BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Kerangka Konseptual dan Pengembangan Hipotesis
Kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual 2.5.2 Pengembangan hipotesis
Pengaruh Persistensi Laba terhadap ERC
Laba berperan penting untuk menilai kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang, meramalkan laba dan menaksir risiko dalam berinvestasi.
Investor membutuhkan laba yang berkualitas untuk menjamin informasi H3
laba tersebut bermanfaat. Persistensi laba mencerminkan kualitas laba perusahaan dan menunjukkan bahwa perusahaan dapat mempertahankan laba dari waktu ke waktu. Menurut Scott (2003), persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham. Semakin tinggi persistensi laba maka semakin tinggi ERC.
Beberapa hasil dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap Earnings Response Coefficient (Kormendi dan Lipe, 1987; Teoh dan Wong, 1993; Mulyani dkk, 2007). Namun penelitian Susanto (2012) menunjukkan bahwa persistensi laba tidak berpengaruh terhadap ERC.
H1: Persistensi laba berpengaruh positif terhadap ERC.
Pengaruh Income Smoothing terhadap ERC
Perilaku investor yang menjadikan laba sebagai salah informasi utama dalam melakukan penilaian terhadap perusahaan cenderung mendorong manajemen untuk melakukan manajemen laba, salah satunya adalah income smoothing. Income smoothing dilakukan untuk mengurangi variabilitas laba yang dilaporkan agar dapat mengurangi risiko pasar atas saham perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga saham perusahaan. Income smoothing merupakan salah satu cara yang dilakukan perusahaan untuk memenuhi keinginan pasar. Dengan melakukan income smoothing, pihak perusahaan berharap
agar laba yang diumumkan mempunyai respon yang baik juga. Collins dan Kothari (1989) menyatakan bahwa respon pasar terhadap laba masing-masing perusahaan dapat bervariasi antar perusahaan maupun antar waktu. Hal ini menunjukan bahwa ERC tidak selalu konstan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wang dan Williams (1994) menyatakan laba yang stabil (rata) lebih disukai oleh pemegang saham karena laba yang stabil mencerminkan rendahnya resiko. Penelitian Harahap (2004) menunjukkan bahwa perataan laba berhubungan positif terhadap koefisien respon laba. Namun penelitian yang dilakukan Yuarta (2005) mengungkapkan bahwa respon pasar terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba tidak berbeda dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba.
H2: Income smoothing berpengaruh positif terhadap ERC.
Pengaruh Persistensi Laba dan Income Smoothing terhadap ERC Semakin tinggi persistensi laba maka semakin tinggi ERC.
Perusahaan yang melakukan income smoothing tentu berharap agar laba yang diumumkannya sesuai dengan ekspektasi investor. Income smoothing merupakan salah satu cara yang dilakukan perusahaan untuk memenuhi keinginan pasar. Dengan melakukan income smoothing, pihak perusahaan berharap agar laba yang diumuunkan mempunyai respon yang baik juga.
H3: Persistensi laba dan income smoothing secara simultan berpengaruh terhadap ERC.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausal-asosiatif, yaitu penelitian yang meneliti pengaruh dari beberapa variabel terhadap variabel lain atau memiliki masalah berupa sebab akibat antara dua variabel atau lebih.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif karena pengujiannya menggunakan data berupa angka dan diolah dengan prosedur statistik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara persistensi laba dan income smoothing terhadap Earnings Response Coefficient pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI pada periode 2012-2014.
3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran 3.2.1 Variabel dependen
Variabel dependen penelitian ini adalah Earnings Response Coefficient (ERC). ERC digunakan untuk menjelaskan perbedaan reaksi pasar terhadap informasi laba yang diumumkan oleh perusahaan (Scott, 2003). ERC merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi. Proksi harga saham adalah cumulative abnormal return (CAR), sedangkan proksi laba adalah unexpected earnings (UE).
Perhitungan ERC dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah dengan menghitung CAR. CAR merupakan penjumlahan abnormal return (AR) selama periode pengamatan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan periode jendela selama 11 hari, yaitu 5 hari sebelum publikasi laporan keuangan, 1 hari pada saat publikasi laporan keuangan, dan 5 hari setelah publikasi laporan keuangan. CAR dihitung dengan rumus:
πΆπ΄π π(β5,+5) = β π΄π ππ‘
+5
π‘=β5
Keterangan:
CARi(-5,+5) : abnormal return kumulatif perusahaan i selama periode pengamatan.
