• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

AGAMA ISLAM (STUDI KASUS PADA SISWA

SD KUMPULREJO 03 SALATIGA

TAHUN PELAJARAN 2009/2010)

SKRIPSI

Oleh MUDZAKIR NIM. 11408025

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

(2)

ii

Jl. Tentara Pelajar 02 Telp. (0298) 323706, 323433 Fax 323433 Salatiga 50721

Website: www.stainsalatiga.ac.id Email:[email protected]

NOTA PEMBIMBING Lamp : 3 Eks

Hal : Naskah Skripsi Saudara Mudzakir

Kepada

Yth: Ketua STAIN Salatiga Di – Salatiga

ASSALAMU’ALAIKUM, WR. WB

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan, maka bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudara :

Nama : Mudzakir NIM : 11408025

Jurusan : Tarbiyah/ Pendidikan Agama Islam

Judul :

STUDI KORELASI ANTARA KEMAMPUAN

MEMBACA AL QUR'AN DENGAN PRESTASI

BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (STUDI

KASUS PADA SISWA SD KUMPULREJO 03

SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2009/2010)

Dengan ini mohon agar skripsi saudara tersebut diatas segera dimunaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian.

WASSALAMU’ALAIKUM, WR.WB

Pembimbing

Drs. H. M. Zulfa, M.Ag

(3)

iii

Salatiga 50721

Website: www.stainsalatiga.ac.id Email:[email protected]

P E N G E S A H A N

Skripsi Saudara : MUDZAKIR dengan Nomor Induk Mahasiswa: 11408025 yang berjudul: STUDI KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (STUDI KASUS PADA SISWA SD KUMPULREJO 03 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2009/2010) Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.

25 September 2010 M Salatiga,

Syawal 1431 H Panitia Ujian

Ketua Sidang Sekretaris Sidang

Dr. Imam Sutomo, M.Ag Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd NIP. 19580827 198303 1 002 NIP. 19670112 199203 1 005

Penguji I Penguji II

Drs. Abdul Syukur, M.Si Peni Susapti, M.Si NIP. 19670307 199403 1 002 NIP. 19700403 200003 2 003

Pembimbing

(4)

iv Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : MUDZAKIR

NIM : 11408025

Judul Skripsi : STUDI KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (STUDI KASUS PADA SISWA SD KUMPULREJO 03 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2009/2010)

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak ada karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis di dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Salatiga, 25 September 2010

Yang Menyatakan

(5)

v

…..

















































“…..niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa Derajat. Dan Allah Maha

Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q. S. Al-Mujaadilah: 11)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

1.

Ibundaku, yang selalu membimbing, mendo'akan dan

memberikan segalanya baik moral maupun spritual bagi

kelancaran studiku, semoga Allah senantiasa meridhoinya.

2.

Keluarga besar SDN Kumpulrejo 03

3.

Guru-guru Agama Islam se Kota Salatiga

(6)
(7)
(8)

viii

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim yang telah mengangkat manusia dengan berbagai keistimewaan. Dan dengan hanya petunjuk serta tuntunan-Nya, penulis mempunyai kemampuan dan kemauan sehingga penulisan skripsi ini bisa terselesaikan.

Sholawat dan salam penulis haturkan kepada Uswatun Khasanah Nabi Muhammad SAW, semoga beliau senantiasa dirahmati Allah SWT. Amin Sebagai insan yang lemah, penulis menyadari bahwa tugas penulisan ini bukanlah merupakan tugas yang ringan, tetapi merupakan tugas yang berat. Akhirnya dengan berbekal kekuatan serta kemauan dan bantuan dari berbagai pihak, maka terselesaikanlah skripsi yang sederhanan ini dengan judul “STUDI KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (STUDI KASUS PADA SISWA SD KUMPULREJO 03 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2009/2010). Dengan tersusunnya skripsi ini, penulis ucapkan terima kasih yang tiada taranya kepada : 1. Bapak Drs. Imam Sutomo, M.Ag selaku Ketua STAIN Salatiga.

2. Bapak Drs. Joko Sutopo, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah Ekstensi.

3. Bapak Drs. H. Zulfa, M.Ag, selaku Dosen Pembimbing, yang dengan keikhlasannya telah memberikan bimbingan hingga tersusunnya skripsi ini. 4. Karyawan Perpustakaan STAIN Salatiga yang telah menyediakan fasilitasnya.

Atas segala hal tersebut, penulis hanya bisa berdo’a, semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal sholeh yang akan mendapat balasan yang berlipat ganda. Amin.

(9)

ix bagi pembaca pada umumnya.

Amin –amin yarobbal ‘alamin

Salatiga, Agustus 2010 Penulis

(10)

x

NOTA PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN ... iii

MOTTO... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR... vi

ABSTRAK... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Hipotesis ... 5

E. Kegunaan Penelitian ... 5

F. Definisi Operasional ... 6

G. Metode Penelitian ... 8

H. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Keharmonisan Keluarga ... 14

B. Belajar Mengajar ... 20

C. Prestasi Belajar ... 23

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum SD N Bugel 02 ... 26

(11)

xi

C. Analisis Uji Hipotesis ... 49

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 52 B. Saran ... 52

(12)

xii

TABEL I DAFTAR GURU SD N BUGEL 02 TABEL II JUMLAH SISWA SD N BUGEL 02 TABEL III DAFTAR NAMA RESPONDEN

TABEL IV JAWABAN ANGKET KEHARMONISAN KELUARGA TABEL V DAFTAR HASIL BELAJAR SISWA

TABEL VI NILAI ANGKET KEHARMONISAN KELUARGA TABEL VII INTERVAL NILAI KEHARMONISAN KELUARGA TABEL VII NOMINASI KEHARMONISAN KELUARGA

TABEL IX KLASIFIKASI KEHARMONISAN KELUARGA TABEL X DATA PRESTASI BELAJAR SISWA

TABEL XI INTERVAL NILAI SISWA

TABEL XII NILAI NOMINASI NILAI SISWA TABEL XIII INTERVAL NILAI SISWA

(13)

A. Latar Belakang Masalah

Al Qur’an sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia

itu memiliki keistimewaan terutama pada susunan bahasanya yang unik dan kandungan maknanya yang mendalam.

