• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

tujuan penelitian. Validitas yang digunakan dalam penelititan ini adalah validitas

isi. Validitas isi digunakan untuk mengukur apakah isi dari instrumen atau item

test yang akan digunakan sungguh mengukur isi dari domain yang mau diukur

(Suparno, 2010: 67-68).

Dalam penelitian ini, instrumen dibuat berdasarkan pada kisi-kisi yang

mengacu pada kompetensi dasar. Validitas isi dalam instrumen penelitian ini

dikembangkan oleh peneliti berdasarkan bimbingan dari dosen dan guru Fisika.

Dosen maupun guru Fisika mengoreksi soal dan jawaban soal, serta memberikan

masukan kepada peneliti. Hasil bimbingan dijadikan pedoman untuk

menyempurnakan isi atau materi item test yang akan digunakan. Hal ini bertujuan

agar validitas isi (content validity) instrumen dapat dipertanggungjawabkan.

Lembar validitas ini dapat dilihat pada Lampiran 11 dan 12.

G.Metode Analisis yang digunakan 1. Analisis Prestasi Belajar Siswa

Pre-test diberikan sebelum siswa mempelajari subbab pembiasan cahaya

pada lensa, sedangkan post-test dilakukan setelah siswa mempelajari mengenai

pembiasan cahaya pada lensa. Soal pre-test dan post-test berhubungan dengan

materi yang dipelajari yaitu pembiasan cahaya pada lensa.

a. Analisis Penskoran

Soal pre-test dan post-test masing-masing terdiri dari 5 soal. Skor

maksimal untuk masing-masing soal benar disesuaikan dengan bobot soal.

Kriteria pemberian skor dapat dilihat pada Lampiran 10. Jumlah skor

jumlah skor masing-masing siswa dibagi dengan skor maksimal dikali

seratus.

b. Analisis Kuantitatif Pre-test dan Post-test.

Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada materi

pembiasan cahaya pada lensa, maka peneliti menggunakan pre-test dan

post-test pada kelas eksperimen I dan II. Adapun statistik yang digunakan

untuk menganalisa pre-test dan post-test pada kelas eksperimen I dan II

adalah menggunakan uji t.

1) Untuk menguji apakah sampel kelompok eksperimen I dengan

eksperimen II sama dalam hal prestasi awal tentang materi pembiasan

cahaya pada lensa, maka digunakan uji-t untuk dua grup independen.

Dalam penelitian ini , maka:

̅ ̅

√[ ]

(1)

Keterangan:

̅ = mean kelas eksperimen I ̅ = mean kelas eksperimen II = jumlah siswa kelas eksperimen I

= jumlah siswa kelas eksperimen II = standar deviasi kelas eksperimen I = standar deviasi kelas eksperimen II df (derajat kebebasan) = N-1

diperoleh dari tabel dengan level signifikan α = 0.05; two tailed

Jika |tobserved| > |tcritcical| maka signifikan, ada perbedaan hasil pre-

test pada kelas eksperimen I dan II. Artinya, ada perbedaan

pengetahuan awal siswa pada kelas eksperimen bebas dan eksperimen

terbimbing dalam materi pembiasan cahaya pada lensa. Jika |tobserved| <

|tcritcical| maka tidak signifikan, berarti tidak ada perbedaan hasil pre-test

pada kelas eksperimen I dan II.

2) Untuk menguji apakah metode eksperimen pada materi pembiasan

cahaya pada lensa dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, maka

digunakan uji-t untuk kelompok yang dependen. Uji-t dependen ini

biasa yang digunakan untuk menguji satu kelompok yang diuji dua kali.

