BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1) Objek Formal Ilmu Kateketik
Katekese mengarahkan dan mempersiapkan pribadi untuk menjadi seorang Kristiani yang memiliki kemauan untuk terlibat dalam kehidupan mengereja dan bermasyarakat demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini. Objek formal dalam ilmu kateketik memiliki tiga aspek penting yaitu komunikasi iman, pewartaan dan pendidikan iman.
a) Komunikasi iman
Dalam pertemuan PKKI I yang berlangsung pada 10-16 Juli 1977 di Wisma Samadi Syalom Sindanglaya, Jawa Barat dengan Tema Arah Katekese di Indonesia menghasilkan gagasan tentang katekese umat yaitu komunikasi iman umat, katekese dari umat, oleh umat dan untuk umat. Komunikasi iman dalam katekese merupakan peristiwa rahmat, terwujud dalam perjumpaan sabda Allah dengan pengalaman manusia, komunikasi iman ini dapat terjadi dengan cara yang berbeda-beda yang tidak selalu kita ketahui seluruhnya (PUK, art. 150). Dalam PPKI II yang berlangsung di Klender Jakarta juga mengatakan katekese umat sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat beriman. Dalam katekese, umat dituntut untuk mampu bersaksi tentang imannya akan Yesus Kristus sebagai pola hidup umat beriman dalam Kitab Suci khususnya dalam Perjanjian Baru sebagai dasar penghayatan iman umat kristiani sepanjang hidupnya. Telaumbanua (2005: 86) juga mengatakan, “Katekese yang menjemaat, yang berdasarkan pada situasi konkret setempat dan berpola pada Yesus Kristus sebagai sumber iman yang utama menuju pada hidup kristiani yang utuh.”
Katekese umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat tanpa pandang bulu untuk terus bersaksi tentang iman mereka secara terbuka ditandai sikap saling menghargai dan mendengarkan satu sama lain (Telaumbanua, 2005: 87-88). Komunikasi iman juga diharapkan mampu membantu peserta agar menghayati imannya di dalam kenyataan hidupnya atau kebudayaan dan cara berpikirnya sendiri. Perjumpaan antara kenyataan hidup peserta dengan kekayaan iman Kristiani, membantu mereka supaya sampai pada penghayatan iman yang menyeluruh, yang membawa mereka pada kematangan atau
kedewasaan iman (Heryatno Wono Wulung, 2008: 50). Jadi, komunikasi iman sebagai objek formal dalam ilmu kateketik menjadi sarana bagi jemaat beriman kristiani untuk mngembangkan penghayatan imannya akan Yesus Kristus sehingga semakin mampu menjadi saksi Kristus di tengah dunia dewasa ini. Adapun tujuan dari komunikasi iman (Telaumbanua, 2005: 88) ialah:
Supaya dalam terang injil, kita semakin meresapi arti pengalaman- pengalaman kita sehari-hari
Kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup Kristiani sehari-hari.
Dengan demikian kita semakin sempurna dalam beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan hidup kristiani kita semakin dikukuhkan.
Sehingga kita semakin sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.
PAK pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk komunikasi iman yang meliputi pengetahuan, pergumulan dan penghayatan iman. Melalui komunikasi pengetahuan peserta diperluas, pergumulan peserta diperteguhkan dan penghayatannya diperkaya (Dapiyanta, 2011: 7).
b) Pewartaan Sabda
Gereja hidup untuk mewartakan injil yaitu membawa Kabar Gembira kepada semua suku bangsa sehingga dengan kekuasaannya Kabar Gembira itu dapat masuk ke dalam hati manusia dan memperbaharui bangsa (PUK, art.46). Segala kegiatan mewartakan Kabar Gembira dimengerti sebagai memajukan kesatuan dengan Yesus Kristus (PUK, art. 80).
Evangelisasi adalah kesaksian dan pewartaan, perkataan dan sakramen, ajaran dan tugas, katekese menyampaikan kata-kata dan perbuatan Wahyu, dia diwajibkan memaklumkan dan menceritakan dan pada saat yang sama memperjelas misteri yang
ada di dalamnya (PUK, Art. 39). Evangelisasi yang menyampaikan Wahyu kepada dunia, dilaksanakan dalam perkataan-perkataan dan perbuatan. Pelayanan sabda adalah unsur evangelisasi yang fundamental. Tidak ada evangelisasi yang benar kalau nama, ajaran, janji-janji, Kerajaan Allah, Putra Allah tidak diwartakan. Mereka yang sudah menjadi murid Kristus juga harus disuburkan dengan sabda Allah agar mereka dapat bertumbuh dalam hidup Kristiani mereka (PUK, art. 50). Melalui evangelisasi setiap orang diundang untuk bertobat dan mengimani Yesus, pertobatan ini diharapkan berlangsung terus-menerus sepanjang hidup (Agus Rukiyanto, 2012: 61).
