orang lain. e. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang dipelajari dapat
melakukan latihan dan pengulangan. Hal ini disebabkan karena daya ingat anak akan semakin peka/ lebih tinggi.
Unsur – unsur belajar (Ika, 2006 : 82) adalah sebagai berikut:
a.
Motif belajar.Motif belajar adalah apa yang mendorong seseorang untuk belajar. Misalnya ingin tahu lebih, ingin memiliki kemampuan, ingin mengaktualisasikan diri, atas desakan orang tua dan sadar bahwa dirinya yang mengubah dirinya sendiri.
b.
Tujuan belajar.Tujuan belajar adalah apa yang hendak dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan belajar. Tujuan belajar antara lain mampu menguasai informasi atau pengetahuan, ingin memahami hal tertentu, mampu memecahkan masalah, mampu mengerjakan sesuatu dan mampu menghayati sesuatu.
c.
Kegiatan belajar.Kegiatan belajar adalah segala aktivitas yang dilakukan seeorang untuk menguasai pengetahuan / ketrampilan tertentu. Kegiatan belajar ini meliputi mencari informasi / pengetahuan baik dari buku, majalah maupun nara sumber, mengkaji ulang bahan / pengetahuan yang ia pelajari (dengan menghafal dan memahami pengetahuan yang telah dipelajari), dan melakukan evaluasi untuk mengecek penguasaan pengetahuan yang telah ia peroleh.
3. Faktor yang Mempengaruhi belajar
Ada berbagai alasan seseorang mau belajar. Alasan tersebut bisa berasal dari dalam diri siswa maupun dari luar (orangtua, guru maupun teman). Winkel (1984 : 24 - 43) menjelaskan beberapa factor yang mempengaruhi anak dalam belajar :
a. Dari dalam diri siswa
1) Kemampuan belajar siswa
Kemampuan belajar merupakan kemampuan untuk mencapai prestasi-prestasi sekolah yang melibatkan proses kognitif. Factor intelegensi mempengaruhi tinggi rendahnya pretasi belajar yang dicapai siswa. Hal ini nampak dalam prestasi pada bidang studi yang memerlukan banyak berfikir.
2) Motivasi belajar
Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar itu sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Dalam melakukan kegiatan belajar siswa membutuhkan motivasi belajar karena hal ini sangat penting untuk memberi semangat dan gairah dalam belajar. Dengan memiliki motivasi belajar yang kuat, siswa akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.
3) Perasaan, sikap dan minat
Perasaan merupakan aktivitas psikis yang di dalamnya siswa menghayati nilai-nilai dari suatu pelajaran. Perasaan berpengaruh terhadap semangat dan gairah belajar. Melalui perasaannya, siswa melakukan penilaian terhadap pengalaman belajarnya di sekolah. Penilaian yang positif akan terungkap dalam perasaan senang, sedangkan penilaian negatif terungkap dalam perasaan tidak senang.
Sikap merupakan kecenderungan dalam diri siswa untuk menerima atau menolak pelajaran berdasarkan penilaian terhadap pelajaran itu sebagai pelajaran yang bermakna / menyenangkan atau tidak bermakna / kurang menyenangkan. Sikap positif (rajin belajar, ingin tahu lebih) akan menunjang siswa dalam belajar, dan sikap negatif (malas) akan menghambat siswa dalam belajar.
Minat merupakan kecenderungan yang menetap dalam diri siswa untuk merasa tertarik dalam pelajaran tertentu dan merasa senang mempelajari pelajaran itu.
Perasaan, sikap dan minat siswa memiliki hubungan erat terhadap kegiatan belajar siswa. Perasaan tidak senang (segan, benci, takut) akan berpengaruh terhadap sikap siswa dalam belajar. Siswa akan malas-malasan dan tidak mau belajar dan ia tidak memiliki niat untuk belajar.
