KAJIAN PUSTAKA
B. Belajar dan Pembelajaran 1 Definisi Belajar
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of
experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli
pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach11
Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive
domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar
merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan12.
Belajar bukan merupakan tujuan melainkan suatu proses untuk mencapai tujuan, jadi belajar merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh sehingga dapat dikatakan belajar sebagai suatu kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap
11
M Ngalim Purwanto, Belajar dan Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2001, hal. 12
12
penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan13. Hal ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu tergantung dari proses yang dialami siswa, baik ketika di sekolah, lingkungan rumah atau keluarga. Belajar mempunyai pengertian yang sangat kompleks, sehingga banyak ahli yang mengemukakan pengertian belajar dengan ungkapan dan pandangan yang berbeda-beda.
Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, yaitu14:
a. Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang
memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.
b. Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan
untuk melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening,
Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam
potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi konflik
c. Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk
hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka.
d. Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk
13
Oemar Hamalik, Belajar dan Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2001, hlm. 16
14
Nurhadi dan Senduk, Pendekatan Baru dalam Pembelajaran, Graha Ilmu, Jakarta, 2004, hlm. 62
mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).
Dari berbagai pendapat mengenai belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku dan kemampuan seseorang karena bereaksi dengan keadaan.
2. Ciri-ciri Pembelajaran
Menurut Darsono dkk, ciri-ciri pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut:15
a Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
b Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
15
c Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa.
d Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
e Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.
f Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran baik secara fisik maupun psikologis.
3. Belajar Mengajar
Belajar di bidang pendidikan berhubungan dengan kegiatan mengajar. Pengertian yang umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.
Menurut Nasution mengajar adalah suatu usaha dari pihak guru, yakni mengatur lingkungan sehingga terbentuklah suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar. Teaching is the guidance of
learning, artinya dalam mengajar yang aktif adalah siswa yang
mengalami proses belajar dan guru hanya membimbing dan menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa16.
16
Menurut Rusyan ada tiga pandangan mengajar, yaitu17: 1) mengajar adalah menyampaikan pengetahuan dari seseorang kepada kelompok; 2) mengajar adalah membimbing peserta didik untuk belajar; 3) mengajar adalah mengatur lingkungan agar terjadi proses belajar mengajar yang baik. Sedangkan menurut Hasibuan dan Moedjiono berpendapat bahwa mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Lebih lanjut dikatakan bahwa mengajar adalah melatih ketrampilan, menyampaikan pengetahuan, membentuk sikap dan memindahkan nilai-nilai18.
Mengajar adalah kegiatan terorganisasi yang bertujuan membantu atau membimbing siswa untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill (keahlian), tingkah laku dan pengetahuan dengan cara penyajian konsep secara bertahap sehingga terjadi proses belajar. Mengajar menurut Sardiman dalam Hasibuan, adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Mengajar diartikan sebagai aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar19.
Menurut Joni dalam Sumantri dan Permana bahwa mengajar sebagai pencipta dan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan
17
Rusyan, Teknik Belajar Mengajar, Alfabeta, Bandung, 1994, hlm. 27
18
Hasibuan dan Moedjiono, Konsep dan Strategi Belajar Mengajar, Studia Press, Jakarta, 2004, hlm. 47
19
terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi yaitu tujuan intruksional yang ingin dicapai, guru dan peserta didik yang memainkan peran senada dalam hubungan social tertentu, materi yang diajarkan, bentuk kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia20.
Mengajar adalah suatu proses yaitu mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitarnya, sehingga dapat menimbulkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas tetapi juga meliputi guru, alat perpustakaan, laboratorium, metode mengajar dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar mengajar. Guru hanya berperan sebagai pemimpin belajar dan fasilitator belajar, sedangkan yang berperan membelajarkan adalah siswa.