Al Qur’an merupakan mukjizat yang diwahyukan kepada Nabi

Muhammad SAW membacanya adalah ibadah1. Keutamaan mukjizat Al Qur’an bukan hanya ditujukan kepada bangsa arab, namun Al Qur’an

dengan keutamaan mukjizatnya itu diperuntukkan kepada seluruh alam2. Maka dari itu mempelajari Al Qur’an merupakan kewajiban mutlak

bagi setiap yang beragama Islam, sebab semua ajaran Islam bersumber pada Al Qur’an, bahkan Al Qur’an itu sendiri merupakan induk atau pusatnya

segala ilmu pengetahuan, yang berisi tentang hukum-hukum dan aqidah. Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 2:











Artinya:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa

Arab, agar kamu memahaminya.”3

1Al Qur’an dan Terjemahnya, Sejarah Al Qur’an,

Departemen Agama, Jakarta, 1991, hlm. 23

2

Akhmad Syadali, Ulumul Qur’an, Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 10

3

Ibid, hlm. 674

(14)

Dan Al Qur’an sebagai tata kehidupan umat dan petunjuk bagi

makhluk, ia merupakan tanda kebenaran Rasulullah SAW. Disamping merupakan bukti yang jelas atas kenabian dan kerasulannya. Selain itu ia juga hujjah yang akan tetap tegak sampai pada hari kiamat4.

Berkaitan dengan masalah tersebut, pendidikan agama Islam dan membaca Al Qur’an di sekolah mulai di tingkat dasar tidak kalah pentingnya, disamping siswa diharapkan menjadi anak yang berbudi pekerti baik, rajin beribadah dan kuat imannya, maka tidak ada suatu alas an melainkan anak harus ditekan untuk belajar membaca Al Qur’an. Apalagi menghadapi keluhan dari pihak orang tua atau wali murid yang mengatakan, bahwa murid-murid tamatan sekolah dasar banyak yang belum dapat membaca dan menulis huruf Al Qur’an. Sehingga dengan penekanan belajar membaca Al Qur’an diharapkan murid-murid sekolah dasar dapat membaca dan menulis huruf Al Qur’an sebagai penghayatan terhadap sumber agama Islam, yaitu Al Qur’an.

Bagi murid-murid tamatan sekolah dasar yang akan melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama diharapkan sudah mampu membaca dan menulis huruf Al Qur’an sehingga tidak menyulitkan bagi guru agama yang

mengajar pada tingkat tersebut demikian pula pada tingkat selanjutnya5. Berdasarkan kurikulum Sekolah Dasar (SD) tahun 1975 yang telah dibakukan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

4

Syeh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ikhtisar Ulumul Qur’an, Pustaka Amani, Jakarta, 1981, hlm. 3-4

5

(15)

tanggal 17 Januari 1975 No. 008C/U/1975 dan Keputusan Menteri Agama tanggal 31 Oktober 1974 pada bidang studi pendidikan agama Islam terdapat tujuan instructional umum antara lain ditetapkan bahwa murid lulusan sekolah dasar harus mampu membaca Al Qur’an dengan baik6.

Namun kenyataannya tidak seperti yang kita harapkan ternyata pembelajaran membaca dan menulis huruf Al Qur’an tingkat sekolah dasar

ini kurang menarik dan para siswa mengalami kesulitan, maka dengan demikian pembelajaran ini kurang berhasil. Pengaruh perkembangan zaman dan teknologi telah banyak mempengaruhi kemampuan siswa, termasuk dalam membaca Al Qur'an. Banyak siswa yang lebih suka menonton televisi daripada ikut belajar di TPA/ TPQ. Dan akibatnya kemampuan membaca Al Qur'annya menjadi rendah. Akibatnya prestasi belajar PAI juga mengalami pengaruh.

Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern siswa. Faktor intern yang berpengaruh adalah motivasi dan intelegensi. Sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat. Semua faktor tersebut dapat memberikan dampak terhadap prestasi belajar siswa.

Kehidupan anak di lingkungan perkotaan sebagaimana di Kota Salatiga menjadikan anak banyak terpengaruh oleh kondisi lingkungan. Dampaknya kegiatan mengaji dan belajar di TPA/TPQ menjadi kalah oleh permainan-permainan game komputer ataupun pengaruh lingkungan yang

6

Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam, Kurikulum 1975, Departemen Agama RI,

(16)

menuntut berbagai macam les pengetahuan umum. Dengan adanya hal tersebut maka kemampuan membaca Al Qur'an siswa dipengaruhi oleh lingkungannya.

B. Penjelasan Istilah 1. Korelasi

Korelasi diartikan sebagai suatu hubungan antara suatu hal dengan hal lain7.

2. Kemampuan

Mampu adalah kuasa atau sanggup melakukan sesuatu, dapat, berada, kaya8.

3. Membaca

Membaca yaitu memperhatikan, melihat, mendengarkan dan mengucapkan secara terus menerus untuk memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan9.

4. Al Qur’an

Qur’an menurut bahasa berarti bacaan. Menurut istilah : Al Qur’an adalah Kalam Allah yang bernilai mu’jizat yang diturunkan kepada

pungkasan (penutup) para Nabi dan Rasul, dengan perantara Malaikat Jibril yang tertulis pada mashahif, diriwayatkan kepada kita dengan

7

WJS Poerwadarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1991, hlm. 1642

8Ibid,

hlm. 344

9

(17)

mutawatir, membacanya terhitung ibadah. Diawali dengan surat Al fatikah dan ditutup dengan surat An Nas10.

5. Prestasi Belajar

Tercapainya tujuan pembelajaran dapat dilihat dari prestasi. Prestasi dapat dikatakan sebagai hasil akhir dari proses belajar mengajar di kelas serta merupakan perwujudan dari kemampuan diri yang optimal setelah menerima pelajaran, seperti yang dikemukakan oleh Sudjana11

Prestasi belajar juga dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Hasil belajar memuat kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Pengalaman belajar adalah semua kegiatan fisik dan mental yang dialami siswa selama proses belajar mengajar.

Prestasi belajar merupakan tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Prestasi belajar mempunyai berbagai fungsi, diantaranya sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai atau diserap oleh anak didik dan sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan atau sebagai timbal balik bagi kemajuan mutu pendidikan

10

Syekh Muhammad Ali Ash Shabuni, Ikhtisar Ulumul Qur’an, Jakarta, Pustaka Amani, hlm. 3

11

(18)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitiannya sebagai berikut:

1. Bagaimana kemampuan membaca Al Qur'an siswa SD N Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010?

2. Bagaimana prestasi belajar PAI SD N Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010?

3. Adakah korelasi antara kemampuan membaca al qur'an dengan prestasi belajar PAI SD N Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kemampuan membaca Al Qur'an siswa SD N Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010.