ARit : abnormal return perusahaan i pada hari t.
Abnormal return menunjukan respon pasar terhadap peristiwa, seperti pengumuman dividen, merger, stock split, penawaran perdana saham, dll. Abnormal return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap normal return. Normal return merupakan return yang diharapkan oleh investor. Dalam penelitian ini abnormal return dihitung menggunakan market-adjusted model yang mengasumsikan bahwa pengukuran normal return atau return ekspektasi yang terbaik adalah return indeks pasar. Berikut adalah rumus untuk menghitung abnormal return diperoleh dari :
π΄π ππ‘ = π ππ‘β π ππ‘
Dimana:
π ππ‘ =πππ‘ β πππ‘β1 πππ‘β1
π ππ‘ =πΌπ»ππΊπ‘β πΌπ»ππΊπ‘β1 πΌπ»ππΊπ‘β1 Keterangan:
ARit : abnormal return perusahaan i pada waktu t.
Rit : return harian perusahaan i pada waktu t.
Rmt : return pasar harian pada waktu t.
Pit : harga saham perusahaan i pada waktu t.
Pit-1 : harga saham perusahaan i pada waktu t-1.
IHSGi : Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t.
IHSGt-1 : Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t-1.
Tahap kedua adalah dengan menghitung unexpected earnings (UE) masing-masing perusahaan. UE adalah perubahan laba per saham tahun sekarang dikurangi dengan laba persaham tahun sebelumnya, dan diskalakan dengan harga perlembar saham pada akhir periode sebelumnya.
ππΈππ‘ =πΈππππ‘ β πΈππππ‘β1
|πππ‘β1| Keterangan:
UEit : unexpected earnings perusahaan i pada periode t.
EPSit : Earnings per Share perusahaan i pada periode t.
EPSit-1 : Earnings per Share perusahaan i pada periode t-1.
P : harga saham perusahaan i pada waktu t-1.
Kemudian earnings response coefficient akan diukur berdasarkan slope koefisien pada hubungan CAR dan UE, yaitu:
πΆπ΄π ππ‘ = πΌ0+ πΌ1ππΈππ‘+ πΌππ‘π ππ‘+ πππ‘ Keterangan:
CARit : CAR perusahaan i pada periode t.
UEit : unexpected earnings perusahaan i pada periode t.
Rit : return perusahaan i pada periode t.
Ξ±0 : konstanta
Ξ±1 : earnings response coefficient (ERC) Ξ΅ : komponen error
3.2.2 Variabel independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah persistensi laba dan income smoothing. Persistensi laba adalah kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang yang diukur dari regresi antara laba akuntansi periode sekarang dengan laba periode sebelumnya. Persistensi laba akan diukur dari slope regresi atas perbedaan laba saat ini dengan laba sebelumnya (Kormendi & Lipe, 1987).
Persamaan regresi yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah:
ππ,π‘ = π + ππππ‘β1+ πΈπ‘ Keterangan:
Xit : laba perusahaan i pada periode t.
Xit-1 : laba perusahaan i pada periode t-1.
b : persistensi laba.
Jika persistensi laba > 1, hal ini menunjukkan bahwa laba perusahaan high persisten. Apabila persistensi laba > 0, hal ini menunjukkan bahwa laba perusahaan persisten. Jika persistensi laba β€ 0, hal ini menunjukkan bahwa laba perusahaan fluktuatif dan tidak persisten.
Income smoothing akan diukur dalam bentuk indeks yang akan digunakan untuk membedaan perusahaan yang melakukan tindakan income smoothing atau tidak, yaitu dengan menggunakan indeks Eckel (Eckel, 1981). Indeks Eckel dihitung menggunakan rumus:
πΌπππππ πΈππππ = πΆπ βπΌ πΆπ βπ Keterangan:
CV ΞI : koefisien variasi untuk perubahan laba.
CV ΞS : koefisien variasi untuk perubahan penjualan.
Sedangkan CV ΞI dan CV ΞS dihitung dengan menggunakan rumus:
πΆπβπΌ πππ πΆπβπ = ββ(βπ₯ β βπ₯Μ )2 π β 1 Γ· βπ₯Μ
Keterangan:
Ξx : perubahan laba (I) atau penjualan (S).
βπ₯Μ : rata-rata perubahan laba (I) atau penjualan (S).
n : jumlah tahun yang diamati.
Apabila nilai Indeks Eckel β₯ 1, maka perusahaan dianggap tidak melakukan income smoothing. Apabila nilai Indeks Eckel < 1, perusahaan dianggap melakukan income smoothing.