Yang menggerakkan adanya evengelisasi baru adalah Kristus yang hidup, yang berkarya melalui Roh-Nya. Agar dapat mewartakan Injil para pelayan sabda harus mempunyai pengalaman pribadi yang mendalam dengan Kristus karena evangelisasi baru tidak sekedar meneruskan ajaran melainkan memberikan kesaksian yang menyentuh hati. Dengan kata lain evangelisasi baru hanya dapat lahir dari pengalaman akan Allah secara mendalam (Suharyo, 1993: 16). Tujuan dari evangelisasi baru adalah membangun komunitas Kristiani yang dijiwai Sabda, dalam konteks hidupnya yang beragam sehingga komunitas itu hadir memberikan kesaksian yang hidup akan Kristus yang menyelamatkan (Suharyo, 1993: 19).
c) Pendidikan Iman
Katekese sebagai pendidikan iman merupakan salah satu bentuk karya pewartaan Gereja yang bertujuan untuk membantu umat beriman agar imannya semakin mendalam dan supaya mereka semakin terlibat dalam kehidupan menggereja dan masyarakat baik sebagai pribadi maupun kelompok (Adisusanto,
1995: 3). Salah satu sarana pendidikan iman yang terus berkembang sampai saat ini adalah pelajaran agama. Pelajaran agama harus menyampaikan pesan dan peristiwa Kristiani dengan kesungguhan dan kedalaman yang sama dengan apa yang disajikan oleh disiplin ilmu-ilmu lain. Pelajaran agama tidak dapat ditempatkan sebagai tambahan melainkan sebagai hal yang perlu dalam dunia pendidikan (PUK, art. 73). Hidup dan iman para siswa yang menerima pelajaran agama di sekolah ditandai dengan perubahan yang terus-menerus, pelajaran agama harus melihat realita dalam mencapai tujuannya (PUK, art. 75). Katekese sebagai pedagogi iman aktif dalam memenuhi tugas-tugasnya tidak hanya diinspirasikan oleh pertimbangan- pertimbangan ideologis atau kepentingan manusiawi semata. Katekese tidak membingungkan karya Allah yang menyelamatkan, dialog mengagumkan yang dilakukan oleh Allah dengan setiap pribadi menjadi inspirasi dan normanya (PUK, art. 144).
Pendidikan Agama Katolik dipahami sebagai proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan oleh Gereja, sekolah, keluarga dan kelompok jemaat lainnya untuk membantu peserta agar semakin beriman kepada Tuhan Yesus sehingga nilai- nilai Kerajaan Allah sungguh terwujud di tengah-tengah hidup mereka, sehingga yang menjadi tujuan PAK ialah demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tenggah hidup mereka, demi kedewasaan iman dan demi kebebasan manusia (Heryatno Wono Wulung, 2008: 22). Namun demikian PAK tidak bisa lepas dari ilmu Kateketik, karena untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah PAK dalam kaitannya dengan ilmu kateketik tidak dapat hanya membawa bahan pewartaan secara buta tanpa memahami keadaan pendengarnya, apabila PAK dan ilmu kateketik mengabaikan pendengar, warta gembira Kerajaan Allah yang dibawa hanya
akan menjadi kosong dan membosankan bagi pendengar (Justin dan Supriyanti, 2012: 304).
Berinspirasikan pendidikan iman, katekese mempersembahkan pelayanannya sebagai sebuah pelajaran yang mendidik (edukatif) yang menolong manusia untuk membuka dirinya terhadap dimensi kehidupan religius dan di lain pihak menyodorkan Injil kepadanya yang dilaksanakan sedemikian rupa agar menembus dan mengubah proses-proses akal budi, hati nurani, kebebasan dan tindakan yang berpedoman pada teladan Yesus Kristus (PUK, art. 147). Adapun titik tolak dari pendidikan iman itu sendiri yaitu proses perkembangan iman yang nampak dalam pertobatan kita sebagai umat beriman. Pertobatan merupakan kesediaan sikap dan tindakan manusia untuk mendalami hidup. Orang yang bertobat menanggalkan manusia lamanya dan mengenakan manusia baru dengan berbalok kepada Kristus (Adisusanto, 1995: 11).