Oleh karena itu, pre-test dan post-test pada kelas eksperimen I dengan

metode eksperimen bebas, maupun pre-test dan post-test pada kelas

eksperimen II dengan metode eksperimen terbimbing dianalisis dengan

uji-t ini. Adapun rumus perhitungan untuk uji-t dependen adalah

sebagai berikut:

̅ ̅ √[∑ ∑ ] (2) Keterangan: ̅ = mean pre-test ̅ = mean post-test

D= perbedaan antara skor tiap subyek N= jumlah pasang skor (jumlah pasangan) df (derajat kebebasan) = N-1

Jika |tobserved| > |tcritcical| maka signifikan, berarti ada peningkatan

prestasi belajar siswa pada materi pembiasan cahaya pada lensa. Jika

|tobserved| < |tcritcical| maka tidak signifikan, berarti tidak ada peningkatan

prestasi belajar siswa pada materi pembiasan cahaya pada lensa.

3) Untuk membandingkan apakah prestasi belajar tentang pembiasan

cahaya pada lensa pada kelas eksperimen I lebih baik dari kelas

eksperimen II, maka digunakan uji-t untuk kelompok yang independen.

Adapun persamaan yang digunakan dapat dilihat pada persamaan (1).

Jika |tobserved| > |tcritcical| maka signifikan. Artinya, ada perbedaan

hasil post-test pada kelas eksperimen I dan II. Jika |tobserved| < |tcritcical|

maka tidak signifikan. Berarti tidak ada perbedaan hasil post-test pada

kelas eksperimen I dan II.

Agar hasil lebih teliti, maka untuk analisa uji-t digunakan program

SPSS 22. Dengan melakukan 4 kali uji-t seperti di atas, peneliti dapat

mengetahui bagaimana efektivitas metode eksperimen bebas dan metode

eksperimen terbimbing terhadap prestasi belajar siswa.

2. Analisis Keaktifan Belajar Siswa

Keaktifan siswa diamati dari kegiatan kelompok maupun individu,

misalnya: mengungkapkan gagasan, melakukan eksperimen, menyampaikan

hasil eksperimen, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, dan

mengerjakan soal latihan. Data keaktifan yang diperoleh masih dalam bentuk

tulisan. Hasil transkrip video juga dianalisis secara deskriptif berdasarkan

indikator yang telah dijelaskan pada Tabel 3.3.

Untuk mengetahui efektivitas metode eksperimen bebas dan metode

eksperimen terbimbing terhadap keaktifan siswa, peneliti menganalisis hasil

observasi secara kualitatif. Kemudian keaktifan siswa dalam kelas eksperimen

I dibandingkan dengan keaktifan siswa pada kelas eksperimen II, serta diambil

BAB IV

DATA DAN ANALISA DATA

A. Deskripsi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 2 Ngaglik pada tanggal 24 April -

27 Mei 2015. Peneliti menggunakan dua kelas yaitu kelas X MIA 2 sebagai kelas

eksperimen I dan X MIA 4 sebagai kelas eksperimen II. Pada kelas eksperimen I,

peneliti menggunakan metode eksperimen bebas, sedangkan kelas eksperimen II

menggunakan eksperimen terbimbing. Jadwal pelajaran Fisika kelas X MIA

dilaksanakan satu kali pertemuan (3x45 menit) dalam satu minggu. Kegiatan

pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4. 1. Kegiatan Pelaksanaan Penelitian

No Kelas Jumlah Waktu Pelaksanaan Kegiatan Siswa Siswa hadir Siswa tidak hadir 1 X MIA 2 29 27 2 4 Mei 2015 (11.00-11.45) - Perkenalan - Pre-test 29 28 1 11 Mei 2015 (08.30-11.00)

- Peneliti menjelaskan materi pembiasan - Eksperimen bebas lensa cembung - Latihan soal

29 28 1 18 Mei 2015 (09.30-11.45)

- Eksperimen bebas lensa cekung - Latihan soal - Post-test 2 X MIA 4 30 30 - 6 Mei 2015 (10.00-11.00) - Perkenalan - Pre-test 30 30 - 13 Mei 2015 (08.30-11.00)

- Peneliti menjelaskan materi pembiasan - Eksperimen terbimbing lensa cembung - Latihan soal

30 29 1 20 Mei 2015 (08.30-11.00)

