Metode Pembelajaran
PENGERTIAN METODE PENGAJARAN KONTEKSUAL ( CTL )
E. KELEBIHAN SERTA KEKURANGAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL
5) Belajar serta Pengajaran Bermakna
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di pada kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, serta kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap pada tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Pengajaran pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar serta anak dengan endidik. Kegiatan pengajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukanpada lingkungan yang nyaman serta memberikan rasa zaman bagi anak. Proses belajar bersifat individual serta kontekstual, artinya proses belajar terjadi pada diri individu sesuai dengan perkembangannya serta lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat pada struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di pada struktur kognitif para murid. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi juga melakukan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik serta tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar
bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui serta menggali konsep-konsep yang telah dimiliki murid serta membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan memakai lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. Hal yang harus diketahui serta diperhatikan guru pada melaksanakan PAKEM.
Pada dinyatakan bahwa ada beberapa hal yang harus dipahami serta diperhatikan guru pada melaksanakan PAKEM. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
• Memahami Sifat yang Dimiliki Anak
Anak memiliki berbagai potensi pada dirinya. Diantaranya rasa ingin tahu serta berimajinasi. Dua hal ini adalah potensi yang harus dikembangkan atau distimulasi melalui kegiatan belajar mengajar. Karena kedua hal tersebut adalah modal dasar bagi berkembangnya sikap berpikir kritis serta kreatif.
Sikap berpikir kritis serta kreatif adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh para murid. Seperti dikemukakan oleh Jhonson salah satu komponen pada sistem pengajaran yang ideal adalah berpikir kritis serta kratif. Artinya murid dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis serta kreatif (2002:24).
Agar mampu berpikir kritis serta kreatif sifat rasa ingin tahu serta berimajinasi yang sudah dimiliki anak perlu dikembangkan. Untuk mengembangkan kedua sifat yang dimiliki anak tersebut secara optimal
perlu diciptakan suasana pengajaran yang bermakna. Suasana pengajaran yang bermakna ditunjukkan diantaranya dengan kebiasaan guru untuk memuji anak karena hasil karyanya apapun itu atau prestasinya. Kemajuan pada bentuk apapun yang ditunjukkan oleh murid perlu dihargai oleh guru.
Kemudian guru harus membiasakan pada mengajukan pertanyaan yang menantang atau yang bersifat terbuka merupakan langkah tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis murid. Tidak kalah pentingnya guru yang harus mendorong anak untuk melakukan percobaan untuk mengembangkan kemampuan yang murid.
• Mengenal Anak Secara Perorangan
Setiap murid berasal dari lingkungan keluarga yang berbeda, memiliki pola asuh, serta kemampuan yang berbeda. Perbedaan individu murid tersebut perlu diperhatikan pada kegiatan proses pengajaran. Dengan kita memperhatikan serta memahami setiap individu murid, akan memudahkan kita mengontrol para murid. Semua anak pada kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda-beda sesuai dengan minat serta kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih cepat dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah serta tertinggal atau yang disebut dengan tutor sebaya. Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.
• Memanfaatkan Perilaku Anak pada Pengorganisasian Belajar
Sebagai makhluk sosial. Anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau
berkelompok pada bermain. Prilaku ini dapat dimanfaatkan pada pengorganiosasian belajar. Pada melakukan tugas atau membahan sesuatu, anak dapat bekerja, berpasangan
atau pada kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi serta bertukar pikiran. Namun demikian anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
• Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis, Kreatif, serta Kemampuan Memecahkan Masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah untuk memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis serta kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; serta kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut kritis serta kreatif berasal dari rasa ingin tahu serta imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika....” lebih baik dari pada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, serta kapan” yang umumnya tertutup hanya ada satu jawaban yang benar.
• Mengembangkan Ruang Kelas Sebagai Lingkungan Belajar yang Menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan pada PAKEM. Hasil pekerjaan murid sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi murid untuk bekerja lebih baik serta menimbulkan inspirasi bagi murid lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, metode, benda asli, puisi, karangan serta
sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan murid, serta ditata dengan baik dapat membantu guru pada KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
• Memanfaatkan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Lingkungan (fisik, sosial atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang pada belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak harus selalu di luar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya serta waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indra), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, serta membuat gambar atau diagram.
• Memberikan Umpan Balik yang Baik untuk Meningkatkan Kegiatan Belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi pada belajar. Interaksi yang dimaksud adalah umpan balik guru kepada murid. Pada umpan balik tersebut, hendaknya menghindari ungkapan yang menunjukkan kelemahan murid serta lebih mengungkapkan kekuatan murid. Kesantunan pada menyampaikan umpan balik juga harus diperhatikan agar murid lebih percaya diri pada menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan selanjutnya. Hasil pekerjaan murid harus diperiksa secara konsisten oleh guru serta memberi komentar ataupun catatan. Catatan tersebut bukan hanya sekedar angka, melainkan berkaitan dengan pekerjaan murid yang bermakna bagi perkembangan dirinya.
a. Membedakan antara Aktif Fisik serta Aktif Mental
Kebanyakan guru merasa puas apabila melihat muridnya terlihat aktif bergerak serta bekerja. Apalagi jika bangku serta meja diatur berkelompok serta murid duduk saling berhadapan. Hal tersebut bisa dikatakan sebagai aktif fisik. Aktif fisik bukan ciri sebenarnya dari PAKEM karena aktif mental lebih diinginkan. Aktif mental dapat dicirikan seperti sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, serta mengungkapkan gagasan sendiri. Berkembangnya aktif mental yakni tumbuhnya perasaan tidak takut, baik takut ditertawakan, takut diremehkan, ataupun takut dimarahi bila salah. Seorang guru harus bisa menghilangkan rasa takut tersebut baik dari guru itu sendiri maupun dari teman belajarnya. Karena PAKEM sangat bertentangan dengan rasa takut tersebut.
Implikasi PAKEM
Pada implementasi pengajaranPAKEM di sekolah mempunyai berbagai implikasi yang mencakup:
1) Implikasi bagi guru
Guru yang kreatif sangat diperlukan agar tercipta pengajaran yang aktif, efektif, serta menyenangkan. Guru yang kreatif juga harus bisa memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran serta mengaturnya sedemikian rupa agar pengajaran lebih bermakna, menarik, menyenangkan, serta utuh. Oleh karena itu, pengajaran yang berpusat terhadap guru harus dihindari. Ciri-ciri pengajaran yang berpusat pada guru adalah sebagai berikut :
a. Menggunakan buku paket pada pengajaran;
c. Guru mendiktekan apa yang harus dilakukan muridnya; serta
d. Guru yang selalu memberi contoh, ceramah, serta hafalan.
Pengajaran yang berpusat pada guru sebaiknya dihindari karena akan berdampak pada murid yang menjadi makhluk individualis, menurunkan motivasi belajar murid, murid kurang dapat bekerjasama, menjadikan murid yang pasif, serta membuat guru kurang kreatif.