2. Untuk mengetahui prestasi belajar PAI SD N Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010.

(19)

E. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah "ada korelasi antara kemampuan membaca al qur'an dengan prestasi belajar PAI SD N Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010"

F. Definisi Operasional

Berdasarkan penjelasan istilah di atas maka dapat dirumuskan definisi operasional dari masing-masing variabel sebagai berikut:

1. Kemampuan Membaca Al Qur'an

Adapun indikator kemampuan membaca Al Qur'an adalah sebagai berikut:

Kriteria Komponen

Makhraj Tajwid Kelancaran

Tinggi 1.Anak dapat mengucapkan huruf Al Qur'an dengan baik dan benar

2.Anak dapat membedakan suara dengan jelas huruf-huruf hijaiyah yang hampir sama

1.Anak dapat mengucapkan dengan benar hukum bacaan nun sukun dan mim sukun 2.Anak dapat

mengucapkan bacaan mad dengan baik dan benar

1.Anak dapat membaca

dengan baik, lancar dan jelas 2.Anak dapat

merangkai kata perkata dalam ayat Al Qur'an

Sedang 1.Anak tidak

dapat

1.Anak tidak mengenal secara

(20)

mengucapkan seluruh sifat-sifat huruf dengan tepat 2.Anak kurang

bisa

membedakan suara huruf hijaiyah yang hampir sama denga baik

lengkap bacaan hukum nun sukun dan mim sukun

2.Anak tidak mengenal secara lengkap bacaan mad

tidak lancar 2.Anak sedikit

mengalami kesulitan dalam merangkai kata perkata dari ayat Al Qur'an

Rendah 1. Anak tidak

dapat

mengucapkan huruf hijaiyah dengan benar 2. Anak tidak dapat

membedakan suara huruf hijaiyah yang hampir sama

1. Anak tidak mengerti bacaan nun sukun dan

mim sukun

bertemu dengan 2. Anak tidak tahu hukum bacaan mad

1. Anak tidak dapat membaca al qur'an dengan benar dan tidak lancar

2. Anak tidak bisa merangkai kata perkata dari ayat al qur'an

2. Prestasi Belajar

Sedangkan prestasi belajar pendidikan agama Islam dapat diketahui dari indikator:

a. Nilai ulangan harian b. Nilai Tugas

(21)

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat serta menguji hipotesis yang diajukan12

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas VI SD N Kumpulrejo 03 Kota Salatiga.Ppenelitian dimulai bulan Mei 2010 sampai dengan selesai

3. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling a. Populasi

Populasi merupakan kumpulan individu atau orang dalam suatu wilayah yang memiliki karakteristik tertentu13. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas VI SD N Kumpulrejo 03 sebanyak 20 orang siswa.

b. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan obyek penelitian. Karena jumlah populasi kurang dari 100, maka seluruh populasi dijadikan sampel penelitian sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi14.

12

Sugiyono, Statistik untuk Penelitian, Bandung, Alfabeta, 2008, hlm. 56

13Ibid,

hlm. 6

14

(22)

4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes untuk mengetahui. kemampuan membaca al qur'an. Sedangkan untuk prestasi belajar PAI penulis mengambil data dokumentasi, yaitu data nilai hasil tes semester dua.

5. Analisis Data

Analisis data untuk mengetahui hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat digunakan rumus Koefisien Kontiengensi (KK) sebagai berikut:

N KK

 2

2

 

keterangan:

KK : Koefisien Kontingensi X2 : Nilai Chi Square N : Sampel

Sedangkan nilai chi square diperoleh hasil sebagai berikut:

fh fh

fo 2

2 (  )

Keterangan:

X2 : Nilai Chi Square

(23)

G. Sistematika Penulisan

Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman pengesahan, halaman persetujuan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.

Sedangkan bagian inti terdiri dari:

Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan, hipotesis penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

Bab II Kajian Pustaka, berisi tentang landasan teori tentang kemampuan membaca al qur'an, belajar dan pembelajaran, hasil belajar dan prestasi belajar.

Bab III Laporan pelaksanaan Penelitian, berisi tentang gambaran umum lokasi penelitian dan subjek penelitian serta penyajian data.

Bab IV Analisis Data, berisi tentang hasil penelitian, analisis data dan pembahasan.

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Membaca Al Qur’an

Al Qur'an secara etimologi merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qa ra-’a (أرق) yang bermakna Talaa (ات) [keduanya berarti: membaca atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi)1. Atau dapat dikatakan Qara-’a Qar’an Wa Qur’aanan ( انآرقو اءرق أرق) sama seperti mengucapkan, Ghafaro Ghafran Wa Qhufroonan ( انارفغو ارفغ رفغ). Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah kata benda yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah kata benda dari

Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia

mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum2.

Secara terminologi (syari’at) Al qur'an adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad SAW, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas3. Allah ta’ala berfirmandalam QS Al Isra’ ayat 106

















1

Depag RI, Bimbingan Membaca Al Qur’an, Depag RI, Jakarta, 1996, hlm. 12

2

Ibid, hlm. 12

3

Ibid, hlm. 14

(25)

Artinya:

Dan Al Qur'an itu telah Kami turunkan denga n berangsur-angsur aga r kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami

menurunkannya bagian demi bagian.”4

Dan firman-Nya dalam Surat Yusuf ayat 2











Artinya:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”5

Allah ta’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah,

menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Allah telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya. Membaca diartikan sebagai mengeja huruf per huruf dalam suatu suku kata. Membaca juga diartikan sebagai sebuah tahapan dimana seseorang mengeja huruf sehingga menjadi suatu kata atau kalimat yang dapat dipahami. Firman Allah dalam Surat Al Furqan ayat 32:

























Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami

perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil6.

4

Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, Jakarta, 1976

5

Ibid, hlm. 674

6

(26)

Membaca Al Qur’an dengan tartil bertujuan agar dapat membaca Al Qur’an dengan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Dengan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah, maka dalam kegiatan

beribadah, terutama ibadah wajib maka akan dapat melafalkan ayat-ayat Al Qur’an dengan fasih sehingga ibadahnya menjadi lebih baik dan khusyuk.7 Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al A’raf ayat 204:













Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan

perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat8.

Tujuan lain yang dapat dicapai dengan pembelajaran Al Qur’an dengan metode iqro’ adalah mampu menghafal surat-surat pendek Al Qur’an, ayat-ayat pilihan serta do’a dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dengan metode iqro’ dalam pembelajaran Al Qur’an banyak sekali

faedah dan kegunaannya yang berhubungan dengan ibadah yang dilaksanakan sehari-hari. Selain itu metode tersebut juga melatih agar terampil dalam menulis huruf-huruf hijaiyah.

Kebenaran menurut akal pikiran bersifat nisbi sulitlah menentukan ukuran dan takaran, antara kebenaran dan kebatilan. Masing-masing mengukur dengan ruang lingkup dimana mereka berada dan hawa nafsu

7

Depag RI, Metode Belajar Membaca Al Qur’an, Jakarta, Depag RI, 2000, hlm. 6.

8

(27)

yang sedang berkuasa.9 Tuhan kemudian menurunkan pedoman, sebagai penerang penunjuk jalan. Pedoman tersebut adalah Al Qur’an yang

diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurnaan kita-kita suci terdahulu.

Karena Al Qur’an diturunkan kepada manusia sebagai pedoman

dalam kehidupannya, maka manusia diperintahkan untuk mengkajinya secara keseluruhan, bahkan perintah untuk mengkajinya merupakan kewajiban yang bersifat fardhu kifayah. Untuk mengkajinya seorang muslim harus dapat membaca dan mengetahui maksud yang terkandung didalamnya.