- Eksperimen terbimbing lensa cekung - Latihan soal

B. Data dan Analisa Data 1. Prestasi Belajar Siswa

Data prestasi belajar berupa nilai pre-test dan post-test untuk

pembelajaran Fisika dengan menggunakan metode eksperimen bebas di kelas

eksperimen I (X MIA 2) dan metode eksperimen terbimbing di kelas

eksperimen II (X MIA 4) dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Nilai pre-test - post-test kelas eksperimen I dan II

No Eksperimen I Eksperimen II

Pre-Test Post-Test Pre-Test Post-Test

1 30.00 73.75 37.50 82.50 2 30.00 85.00 42.50 87.50 3 30.00 81.25 50.00 92.50 4 35.00 77.50 49.38 87.50 5 40.00 85.00 47.50 87.50 6 30.00 78.75 45.00 90.00 7 60.00 72.50 47.50 67.50 8 50.00 77.50 41.88 82.50 9 25.00 80.00 50.00 92.50 10 27.50 82.50 45.00 81.25 11 30.00 75.00 37.50 87.50 12 28.75 72.50 40.00 85.00 13 30.00 80.00 55.00 92.50 14 27.50 70.00 25.00 77.50 15 32.50 80.00 25.00 85.00 16 52.50 80.00 5.00 85.00 17 27.50 75.00 15.00 77.50 18 25.00 77.50 50.00 85.00 19 12.50 80.00 59.38 75.00 20 67.50 75.00 32.50 80.00 21 15.00 85.00 50.00 92.50 22 63.75 85.00 22.50 85.00 23 25.00 75.00 50.00 77.50 24 40.00 85.00 27.50 75.00 25 72.50 85.00 25.00 75.00 26 50.00 72.50 14.38 73.75 27 30.00 76.25 40.00 87.50 28 25.00 82.50 29 12.50 77.50 Rata-rata 36.57 78.75 36.92 83.02

Untuk mengetahui efektivitas metode eksperimen bebas dan eksperimen

terbimbing terhadap prestasi belajar siswa, maka peneliti menggunakan pre-

test dan post-test pada kelas eksperimen I dan II yang dianalisa secara statistik.

Adapun statistik yang digunakan untuk menganalisa pre-test dan post-test pada

kelas eksperimen I dan II adalah menggunakan uji t.

a. Uji t independen pre-test (kelas eksperimen I dan II)

Uji t independen pre-test dilakukan untuk mengetahui apakah data

dari kedua kelas tersebut memiliki varian yang sama atau tidak. Dengan kata

lain, uji t ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel kelompok

eksperimen I (eksperimen bebas) dengan kelompok eksperimen II

(eksperimen terbimbing) sama dalam hal prestasi awal tentang materi

pembiasan cahaya pada lensa. Perhitungan uji t independen pre-test

dilakukan dengan menggunakan program SPSS 22. Hasil analisa data pre-

test dapat dilihat pada Tabel 4.3 seperti berikut:

Berdasarkan data hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS pada

Tabel 4.3, nilai mean pre-test kelas eksperimen I = 36.57 dan nilai mean

pre-test kelas eksperimen II = 36.92. Oleh karena nilai t = -.087, p = .0931 >

= .05, maka tidak signifikan. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan

hasil pre-test pada kelas eksperimen I dan II. Jadi, dapat dikatakan bahwa

kemampuan awal siswa untuk kedua kelas adalah sama.

b. Uji t dependen pre-test dan post-test pada kelas eksperimen I

Untuk menguji apakah metode eksperimen bebas pada materi

pembiasan cahaya pada lensa dapat meningkatkan prestasi belajar siswa,

maka pre-test dan post-test dianalisa dengan uji t untuk kelompok

dependen. Hasil perhitungan menggunakan program SPSS dapat dilihat

pada Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4. Perbandingan pre-test dan post-test pada kelas eksperimen I

