KAJIAN PUSTAKA
3. Gaya Belajar
Istilah gaya belajar mengacu pada cara dimana individu mampu berkonsentrasi dan memahami informasi baru dengan baik (Dunn et al, 2009). Kolb (Prashing, 1998) berpendapat bahwa konsep gaya belajar menggambarkan perbedaan individu dalam belajar berdasarkan preferensinya masing-masing. Individu satu dengan yang lain tidak bisa memaksakan gaya belajar yang sama. Berdasarkan pendapat para ahli, gaya belajar adalah cara yang lebih disukai dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses, dan mengerti suatu informasi dengan maksimal. Gaya belajar yang ada pada seseorang sangat mempengaruhi bagaimana orang tersebut menyerap dan memahami suatu informasi dengan maksimal, sehingga hasil atau prestasi belajar yang diperoleh dapat maksimal. Honey dan Mumford (Gufron:145) berpendapat bahwa mengetahui gaya belajar penting untuk individu karena dapat meningkatkan kesadaran kita tentang aktifitas belajar mana yang cocok dengan gaya belajar kita, membantu menemukan piihan yang tepat dari sekian banyak aktivitas, menghindarkan diri dari pengalaman belajar yang tidak tepat, serta menganalisa tingkat keberhasilan seseorang.
Bab ini membahas gaya belajar seperti yang disampaikan oleh Felder and Barbara A. Soloman Learning Style Model (1994). Peneliti menggunakan referensi dari Felder and Barbara A. Soloman Learning Style Model (1994) karena menurut peneliti gaya belajar yang dijelaskan lebih mendetail dan tidak
mengarah pada satu macam gaya belajar saja, namun dapat diperluas dan lebih mudah untuk dipahami.
a. Macam-macam gaya belajar menurut model Felder and Barbara A. Soloman
Learning Style Model (1994) yaitu: aktive (aktif), reflektive (reflektif), sensing (Pengindraan), intuitive (intuitif), visual (penglihatan), verbal
(perkataan), sequential (berurutan), global (menyeluruh).
1) Gaya belajar active (aktif)
Gaya belajar aktif yaitu gaya belajar dimana individu memahami informasi dengan melakukan sesuatu yang bersifat aktif, seperti membahas bersama-sama dan menjelaskan kepada orang lain. Individu dengan gaya belajar aktif juga menyukai belajar secara kelompok untuk mendapatkan informasi sampai ia paham.
Honey dan Mumford (Ghufron, 2013:108) mengatakan seseorang yang mempunyai gaya belajar aktif, mempunyai beberapa kelebihan antara lain mempunyai pikiran yang terbuka, menyukai hal-hal baru, dan suka berpetualang. Kelemahan gaya belajar aktif antara lain sering mengambil resiko yang tidak penting, mudah bosan, dan lebih senang langsung melakukan sesuatu tanpa persiapan yang baik sehingga terjadinya kesalahan dalam melakukan sesuatu juga cukup besar.
2) Gaya belajar reflective (reflektif)
Gaya belajar reflektif yaitu gaya yang individu cenderung diam dan hanya mendengarkan informasi untuk mencari solusi dan atau memahami informasi. Menyukai belajar secara individual.
Mahasiswa yang mempunyai gaya belajar reflektif yang kuat, mereka cenderung diam untuk memikirkan solusi dan atau memahaminya. Mereka yang mempunyai gaya belajar reflektif lebih menyukai belajar sendiri dan belajar di tempat yang sepi tanpa banyak suara. Apabila mahasiswa mengetahui bahwa gaya belajar reflektifnya kuat maka ia dapat mengambil inisiatif dan membuat strategi belajarnya sendiri sesuai dengan gaya belajarnya.
Honey dan Mumford (Ghufron, 2013:108) mengatakan kelebihan yang dimiliki gaya belajar reflektif adalah memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi sehingga hal tersebut juga berdampak pada kemampuannya dalam menyimpulkan sesuatu. Selain itu individu dengan gaya belajar reflektif senang mendengarkan orang lain, kemampuan menjadi pendengar sangat baik. Kekurangan dari gaya belajar reflektif adalah tidak berani mengambil resiko, cenderung lambat dalam mengambil keputusan, dan kurang asertif terhadap apa yang dirasakan.
3) Gaya belajar sensing (penginderaan)
Gaya belajar sensing yaitu gaya yang lebih menonjolkan alat indera. Individu dengan gaya belajar sensing menilai bahwa apa yang dilihat, dicium, didengar, dan diraba adalah dasar bagi dirinya untuk mencari, menanggapi atau memahami informasi yang didapatnya. (Zaman dan Abdillah, 2009). Ia lebih tertarik pada hal-hal yang nyata, sehingga ia lebih cermat dalam mengamati informasi dan lebih melihat pada hal-hal fisik dari pada metafisik.
Individu dengan gaya belajar sensing sangat realistis dan cenerung tidak imajinatif. Baginya menghayal adalah hal yang berlebihan, sehingga ia bukan individu yang suka merenung, berimajinasi, dan berefleksi. Ia bekerja dengan hati-hati ketika memulai pelajaran baru.
4) Gaya belajar intuitive (intuitif)
Gaya belajar intuitif yaitu gaya yang cenderung bekerja lebih cepat dan lebih inovatif. Gaya belajar ini tidak menyukai hafalan. Cenderung ke hal-hal yang bersifat logika dan rumus-rumus (ilmu pasti).
