BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Prinsip tata kelola yang baik merupakan prinsip pokok yang harus
diberlakukan di seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Untuk
menciptakan tata kelola yang baik diperlukan penguatan sistem dan
kelembagaan dengan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Atas dasar hal tersebut, sesuai dengan amanat Pasal 23C UUD 1945
tentang Keuangan Negara perlu dijabarkan aturan pokok yang telah ditetapkan
dalam UUD ke dalam asas asas umum dalam pengelolaan keuangan negara
yang meliputi asas tahunan, universalitas, kesatuan, dan asas spesialitas.
Selain asas tersebut dalam rangka penerapan kaidah-kaidah yang baik
dalam pengelolaan keuangan negara juga ditetapkan asas akuntabilitas
berorientasi pada hasil, profesionalitas, proporsionalitas, keterbukaan dalam
pengelolaan keuangan negara, dan pemeriksaan oleh badan pemeriksa yang
bebas dan mandiri. Salah satu bentuk konkrit untuk mewujudkan transparansi
dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah dengan diadakannya
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang
mensyaratkan bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) disusun dan disajikan sesuai dengan standar
Sesuai dengan amanat Undang undang Pasal 32 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Pasal 184 ayat
(3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan yang terakhir peraturan
pemerintah republik indonesia nomor 71 tahun 2010 tentang standar akuntansi
pemerintahan menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan. SAP merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan
dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan
demikian, SAP merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum
dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di
Indonesia.
Mardiasmo (2004:12) mengatakan, instansi pemerintah wajib melakukan
pengelolaan keuangan serta mempertanggungjawabkan pelaksanaan
keuangannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang didasarkan pada
perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Dalam rangka
pertanggungjawaban tersebut diperlukan penerapan sistem pelaporan
keuangan yang tepat, jelas dan terukur sesuai dengan prinsip transparansi dan
akuntabilitas. Oleh karena itu diperlukan upaya reformasi dan pengembangan,
khususnya di bidang akuntansi kepemerintahan, yang berkesinambungan
Dengan adanya laporan keuangan, baik keuangan pusat maupun daerah
diharapkan dapat dikelola dengan baik dalam rangka mengelola dana publik
secara transparan, ekonomis, efisien, efektif dan akuntabel. Adanya laporan
keuangan tersebut perlu dipertimbangkan lebih lanjut kegunaan laporan
sebagai suatu kewajiban belaka tanpa menjadikan keuangan itu sebagai
sumber informasi untuk menentukan dan mengambil kebijakan dalam
mengembangkan dan menumbuhkan wilayahnya.
Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan
pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip
tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan
yang telah diterima secara umum.
Pada tahun 2010 Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah (PP)
nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar ini
dibutuhkan dalam rangka penyusunan laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD. Tujuan diberlakukannya hal tersebut adalah agar
laporan keuangan lebih accountable dan semakin diperlukannya peningkatan
kualitas laporan keuangan.
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu
entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan
kriteria karakteristik kualitatif laporan keuangan pemerintah seperti yang
disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, berarti
pemerintah daerah mampu mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam
pengelolaan keuangan daerah.
Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan yang dihasilkan oleh
pemerintah daerah harus sesuai dengan kriteria nilai informasi yang
disyaratkan peraturan perundang-undangan. Apabila tidak sesuai dengan
perundang-undangan, maka akan mengakibatkan kerugian daerah, potensi
kekurangan daerah, kekurangan penerimaan, kelemahan administrasi,
ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakfektifan (Yuliani, 2010)
Dalam mewujudkan prinsip tata kelola keuangan yang baik, Pengeloaan
Keuangan dilaksanakan dalam sistem penerapan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan
gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam
mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah, sehingga analisis
pengelolaan keuangan daerah menjelaskan tentang aspek kebijakan keuangan
daerah, yang berkaitan dengan pendapatan , belanja dan pembiayaan daerah
guna mewujudkan Visi dan Misi.
Penerapan akuntansi yang baik oleh instansi pemerintah serta pengawasan
yang optimal dari pihak internal maupun pihak eksternal terhadap kualitas
laporan keuangan instansi pemerintah diharapkan akan dapat memperbaiki
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sehingga kinerja penyelenggaraan
akuntabilitas dan kinerja instansi pemerintah diharapkan akan berimplikasi
pada minimalnya praktik korupsi sehingga diharapkan good governance dapat
diwujudkan oleh pemerintah Indonesia baik tingkat pusat maupun tingkat
daerah.