Berdasarkan data hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS pada

karena nilai t = -13.73, p = .000 < = .05, maka signifikan. Hal ini

menunjukkan ada perbedaan hasil pre-test dan post-test. Dengan kata lain

ada peningkatan prestasi belajar pada kelas eksperimen bebas.

c. Uji t dependen pre-test dan post-test pada kelas eksperimen II

Untuk menguji apakah metode eksperimen terbimbing pada materi

pembiasan cahaya pada lensa dapat meningkatkan prestasi belajar siswa,

maka pre-test dan post-test dianalisa dengan uji test-t untuk kelompok

dependen. Hasil perhitungan menggunakan program SPSS dapat dilihat

pada Tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5. Perbandingan pre-test dan post-test pada kelas eksperimen II

Berdasarkan data hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS pada

Tabel 4.5, nilai mean pre-test = 36.81 dan nilai mean post-test = 83.02. Oleh

karena nilai t = -18.54, p = .000 < = .05, maka signifikan. Hal ini

menunjukkan ada perbedaan hasil pre-test dan post-test. Dengan kata lain

d. Uji t independen post-test (kelas eksperimen I dan II)

Hasil analisa data menunjukkan bahwa ada peningkatan prestasi

belajar fisika baik yang menggunakan metode eksperimen bebas maupun

eksperimen terbimbing. Maka, untuk mengetahui metode eksperimen mana

yang lebih meningkatkan prestasi belajar siswa, pengujian mean post-test

dianalisa dengan statistik uji-t dua sampel independen (Independent-

Samples T test). Hasil output analisa menggunakan SPSS dapat dilihat pada

Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Perbandingan post-test kelas eksperimen I dan II

Berdasarkan data hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS pada

Tabel 4.6, nilai mean post-test kelas eksperimen I = 78.75 dan nilai mean

post-test kelas eksperimen II = 83.02. Oleh karena nilai t = -2.86, p = .006 <

= .05, maka signifikan. Artinya bahwa ada perbedaan hasil post-test kelas

Oleh karena mean post-test kelas eksperimen I lebih kecil daripada

kelas eksperimen II, maka menandakan prestasi belajar menggunakan

metode eksperimen terbimbing lebih efektif dibandingkan dengan metode

eksperimen bebas.

2. Keaktifan Siswa

Data keaktifan siswa selama proses belajar mengajar diperoleh melalui

rekaman video. Agar memudahkan dalam menganalisa keaktifan siswa,

rekaman video tersebut ditranskrip atau dideskripsikan terlebih dahulu dalam

bentuk tulisan. Hasil transkrip video dapat dilihat pada Lampiran 18.

Berdasarkan data rekaman video yang sudah ditranskrip, peneliti

mendeskripsikan secara umum bagaimana keaktifan siswa selama proses

pembelajaran sesuai dengan indikator keaktifan pada bab 3. Kemudian

deskripsi untuk setiap indikator pada kelas eksperimen I dan II dibandingkan

serta ditarik kesimpulan secara deskriptif. Hasil analisa keaktifan belajar sesuai

dengan indikator seperti berikut:

1) Mengungkapkan gagasan

Selama pembelajaran pada kelas eksperimen I, hanya beberapa siswa

yang menyampaikan gagasan terkait materi kepada peneliti. Namun yang

terlihat lebih sering adalah ketika siswa menyampaikan gagasan kepada

temannya. Misalnya seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1 yaitu

ketika siswa ada yang mencoba meletakkan lensa cembung terlalu dekat

Siswa lainnya langsung memberi tahu jika jarak antara lensa cembung dan

lilin terlalu dekat maka tidak bisa atau tidak ada hasil bayangannya. Begitu

pula pada Gambar 4.2 yang menunjukkan salah satu siswa yang

memberikan pendapat kepada temannya tentang hasil bayangan yang

terbentuk bisa sedemikian karena permukaan lensa yang cekung.