Di dalam Asy-Syiasyahnya Ibnu Sina, menasehati agar kita mengajari anak-anak mulai mengajarkan Al Qur’an. Segenap potensi anak, baik jasmani maupun akalnya, hendaknya dicurahkan untuk menerima pelajaran ini, agar anak mendapat bahasa asli dan agar aqidah dapat mengalir tertanam kokoh dalam kalbunya Dalam muqoddimah Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina dapat menunjukkan betapa pentingnya mengajarkan dan menghafal Al Qur’an kepada anak-anak. Ia menjelaskan bahwa pelajaran Al Qur’an merupakan pondasi pengajaran bagi seluruh kurikulum,

sebab Al Qur’an merupakan syiar addin yang menggunakan aqidah dan mengkokohkan keimanan.

9

(28)

Setelah mampu membaca Al Qur’an hendaknya dibarengi dengan

kemampuan memahami ayat-ayat yang terkandung didalamnya. Upaya yang dapat dilakukan dalam memahami ayat adalah sebagai berikut:10

1. Memahami ayat dengan ayat

Menafsirkan satu ayat Qur’an dengan ayat Qur’an yang lain, adalah

jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Qur’an itu yang menafsirkan (baca, menerangkan) makna ayat-ayat yang lain. 2. Memahami ayat Al-Qur’an dengan Hadits Shahih

Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits shahih sangatlah urgen, bahkan harus. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasalam. Tidak lain supaya diterangkan maksudnya kepada semua manusia.

3. Memahami ayat dengan pemahaman sahabat

Merujuk kepada penafsiran para sahabat terhadap ayat-ayat Qur’an seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud sangatlah penting sekali

untuk mengetahui maksud suatu ayat. Karena, di samping senantiasa menyertai Rasulullah, mereka juga belajar langsung dari beliau.

4. Harus mengetahui gramatika Bahasa Arab

Tidak diragukan lagi, untuk bisa memahami dan menafsiri ayat-ayat Qur’an, mengetahui gramatika bahasa Arab sangatlah urgen.

Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

10

(29)

Tanpa mengetahui bahasa Arab, tak mungkin bisa memahami makna ayat-ayat Qur’an. Sebagai contoh ayat: “tsummastawaa ilas

samaa’i”. Makna istawaa ini banyak diperselisihkan. Kaum Mu’tazilah

mengartikannya menguasai dengan paksa. Ini jelas penafsiran yang salah. Tidak sesuai dengan bahasa Arab. Yang benar, menurut pendapat ahli sunnah wal jamaah, ista waa artinya „ala wa irtafa’a (meninggi dan naik). Karena Allah mensifati dirinya dengan Al-’Ali (Maha Tinggi).

Anehnya, banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang

menafsiri lafadz ista wa dengan istaula. Pemaknaan seperti ini banyak tersebar di dalam kitab-kitab tafsir, tauhid, dan ucapan-ucapan orang. Mereka jelas mengingkari ke-Maha Tinggian Allah yang jelas-jelas tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, perkataan para sahabat dan para tabi’in, Mereka mengingkari bahasa Arab di mana

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa itu. Ibnu Qayyim berkata, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi supaya mengucapkan “hitthotun” (bebaskan kami dari dosa), tapi mereka pelesetkan atau rubah menjadi

“hinthotun” (biji gandum). Ini sama dengan kaum Mu’tazilah yang

mengartikan ista wa dengan arti istaula

5. Memahami Nash Al-Qur’an dengan Asbabun Nuzul

(30)

B. Belajar dan Pembelajaran 1. Definisi Belajar

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of

experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli

pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach11

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive

domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar

merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan12.

Belajar bukan merupakan tujuan melainkan suatu proses untuk mencapai tujuan, jadi belajar merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh sehingga dapat dikatakan belajar sebagai suatu kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap

11

M Ngalim Purwanto, Belajar dan Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2001, hal. 12

12

(31)

penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan13. Hal ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu tergantung dari proses yang dialami siswa, baik ketika di sekolah, lingkungan rumah atau keluarga. Belajar mempunyai pengertian yang sangat kompleks, sehingga banyak ahli yang mengemukakan pengertian belajar dengan ungkapan dan pandangan yang berbeda-beda.

Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, yaitu14:

a. Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang

memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.

b. Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan

untuk melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening,

Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam

potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi konflik

c. Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk

hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka.

d. Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk

13

Oemar Hamalik, Belajar dan Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2001, hlm. 16

14

(32)

mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).

Dari berbagai pendapat mengenai belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku dan kemampuan seseorang karena bereaksi dengan keadaan.

2. Ciri-ciri Pembelajaran

Menurut Darsono dkk, ciri-ciri pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut:15

a Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.

b Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.

15

(33)

c Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa.

d Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.

e Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.

f Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran baik secara fisik maupun psikologis.

3. Belajar Mengajar

Belajar di bidang pendidikan berhubungan dengan kegiatan mengajar. Pengertian yang umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.

Menurut Nasution mengajar adalah suatu usaha dari pihak guru, yakni mengatur lingkungan sehingga terbentuklah suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar. Teaching is the guidance of

learning, artinya dalam mengajar yang aktif adalah siswa yang

mengalami proses belajar dan guru hanya membimbing dan menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa16.

16

(34)

Menurut Rusyan ada tiga pandangan mengajar, yaitu17: 1) mengajar adalah menyampaikan pengetahuan dari seseorang kepada kelompok; 2) mengajar adalah membimbing peserta didik untuk belajar; 3) mengajar adalah mengatur lingkungan agar terjadi proses belajar mengajar yang baik. Sedangkan menurut Hasibuan dan Moedjiono berpendapat bahwa mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Lebih lanjut dikatakan bahwa mengajar adalah melatih ketrampilan, menyampaikan pengetahuan, membentuk sikap dan memindahkan nilai-nilai18.

Mengajar adalah kegiatan terorganisasi yang bertujuan membantu atau membimbing siswa untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill (keahlian), tingkah laku dan pengetahuan dengan cara penyajian konsep secara bertahap sehingga terjadi proses belajar. Mengajar menurut Sardiman dalam Hasibuan, adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Mengajar diartikan sebagai aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar19.

Menurut Joni dalam Sumantri dan Permana bahwa mengajar sebagai pencipta dan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan

17

Rusyan, Teknik Belajar Mengajar, Alfabeta, Bandung, 1994, hlm. 27

18

Hasibuan dan Moedjiono, Konsep dan Strategi Belajar Mengajar, Studia Press, Jakarta, 2004, hlm. 47

19

(35)

terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi yaitu tujuan intruksional yang ingin dicapai, guru dan peserta didik yang memainkan peran senada dalam hubungan social tertentu, materi yang diajarkan, bentuk kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia20.