Proses belajar mengajar menurut Syah dalam Sumantri dan Permana adalah sebuah kegiatan yang integral (utuh) dan terpadu antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar21. Rusyan, dkk berpendapat bahwa proses belajar mengajar memiliki empat komponen yaitu tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling berhubungan dan saling
20
Sumantri dan Permana, Metode Belajar Mengajar, Graha Ilmu, Jakarta, 2004, hlm. 62
21
mempengaruhi satu sama lain (Gambar 1)22.
Tujuan
Bahan Metode dan alat
Penilaian
Gambar 1. Komponen Proses Belajar Mengajar
Makmum dalam Rusyan menyatakan bahwa proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya. Proses belajar mengajar adalah suatu interaksi antara guru dengan siswa yang saling berhubungan dan saling berpengaruh sehingga menumbuhkan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan tertentu23.
Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar). Menurut Slameto faktor internal terdiri dari faktor jasmaniah dan faktor psikologis, sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat24. Faktor sekolah antara lain 22 Rusyan, opcit., hlm. 29 23 Ibid., hlm. 29 24
meliputi metode mengajar, alat atau media pembelajaran, kurikulum dan lain-lain. Faktor keberhasilan pendidikan di sekolah salah satunya menjadi tanggung jawab guru sebagai fasilitator. Hal lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar ialah beberapa sifat peserta didik dalam belajar yaitu : cepat dalam belajar, lambat dalam belajar, anak kreatif, anak drop out dan anak berprestasi kurang.
Sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru tersebut mengajarkan pengetahuan terhadap anak-anak didiknya, turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak. Faktor guru sangat berperan dalam proses belajar mengajar. Guru yang dapat mengembangkan metode mengajar dan media pembelajaran sangat membantu siswa dalam menerima materi pelajaran sehingga prestasi belajarpun meningkat. Keberhasilan proses belajar mengajar dapat ditingkatkan apabila guru mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Setiap kegiatan belajar menghasilkan suatu perubahan yang khas yaitu hasil belajar. Hasil belajar adalah tingkat pencapaian siswa terhadap tujuan yang telah ditetapkan disetiap mata pelajaran dalam
waktu tertentu25. Keberhasilan seseorang dalam mempelajari sesuatu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Slameto faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu26.
a. Faktor intern 1) Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan fungsi alat indera serta tubuhnya. 2) Inteligensi dan bakat
Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Inteleginsi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingakat
25
Suharsimi Arikunto, Disiplin dalam Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta, 2002, hlm. 37.
26
inteleginsi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat inteleginsi yang rendah. Bakat merupakan kemampuan untuk belajar. Seperti juga inteleginsi, bakat juga mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya maka hasil belajarnya juga akan lebih baik.
3) Minat dan motivasi
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Bahan pelajaran yang menarik minat belajar siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.
Motivasi adalah penggerak atau dorongan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Menurut Nasution motivasi dapat berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) maupun dari luar (motivasi ekstrinsik)27. Motivasi bukan saja penting karena menjadi faktor penyebab belajar, namun juga memperlancar belajar dan hasil belajar. Oleh karena itu guru diharapkan mengetahui kapan siswa perlu dimotivasi dan bentuk motivasi yang harus
27
diberikan agar proses pembelajaran berjalan lancar dan berhasil optimal.
Sardiman menyebutkan ada sebelas bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu memberi angka, hadiah, saingan atau kompetisi, ego-involvement, memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat dan tujuan yang diakui28. 4) Kematangan dan kesiapan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kematangan dan kesiapan siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru akan mempengaruhi proses dan hasil belajar tersebut.
b. Faktor ekstern 1). Keluarga
Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya bagi keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Keadaan ekonomi keluarga, cara orang tua mendidik, hubungan anak dengan orang tua, suasana rumah, dan latar belakang budaya (pendidikan orang tua) akan ikut menentukan keberhasilan belajar siswa.
28
2). Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar turut berpengaruh pada tingkat keberhasilan belajar. Kondisi sekolah, metode mengajar guru, kurikulum, tata tertib sekolah, serta hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa akan mempengaruhi motivasi belajar siswa sehingga hasil belajarpun terpengaruh.
3). Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat yang berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentu kehidupan masyarakat.