4) Keadaan fisik dan psikis
Keadaan fisik dan psikis menunjuk pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani dan mental seseorang. Kondisi fisik sangat berpengaruh pada kegiatan belajar. Tidak semua siswa memiliki kondisi fisik yang sempurna. Kondisi fisik menunjuk pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani, keadaan alat-alat indera dan kebugaran pada umumnya. Apabila siswa tidak memiliki kondisi fisik yang baik atau sehat, maka akan berpengaruh penting bagi perkembangan psikis siswa. Oleh karena itu keadaan fisik dan psikis siswa sangat perpengaruh bagi kegiatan belajar siswa.
b. Pihak guru
Sikap guru sebagai fasilitator di kelas sangat berperan penting dalam menciptakan suasana pembelajaran di kelas. Ada tiga gaya kepemimpinan di kelas (Hamalik, 2001 : 34) yaitu :
1) Gaya otoriter
Otoriter berarti berkuasa sendiri/sewenang-wenang. Dalam proses belajar mengajar, guru selalu mengarahkan dengan keras semua aktivitas yang harus silakukan siswa tanpa dapat ditawar-tawar. Siswa hanya diberi sedikit kesempatan untuk berperan serta dalam kegiatan belajar.
Ciri-ciri guru otoriter yaitu memiliki sifat sewenang-wenang, keras dan kaku dalam mengarahkan aktivitas belajar dan
menghambat kebebasan akademis siswa. Guru dengan gaya otoriter sering menimbulkan kemarahan dan kekesalan para siswa karena merasa kreatifitasnya terhambat.
2) Gaya demokratis
Demokratis berarti memperlihatkan persamaan hak dan kewajiban semua orang. Guru dengan gaya demokratis dipandang sebagai guru yang baik dan ideal karena lebih suka bekerja sama dengan rekan seprofesi, namun tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Di samping itu ia juga sering member peluang akademis pada siswa sehingga ia lebih disenangi oleh rekan kerja maupun siswa.
3) Gaya laissez faire
Guru dengan tipe ini gemar mengubah arah dan cara melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara seenaknya, ia tidak menyenangi profesinya sebagai tenaga pendidik meskipun memiliki kemampuan memadai. Ia juga berwatak individualis (mementingkan diri sendiri).
c. Sekolah
Sekolah memiliki peran penting dalam belajar. Sebab sekolah merupakan lingkungan di mana siswa melakukan kegiatan belajar. Lingkungan sekolah yang mendukung kegiatan belajar akan mengakibatkan prestasi belajar siswa meningkat. Dan sebaliknya bila
lingkungan sekolah tidak mendukung akan mengakibatkan prestasi belajar siswa rendah.
d. Faktor situasional
Keadaan atau situasi lingkungan belajar siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, situasi atau keadaan meliputi keadaan politik-ekonomi anak, keadaan waktu dan keadaan musim- iklim.
2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan penguasaan pengetahuan dari pelajaran-pelajaran yang diterima atau kemampuan menguasai mata pelajaran-pelajaran yang diberikan guru. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kemampuan kognitif yang dimiliki siswa dan factor lain diantaranya situasi belajar yang diciptakan guru. Hasil belajar dapat diukur dengan tes atau evaluasi. Menurut Masijo (1995 : 40), hasil belajar adalah skor atau nilai yang menunjukkan prestasi seseorang dalam suatu bidang sebagai hasil proses belajar yang khas yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap dan nilai.
Menurut Masijo (1995 : 39) evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan dan membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan pengajaran dicapai siswa. Evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan berkesinambungan. Evaluasi bertujuan untuk memperoleh data pembuktian yang menunjukkan sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang direncanakan.
Hasil belajar dipengaruhi oleh factor ekstern dan intern siswa. Factor ekstern meliputi factor keluarga (suasana di rumah dan ekonomi), factor sekolah terdiri dari metode belajar, kurikulum, keadaan gedung dan sarana dan prasarana sekolah, factor masyarakat terdiri dari kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh media massa serta pergaulan dalam masyarakat. Factor intern antara lain factor jasmaniah ( kesehatan, cacat tubuh) dan Psikologis (perhatian, minat, bakat dan motif).