Individu dengan gaya belajar intuitif adalah individu yang imajinatif menyukai hal-hal yang abstrak, sehingga bisa disebut sebagai penghayal. Ketika di kelas individu dengan gaya belajar intuitif akan mudah bosan dan selalu mencari variasi dari apa yang ia pelajari. Ia
tidak meyukai pengulangan. Materi yang diulang-ulang akan membuat ia bosan.
5) Gaya belajar visual (penglihatan)
Menurut Astuti (2010), orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki daya melihat (ketajaman indera mata) lebih memudahkan dalam hal belajar, lebih nyaman belajar dengan warna warni, garis dan bentuk, lebih suka membaca dari pada mendengarkan. Individu dengan gaya belajar visual lebih sering mencatat dengan membuat coretan-coretan atau gambar dibukunya.
Individu dengan gaya belajar visual harus benar-benar berkonsentrasi ke pengajar. Gaya belajar visual lebih memperhatikan mimik pengajar, gerak tubuh, dan penjelasan dalam bentuk gambar, diagram, video, dan peta.
6) Gaya belajar verbal (perkataan)
Gaya belajar verbal yaitu gaya dimana individu menyukai ceramah dan membaca bacaan tertulis. Gaya belajar verbal yang dimiliki oleh individu akan lebih meangkap apabila pengajar menggunakan metode ceramah dan membaca. Ada beberapa individu yang tidak menyukai pengajar yang ceramah dan membaca, tetapi individu dengan gaya belajar verbal akan lebih mudah menangkap dan lebih mudah
berkonsentrasi ketika pengajar menggunakan metode ceramah dan membaca,
7) Gaya belajar sequential (berurutan)
Gaya belajar sequential yaitu gaya yang menyukai tahapan atau berurutan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas. Sangat memperhatikan detail dari setiap langkah kerjanya. Individu dengan gaya belajar sequential ketika bekerja akan sangat hati-hati karena sanagat memperhatikan detail. Ketika mengerjakan banyak tugas ia akan sangat memperhatikan kerapian dan menyelesaikan satu persatu.
8) Gaya belajar global (menyeluruh)
Gaya belajar global yaitu gaya yang bekerja secara acak atau lompat-lompat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas. Melihat secara meyeluruh atau garis besar dari suatu pekerjaan atau tugas baru kemudian masuk ke inti. Individu dengan gaya belajar ini ketika mengerjakan banyak tugas akan menlompat-lompat dari satu tugas ke tugas lain/ secara acak baru kemudian tugas-tugas itu terselesaikan bersama.
b. Delapan gaya belajar ini dikelompokan menjadi empat gaya belajar yaitu;
Active-Revlective, Sensing-Intuitive, Visual-Verbal, dan Sequential-Global.
salah satu gaya belajar, artinya apabila mahasiswa cenderung mempunyai gaya belajar active, maka mahasiswa juga mempunyai gaya belajar reflective tetapi tidak sebaik atau seoptimal gaya belajar active, begitu juga dengan
Sensing-Intuitive, Visual-Verbal, dan Sequential-Global. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Belajar
Rita Dunn (Deporter, 2010), seorang pelopor dibidang gaya belajar, telah menemukan banyak variabel yang mempengaruhi gaya belajar seseorang yang mencakup faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis, dan lingkungan. Sebagian orang menyukai belajar dengan situasi yang terang, sebagian orang menyukai situasi belajar yang redup. Sebagian orang meyukai belajar individual karena lebih mudah berkonsentrasi dan sebagian orang menyukai belajar kelompok karena lebih mudah untuk bertukar pendapat.
Menurut Kolb (Ghufron, 2013:101) ada 5 (lima) hal yang mendasari seseorang memilih gaya belajar tertentu yaitu: tipe kepribadian, jurusan yang dipilih, karier atau profesi yang digeluti, pekerjaaan atau peran yang sedang dilakukan, dan adaptive competencies (kompetensi adaptif). Kolb (Ghufron, 2013) menyatakan bahwa setiap orang memiliki dan mengembangkan gaya belajar tersendiri yang dipengaruhi oleh tipe kepribadian, kebiasaan atau habit, serta berkembang sejalan dengan waktu dan pengalaman. Pola atau gaya belajar tersebut dipengaruhi oleh jurusan atau bidang yang digeluti, yang selanjutnya
akan turut mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam meraih prestasi yang diharapkan.
Kebiasaan belajar adalah perilaku seseorang yang telah tertanam dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas belajar yang dilakukannya, (Anurrahman, 2010:185). Menurut (Djaali ,2007:128) kebiasaan belajar merupakan cara atau teknik yang menetap pada individu pada waktu menerima pelajaran, membaca buku, mengerjakan tugas, dan pengaturan waktu untuk menyelasaikan tugas. Jadi, kebiasaan belajar merupakan cara-cara yang paling sering dilakukan atau berulang-ulang oleh individu dalam kegiatan belajarnya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Orang yang memiliki kebiasaan belajar dapat mulai belajar pada waktu yang direncanakan, dapat belajar sesuai waktu yang direncanakan, dan mendapatkan hasil belajar maksimal sesuai dengan kemampuan (Hardjana 1994: 98).
B.Mahasiswa Angkatan 2013 Program Studi Bimbingan dan Konseling