• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses yang tidak pernah berakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi. Belajar merupakan proses dan aktivitas yang selalu dilakukan dan dialami sejak manusia di dalam kandungan, tumbuh berkembang dari anak-anak, remaja hingga menjadi dewasa, sampai nanti tutup usia, sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat.

Belajar adalah suatu aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian (Suyono, 2011:9). Slamet menyatakan bahwa (2003:2) belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Menurut Crow (Suyono 2011:128-129), belajar diperolehnya dari kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Belajar dikatakan berhasil jika seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, sehingga belajar semacam ini disebut dengan rote learning, belajar hafalan, belajar melalui ingatan, by heart, di luar kepala, tanpa

mempedulikan makna. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2011:23), belajar adalah berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Dari pandangan-pandangan mengenai definisi belajar, menurut (Suyono, 2011) kita dapat menemukan beberapa ciri-ciri umum kegiatan belajar antara lain sebagai berikut:

a. Belajar merupakan bagian dari perkembangan. Belajar dan berkembang merupakan dua hal yang berbeda, tetapi erat hubungannya. Dalam perkembangan dituntut belajar, sedangkan melalui belajar terjadi perkembangan individu yang pesat.

b. Belajar berlangsung seumur hidup. Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat (life long learning).

c. Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, lingkungan, kematangan, serta usaha dari individu secara aktif.

d. Belajar mencakup semua aspek kehidupan. Oleh sebab itu belajar harus mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor dan keterampilan hidup (life skill). Menurut Ki Hadjar Dewantara belajar harus mengembangkan cipta (kognitif), rasa (afektif), karsa (motivasi), dan karya (psikomotor).

e. Kegiatan belajar berlangsung di sembarang tempat dan waktu. Berlangsung di sekolah (kelas dan halaman sekolah), di rumah, di masyarakat, di tempat rekreasi, di alam sekitar, dalam bengkel kerja, di dunia industri, dan sebagainya.

f. Belajar berlangsung baik tanpa guru atau dengan guru. Berlangsung dalam situasi formal, informal, dan nonformal.

g. Belajar yang terencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi. Biasanya terkait dengan pemenuhan tujuan yang kompleks, diarahkan kepada penguasaan, pemecahan masalah atau pencapaian sesuatu yang bernilai tinggi.

h. Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai dengan yang sangat kompleks.

i. Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan. Hambatan dapat terjadi karena belum adanya penyesuaian individu dengan tugasnya, adanya hambatan dari lingkungan, kurangnya motivasi, kelelahan atau kejenuhan belajar.

j. Dalam hal tertentu belajar memerlukan adanya bantuan dan bimbingan orang lain. Orang lain itu dapat guru, orang tua, teman sebaya yang kompeten dan lainnya.

Dari beberapa ciri-ciri serta definisi belajar yang dikemukakan beberapa ahli, peneliti dapat menyimpulkan bahwa belajar merupakan sebuah proses / kegiatan yang dilakukan seseorang sejak kecil dan terus-menerus sehingga menjadikan orang tumbuh dan berkembang serta mengalami perubahan sikap, perilaku, mental, dan pengetahuan menjadi lebih baik.

2. Pengertian Pembelajaran

Secara umum, pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Pembelajaran adalah upaya guru menciptakan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyono, 2011:98).

3. Belajar dan Pembelajaran matematika

Dalam penelitian terkait, pengertian pembelajaran matematika menurut Tim MKPBM (2001:8-9) terbagi dua macam:

a) Pengertian pembelajaran matematika secara sempit, yaitu proses pembelajaran dalam lingkup sekolah, sehingga terjadi proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber atau fasilitas, dan teman sesama siswa.

b) Pengertian pembelajaran matematika secara luas, yaitu upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal.

Nickson (Jajang, 2005:5) berpendapat bahwa pembelajaran matematika adalah pemberian bantuan kepada siswa untuk membangun konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi (arahan terbimbing) sehingga konsep atau prinsip itu terbangun. Matematika perlu diberikan kepada siswa untuk membekali mereka dengan

kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Depdiknas, 2006:346) menyebutkan pemberian mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

a) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasian konsep matematika secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.

b) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

c) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

d) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk menjelaskan keadaan/masalah.

e) Memiliki sifat menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu: memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam pelajaran matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Tujuan umum pertama, pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah memberikan penekanan pada penataan latar dan pembentukan sikap siswa. Tujuan umum adalah memberikan penekanan pada keterampilan dalam

penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

Dari beberapa pendapat dan tujuan pembelajaran matematika tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran matematika menuntut guru untuk dapat mengaktifkan siswanya selama pembelajaran berlangsung baik secara psikomotorik, kognitif, maupun afektif. Proses pembelajaran yang diharapkan tidak lagi berpusat pada guru melainkan pada siswa, sehingga konsep atau prinsip itu terbangun dengan metode atau pendekatan mengajar dan pengggunaan aplikasi agar dapat bermanfaat dalam meningkatkan kompetensi dan kemampuan siswa. Guru bukan mentransfer pengetahuan pada siswa tetapi membantu agar siswa membentuk sendiri pengetahuannya.

Dokumen terkait