Mengajar adalah suatu proses yaitu mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitarnya, sehingga dapat menimbulkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas tetapi juga meliputi guru, alat perpustakaan, laboratorium, metode mengajar dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar mengajar. Guru hanya berperan sebagai pemimpin belajar dan fasilitator belajar, sedangkan yang berperan membelajarkan adalah siswa.

Proses belajar mengajar menurut Syah dalam Sumantri dan Permana adalah sebuah kegiatan yang integral (utuh) dan terpadu antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar21. Rusyan, dkk berpendapat bahwa proses belajar mengajar memiliki empat komponen yaitu tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling berhubungan dan saling

20

Sumantri dan Permana, Metode Belajar Mengajar, Graha Ilmu, Jakarta, 2004, hlm. 62

21

(36)

mempengaruhi satu sama lain (Gambar 1)22.

Tujuan

Bahan Metode dan alat

Penilaian

Gambar 1. Komponen Proses Belajar Mengajar

Makmum dalam Rusyan menyatakan bahwa proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya. Proses belajar mengajar adalah suatu interaksi antara guru dengan siswa yang saling berhubungan dan saling berpengaruh sehingga menumbuhkan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan tertentu23.

Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar). Menurut Slameto faktor internal terdiri dari faktor jasmaniah dan faktor psikologis, sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat24. Faktor sekolah antara lain

22

Rusyan, opcit., hlm. 29

23

Ibid., hlm. 29

24

(37)

meliputi metode mengajar, alat atau media pembelajaran, kurikulum dan lain-lain. Faktor keberhasilan pendidikan di sekolah salah satunya menjadi tanggung jawab guru sebagai fasilitator. Hal lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar ialah beberapa sifat peserta didik dalam belajar yaitu : cepat dalam belajar, lambat dalam belajar, anak kreatif, anak drop out dan anak berprestasi kurang.

Sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru tersebut mengajarkan pengetahuan terhadap anak-anak didiknya, turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak. Faktor guru sangat berperan dalam proses belajar mengajar. Guru yang dapat mengembangkan metode mengajar dan media pembelajaran sangat membantu siswa dalam menerima materi pelajaran sehingga prestasi belajarpun meningkat. Keberhasilan proses belajar mengajar dapat ditingkatkan apabila guru mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

(38)

waktu tertentu25. Keberhasilan seseorang dalam mempelajari sesuatu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Slameto faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu26.

a. Faktor intern 1) Kesehatan

Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan fungsi alat indera serta tubuhnya. 2) Inteligensi dan bakat

Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Inteleginsi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingakat

25

Suharsimi Arikunto, Disiplin dalam Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta, 2002, hlm. 37.

26

(39)

inteleginsi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat inteleginsi yang rendah. Bakat merupakan kemampuan untuk belajar. Seperti juga inteleginsi, bakat juga mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya maka hasil belajarnya juga akan lebih baik.

3) Minat dan motivasi

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Bahan pelajaran yang menarik minat belajar siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.

Motivasi adalah penggerak atau dorongan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Menurut Nasution motivasi dapat berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) maupun dari luar (motivasi ekstrinsik)27. Motivasi bukan saja penting karena menjadi faktor penyebab belajar, namun juga memperlancar belajar dan hasil belajar. Oleh karena itu guru diharapkan mengetahui kapan siswa perlu dimotivasi dan bentuk motivasi yang harus

27

(40)

diberikan agar proses pembelajaran berjalan lancar dan berhasil optimal.

Sardiman menyebutkan ada sebelas bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu memberi angka, hadiah, saingan atau kompetisi, ego-involvement, memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat dan tujuan yang diakui28. 4) Kematangan dan kesiapan

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kematangan dan kesiapan siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru akan mempengaruhi proses dan hasil belajar tersebut.

b. Faktor ekstern 1). Keluarga

Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya bagi keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Keadaan ekonomi keluarga, cara orang tua mendidik, hubungan anak dengan orang tua, suasana rumah, dan latar belakang budaya (pendidikan orang tua) akan ikut menentukan keberhasilan belajar siswa.

28

(41)

2). Sekolah

Keadaan sekolah tempat belajar turut berpengaruh pada tingkat keberhasilan belajar. Kondisi sekolah, metode mengajar guru, kurikulum, tata tertib sekolah, serta hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa akan mempengaruhi motivasi belajar siswa sehingga hasil belajarpun terpengaruh.

3). Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat yang berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentu kehidupan masyarakat.

C. Hasil Belajar

Kegiatan belajar mengajar dikatakan efisien jika hasil belajar yang diinginkan dapat dicapai dengan usaha yang sekecil mungkin. Perwujudan perilaku belajar biasanya dapat dilihat dari adanya perubahan-perubahan kebiasaan, keterampilan dan pengetahuan, sikap dan kemampuan yang biasanya disebut sebagai hasil belajar.

(42)

proses belajar dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”29

. 1. Penilaian Hasil Belajar

Nana Syaodih dalam Sardiman menjelaskan bahwa, “Tes hasil

belajar kadang-kadang disebut juga tes prestasi belajar, mengukur hasil-hasil belajar yang dicapai siswa selama kurun waktu tertentu”. Hasil belajar tersebut diwujudkan dalam bentuk angka atau tulisan. Adapun waktu pengambilan nilai sebagai hasil belajar dibedakan menjadi enam: 1) tes akhir pertemuan; 2) tes akhir pokok bahasan; 3) tes mingguan; 4) tes tengah catur wulan atau tengah semester; 5) tes akhir catur wulan atau akhir semester; 6) ujian akhir pendidikan (satu jenjang pendidikan). Tes hasil belajar tersebut juga dibedakan berdasarkan materi yang diukur sesuai dengan nama mata pelajaran, misalnya biologi.

Hasil belajar dapat diperoleh melalui suatu mekanisme tertentu yang berupa penilaian hasil belajar. Dalam hal ini Nana Sudjana menjelaskan bahwa30: Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa obyek yang dinilai adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku-tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris. Oleh sebab itu

29

Ibid, hlm. 6.

30

(43)

dalam penulisan hasil belajar, peran tujuan instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan dikuasai siswa menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian.

Menurut Nana Sudjana “Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris”. Ketiga ranah inilah yang digunakan dalam penilaian hasil belajar pada kurikulum berbasis kompetensi.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya adalah kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris yakni (a) gerak refleks, (b) keterampilan gerak dasar, (c) kemampuan perceptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.31

31

(44)

Penilaian yang dilakukan dalam kurikulum 2004 adalah penilaian berbasis kompetensi yang berpijak pada konsep belajar tuntas

(Mastery Lea rning). Pencapaian hasil belajar mencakup aspek kognitif,

afektif, dan psikomotoris. Aspek kognitif dilakukan melalui ulangan harian dan ujian. Aspek psikomotoris dilakukan melalui ujian praktikum atau menggunakan penilaian unjuk kerja pada pembelajaran berlangsung. Aspek afektif dilakukan melalui pengamatan pada lembar pengamatan dan kuesioner.