Pada kelas eksperimen II, siswa menyampaikan gagasan ketika ada

perbedaan hasil yang siswa dapatkan dengan siswa lain. Sebagai contoh

ketika ada kelompok siswa yang menyampaikan hasil percobaan tentang

sifat bayangan yang terbentuk, ternyata ada kelompok lain yang

mendapatkan sifat bayangan yang berbeda. Beberapa dari mereka juga

menyampaikan pendapat ketika peneliti memberikan suatu contoh

permasalahan dalam kehidupan sehari-hari terkait materi pembiasan.

Gambar 4.1. Siswa yang memberikan gagasan kepada teman sekelompok.

Gambar 4.2. Siswa yang memberi tahu pendapatnya kepada teman kelompok.

Berdasarkan deskripsi di atas, siswa pada kelas eksperimen I dan II

terkadang mengungkapkan gagasannya kepada peneliti. Meskipun

sebenarnya ketika di dalam kelompok, siswa berdiskusi dan saling

menyampaikan pendapatnya. Bahkan ketika peneliti berada di kelompok,

sebagian siswa juga menyampaikan gagasannya kepada peneliti. Hal ini

karena yang tertangkap dan terdengar pada rekaman video hanyalah

beberapa momen saat siswa berdiskusi dengan siswa lain. Terutama

kelompok siswa yang paling dekat dengan posisi handycam. Oleh karena

itu, siswa di bagian yang jauh terhadap handycam, terlihat sedang

melakukan diskusi, namun apa yang mereka diskusikan tidak terdengar

pada rekaman video.

2) Menyampaikan hasil percobaan

Setelah selesai percobaan, peneliti menyuruh siswa menyampaikan

hasil percobaan. Pada kelas eksperimen I, hasil percobaan berbeda-beda

karena data yang diambil memang berbeda. Peneliti mempersilahkan

perwakilan siswa untuk mempresentasikan hasil percobaannya. Akhirnya

ada salah satu siswa yang mau untuk menyampaikan hasil percobaan di

depan kelas seperti pada Gambar 4.3. Begitu pula pada kelas eksperimen

II. Peneliti mempersilahkan kepada siswa untuk menyampaikan hasil

percobaannya. Pada Gambar 4.4 terlihat bahwa beberapa siswa di kelas

eksperimen II mengangkat tangan untuk menyampaikan hasil

percobaannya. Pada kelas eksperimen II, semua kelompok memperoleh

Dari penjelasan tersebut, siswa kelas eksperimen II lebih terlihat

antusias. Sebagian siswa sampai berebutan untuk menyampaikan hasil

percobaan. Pada kelas eksperimen, hanya beberapa siswa saja yang mau

mempresentasikan hasil percobaannya. Jadi dapat dikatakan bahwa siswa

yang menyampaikan hasil percobaan pada kelas eksperimen II lebih aktif

dibandingkan dengan kelas eksperimen I.

3) Melakukan percobaan

Pada kelas eksperimen I dan II, semua siswa berpartisipasi saat

melakukan percobaan. Hal yang terlihat jelas selama eksperimen adalah

siswa kelas eksperimen I terlihat bingung ketika melakukan percobaan.

Hal tersebut karena siswa harus mencari sendiri prosedur percobaan.

Kebanyakan dari mereka menggunakan buku paket serta modul yang telah

mereka miliki dari guru Fisika. Mereka harus memahami sendiri prosedur

yang telah mereka dapatkan dari sumbernya. Kemudian mempraktikkan

Gambar 4.4. Antusiasme siswa untuk menyampaikan hasil percobaan. Gambar 4.3. Siswa yang mempresentasikan dan

percobaan tersebut. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5, siswa

masih mencoba-coba memposisikan alat untuk mendapatkan bayangan

yang jelas. Selama percobaan, setiap kelompok siswa membagi tugasnya.

Ada siswa yang memposisikan alat-alat percobaan, menggeser-geser lensa,

membaca skala yang ditunjuk pada penggaris serta ada yang mencatat

data.

