• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Belajar Ilmu Pendidikan Agama Katolik

a. Sejarah Ilmu Kateketik

Pada bagian ini akan diuraikan sejarah ilmu kateketik dari abad pertama sampai dengan abad ke dua puluh. Namun, dalam di sini tidak diuraikan secara detail bagaimana sejarah ilmu kateketik setiap abadnya akan tetapi lebih pada abad-abad yang memiliki catatan sejarah tertentu saja.

Pada mulanya jemaat Kristen dipandang sebagai salah satu sekte Yudaisme di mana di dalamnya adanya sikap saling pengertian antara kaisar dengan Yudaisme berkaitan dengan agama. Namun, setelah Kristen memisahkan diri dari Yudaisme mulailah masa penganiayaan. Penganiayaan ini terjadi karena pemimpin agama Yahudi tidak menerima keberadaan orang-orang Kristen. Berbagai tekanan yang dihadapi oleh jemaat Kristen namun, mereka pahami itu semua secara positif karena jemaat Kristen dituntut untuk merumuskan pengakuan imannya. Bagi jemaat Kristus adalah segalanya, karena itu di dalam iman pada Yesus Kristus tekanan dan kesulitan

justru dipahami sebagai peluang yang mendewasakan dan memperkembangkan hidup beriman mereka (Heryatno Wono Wulung, 2008: 17-19).

Di dalam Gereja Katolik dikenal dengan istilah Didache. Didache ini sendiri merupakan katekismus pertama (tertua) yang dimiliki oleh Gereja yang ditulis antara tahun 60-150 SM, kurang lebih sekitar tahun 130 SM. Adapun Didache itu sendiri merupakan pengajaran untuk calon baptis (katekumen) dan sekaligus untuk pembinaan lebih lanjut para baptisan baru. Pengakuan Yesus sebagai Mesias merupakan syarat utama. Jadi, katekese tertua isinya jelas dan sederhana, sifatnya tidak teoritis tetapi praktis. Pengajaran moral mewarnai seluruh isi katekese. Katekese di dalam Didache menekankan pengakuan iman, kebersamaan dan keramahtamahan di dalam hidup berjemaat. Hakikat katekese ialah pengajaran tentang Yesus beserta ajaran-Nya yang disampaikan secara lisan oleh katekis kepada katekumen (Heryatno Wono Wulung, 2008: 21).

Setelah mengalami masa penganiayaan, mulai abad III-V jemaat Kristiani mengalami situasi hidup yang sangat berbeda. Sekitar tahun 311 kaisar Galerius memerintahkan kekaisarannya untuk bersikap toleran terhadap kepercayaan dan corak hidup jemaat Kristen. Pada tahun 313 kaisar Constantinus Agung mengeluarkan Edict Milan (Keputusan Milan) yang mengakui agama Kristen sebagai agama yang sah dan melalui keputusan tersebut merestorasi kembali semua harta kekayaan Gereja. Constantinus sendiri akhirnya bertobat menjadi Kristen. Kaisar Theodotius I (395) menyatakan bahwa agama Kristen sebagai agama resmi negara. Akibatnya, semua bentuk penyebahan berhala dilarang, patung-patur kafir diganti dengan arca-arca Kristiani dan Gereja mempunyai hubungan yang erat sekali dengan negara (Heryatno Wono Wulung, 2008: 22-23)

Pada abad IX-XV dikenal dengan masa keemasan agama Kristiani. Katekese pada masa keemasan agama Kristiani dapat dilihat secara formal dan informal. Secara formal keadaan katekese pada masa keemasan Kristiani di Eropa cukup memprihatinkan karena tidak adanya ahli katekese yang menuliskan karya katekese yang mengakibatkan tidak adanya satu karya katekese yang disusun secara utuh dan sistematis. Secara informal katekese atau pendidikan iman sangat hidup dan menjadi satu dengan seluruh kegiatan jemaat yang hampir di segala bidang diwarnai oleh cara hidup yang berwarna Kristen (Heryatno Wono Wulung, 2008: 34-35).

