BAB II LANDASAN TEORI
D. Prestasi Belajar
1. Belajar
Menurut Cronbach (Ahmadi, 2013: 127), belajar dapat didefinisikan
sebagai perubahan tingkah laku yang ditunjukkan sebagai hasil dari
pengalaman.
“Learning is shown by change in behaviour as a result of experience.”
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan
belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga
tingkah lakunya berkembang sesuai dengan pengalamannya. Semua aktivitas
dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar itu bukan sekedar
pengalaman. Belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil. Karena itu,
belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan bentuk
perbuatan untuk mencapai tujuan.
Menurut Ahmadi (2013: 128), belajar merupakan suatu proses perubahan
yaitu perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan
tersebut akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku. Artinya, tujuan
kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan,
Menurut Khairani (2014: 3-16), belajar bukan hanya menghafal dan bukan
pula mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuannya, sikap
dan tingkah laku keterampilan, kecakapannya, kemampuannya dan daya
penerimanya. Jadi, belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi
terhadap semua situasi yang ada pada siswa.
Menurut Dewey (Dimyati, 2006: 116), belajar menyangkut apa yang harus
dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa
itu sendiri. Guru adalah pembimbing dan pengarah, yang mengemudikan
perahu, tetapi tenaga untuk menggerakkan perahu tersebut haruslah berasal dari
siswa yang belajar. Sedangkan Gage secara sederhana mengungkapkan bahwa
belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang membuat seseorang
mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang
diperolehnya. Dari batasan belajar yang dikemukakan oleh Dewey serta Gage,
belajar merupakan suatu proses yang melibatkan manusia secara orang per
orang sebagai satu kesatuan organisasi, sehingga terjadi perubahan pada
pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya. Dengan demikian, dalam belajar
orang tidak mungkin melimpahkan tugas-tugas belajarnya kepada orang lain.
Orang yang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajar.
Menurut pandangan dan teori konstruktivisme (Suparno, 1997: 61), belajar
adalah proses aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa
konsep dan ide-ide baru, membandingkan dengan pengetahuan yang telah
mereka punyai. Hal ini karena pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja
dari pikiran guru ke pikiran siswa. Jadi, belajar merupakan proses aktif dari
siswa untuk merekonstruksi pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan
pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya menjadi berkembang.
Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap
diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Pembelajaran yang mengacu pada teori belajar konstruktivisme lebih
memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman.
Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan
dilakukan guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk merekontruksi
sendiri pengetahuannya melalui asilmilasi dan akomodasi. Dalam konstruksi
ini, menekankan bahwa belajar bukan dari proses meniru, tetapi karena siswa
yang berpikir mengenai sesuatu. Siswa diharapkan untuk menjadi pemikir yang
mandiri. Siswalah yang lebih aktif, sedangkan guru sebagai mediator dan
fasilitator dalam proses belajar.
Memang kalau kita bertanya kepada seseorang tentang apakah belajar itu,
akan memperoleh jawaban yang bermacam-macam. Perbedaan pendapat orang
tentang arti belajar itu disebabkan karena adanya kenyataan, bahwa perbuatan
belajar itu sendiri bermacam-macam. Namun dari sejumlah pengertian belajar
yang telah diuraikan di atas, ada kata “perubahan” atau change. Perubahan yang dimaksudkan tentu saja perubahan yang sesuai dengan perubahan yang
sebagai hasil belajar. Oleh karena itu, seseorang yang melakukan aktivitas
belajar dan di akhir dari aktivitasnya itu telah memperoleh perubahan dalam
dirinya dengan pemilikan pengalaman baru, maka individu itu dikatakan telah
belajar.
Dari beberapa definisi belajar yang dikemukakan oleh para ahli mengenai
belajar, nampak adanya beberapa ciri-ciri belajar (Djamarah, 2011: 15-17),
yaitu:
a) Adanya perubahan tingkah laku
Ini berarti bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah
laku yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu,
dari tidak terampil menjadi terampil, dan lain sebagainya. Tanpa
pengamatan dari tingkah laku hasil belajar, orang tidak dapat mengetahui
ada tidaknya hasil belajar. Misalnya saja orang yang belajar itu dapat
membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau dapat melakukan
sesuatu yang sebelumnya ia tidak dapat melakukannya. Karena perubahan
hasil belajar hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang dapat diamati.
b) Perubahan yang terjadi secara sadar
Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan
itu atau merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
Jadi, perubahan tingkah laku individu yang terjadi karena mabuk atau
dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk kategori perubahan dalam
c) Perubahan belajar bersifat aktif
Perubahan yang bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi
dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. Keaktifan di
sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila
hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif,
maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama
halnya siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di
dalam dirinya.
d) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan
yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku
yang benar-benar disadari. Dengan demikian, perbuatan belajar yang
dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkannya.
e) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar
meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar
sesuatu, hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara
menyeluruh dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan
sebagainya. Jadi, aspek perubahan yang satu berhubungan erat dengan
Berdasarkan pengertian belajar yang sudah dikemukakan oleh para ahli,
belajar didefinisikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungan.
2. Prestasi Belajar
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, prestasi berarti hasil yang telah
dicapai dari yang telah dilakukan dan dikerjakan. Nana Sudjana (2004: 3)
mendefinisikan prestasi belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup
bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Dimyati (2006: 190),
prestasi belajar adalah informasi tentang seberapakah perolehan siswa dalam
mencapai tujuan belajar. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa
prestasi merupakan suatu hasil yang dicapai atau pengukuran kemampuan
seseorang dalam penguasaan pengetahuan dan ketrampilan.
Dalam dunia pendidikan, prestasi dan belajar mempunyai hubungan yang
sangat erat. Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar.
Belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar adalah hasil dari
proses pembelajaran tersebut. Prestasi dapat menunjukkan seberapa jauh nilai
yang diperoleh dalam setiap kegiatan atau belajar, sehingga merupakan
cerminan dari tingkatan yang mampu dicapai oleh siswa. Bagi siswa, belajar
merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam
Menurut Djamarah (2011: 175-180), ada beberapa faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar, yaitu faktor yang berasal dari dalam (internal)
dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal berasal dari dalam
diri siswa, meliputi faktor fisiologis (kondisi jasmani) dan psikologis (minat,
intelegensi, motivasi, bakat, dan sikap). Faktor eksternal berasal dari luar diri
siswa meliputi lingkungan fisik, instrumen, dan sosial. Metode mengajar yang
dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh
siswa. Dengan kata lain, metode yang dipakai oleh guru menimbulkan
perbedaan yang berarti bagi proses belajar.