Pada kelas eksperimen II, siswa langsung dapat mempraktikkan

percobaanya karena sudah ada prosedur pada LKSnya. Awalnya sebagian

siswa mengambil alat percobaan di depan kelas. Setelah mendapatkan alat

percobaan, sebagian siswa dari setiap kelompok membaca prosedur di

LKS dan langsung memposisikan alat sesuai dengan prosedur. Pada

Gambar 4.6 memperlihatkan kelompok siswa yang menempatkan alat dan

mengukur jarak benda sesuai dengan prosedur di LKS. Siswa pada kelas

ini juga membagi tugasnya ketika percobaan. Ada siswa yang

memposisikan alat-alat percobaan, menggeser-geser lensa, membaca skala

yang ditunjuk pada penggaris serta ada yang mencatat data.

Gambar 4.6. Kelompok siswa yang sedang mengukur jarak lilin dan lensa secara bersama-sama. Gambar 4.5. Siswa yang mencoba-coba melakukan

Dari penjelasan tersebut, terlihat jika siswa pada kedua kelas tidak

terlalu berbeda saat melakukan percobaan. Mereka sama-sama membagi

tugas untuk kepada setiap anggota kelompok. Perbedaan terjadi karena

memang kelas eksperimen I lebih diberi kebebasan dalam melakukan

percobaan dibandingkan dengan kelas eksperimen II. Sebagian besar siswa

terlibat aktif dalam melaksanakan percobaan.

4) Mengerjakan latihan soal

Selama peneliti memberikan latihan soal, sebagian siswa langsung

mencoba untuk menyelesaikan persoalan, baik siswa kelas eksperimen I

dan II. Beberapa dari mereka mengerjakan secara bersama teman satu

kelompoknya dan ada juga yang mengerjakan sendiri. Meskipun demikian,

ada juga beberapa siswa yang tidak mengerjakan soal latihan. Hal ini

peneliti dapati ketika mengecek pekerjaan siswa. Jumlah siswa yang

mengerjakan soal di papan tulis pada masing-masing kelas adalah tiga

siswa. Dari kelas eksperimen I, ada beberapa siswa yang menawarkan diri

untuk mengerjakan dan akhirnya maju mengerjakan di papan tulis seperti

pada Gambar 4.7. Sama halnya dengan siswa kelas eksperimen II yang

mengangkat tangan supaya dipilih peneliti mengerjakan latihan soal di

depan kelas. Kemudian dua siswapun mengerjakan soal di papan tulis

Berdasarkan gambaran di atas, siswa pada kelas eksperimen I dan II

tidak berbeda dalam hal mengerjakan latihan soal. Hal ini ditunjukkan

dengan jumlah siswa yang mengerjakan soalpun hampir sama dan yang

mengerjakan soal latihan di depan kelaspun sama.

5) Mengajukan Pertanyaan

Pada kelas eksperimen I, siswa sering menanyakan atau

mengkonfirmasi kepada peneliti tentang prosedur atau hasil percobaan

yang mereka dapatkan sudah benar apa belum. Namun juga banyak dari

siswa tersebut yang bertanya karena tidak tahu apa yang harus mereka

lakukan selanjutnya. Sebagian siswa bahkan sering berjalan mendatangi

peneliti untuk bertanya seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.9. Mereka

juga sering melihat kelompok lain saat ada yang mereka tidak tahu.

Pada kelas eksperimen II, siswa jarang bertanya kepada peneliti.

Hanya beberapa siswa saja yang terkadang bertanya menghampiri peneliti.

Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.10 dimana siswa yang

mengangkat tangan sedang memanggil peneliti dan bertanya tentang hasil

percobaan yang telah siswa tersebut lakukan.

Gambar 4.8. Siswa kelas eksperimen I yang sedang menyelesaikan soal di depan kelas.

Gambar 4.7. Siswa kelas eksperimen II yang sedang mengerjakan soal di depan kelas.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa di kelas

eksperimen I lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan kepada peneliti

maupun siswa lainnya daripada siswa di kelas eksperimen II.