Kualitas hasil belajar dari seorang siswa dapat diketahui setelah siswa menerima suatu materi pelajaran dari pokok bahasan tertentu. Sedangkan prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh oleh seorang siswa setelah mengikuti pendidikan atau latihan tertentu, hal ini bisa ditentukan dengan memberikan tes pada akhir pendidikan itu. Jadi dengan kata lain hasil belajar seorang siswa merupakan bagian dari prestasi belajarnya.

(45)

Bloom (1956) membagi ranah kognitif ini menjadi dua bagian yaitu: (1) Kemampuan mengingat informasi, dan (2) kemampuan intelektual. Kemampuan mengingat informasi merupakan kategori tujuan belajar yang paling rendah yaitu pengetahuan (knowledge), sedangkan kemampuan intelektual, secara hirarkis sebagai berikut: (a) kemampuan; (b) menerapkan; (c) menganganalisis; (d) mensintesis; dan (e) kemampuan mengevaluasi. Secara rinci sasaran evaluasi ranah kognitif dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Kemampuan pengetahuan (knowledge = C1), untuk mengukur hasil belajar ini guru dapat memulai pertanyaan dengan kata-kata: operasional, definisikan, tuliskan, sebutkan, dsb.

b. Kemampuan pemahaman (coprehension = C2), untuk mengevaluasi sasaran ini guru dapat menggunakan kata-kata: bedakan, simpulkan, berilah contoh, rangkumlah, dsb.

c. Kemampuan menerapkan (application = C3), sasaran ini dapat dievaluasi dengan menggunakan kata-kata: gunakan teori, konsep, rumus, dan prinsip-prinsip.

d. Kemampuan menganalisa (analizing = C4), kata-kata yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan ini antara lain: uraikan, membedakan, memisahkan, menjabarkan, dan menurunkan.

(46)

mengkatagorikan, mengkombinasikan, mengkomposisikan, merakit, mengkonstruksi, menyunting, dan merevisi.

f. Kemampuan mengevaluasi (evaluation = C6), kata – kata atau istilah yang menggambarkan kemampuan ini adalah menghargai, mengkritik, memutuskan, dan menilai hasil karya.

Sasaran evaluasi hasil belajar yang lain adalah ranah afektif yang berupa nilai dan sikap siswa setelah mengikuti suatu pelajaran. Berbeda dengan hasil belajar ranah kognitif, maka evaluasi hasil belajar afektif dapat diukur dengan tes sikap, dimana dalam hal ini tidak ada jawaban benar maupun salah. Sebagaimana kemampuan kognitif maka ranah afektif juga terbagi dari beberapa tingkatan yaitu:

a. Penerimaan (receiving), kata-kata yang mengandung aspek ini antara lain: memilih, mendeskripsikan, mengikuti, menunjuk, merespon (responding), aspek atau tingkatan ini dapat diungkap dengan kata-kata: menjawab, membantu, menghafal, menuliskan, memilih.

b. Merespon (responding), aspek atau tingkatan ini dapat diungkap dengan kata – kata: menjawab, membantu, menghafal, menuliskan, memilih.

(47)

d. Organisasi (organization), tingkatan ranah ini dapat diungkap dengan kata-kata antara lain: mengatur, merubah, melengkapi, menyimpulkan, menerangkan.

e. Karakterisasi (cha racterization), kata-kata yang releven dengan aspek ini antara lain: menerapkan, mengusulkan, mempengaruhi, mendemonstrasikan, dan menggunakan.

Keberhasilan pengembangan ranah kognitif akan berdampak positif pada perkembangan ranah psikomotor. Kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang konkrit dan mudah diamati baik kualita maupun kuantitasnya karena sifatnya yang terbuka. Bloom dalam Suharno (2000: 21) menyatakan bahwa ranah psikomotik meliputi empat tingkatan yaitu: (1) Gerak tubuh (body movement)

merupakan kemampuan gerakan tubuh yang menekankan pada kekuatan, kecepatan, dan ketepatan tubuh; (2) Koordinasi gerak (finally

coordinatif movement) merupakan ketepatan yang dikoordinasikan yang

(48)

D. Prestasi Belajar

Semua bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, pada akhirnya selalu ingin diketahui hasilnya. Hasil dari kegiatan belajar dimaksud sebagai prestasi belajar. Kamus bahasa Indonesia disebutkan prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru32.

Tercapainya tujuan pembelajaran dapat dilihat dari prestasi. Prestasi dapat dikatakan sebagai hasil akhir dari proses belajar mengajar di kelas serta merupakan perwujudan dari kemampuan diri yang optimal setelah menerima pelajaran.

Prestasi belajar juga dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Hasil belajar memuat kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Pengalaman belajar adalah semua kegiatan fisik dan mental yang dialami siswa selama proses belajar mengajar.

Prestasi belajar merupakan tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Prestasi belajar mempunyai berbagai fungsi, diantaranya sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai atau diserap oleh anak didik dan sebagai bahan

32

(49)

informasi dalam inovasi pendidikan atau sebagai timbal balik bagi kemajuan mutu pendidikan.

Fungsi utama prestasi belajar adalah: 1) prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh peserta didik; 2) sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu; 3) sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan; 4) sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan dan 5) prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik33.

33

(50)

A. Keadaan Umum Sekolah Dasar Negeri Kumpulrejo 03 Salatiga 1. Sejarah Berdirinya

Tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 antara lain untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Maksud ini dijabarkan lebih lanjut dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat (1) yang menegaskan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran. Dalam hal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka penulis berpendapat perlu sekali didirikan sekolah-sekolah termasuk SD Negeri Kumpulrejo 03 sebagai wadah anak-anak untuk belajar dan untuk menambah pengetahuan tingkat dasar.

Dengan demikian tepat kiranya bahwa dengan pendidikan diharapkan akan dapat mendidik kader-kader pembangunan yang merupakan masalah pokok bagi pembangunan masyarakat. SD N Kumpulrejo 03 dibangun di atas tanah desa pada tanggal 4 Januari 1977 dan mulai beroperasi pada bulan Agustus 1977.

2. Struktur Organisasi

Untuk mencapai tujuan yang optimal dalam melaksanakan pendidikan diperlukan organisasi yang baik. Organisasi dalam arti yang

(51)

luas adalah badan yang mengatur segala urusan untuk mencapai tujuan, maka diperlukan organisasi yang teratur.