Tabel 3.1
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel Pengertian Rumus Skala
Earnings
Slope regresi antara CAR dan UE
Slope regresi antara laba periode sekarang dan laba sebelumnya
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan consumer goods yang termasuk ke dalam perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam periode 2012-2014, yaitu sebanyak 39 perusahaan. Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan (judgement) tertentu atau jatah (quota) tertentu.
Adapun kriteria yang ditetapkan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan consumer goods yang masih terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2014.
2. Menerbitkan laporan keuangan audited selama periode pengamatan.
3. Perusahaan memperoleh laba bersih positif selama periode pengamatan.
Tabel 3.2
Ultrajaya Milk Industry and Trading Company
Tbk ULTJ β β β
27 PT Ilmu Jamu Farmasi Sido Muncol Tbk SIDO - X - Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria 20
Jumlah Sampel (3 tahun pengamatan) 60 Tabel 3.3
Daftar Perusahaan yang Menjadi Sampel
No. Nama Perusahaan Kode
1. Akasha Wira International Tbk ADES
2. Cahaya Kalbar Tbk CEKA
3. Delta Djakarta Tbk DLTA
4. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk ICBP
5. Indofod Sukses Makmur Tbk INDF
6. Mayora Indah Tbk MYOR
7. Nippon Indosari Corporindo Tbk ROTI
8. Sekar Laut Tbk SKLT
9. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk ULTJ
10. Gudang Garam Tbk GGRM
11. HM Sampoerna Tbk HMSP
12. Darya Baria Laboratoria Tbk DVLA
13. Kimia Farma Tbk KAEF
19. Mandom Indonesia Tbk TCID
20. Kedaung Indag Can Tbk KICI
3.4 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder.
Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif, yaitu:
a) Laba bersih tahun 2010-2014 b) Penjualan tahun 2010-2014 c) EPS tahun 2011-2014
d) Harga saham harian perusahaan
e) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Data yang dibutuhkan oleh peneliti diperoleh melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia yakni www.idx.co.id, dan yahoo finance.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan di dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan data yang sudah didokumentasikan. Dalam hal ini data yang digunakan adalah berupa laporan keuangan keuangan consumer goods yang berasal laporan keuangan perusahaan consumer goods yang berasal dari hasil publikasi Bursa Efek Indonesia dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD) serta mengambil data harga saham harian dan IHSG dari yahoo finance.
3.6 Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science). Sebelum melalukan hipotesis pertama sekali peneliti melakukan pengujian asumsi klasik untuk mendapatkan model persamaan yang BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Uji yang dilakukan selanjutnya adalah uji analisis regresi linear berganda.
3.6.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul. Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), serta standar deviasi data penelitian. Dalam penelitian akan diperoleh informasi mengenai hubungan antar-variabel setelah semua data terkumpul dan diolah serta disajikan dalam bentuk tabel data. Hasil yang diperoleh dari statistik deskriptif tidak dapat digunakan untuk mencari kesimpulan secara luas.
3.6.2 Uji asumsi klasik 3.6.2.1 Uji normalitas
Uji normalitas data adalah uji yang dilakukan untuk mengukur apakah data yang digunakan dalam penelitian memiliki distribusi normal atau tidak. Data yang memiliki distribusi normal adalah data yang baik dan layak untuk digunakan dalam
membuktikan model-model penelitian. Pengujian normalitas data penelitian ini dilakukan menggunakan model Kolmogorov Smirnov dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Apabila nilai signifikansi atau nilai probabilitas lebih kecil dari alpha atau tingkat kesalahan yang ditetapkan (< 0,05), maka data yang dianalisis tersebut terdistribusi secara tidak normal.
2) Apabila nilai signifikansi atau nilai probabilitas lebih besar dari alpha atau tingkat kesalahan yang ditetapkan (> 0,05), maka data yang dianalisis tersebut terdistribusi secara normal.
3.6.2.2 Uji multikoliniearitas
Uji multikolinearitas merupakan uji yang menentukan ada tidaknya hubungan linear antara variabel independen dengan variabel independen lainnya. Gejala multikolinieritas dapat dilihat dari besarnya nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor), kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya, Tolerance adalah mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan variabel independen lainnya. Nilai yang dipakai untuk Tolerance > 0,1, dan VIF < 5, maka tidak terjadi multikolinieritas.