6) Menjawab pertanyaan

Sebelum percobaan dan setelah percobaan peneliti selalu

memberikan pertanyaan kepada siswa kelas eksperimen I dan II. Pada

Gambar 4.11 terlihat kondisi siswa kelas eksperimen II yang berebutan

menjawab pertanyaan peneliti. Pada Gambar 4.12 ditunjukkan bagaimana

siswa kelas eksperimen I mendengarkan pertanyaan peneliti tapi tidak

berusaha menjawab. Namun jika ada salah satu siswa menjawab, siswa

lainpun juga mulai ikutan menjawab. Selama percobaan pun terkadang

peneliti bertanya kepada setiap kelompok dan sebagian dari anggota

kelompok menjawab pertanyaan dari peneliti.

Gambar 4.10. Siswa yang sedang bertanya kepada peneliti.

Gambar 4.9. Siswa yang sedang memanggil peneliti untuk bertanya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa di kelas

eksperimen II lebih aktif dalam menjawab pertanyaan daripada siswa di

kelas eksperimen I.

Berdasarkan analisa data keaktifan di atas, dibuat tabel perbandingan

keaktifan siswa kelas eksperimen I dan II seperti pada Tabel 4.7. Secara umum

keaktifan siswa antara kelas eksperimen I dan II selama proses pembelajaran

tidak terlalu berbeda karena selama proses pembelajaran kedua kelas sama-

sama menggunakan metode eksperimen. Keaktifan siswa yang sama pada

kedua kelas sesuai dengan indikator adalah mengungkapkan gagasan dan

latihan soal. Dalam hal menyampaikan hasil percobaan dan menjawab

pertanyaan, siswa kelas eksperimen II terlihat lebih antusias dan aktif

dibandingkan dengan kelas eksperimen I. Kemudian bahwa siswa kelas

eksperimen I memang lebih aktif dalam hal mengajukan pertanyaan dan

melakukan percobaan dibandingkan kelas eksperimen II.

Gambar 4.11. Suasana kelas eksperimen I ketika siswa sedang ditanya oleh peneliti. Gambar 4.12. Antusiasme siswa yang mau

Tabel 4. 7. Perbandingan keaktifan siswa kelas eksperimen I dan II.

No Indikator

Kelas

Eksperimen I Eksperimen II 1 Mengungkapkan gagasan Cukup aktif Cukup aktif 2 Menyampaikan hasil percobaan Cukup aktif Aktif

3 Melakukan percobaan Aktif Cukup aktif

4 Mengerjakan latihan soal Cukup aktif Cukup aktif

5 Mengajukan pertanyaan Aktif Cukup aktif

6 Menjawab pertanyaan Cukup aktif Aktif

Perbedaan itu salah satunya adalah karena jenis metode eksperimen yang

berbeda. Kelas eksperimen I lebih diberi kebebasan dalam mencapai tujuan

pembelajaran, sedangkan kelas eksperimen II lebih mengacu pada LKS. Jadi,

meskipun secara psikomotorik siswa kelas eksperimen I lebih terlibat aktif

dalam percobaan, namun keterlibatan siswa tidak dikonstruksikan dengan baik.

Artinya hanya fisik siswa yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif,

sehingga tujuan pembelajaran pun tidak tercapai secara maksimal. Berdasarkan

analisa data tersebut dapat dikatakan bahwa penerapan metode eksperimen

terbimbing lebih efektif dibandingkan dengan metode eksperimen bebas.

3. Kaitan Keaktifan dengan Prestasi Belajar

Berdasarkan hasil analisa keaktifan dan prestasi belajar siswa di atas,

dapat dilihat bahwa siswa yang lebih aktif dalam melakukan percobaan dan

dengan siswa pada kelas eksperimen II. Hal ini berbeda dengan penelitian yang

dilakukan Rozaq (2009), dimana nilai rata-rata prestasi belajar fisika (post-test)

kelas eksperimen konstruktivis lebih tinggi dibandingkan dengan kelas

eksperimen terbimbing. Padahal, jika dilihat dari teori konstruktivisme, metode

Dokumen terkait