BAB II : LANDASAN TEORI
1. Belajar, Teori Belajar dan Pembelajaran
Dalam kehidupan kegiatan belajar atau proses pencarian ilmu di mulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Dan setiap saat dalam kehidupan terjadi proses belajar mengajar. Islam telah menganjurkan perintah untuk belajar. Karena belajar memberi kebaikan kepada kehidupan manusia. Sebagaimana wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah untuk membaca. Firman Allah SWT Q.S Al-Alaq Ayat 1-5:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraann kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya”. (Q.S. al-„Alaq/96: 1-5)
Dari Al-Qur‟an surat Al alaq ayat 1-5 bahwa Allah memerintahkan manusia untuk membaca sekalipun tidak bisa menulis, dengan mempelajari apa yang telah diciptakan-Nya yaitu al-Qur‟an dan semesta alam. Kemudian Allah menciptakan manusia dari segumpal darah dan membekalinya
dengan akal pikiran sehingga bisa mempelajari seluruh isi bumi. 1
a. Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluargannya sendiri.2
Menurut Pidarta (2000:197) yang diikuti dalam buku Belajar dan Pembelajaran karya Indah Komsiyah,
“Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen
sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu
mengkomunikasikannnya kepada orang lain”.3
Sebagaimana diketahui bahwa belajar merupakan kegiatan yang berlangsung di dalam suatu proses dan terarah ke pencapaian suatu tujuan tertentu. Meskipun belajar merupakan suatu kegiatan yang sangat kompleks
1
Ahmad Musthofa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy 30, (Semarang: Toha Putra, 1985), hlm. 325.
2
Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 1.
3
ke arah banyaknya faktor yang mempengaruhi dan liputan aspek-aspek di dalamnya, namun juga dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau azas-azas belajar.
Prinsip-prinsip belajar tersebut antara lain sebagai berikut:
1) Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan timbal balik, saling mempengaruhi secara dinamis antara anak didik dan lingkungannya.
2) Belajar harus selalu bertujuan, terarah dan jelas bagi anak didik.
3) Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam dirinya sendiri.
4) Belajar selalu menghadapi rintangan dan hambatan. Oleh karenanya anak didik harus sanggup mengatasi secara tepat.
5) Belajar memerlukan bimbingan.
6) Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berfikir kritis, lebih baik dari pada pembentukan kebiasaan-kebiasaan romantis.
7) Cara belajar yang paling efektif adalah dalam pemecahan masalah melalui kerja kelompok.
8) Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang di pelajari, sehingga memperoleh pengertian-pengertian. 9) Belajar memerlukan latihan-latihan dan ulangan-ulangan agar yang diperoleh atau dipelajari dapat dikuasai.
10) Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan atau hasil.
11)Belajar di anggap berhasil apabila si anak didik telah sanggup mentransferkan dan menerapkannya ke dalam praktek sehari-hari.4
4
b. Teori Belajar
Para guru, perencana pembelajaran, dan pengembang program pembelajaran yang profesional perlu memilih teori belajar yang relevan dan tepat untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan. Adapun aplikasi teori belajar yang dapat dipilih meliputi:5
1) Teori belajar behaviorisme
Menurut teori behaviorisme, manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman-pengalaman belajar6. Dalam teori ini terpenting adalah masukan input yang berupa stimulasi dan keluaran atau output yang berupa respons. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut tori behaviorisme, apa yang terjadi diantara
5
Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran, hlm. 34.
6
stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diukur.7
2) Teori belajar kognitif
Menurut teori kognitif, belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini, tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan dan perubahan tingkah laku sangat dipengaruhi oleh proses berpikir internal yang terjadi selama proses belajar.8
Dalam praktek pembelajaran teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti
“tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh
J. Piaget Advance organizer oleh Ausebel, dengan pemahaman konsep oleh Bruner.9
Ketiga tokoh aliran kognitif di atas secara umum memilih pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan
7
Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm 20.
8
Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran, hlm. 37.
9
akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu Bruner lebih banyak lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktifitas menemukan (discovery). Ausebel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu. Dalam proses belajar lebih banyak menekankan pada cara berfikir deduktif. Hal ini tampak dari konsepsinya mengenai Advance organizer sebagai kerangka konseptual tentang isi pelajaran yang akan dipelajari siswa.10
3) Teori belajar humanisme
Menurut teori humanisme proses belajar harus dimulai dan ditunjukkan untuk kepentingan memanusiakan manusia, yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, dan realisasi diri peserta didik yang belajar secara optimal. Proses belajar dianggap berhasil apabila peserta didik telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
4) Teori belajar sibernetik
Menurut teori sibernertik, belajar adalah mengolah informasi. Proses belajar dianggap penting, tetapi yang dianggap penting lagi adalah sistem informasi yang akan diproses dan akan dipelajari oleh
10
peserta didik. Oleh karena itu, proses belajar akan sangat ditentukan oleh sistem informasi.11
5) Teori konstruktivisme
Proses belajar konstruktivistik secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa, kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya12.
c. Pembelajaran
Menurut Miarso, (2004:528) yang dikutip dalam buku Belajar dan pembelajaran karya Indah Komsiyah,
“Pembelajaran adalah mengelola lingkungan dengan
sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu”. Menurut Warsita, “Pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri, peserta didik. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan
kegiatan belajar pada para peserta didiknya”.13
11
Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran, hlm. 41.
12
Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, hlm. 59.
13
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar di suatu lingkungan belajar.14