3.6.2.3 Uji Heterokedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance atau residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Dasar analisis untuk mengetahui heterokedastisitas adalah sebagai berikut:
a. Jika di dalam grafik terdapat titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur, bergelombang, menyebar, atau menyempit maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi heterokedastisitas.
b. Jika titik-titik di dalam grafik tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik tersebut menyebar maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.
Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan Uji Glejser, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Jika koefisien signifikansi (nilai probabilitas) β₯ 0,05, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika koefisien signifikansi (nilai probabilitas) < 0,05, maka terjadi heteroskedastisitas.
3.6.2.4 Uji autolorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah didalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada
periode t-1. Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi. Pendeteksian ada atau tidaknya autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi.
3.6.3 Uji analisis regresi linier berganda
Uji analisis regresi linier berganda digunakan untuk melihat hubungan antara dua atau lebih variabel independen terhadap satu variabel dependen. Model regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
π = π½0+ π½1π1+ π½2π2+ π Keterangan:
Y : earnings response coefficient (ERC) Ξ²0 : konstanta
Ξ²1 : koefisien regresi Ξ²2 : koefisien regresi X1 : persistensi laba X2 : income smoothing e : Error term
3.6.4 Uji hipotesis
3.6.4.1 Analisis korelasi
Korelasi merupakan suatu nilai yang mengukur keeratan hubungan linear antar variabel. Nilai dari korelasi berkisar antara
-1 dan -1. Korelasi dengan nilai positif (π > 0) dapat berarti jika nilai variabel independen meningkat, maka nilai variabel dependen cenderung meningkat. Koefisien korelasi dengan nilai negatif (π < 0) berarti jika nilai variabel independen meningkat, maka nilai variabel dependen cenderung mengalami penurunan. Nilai koefisien korelasi mendekati 0 (π β 0) menyatakan hubungan keeratan (linear) yang sangat lemah antara variabel independen dengan variabel dependen.
3.6.4.2 Uji koefisien determinasi
Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen dan sebaliknya jika mendekati 0.
Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka nilai R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
3.6.4.3 Uji signifikansi simultan (uji F)
Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh
secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Ketentuan-ketentuan dalam uji F adalah sebagai berikut:
a. Jika nilai signifikansi F > tingkat signifikansi 0,05 maka tidak ada pengaruh signifikan dari variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
b. Jika nilai signifikansi F < tingkat signifikansi 0,05 maka ada pengaruh signifikan dari variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
Ketentuan lain dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel adalah sebagai berikut:
a. Jika Fhitung β€ Ftabel, maka dapat disimpulkanbahwa secara bersama-sama variabel independen tidak berpengaruh signifikanterhadap variabel dependen.
b. Jika nilai Fhitung > Ftabel, maka dapat dinyatakan bahwa secara simultan variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3.6.4.4 Uji signifikansi parsial (Uji t)
Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh atau tidak terhadap dependen. Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05.
Berikut ini merupakan ketentuan dari uji t:
a. Jika nilai signifikansi t > 0,05 maka secara parsial variabel independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
b. Jika nilai signifikansi t < 0,05 maka secara parsial variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Ketentuan lain dengan membandingkan thitung dengan ttabel adalah sebagai berikut:
a. Jika nilai thitung β€ ttabel maka tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
b. Jika nilai thitung > ttabel maka ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi, dari variabel ERC (Y), persistensi laba (X1), dan income smoothing (X2). Berdasarkan analisis statistik deskriptif diperoleh gambaran sampel sebagai berikut.
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
ERC 60 -869.309 885.697 48.25772 212.166119
Persistensi Laba 60 -74.78 12.14 -1.5893 10.50422
Income Smoothing 60 .06 33.58 3.1228 5.55448
Valid N (listwise) 60
Sumber: hasil olahan software SPSS
Berdasarkan Tabel 4.1, diketahui nilai ERC minimum adalah -869,309 sedangkan nilai ERC maksimum adalah 885,697. Rata-rata (mean) ERC adalah 48,25772, dan standar deviasinya sebesar 212,1661. Diketahui nilai persistensi laba minimum adalah -74,78 sedangkan nilai maksimun persistensi laba adalah 12,14. Rata-rata persistensi laba adalah -1,5893 dan standar deviasinya sebesar 10,50422. Nilai minimum income smoothing adalah 0,06 sedangkan nilai maksimum income smoothing adalah 33,58.
Rata-rata income smoothing adalah 3,1228, dan standar deviasinya sebesar 5,55448.