Sejarah katekese yang terjadi di Asia tepatnya di Vietnam, terdapat seorang tokoh yang sangat terkenal yaitu Alexandre De Rhodes. Alexandre De Rhodes adalah seorang misionaris Jesuit yang bekerja di Vietnam yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebudayaan dan tradisi religius orang-orang setempat. Tantangan dan strategi Alexandre De Rhodes di dalam tugas misionernya untuk mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus kepada orang-orang Vietnam, Ia berpendapat bahwa keberhasilan pengutusan pewartaan Injil menuntut bukan hanya penguasaan bahasa daerah setempat tetapi juga keakraban dengan kebudayaan dan kebiasaan hidup masyarakat setempat. Keberhasilan misi Alexandre De Rhodes dapat dilihat pada hasil-hasil tulisannya. Karya monumentalnya adalah Katekismus untuk orang Vietnam (Heryatno Wono Wulung, 2008: 357-58).

Gerakan pembaharuan katekese yang berlangsung di dalam Gereja pada awal abad XX berhasil mengubah pandangan lama dari katekese yang bercorak teologis menuju pada katekese yang bersifat Kristosentris. Gerakan ini menempatkan katekese sebagai bagian utuh pelayanan pastoral Gereja. Singkatnya pembaruan katekese pada akhir abad XIX dan pada awal abad XX ditandai dengan

ketidakpuasan terhadap bentuk katekese yang mengacu pada Katekismus yang bersifat apologetis (karena arahnya melawan gerakan reformasi) dan menggunakan metode tanya-jawab yang dirasa sempit dan sudah tidak relevan dengan situasi hidup umat (Heryatno Wono Wulung, 2008: 86-88). Di banyak tempat dibutuhkan katekese yang sederhana dan sesuai dengan keadaan dan kemampuan serta kebutuhan setempat (Setyakarjana, 1977: 3).

b. Pendidikan Agama Katolik sebagai Ilmu

Kateketik adalah teori tentang katekese, refleksi atas karya Gereja, ilmu yang mengajarkan bagaimana mewartakan ajaran Kristus kepada kaum muda dan dewasa. Kateketik adalah ilmu pendidikan agama atau ilmu bina iman, yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan pembinaan iman (Telaumbanua, 2005: 6). Kateketik sebagai ilmu pendidikan agama atau ilmu bina iman telah cukup lama ditekuni, khususnya dalam hal praksis bina iman yang dinamai katekese (Telaumbanua, 2005: 13). Purwatma (2012: 155) mengatakan “Ilmu kateketik sebagai sebuah studi ilmiah perihal katekese dengan menggunakan metode dan sistem yang spesifik.” Perkembangan paham, tujuan, model, sarana dan kedudukan katekese dalam Gereja serta hubungan katekese dengan ilmu pendidikan ikut membantu memperkembangkan ilmu kateketik sehingga umat semakin berkembang dalam iman dan penghayatan hidup akan Yesus Kristus yang menyelamatkan.

c. Objek Formal dan Objek Material Ilmu Kateketik

Ilmu kateketik memiliki objek formal dan material. Yang dimaksud dengan objek formal sebuah ilmu adalah sudut pandang dan fokus yang hendak ditekuni,

dikaji dan dipelajari oleh ilmu kateketik. Objek formal ilmu kateketik juga dilihat dari bagaimana proses pendidikan iman dijalankan menurut kaidah ilmu pendidikan yang semakin maju dan ilmu teologi yang sungguh memperhatikan perkembangan iman umat. Sedangkan objek material bisa dipelajari oleh berbagai bidang ilmu tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Objek material ilmu kateketik adalah jemaat beriman yang dapat membantu perkembangan iman mereka lewat proses katekese yang mereka ikuti sehingga dapat setiap orang semakin dapat memaknai pengalaman hidupnya sehari-hari sebagai suatu anugerah dan rahmat yang menyemangati. Objek formal ilmu kateketik adalah iman sejauh diteruskan dan dikomunikasikan di dalam kehidupan sehari-hari seperti pengajaran Katekumen, Pelajaran agama di sekolah, Pendalaman iman di lingkungan dan lain-lain (Purwatma, 2012: 162). Sebagai komunikasi iman Pendidikan Agama Katolik perlu menekankan sifatnya yang praktis artinya bermula dari pengalaman penghayatan iman melalui refleksi dan komunikasi menuju kepada penghayatan iman baru yang lebih baik, lebih menekankan tindakan daripada konsep atau teori (Heryatno Wono Wulung, 2008: 16). Oleh karena objek formal dan objek material ilmu kateketik perlu mendapatkan perhatian khusus dari Gereja demi perkembangan iman umat.

Dokumen terkait