3. Keadaan Guru

Guru merupakan alat pendidikan, yakni sebagai tenaga pendidik, guru yang berpotensi sangat mempengaruhi keberhasilan dari kegiatan pembelajaran. Jumlah guru di SD N Kumpulrejo 03 adalah 14 orang, 1 orang sebagai kepala sekolah dan yang lainnya sebagai guru kelas dan guru mapel. Dari keseluruhan guru adalah sebagai wiyata bhakti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel sebagai berikut:

TABEL 1

DAFTAR GURU SD N KUMPULREJO 03

No Nama Jabatan Keterangan

1 Sujarwo Kepala Sekolah

2 Sugiyarto Guru Kelas

3 Sri Suprihati Gabd

4 Mudzakir GAI

5 Titik Sukapti Guru Kelas

6 Subandi Guru Kelas

7 M. Suprihati Guru Kelas

8 K. Lestari H Guru Kelas

9 Ariadi Guru Kelas

10 Ahmad M. Guru Penjas

11 Sisfitika Dwi Guru Kelas

12 Dwi Setyaningsih Gr Kelas

13 Widyaningrum WB

(52)

4. Keadaan Siswa dan Fasilitas Sekolah a. Keadaan Siswa

Menurut pengamatan penulis dalam penelitian ini yang dilakukan melalui pengumpulan data, persentase antara siswa laki-laki dan perempuan mempunyai selisih yang tidak terlalu besar, dimana jumlah siswa laki-laki lebih banyak dari siswa perempuan. Dengan teknik dokumentasi dapat dilihat keadaan siswa pada tabel berikut:

TABEL II

DAFTAR JUMLAH SISWA SD N Kumpulrejo 03

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

1 I 12 10 22

2 II 7 4 11

3 III 13 15 28

4 IV 19 10 29

5 V 12 8 20

6 VI 13 7 20

Jumlah 76 54 130

b. Fasilitas Sekolah

SD N Kumpulrejo 03 menempati tanah seluas 2.106 m2. Fasilitas pendidikan yang memenuhi syarat sangat menentukan kelancaran proses belajar mengajar.

Adapun fasilitas gedung/ ruang yang tersedia di SD N Bugel 02 adalah sebagai berikut:

(53)

2) Ruang guru : 1 buah

3) Ruang kelas : 6 buah

4) Ruang perpustakaan : 1 buah

5) Ruang UKS : 1 buah

6) Kamar mandi/ WC guru : 1 buah 7) Kamar mandi/ WC murid : 1 buah

8) Dapur : 1 buah

9) Gudang : 1buah

Sedangkan fasilitas perlengkapan sekolah antara lain sebagai berikut:

1) Komputer : 12 buah 2) Laptop : 1 buah

3) TV : 1 Unit

(54)

B. Keadaan Responden 1. Daftar Nama Responden

Jumlah seluruh siswa SD N Kumpulrejo 03 adalah 130 anak. Dari penulis mengambil sampel yaitu 20 anak kelas VI. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel sebagai berikut:

TABEL III

DAFTAR NAMA RESPONDEN

No Responden Jenis Kelamin Kelas

1 Susanto L VI

2 Agus Setiawan L VI

3 Andi Gustoro L VI

4 Dwi Prasetyo Utomo L VI

5 Dwi Lestari P VI

6 Febri Rahmadani L VI

7 Meirotul Insiah P VI

8 Nurul Alfitasari P VI

9 Wiwit Andika L VI

10 Ainina Kurnia Rahma P VI

11 Andiana Satria Irfan L VI

12 Andi Setiawan L VI

13 Erfan Antorida L VI

14 Eka Wulandari P VI

15 Hari Setyawan L VI

16 Nanang Adi P L VI

17 Yeni Nurmalasari P VI

18 Ari Safitri P VI

19 Heru Wicaksono L VI

20 Uut Kurniadi L VI

(55)

2. Daftar tentang Kemampuan Membaca Al Qur'an

Adapun hasil tes kemampuan membaca Al Qur'an siswa diperoleh hasil sebagai berikut:

TABEL IV

Hasil Kemampuan Membaca Al Qur'an Nomor

Nama Siswa Nilai

Urut Induk

1 629 Susanto 60

2 663 Agus Setiawan 60

3 664 Andi Gustoro 80

4 668 Dwi Prasetyo Utomo 50

5 669 Dwi Lestari 80

6 670 Febri Rahmadani 70

7 673 Meirotul Insiah 80

8 677 Nurul Alfitasari 80

9 683 Wiwit Andika 70

10 687 Ainina Kurnia Rahma 60

11 688 Andiana Satria Irfan 70

12 689 Andi Setiawan 70

13 691 Erfan Antorida 70

14 692 Eka Wulandari 60

15 694 Hari Setyawan 80

16 696 Nanang Adi P 70

17 700 Yeni Nurmalasari 60

18 701 Ari Safitri 60

19 768 Heru Wicaksono 60

(56)

3. Daftar tentang Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Adapun hasil belajar siswa dapat dilihat dari tabel sebagai berikut:

TABEL V

DAFTAR HASIL BELAJAR PAI SISWA SEMESTER II TAHUN 2009/2010

Nomor

Nama Siswa Nilai

Urut Induk

1 629 Susanto 90

2 663 Agus Setiawan 90

3 664 Andi Gustoro 80

4 668 Dwi Prasetyo Utomo 90

5 669 Dwi Lestari 80

6 670 Febri Rahmadani 70

7 673 Meirotul Insiah 80

8 677 Nurul Alfitasari 90

9 683 Wiwit Andika 90

10 687 Ainina Kurnia Rahma 70

11 688 Andiana Satria Irfan 80

12 689 Andi Setiawan 70

13 691 Erfan Antorida 70

14 692 Eka Wulandari 60

15 694 Hari Setyawan 90

16 696 Nanang Adi P 80

17 700 Yeni Nurmalasari 60

18 701 Ari Safitri 80

19 768 Heru Wicaksono 100

(57)

BAB IV ANALISIS DATA

A. Analisis Data Pertama

Untuk mengetahui seberapa jauh hubungan kemampuan membaca al Qur'an dengan prestasi belajar PAI siswa, maka dapat diperoleh dengan analisis statistik. Karena data yang terkumpul berjumlah banyak dan bersifat kualitatif, adapun dalam menganalisis data tersebut menggunakan teknik analisis statistik dengan rumus:

N KK

 2

2

 

keterangan:

KK : Koefisien Kontingensi X2 : Nilai Chi Square N : Sampel

Sedangkan nilai chi square diperoleh hasil sebagai berikut:

fh fh

fo 2

2 (  )

Keterangan:

X2 : Nilai Chi Square

(58)

1. Analisis Data tentang Kemampuan membaca al Qur'an

Data kemampuan membaca al Qur'an diperoleh dari tes kemampuan membaca dengan hasil sebagai berikut:

TABEL VI

NILAI TES KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN Nomor

Nama Siswa Nilai

Urut Induk

1 629 Susanto 60

2 663 Agus Setiawan 60

3 664 Andi Gustoro 80

4 668 Dwi Prasetyo Utomo 50

5 669 Dwi Lestari 80

6 670 Febri Rahmadani 70

7 673 Meirotul Insiah 80

8 677 Nurul Alfitasari 80

9 683 Wiwit Andika 70

10 687 Ainina Kurnia Rahma 60

11 688 Andiana Satria Irfan 70

12 689 Andi Setiawan 70

13 691 Erfan Antorida 70

14 692 Eka Wulandari 60

15 694 Hari Setyawan 80

16 696 Nanang Adi P 70

17 700 Yeni Nurmalasari 60

18 701 Ari Safitri 60

19 768 Heru Wicaksono 60

20 776 Uut Kurniadi 70

(59)

3 1 50

80 

 i

a. Untuk nilai kemampuan membaca al Qur'an diketahui nilai tertinggi 80 dan terendah 50 maka berdasarkan rumus interval sebagai berikut:

ki xr xt

i  1

Keterangan:

i = interval ideal xt = nilai tertinggi ideal xr = nilai terendah ideal ki = kelas interval

=

3 1

30

= 10

(60)

TABEL VII

INTERVAL KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN

Nilai Jumlah siswa Nilai nominasi

70-80 12 A (baik)

60-69 7 B (sedang)

50-59 1 C (kurang)

Jumlah 20

Dengan demikian dapat diketahui:

a. Untuk kemampuan membaca al Qur'an yang mempunyai kriteria baik, mendapat nilai antara 70-80 sebanyak 12 siswa

b. Untuk kemampuan membaca al Qur'an yang mempunyai criteria sedang mendapat nilai antara 60-69 sebanyak 7 siswa

c. Untuk kemampuan membaca al Qur'an yang mempunyai criteria rendah mendapat nilai antara 50-59 sebanyak 1 siswa

(61)

TABEL VIII

NILAI NOMINASI KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN

No Responden Skor Nominasi

1 60 B

2 60 B

3 80 A

4 50 C

5 80 A

6 70 A

7 80 A

8 80 A

9 70 A

10 60 B

11 70 A

12 70 A

13 70 A

14 60 B

15 80 A

16 70 A

17 60 B

18 60 B

19 60 B

20 70 A

(62)

P = x100% N

F

- Untuk kemampuan membaca al Qur'an yang mendapat kriteria baik dengan nilai A sebanyak 12 siswa

P = 100% 20

12

x = 60%

- Untuk kemampuan membaca al Qur'an yang mendapat kriteria sedang dengan nilai B sebanyak 7 siswa

P = 100% 20

7

x =35%

- Untuk kemampuan membaca al Qur'an yang termasuk dalam kriteria kurang mendapat nilai C sebanyak 1 siswa

P = 100% 20

1

x = 5%

TABEL IX

KLASIFIKASI KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR'AN

No

Nilai kemampuan membaca al qur'an

Interval Frekuensi Persentase

1 Baik (A) 70-80 12 60%

2 Sedang (B) 60-69 7 35%

3 Kurang (C) 50-59 1 5%

2. Analisis data tentang Prestasi Belajar Siswa

(63)

TABEL X

PRESTASI BELAJAR PAI SISWA SEMESTER II TAHUN 2009/2010

Nomor

Nama Siswa Nilai

Urut Induk

1 629 Susanto 90

2 663 Agus Setiawan 90

3 664 Andi Gustoro 80

4 668 Dwi Prasetyo Utomo 90

5 669 Dwi Lestari 80

6 670 Febri Rahmadani 70

7 673 Meirotul Insiah 80

8 677 Nurul Alfitasari 90

9 683 Wiwit Andika 90

10 687 Ainina Kurnia Rahma 70

11 688 Andiana Satria Irfan 80

12 689 Andi Setiawan 70

13 691 Erfan Antorida 70

14 692 Eka Wulandari 60

15 694 Hari Setyawan 90

16 696 Nanang Adi P 80

17 700 Yeni Nurmalasari 60

18 701 Ari Safitri 80

19 768 Heru Wicaksono 100

20 776 Uut Kurniadi 80

Kemudian diintervalkan dengan rumus sebagai berikut:

(64)

3 1 60

100 

 i

ki xr xt

i  1

Keterangan:

i = interval ideal xt = nilai tertinggi ideal xr = nilai terendah ideal ki = kelas interval

=

3 1

40

= 13

Kemudian dimasukkan tabel untuk mengetahui berapa banyak siswa yang mempunyai nilai dengan criteria baik, sedang dan kurang

TABEL XI

INTERVAL PRESTASI BELAJAR PAI SISWA Nilai Jumlah siswa Nilai nominasi

87-100 7 A

73-86 7 B

60-72 6 C

Jumlah 20

Dengan demikian dapat diketahui:

(65)

b. Untuk nilai siswa yang baik mendapat nilai antara 73-86 sebanyak 7 siswa

c. Untuk nilai siswa yang cukup mendapat nilai antara 60-72 sebanyak 6 siswa

Kemudian dibuat tabel nominasi A (baik), B (sedang), C (kurang) untuk mengetahui nilai siswa dengan kriteria baik, sedang, dan kurang.

TABEL XII

NILAI NOMINASI PRESTASI BELAJAR PAI SISWA

No Responden Skor Nominasi

1 90 A

2 90 A

3 80 B

4 90 A

5 80 B

Gambar

Gambar 1.  Komponen Proses Belajar Mengajar
TABEL 1 DAFTAR GURU SD N KUMPULREJO 03
TABEL II
TABEL IV Hasil Kemampuan Membaca Al Qur'an
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan dosen, kegiatan pembelajaran dengan prestasi belajar mahasiswa Jurusan Kebidanan Kesehatan Poltekkes Medan menunjukkan

Berdasarkan hasil penclitian diketahui bahwa kemampuan dosen, kegiatan pembelajaran dengan prestasi belajar mahasiswa Jurusan Kebidanan Kesehatan Poltekkes Medan menunjukkan

Berdasarkan analisis data menggunakan rumus korelasi product moment, koefisisen korelasi antara penguasaan struktur dengan kemampuan dikte gramatikal diketahui bahwa r hitung

dan server yang sama akan selalu sama, sehingga semua lalu lintas antara satu client tertentu dan server tertentu (misalnya, komputer dan Wiki Mikrotik) akan

Selama berkegiatan di kampus, mahasiswa memarkir sepeda motor pada fasilitas parkir kampus, maka ingin diketahui korelasi alokasi kegiatan mahasiswa di kampus dan

Studi Korelasi antara Kemampuan Membaca Al-Qur’an dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus pada Siswa SDN Kumpulrejo 03 Salatiga Tahun

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diketahui bahwa Al-Quran diturunkan oleh Allah dalam bentuk bahasa Arab. Untuk bisa memahami, mengamalkan dan mengajarkanya membutuhkan

Skipsi yang berjudul: Korelasi Prestasi Belajar Bahasa Arab Dengan Kemampuan Membaca Alquran Pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyyah Negeri Habirau Tengah Negara,