4.2 Uji Asumsi Klasik 4.2.1 Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.
Dalam penelitian ini, uji normalitas terhadap residual dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Tingkat signifikansi yang digunakan πΌ = 0,05. Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas π, dengan ketentuan sebagai berikut.
o Jika nilai probabilitas β₯ 0,05, maka asumsi normalitas terpenuhi.
o Jika nilai probabilitas < 0,05, maka asumsi normalitas tidak terpenuhi.
Tabel 4.2 Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 60
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation 2.11655645E2
Most Extreme Differences Absolute .257
Positive .191
Negative -.257
Kolmogorov-Smirnov Z 1.994
Asymp. Sig. (2-tailed) .001
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber: hasil olahan software SPSS
Berdasarkan Tabel 4.2, diketahui nilai probabilitas p atau Asymp.
Sig. (2-tailed) sebesar 0,001. Karena nilai probabilitas p, yakni 0,001, lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05. Hal ini berarti asumsi normalitas tidak terpenuhi.
Untuk memperoleh hasil terbaik, maka data pencilan atau outlier yang ada dihilangkan. Outlier adalah data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-obsevasi lainnya dan muncul dalam bentuk nilai ekstrim baik untuk sebuah variabel tunggal atau variabel kombinasi. Untuk mengurangi pengaruh ketidaknormalan, maka data outlier dieliminasi. Setelah data outlier dihilangkan, maka data yang semula 60 dieliminasi menjadi 50. Hasil pengujian normalitas yang kedua diperlihatkan dalam Tabel 4.3.
Tabel 4.3
Uji Normalitas setelah Data Menyimpang/Outlier Dihapus
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 50
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation 74.86450013
Most Extreme Differences Absolute .172
Positive .172
Negative -.146
Kolmogorov-Smirnov Z 1.217
Asymp. Sig. (2-tailed) .103
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber: hasil olahan software SPSS
Berdasarkan Tabel 4.3, nilai probabilitas atau Asymp. Sig (2-tailed) adalah 0,103. Oleh karena nilai probabilitas, yakni 0,103 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05, maka asumsi normalitas terpenuhi. Pengujian asumsi normalitas dapat juga digunakan pendekatan analisis grafik, histogram. Untuk pendekatan histogram, jika kurva berbentuk kurva normal, maka asumsi normalitas dipenuhi. Pada pendekatan normal probability plot, jika titik-titik (dots) menyebar jauh (menyebar berliku-liku pada garis diagonal seperti ular) dari garis diagonal, maka diindikasi asumsi normalitas error tidak dipenuhi. Jika titik-titik menyebar sangat dekat pada garis diagonal, maka asumsi normalitas dipenuhi.
Gambar 4.1
Histogram untuk Pengujian Asumsi Normalitas
Sumber: hasil olahan software SPSS
Gambar 4.2
Normalitas dengan Normal Probability Plot
Sumber: hasil olahan software SPSS
Berdasarkan Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa kurva pada histogram berbentuk kurva normal, sehingga disimpulkan bahwa asumsi normalitas dipenuhi. Di samping itu pada normal probability plot (Gambar 4.2), titik-titik menyebar cukup dekat pada garis diagonal, maka disimpulkan bahwa asumsi normalitas dipenuhi.
4.2.2 Uji multikolinieritas
Uji multikolinearitas merupakan uji yang menentukan ada tidaknya hubungan linear antara variabel independen dengan variabel independen lainnya. Gejala multikolinieritas dapat dilihat dari besarnya nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor), kedua ukuran ini menunjukkan setiap
variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya, Tolerance adalah mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan variabel independen lainnya. Nilai yang dipakai untuk Tolerance> 0,1, dan VIF < 5, maka tidak terjadi multikolinieritas.
Hasil uji multikolinearitas dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Sumber: hasil olahan software SPSS
Berdasarkan Tabel 4.4, nilai VIF dari variabel persistensi laba adalah 1,906 dan nilai VIF dari variabel income smoothing adalah 1,906.
Nilai Tolerance dari persistensi laba adalah 0,525 dan income smoothing adalah 0,525. Karena nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0,1, maka tidak terdapat gejala multikolinearitas.
4.2.3 Uji heterokedastisitas
Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara SRESID pada sumbu Y, dan ZPRED pada sumbu X. Jika ada pola tertentu, seperti
titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Gambar 4.3
Pengujian Heteroskedastisitas Scatterplot
Sumber: hasil olahan software SPSS
Berdasarkan Gambar 4.3, tidak terdapat pola yang begitu jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y,
Berdasarkan Gambar 4.3, tidak terdapat pola yang begitu jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y,