Dalam laporan keuangan suatu entitas, penyajian dan pengungkapan
informasi aset tetap menjadi sangat penting. Karena aset tetap biasanya
merupakan aset yang nilainya paling besar dalam neraca suatu entitas.
Dibeberapa entitas atau referensi akuntansi yang lain, asset tetap umumnya
direferensikan sebagai property, plant, dan equipment yang meliputi tanah
gedung kantor, gedung pabrik, peralatan, dan lain-lain. Aset tetap
dilingkungan akuntansi pemerintahan di Indonesia didefinisikan sebagai asset
berwujud yang memiliki masa manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan
dalam kegiatan pemerintahan atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
Semua aset tetap milik instansi memerlukan biaya perawatan dan
pemeliharan agar dapat digunakan sesuai dengan rencana. Aset tetap pada
yang memiliki umur lebih dari setahun tidak mudah dijadikan kas. Oleh
karena itu, diperlukan pengendalian dan pengawasan internal yang begitu
besar terhadap aset tetap. Pengendalian dan pengawasan tersebut dilakukan
untuk melindungi aset dari pencurian, penggelapan, penyalahgunaan, atau
penempatan aset pada lokasi yang tidak tepat.
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan No. 07 adalah standar yang
ini diterapkan untuk seluruh unit pemerintah yang menyajikan laporan
keuangan untuk tujuan umum dan mengatur tentang perlakuan akuntansinya.
Baik itu pengakuan, pengukuran atau pengungkapan yang digunakan. Apakah
akuntansi aset tetap yang dilaksanakan telah sesuai dengan standar yang
ditetapkan pemerintah.
Pengendalian internal yang sering juga disebut sebagai pengendalian
manajemen dalam pengertian yang paling luas mencakup lingkungan
pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan
komunikasi, dan pemantauan. Pengendalian internal berfungsi sebagai lini
depan untuk menjaga aset dan mendeteksi terjadinya kesalahan, kecurangan,
penyimpangan dan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangan-
undangan (Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, 2007:72). Sistem
pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran -
ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek
ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong
dipatuhinya kebijakan manajemen. Dari definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa sistem pengendalian internal sangat penting dalam menjaga aset
perusahaan dan mencegah terjadinya kecurangan yang disengaja oleh pihak
tertentu.
Pengendalian internal yang efektif adalah mengurangi kecenderungan
kecurangan akuntansi. Pengendalian internal (internal control) merupakan
dijalankan didesain untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang
dipenuhunya tujuan pengendalian,yaitu :
1. Keandalan pelaporan keuangan
2. Efektivitas dan efisiensi operasi
3. Keputusan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
Dengan menetapkan serta menerapkan pengendalian internal secara baik
dan benar pada suatu instansi maka instansi tersebut akan menjadi lebih
mudah dalam mencapai suatu tujuan dan dapat meminimalkan resiko. Salah
satu pelanggaran pengendalian internal yang paling serius adalah kecurangan
yang dilakukan oleh pegawai. Kecurangan pegawai (employee fraud) adalah
tindakan yang disengaja untuk menipu perusahaan demi keuntungan pribadi.
Penipuan ini meliputi pencurian kecil-kecilan, seperti lebih catat beban
perjalan dinas dengan sengaja, hingga penggelapan uang miliaran rupiah
melalui skema penipuan yang rumit.
Personel yang kompeten, rotasi kerja, dan cuti wajib sistem akuntansi yang
berhasil membutuhkan prosedur-prosedur untuk memastikan bahwa setiap
orang dapat melaksanakan tugas yang diberikan. Oleh karena itu, sangat
penting bagi staf akuntan untuk mendapatkan pelatihan dan pengawasan yang
memadai dalam melakukan pekerjaannya. Disarankan juga untuk merotasi
kerja pegawai kleris (yang bertugas melakukan pencatatan dan menyimpan
catatan akuntansi), serta memberikan cuti wajib bagi pegawai yang tidak
akan mendorong pegawai untuk mematuhi prosedur yang telah ditetapkan.
Kesalahan atau kecurangan yang terjadi mungkin dapat dideteksi.
Penelitian ini merupakan penelitian yang melanjutkan penelitian -
penelitian sebelumnya. Penelitian sejenis yang dilakukan umumnya dilakukan
dengan kombinasi variabel yang berbeda, dan kalaupun variabel yang diteliti,
tempat penelitian berbeda.
Oleh karena itu, sesuai dengan uraian diatas dapat dilihat pentingnya
penerapan agar system pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Maka dari
itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan, Kualitas Aparatur Pemerintah, Dan Implementasi Aset Tetap Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dengan Pengendalian Internal Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat”.